Tujuh
Aku terus menerus berpikir, mengapa orang yang dulunya berbuat baik kepada kami, aku dan keluargaku, tiba-tiba berbuat sekeji itu? Atau memang setiap manusia tidak bisa dipercaya meski sudah dikenal lama? —Aru Lohia
Aru berlari terseok-seok mengikuti Mea-Dai. Rumput liar berduri dan ranting-ranting yang berserakan sesekali terinjak, tetapi tak membuat Aru berhenti.
Di belakangnya terdengar langkah kaki yang lebih cepat dan berirama, menembus keheningan hutan yang sebelumnya mereka anggap tak bernyawa.
Langkah-langkah itu terdengar makin dekat, makin dekat, dan makin cepat, membuat jantung Aru berpacu kian kencang serima dengan langkahnya.
Aru tersandung akar pohon yang menonjol di tanah. Dia menelan ludah saat sekelompok suku asing muncul bagai bayangan yang berlarian menembus semak-semak dengan liar. Seluruh badan mereka tampak hitam seperti dilaburi tanah hitam sehingga tak menampakkan wajah.
Kesadarannya kembali saat mendengar teriakan Mea-Dai. Matanya langsung melebar ketika melihat salah satu dari kelompok suku itu kembali melemparkan tombak. Aru berhasil menghindar.
Kelompok suku di belakangnya mengeluarkan suara sorakan dan seruan yang tak Aru mengerti. Aru berusaha lari sebisanya, tetapi tak sanggup menandingi kelincahan suku yang mengejarnya.
Mea-Dai menarik tangan Aru, lalu membawanya ke semak-semak dan langsung memerosot ke lembah yang tak begitu curam. Kelompok suku itu kembali tak terlihat. Namun, pelarian mereka belum selesai.
“Kita tak bisa ke mana-mana,” kata Aru dengan terengah-engah.
Sebuah tebing tinggi yang tertutup lapisan hijau seolah berdiri angkuh, menghadang di hadapan mereka. Aru dan Mea-Dai saling tatap, seolah pikiran mereka saling tersambung dan mengatakan: “Tak ada jalan lain selain melewati tebing terjal itu.”
“Ayo, Sina. Kita pasti bisa menaklukkan situasi ini.” Aru bertekad. “Aku tak akan mati di sini. Ayo!”
Anak perempuan itu menelan ludah. Dalam hati dia sedikit meragu, sebab tebing itu ditumbuhi banyak sekali lumut. Pasti licin dan sulit didaki. Namun, dia sudah bertekad untuk tidak menyerah begitu saja. Dia pun mulai mencoba, walau awalnya terpeleset dan membuat kakinya sedikit berdenyut nyeri.
“Ini percuma. Matilah kita,” keluh Mea-Dai.
Aru menggeleng. Dia tidak mau berakhir di sana. Maka kepalanya celingukan ke sekeliling, lalu mendongak sambil menyipitkan mata karena sinar matahari yang mulai menyilaukan. Dia ingat bahwa sebuah tebing mungkin memiliki dataran yang tinggi dan rendah. Maka dia mencari ke arah mana dataran itu melandai, supaya lebih mudah menemukan titik yang membentur perut bukit.
“Ketemu!” Aru menunjuk jalan sempit di samping kanannya. Dari kejauhan, dia mampu melihat bahwa tebing di sebelah sana lebih rendah. Namun, itu terlalu sempit untuk dilewati dan terlalu banyak bebatuan licin. “Terlihat mustahil, tapi kita harus coba melewatinya.”
Mea-Dai setuju karena tak ada jalan lain. Mereka berjalan dengan punggung yang terhimpit tebing. Jari-jari kaki mereka melangkah sambil berusaha mencengkeram bebatuan agar tak terpeleset. Mereka harus pelan-pelan karena ada turunan yang lebih curam di sisi lain tanah yang mereka pijak.
Sambil menahan rasa ngeri, mereka menapak selangkah demi selangkah. Sesekali mereka mendaki tanah yang bisa didaki. Makin ke atas dan terus ke atas.
Mea-Dai yang pertama mencapai atas. Dia mengulurkan tangan untuk membantu Aru.
Aru menerima uluran tangan Mea-Dai hingga akhirnya berhasil naik. Namun, tiba-tiba dia merasa terdorong.
Aru menjerit saat tubuhnya terperosok kembali menuruni tebing.
Tubuh Aru terjun dan terguling menuruni tebing yang terjal. Beberapa kali tubuh kurus anak itu terbentur semak dan bebatuan hingga meninggalkan erangan dan teriakan kesakitan.
Dia kemudian menghantam keras batu yang cukup besar hingga tubuhnya terpelanting ke tanah dan berhenti berguling. Dia berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk tak karuan. Samar-samar, ketika pandangannya terarah ke atas bukit, dia melihat Mea-Dai berlari meninggalkannya.
Aru mencoba bangkit, tetapi jatuh terenyak begitu rasa sakit menusuk kaki kirinya.
Ketika dia berusaha memanggil ibu angkatnya, suara genderang makin terdengar memekakkan telinga. Kepalanya berdenyut-denyut dan hal terakhir yang dia dengar adalah sorakan kelompok suku yang mengejarnya.
—Aku, dan sebuah pertengkaran hebat—
“Mea!” Suara itu melengking, melebihi ributnya suara hujan dan desauan angin yang menghantam atap rumah kami.
Aku mengangkat daguku tinggi-tinggi dan mengeraskan rahangku untuk menantang wanita yang meneriakiku. Kali ini aku tak akan takut kepadanya. Aku sudah lelah. Lelah untuk selalu mengalah, sedang saudariku selalu mendapatkan apa yang dia mau. Dia selalu mendapatkan yang terbaik, sementara aku? Mungkin karena aku hanya seonggok sampah tak berguna bagi ibuku.
“Kau ….” Wanita itu, ibuku, mulai mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkan kepadaku. Rautnya mengeras, matanya memelotot merah, tanda bahwa dia sudah sangat marah kepadaku. Namun, kali ini aku tak peduli. “Susah payah aku membesarkanmu bukan untuk melawanku seperti ini!”
“Melawan?” Aku mendecih dan entah mendapat dorongan dari mana, aku malah tertawa terbahak-bahak. “Aku hanya meminta keadilan, aku tak pernah meminta apa pun. Apa aku salah?” tanyaku menantang.
“Keadilan apa yang kau mau? Apa kau sadar diri?”
“Lalu apa kalian akan menyiksaku seumur hidup dengan menikahkan Noa dan Lohia?” Suaraku mulai meninggi. “Kalian tahu aku juga mencintai Lohia!”
“Jangan bertingkah seperti perempuan hina!”
Hatiku mencelus. “Perempuan hina?”
“Mea, jangan dengarkan itu. Kalian—”
“Jangan sentuh aku!” Aku mendorong saudariku dengan penuh kebencian.
Plak!
“Berani-beraninya kau melukai putriku.”
Aku memegangi bekas tamparan di pipi tirusku dan menatap ibuku dengan sorot kecewa. “Tapi aku juga putrimu,” kataku dengan nada melemah.
Ibuku melengos. Dia membantu Noa untuk berdiri dan berbalik untuk meninggalkanku. Namun, sebelum benar-benar menghilang, aku sempat mendengarnya berkata, “Satu-satunya penyesalanku adalah melahirkanmu.”
Detik itu juga, aku berharap untuk tak pernah terlahir di dunia ini.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...