Sembilan
Kadang-kadang aku berpikir, mungkinkah manusia diciptakan hanya untuk saling merusak satu sama lain? —Aru Lohia
***
Semua orang di sekitarnya memekik. Aru menutup kedua mata. Namun, tak cukup membuat rasa ngeri hilang begitu saja. Bahkan kini perut Aru bergejolak. Rasanya mual sekali saat melihat wanita itu kepalanya ditebas hingga terputus, lalu ditenteng dengan mencengkeram rambut gimbalnya.
Bau anyir merebak di penciuman Aru. Darah wanita tadi muncrat di wajahnya, membuat tubuh anak perempuan itu makin gemetar.
Pria kejam yang menebas kepala wanita itu berbicara sesuatu. Lagi-lagi Aru tak tahu apa yang diucapkan orang lain. Namun, suara berat itu seolah memberi peringatan keras.
Kilasan bayangan kematian ibunya membuat dada Aru mendadak terasa sesak. Telapak tangannya yang dingin dia cengkeramkan ke rok rumputnya untuk menahan tubuh yang bergetar.
Apakah ibunya juga dibunuh dengan cara sekeji itu?
Malam terasa semakin dingin hingga membuat Aru menggigil hebat. Namun, pikirannya kosong. Aru tersedot dalam pertanyaan besar yang belum juga terjawab hingga kini.
***
Aru gelagapan saat terbangun dari tidur singkatnya karena tiba-tiba tubuhnya diguyur air dengan keras.
Matanya mengerjap dan mengamati sekitar, berusaha mengumpulkan ingatan.
“Itu minum untuk kalian hari ini,” kata seorang pria tambun yang memegangi ember kayu, lalu tertawa keras sebelum pergi.
Aru melirik orang-orang di depannya yang masih sama-sama diikat lehernya. Mereka kompak meraup muka mereka yang basah, lalu menjilat telapak tangan setelahnya.
Apa Aru harus melakukan hal serupa?
Anak perempuan itu menggeleng. Dia bukan hewan yang bisa diperlakukan semaunya.
Selang beberapa saat, seseorang datang mencambuk punggung setiap orang dalam barisan yang diikat. Beberapa orang lagi mendorong pundak masing-masing orang agar segera berdiri.
Aru yang kebingungan terpaksa mengikuti orang-orang di depannya yang mulai berdiri sebab ikatan serta dua bilah bambu yang mengekang lehernya memaksanya untuk bergerak bersamaan dengan yang lain.
“Ah!”
Aru kembali terduduk dan melepaskan erangan keras karena rasa sakit begitu menyengat di kaki kirinya, membuat orang-orang otomatis ikut tertarik ke belakang dan jatuh bersama. Barisan mereka mendadak menjadi pusat perhatian.
Aru merasakan perih di lehernya akibat goresan bilah bambu yang mengekang.
Seseorang kembali menghampiri barisan Aru dengan wajah yang meledak-ledak. Tanpa belas kasihan dia menendang punggung Aru hingga anak itu tersungkur lebih keras.
“Cepat berdiri!” seru pria yang menendang Aru. Dia pria bertubuh besar yang tingginya menjulang dengan otot-otot liat di lengannya. Tak puas hanya menendang punggung ringkih Aru, dia lantas menjambak rambut keriting anak perempuan itu dan menariknya hingga Aru terpaksa mendongak.
“Le-pas,” rintih Aru. Renggutan pria itu begitu keras hingga Aru merasa kepalanya seperti dikoyak-koyak.
Pria besar itu memaksa Aru untuk berdiri. Namun, kaki Aru benar-benar sakit dan tak bisa dia gunakan untuk menumpu tubuhnya sendiri. Anak itu bahkan baru menyadari jika kakinya terluka begitu parah sebab sebelumnya dia merasa mati rasa karena tak dibiarkan ke mana-mana dan hanya duduk saja.
Sambil menahan rintihan, Aru melihat kakinya dan mendapati luka yang begitu dalam hingga tulang keringnya hampir terpampang. Dia meringis, teringat bagaimana dia terjatuh dari tebing beberapa hari lalu. Dia berusaha berdiri kembali, sementara pria besar tadi masih terus menjambak rambutnya dan mendorong kepalanya sebagai perintah agar dia lekas berdiri seperti barisan yang lain. Namun, dia kembali terjatuh.
Pria besar itu makin tak sabaran, lantas melepas kekangan di leher Aru dan menyeretnya keluar dari barisan.
Mata bulat Aru memancar dengan liar, begitu ketakutan. Dia hendak meracaukan isi pikirannya, tetapi hanya dengungan tak jelas yang keluar dari mulutnya. Dia takut hidupnya berakhir saat itu juga. Pikirannya terlalu kacau hingga rasa sakitnya tak lagi terasa. Namun, dia sangat lemah tak berdaya.
Tubuh Aru menjadi makin melemas ketika pria besar tadi meninggalkannya untuk mengambil sesuatu. Mungkinkah dia akan menebas leher Aru seperti wanita gimbal kemarin?
“Lasiii.” Aru mengeluh ketakutan dengan suara yang bergetar.
Manusia keji macam apa mereka itu? Bukankah setiap manusia terlahir saling bersaudara satu sama lain, dengan manusia lain? Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi seolah itu hal yang normal? Batin Aru begitu gelisah memikirkan semua ini. Matanya dipejamkan rapat-rapat.
Langkah kaki yang mendekat terpaksa membuat Aru membuka mata. Dia tak berani menatap langsung pada pria besar yang mengenakan kalung tengkorak manusia. “Kau harus berterima kasih karena alam tak memberi kami waktu untuk mencari persembahan lain,” katanya yang kemudian menarik paksa tangan Aru dan mengganti ikatannya dengan serat yang lebih kuat.
Aru kebingungan. Dia didorong dengan kasar hingga tubuh kurusnya telentang di tanah, lalu tangannya yang diikat ditarik ke atas dan ujung talinya diikatkan ke pinggang orang yang sebelumnya dikekang bersamanya.
Pria besar tadi bersama kelompoknya sudah berkumpul dan berdiri tegap memimpin di depan dan beberapa berjaga di belakang seraya memegang cambuk dan tombak. Aru menahan napas pasrah ketika tubuhnya diseret berjalan. Sesekali dia mendongak agar kepalanya tak ikut terluka. Namun, lehernya terasa kencang dan kaku.
Goresan demi goresan, bahkan tusukan duri-duri rumput liar membuat anak perempuan itu mengerang beberapa kali. Entah ke mana lagi mereka akan membawanya pergi. Entah bagaimana hidupnya akan berakhir. Anak itu kehilangan harapannya sama sekali.
“Sina,” racaunya di perjalanan menyakitkan itu.
Banyak hal yang terlintas di kepalanya. Memorinya berhamburan dan saling tumpang tindih. Memori lama hingga terakhir kali dia melihat Mea-Dai. Cahaya matahari yang menyilaukan mata anak perempuan itu membuatnya menelan kenyataan pahit bahwa ibu angkatnya meninggalkan dia dalam bahaya.
Other Stories
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...