Aru Dan Memoar Yang Hilang

Reads
25
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
aru dan memoar yang hilang
Aru Dan Memoar Yang Hilang
Penulis Atpress2014

Delapan Belas

Kehendak alam adalah suatu kepastian, meski aku tak tahu dengan jelas bagaimana cara kerjanya. —Aru Lohia

***

Orang-orang putih itu tahu bahwa Aru ketakutan. Jadi, mereka tak memaksanya bicara. Meski Aru dibiarkan berbaur dengan yang lain dan orang-orang tampak lebih ramah menerima kehadirannya, tetapi tetap saja dia berusaha menyingkir.

“Ini, makanlah.” Salah seorang dari orang putih yang rambutnya berwarna cokelat gelap, yang paling ramah, memberikannya sepotong daging babi.

Aru melihat potongan daging itu penuh minat, tetapi kemudian melirik ke sekitar dengan takut-takut.

“Makan saja. Tak ada yang akan menyakitimu setelah ini.” Pria itu tersenyum tipis.

Aru pun mulai menggigit daging babi yang telah dipanggang. Mulanya hanya satu gigitan kecil. Namun, setelah itu dia langsung makan dengan lahap seperti orang yang kelaparan. Dia menggigit dengan rakus, seolah diburu waktu. Sudah lama sekali anak itu tak memakan daging babi. Dulu, ketika di desa, ayahnya sering berburu babi hutan, lalu orang-orang desa akan mengolahnya ramai-ramai.

Tiba-tiba Aru berhenti mengunyah. Nafsu makannya langsung hilang ketika mengingat masa lalu. Dia pun menghela napas kasar.

“Kenapa? Dagingnya tidak enak?”

Aru tak menanggapi apa-apa. Hanya memberengut, lalu melanjutkan makannya dengan perlahan.

“Kudengar, sebelum kami datang, kau salah satu yang ditangkap kanibal pemburu kepala, ya?”

Aru menoleh. “Kanibal?” gumam Aru. Ini kali pertama dia mengucapkan sesuatu setelah beberapa waktu lalu.

Si orang putih tampak senang mendengar Aru bicara. “Itu sebutan bagi manusia yang memakan sesama manusia.” jelasnya disertai gestur tubuh.

Aru lantas menelan sisa daging di mulut dengan susah payah. Selera makannya mendadak hilang. Dia memejamkan mata ketika bayangan-bayangan itu kembali mengusik kepalanya.

“Oh? Maaf.” Pria itu menyesal bercerita di saat yang kurang tepat. “Ini pertama kalinya kau merespons kami, jadi aku terlampau bersemangat.”

Aru mengedikkan bahu dan kini kembali dia menatap ke luar gua. Dia menepuk perutnya yang kenyang. Rasanya sudah lama sekali dia tak makan senikmat itu.

“Nak, mau ikut denganku?”

Aru bergeming dan menimbang-nimbang. “Ke mana?” tanyanya masih dengan nada ragu.

“Sebelum itu, kau bisa memanggilku Joseph.” Pria itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan, tetapi Aru hanya melihat uluran tangan itu tanpa menyambutnya. Joseph pun tertawa. “Kalau kau, siapa namamu?”

Aru lagi-lagi bergeming, tak mau menjawab.

“Baiklah.” Joseph menarik uluran tangannya. “Ayo kita ke luar dan melihat bagaimana Suku Meakambut hidup.”

Suku Meakambut? Jadi, itu nama suku ini? Karena masih penasaran, Aru pun mengikuti ajakan Joseph.

Mereka berjalan keluar dari gua. Orang-orang Meakambut berlalu-lalang. Baru Aru sadari, di sisi kanan gua merupakan lahan yang sangat luas. Saat datang, dia tak terlalu memperhatikan sekitar karena langsung dibawa masuk.

Aru tertarik melihat para wanita menancapkan kayu di tanah. Dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya mereka lakukan itu? Mengapa kayu-kayu ditancapkan secara berbaris dan berderet-deret ke tanah? Tanpa sadar, kakinya melangkah pincang ke arah sana.

“Mereka menanam singkong,” jelas Joseph penuh inisiatif. “Selain itu, di sana mereka menanam pisang, lalu di sana ada labu, dan memendam talas di dekat situ. Suatu saat mereka akan memanennya ketika kembali ke sini lagi.”

“Suatu saat?”

“Benar. Mereka melakukan perjalanan ke gua yang lain dan hidup berpindah-pindah, tetapi masih di area tanah adat mereka.” Joseph melipat lengan. “Kudengar, mereka membuat banyak gua untuk tinggal.”

“Membuat gua?” tanya Aru takjub. “Kukira gua tumbuh secara alami atas kehendak alam,” gumamnya.

Joseph tertawa mendengar gumaman itu. “Kau mau melihat bagaimana mereka membuat gua? Ayo!”

Aru makin takjub. Dia mengikuti Joseph dengan tertatih-tatih.

“Oh, ya. Kakimu kenapa?”

Aru mengedikkan bahu, tak mau repot-repot menjelaskan apa yang terjadi. Setelah beberapa hari dalam perjalanan bersama Suku Meakambut, dia selalu digendong. Jadi, energinya cukup terisi dan dia kembali mampu berdiri, meski kepayahan untuk berjalan.

“Aku akan mengobatinya setelah ini,” putus Joseph.

Mereka menuju sisi lain gua itu. Ada daerah yang lebih gersang, tak selembap lainnya. Pria-pria Meakambut menyalakan api yang cukup besar.

“Apa itu yang di dalam api?”

“Itulah batu-batu yang akan mereka buat untuk membangun gua. Batu-batu itu juga bisa mereka gunakan untuk membuat banyak hal, seperti tempat untuk perapian.”

Aru ternganga. Batu-batu yang dibakar. Tidakkah itu semua hancur lebur?

Seolah mengerti apa yang Aru pikirkan, Joseph berkata, “Kau tahu, apa yang bisa kau pelajari dari ini semua? Ternyata tak semua hal akan hangus terbakar ketika terkena api. Batu-batu yang berasal dari tanah liat itu justru semakin kokoh dan keras ketika dibakar. Itu seperti petunjuk, bukan? Bahwa tak semua hal buruk akan menghancurkan kita.”

“Kenapa kau mengatakan itu padaku?” Aru terpaku.

“Entahlah.” Joseph tertawa. “Hanya dengan melihat matamu, aku ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.”

Sudut bibir Aru terangkat samar sekali. Dia tersenyum tipis.

“Omong-omong, bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

“Mereka yang membawaku.”

Joseph menggeleng. “Bukan itu maksudku. Bagaimana kau bisa sampai sejauh ini? Kau orang Motu dan tempatmu bukan di hutan ini. Hutan Sepik terlalu bahaya untuk orang asing sepertimu.” Dia memutar badan dan menghadap Aru sepenuhnya. “Kau … tidak mau kembali ke tempat asalmu? Aku bisa membantumu.”


Other Stories
Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Lombok, Tempat Aku Belajar Melepaskan

Rara menghabiskan liburan sekolahnya di Lombok bersama kakak pertamanya yang telah menikah ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Horor

horor ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Download Titik & Koma