Empat Belas
Setelah aku tahu semuanya, lalu apa? Apa manusia akan mati jika tak memiliki tujuan hidup apa pun lagi? Kalau iya, aku ingin mati saja. —Aru Lohia
***
Aru merasa dunianya berhenti berputar saat kalimat demi kalimat yang diucapkan Mea-Dai mencapai telinganya. Hatinya terasa hancur dan tercabik-cabik oleh kebenaran yang terungkap. Air mata menetes dari matanya saat dia menyadari bahwa orang yang selama ini dia anggap sebagai ibu sebenarnya adalah pembunuh ibu kandungnya sendiri. Dia pembunuh dan penyebab semua kekacauan dalam hidup Aru.
Dan kenyataan itu ada dalam suara Mea-Dai. Dalam getar ketegangan yang menghantarkan sebuah rasa takut yang dipendamnya terlalu lama. Getar tangisan tanpa suara dan permintaan maaf melayang tanpa arti seolah tertinggal di udara dan hanya meninggalkan gema yang begitu menyakitkan.
Aru, anak perempuan itu langsung menjatuhkan diri dan duduk terdiam dengan linglung. Dia hanya mampu menatap kosong, tak merespons apa-apa, membiarkan Mea-Dai mengucapkan banyak penyesalan yang sebenarnya tak ada gunanya. Namun, Aru biarkan saja sebab dia tahu betapa sulitnya wanita itu di situasi ini. Dan sudut hati Aru tiba-tiba saja menginginkan penderitaan Mea-Dai.
Semua ini terasa seperti mimpi. Pengakuan pengkhianatan dari orang yang selama ini dia percayai sungguh terasa seperti mimpi buruk yang mengganggu tidur nyenyaknya. Dia tahu ini bukan mimpi. Rasa sakitnya terlalu nyata. Namun, dia juga belum sanggup menerima kenyataan itu.
“Kau tahu, satu hal yang membuatku menyesal adalah menyayangimu, Nak.”
“Seharusnya kau membunuhku sejak awal,” gumam Aru hampir tak bersuara.
“Kau benar,” bisik Mea-Dai. “To, aku tidak bisa.”
Aru ingin tertawa karena semua ini. “Jadi, semua yang kita lalui selama ini adalah dusta?” Dia mengambil napas dalam-dalam, tak ingin bereaksi berlebihan karena dia sendiri bingung dengan apa yang dirasakannya.
Mea-Dai berusaha meraih telapak tangan Aru, tetapi Aru buru-buru menariknya. Dengan sisa tenaganya Mea-Dai memaksakan tubuhnya untuk merengkuh Aru.
Dan ketika Mea-Dai memeluknya, selama sesaat Aru merasa semua baik-baik saja.
Aru memejamkan mata karena lelah dengan perasaannya yang sulit diutarakan. Ada banyak sekali amarah yang dia pendam entah untuk siapa—untuk alam, untuk Mea-Dai, untuk Sinagu yang meninggalkannya begitu cepat, untuk ayahnya yang tak mencarinya, atau bahkan untuk dirinya sendiri. Namun, dia sadar bahwa percuma jika amarahnya dia biarkan keluar dan meledak-ledak seperti bambu yang dibakar api. Toh, tak akan mengubah apa-apa dan dia tetap harus mengalami nasib buruk ini.
Selama waktu singkat itu, untuk sesaat saja, Aru ingin luruh bersama dengan pelukan Mea-Dai.
Akan tetapi, kata-kata lembut dan ucapan maaf dari Mea-Dai justru tak ada artinya kini. Makin dia dengarkan, makin rasa sakit di hatinya menusuk-nusuk.
Permintaan maaf yang terdengar tolol. Konyol sekali bukan, ketika maaf itu baru diucapkan setelah semua yang terjadi. Maaf yang tak mengubah apa-apa dan hanya membuat anak perempuan itu merasa seperti ditikam berkali-kali dengan kayu tumpul yang menyakitkan. Fakta bahwa dia kesulitan membenci wanita yang harusnya dia benci sejak dulu membuat Aru merasa kalah. Dia kalah dengan segalanya.
Saat kepalanya berdengung lebih keras dan berisik, Aru tak tahan lagi. Dia mendorong tubuh Mea-Dai dan menjauh.
“Aru,” panggil Mea-Dai sebelum kembali terbatuk lebih keras.
Aru menggeleng, berusaha menghilangkan kekacauan dalam pikirannya. Namun, kepalanya terasa seperti akan meledak begitu saja. Pandangannya makin memburam karena air mata. Dadanya makin sakit karena sesak. Anak perempuan itu kembali bangkit tanpa memedulikan apa pun lagi. Tanpa menoleh sedikit pun, dia menutup matanya sejenak sebelum melangkah dengan mantap meninggalkan wanita yang selama ini dia sayangi.
Aru meninggalkan Mea-Dai yang lagi-lagi terbatuk dan kali ini terdengar rintihan yang makin menjadi.
Aru pergi. Tanpa Mea-Dai. Sendiri.
—Aku, untuk yang terakhir kalinya—
Tama, kau benar. Kebencian itu benar-benar menghancurkanku.
Tama, aku kesakitan. Inikah akhir dari hidupku?
Tama, akankah alam menerima jiwaku?
Sina ….
Noa ….
Maaf, aku terlambat menyadari ini. Tolong maafkan aku.
Anakku, Aru ….
Aku belum terlambat untuk menyelamatkanmu, kan? Tolong tetaplah hidup.
Other Stories
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...