La Falsedad

Reads
0
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Chapter 5

Saat Elena sedang pergi bersama Daunte, Eulia yang merasa resah di rumah sendirian berjalan mendekati jendela yang menghadap jalan utama. Pohon-pohon dan tumbuhan tampak hijau, sebagian mulai menguning. Saat sedang mengamati sekeliling dan merasa sedikit tenang karena menghirup udara yang segar, dia melihat seseorang yang memakai kacamata hitam dan topi serta kemeja cokelat hitam berdiri agak jauh dari latar rumahnya, di pinggir jalan. Dia memperhatikan sedikit lebih lama sosok itu yang ternyata seorang laki-laki tinggi. Namun, dia sama sekali tidak mengenali orang itu.

Perempuan yang mulai waspada itu memperhatikan lagi sekitar, merasa mungkin saja laki-laki itu hanya orang yang sedang lewat dan bisa saja ada orang lain lagi yang melintas. Memang ada beberapa orang laki-laki dan perempuan yang sedang berjalan, tetapi ketika pandangannya kembali ke sosok laki-laki berkemeja cokelat hitam, dirinya tiba-tiba terperanjat. Kulitnya meremang. Dia merasa seperti laki-laki itu sedang melihat ke arahnya. Saat hendak berteriak memanggil sosok itu yang entah siapa sebenarnya, suaranya tersekat di tenggorokan. Namun, tidak berapa lama, laki-laki itu berjalan mundur sambil tetap memperhatikan rumahnya.

Eulia menjauh dari jendela sambil berdebar tidak karuan. Orang itu hanya lewat. Dia bukan sedang mengawasiku. Dia pasti bukan sedang ingin membunuhku. Tidak akan ada yang berbuat macam-macam. Rumah ini aman. Rumah ini aman. Dirinya mengusap lengan yang tiba-tiba terasa dingin.

Meski berada dalam rumah yang tampak aman dan menenangkan, Eulia mulai merasa dilingkupi kegelisahan. Tidak ada yang terasa benar ketika duduk di sofa, duduk di dapur, atau berbaring di kamar. Peringatan dalam pesan layanan, sosok laki-laki yang berada di depan rumahnya, dan undangan yang misterius berputar-putar dalam pikirannya.

Belum juga perasaan gelisah menghilang, ketukan keras di pintu membuat Eulia terlonjak. Sambil berdebar tidak karuan, perempuan itu berlari untuk mengunci pintu. “Siapa di sana?”

Tidak ada jawaban dan hanya ketukan keras ke pintu kembali terulang.

“Pergi atau aku laporkan ke polisi!”

Ketukan tersebut tidak berlangsung lama, tetapi berhasil membuat sekujur tubuh Eulia gemetar. Eulia merosot sambil bersandar di pintu. Perempuan itu membiarkan pintu terkunci sampai Elena kembali. Dia tampak pucat yang membuat Elena cemas.

“Elena, saat kembali tadi, apa kau melihat seseorang di depan rumah?” tanya Eulia setelah Elena masuk rumah. Dia cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya.

“Kau masih memikirkan perkataan Daunte?” Elena sudah melepaskan outer dan hanya memakai kaus longgar berlengan pendek. Udara panas di Galicia membuatnya tidak betah memakai baju panjang berlama-lama.

“Aku tidak hanya memikirkannya saja, tapi aku melihat dengan mataku sendiri ada seseorang yang memperhatikan rumah kita. Aku tidak sengaja melihatnya saat sedang memandang keluar jendela. Yang terburuk, orang itu mengetuk-ngetuk pintu rumah.” Eulia kembali menunjukkan raut gelisah serta mengusap lengan karena tiba-tiba merinding.

“Kau tidak perlu takut begitu. Mungkin kau hanya melihat seseorang yang sedang melintas. Mungkin juga ketukan di pintu hanya imajinasimu, Eulia.” Elena tersenyum, berharap Eulia menjauhkan pikiran yang tidak tenang.

“Ketukan itu bukan imajinasiku, Elena. Aku serius. Aku masih ketakutan.” Eulia memikirkan cara supaya bisa meyakinkan Elena. “Sepertinya aku perlu menunjukkan sesuatu padamu.” Perempuan itu bergegas mengambil boks berisi ponsel yang tersimpan di laci lalu membawanya kembali ke Elena yang sudah duduk di sofa. Dirinya mengeluarkan ponsel dan memberikan salah satunya ke Elena.

“Kau sudah menyalakan ponselnya?” tanya Elena tampak bingung. Dia merasa hampir melupakan benda pipih tersebut.

Eulia mengangguk. “Setelah menyalakan ponsel, kau hanya perlu membuka layar dengan pendeteksi wajah.”

Elena mencoba sesuai saran Eulia. “Bagaimana bisa ponsel ini mengenali wajahku?” Dirinya tampak senang karena menemukan sesuatu yang dirasa hebat, berbanding terbalik dengan Eulia yang merasa takut dan curiga.

Eulia kemudian menunjukkan peta dan forum diskusi yang membuat Elena makin terlihat takjub. Dengan hati-hati dan takut-takut, dirinya juga memperlihatkan pesan yang menunjukkan foto orang berdarah-darah dan foto rumahnya.

Elena menutup mulut setelah memandangi foto-foto tersebut. “Eulia, kau serius memutuskan untuk tidak ikut?” Dirinya mulai sedikit takut. Namun, dia lebih takut jika Eulia mengambil keputusan yang membahayakan.

“Aku masih memikirkannya.”

“Kau masih berpikir setelah melihat semua itu?”

Eulia mulai bimbang. Elena mulai mengerti bahwa undangan permainan ini serius.

Eulia belum juga merasa lega.

Setelah menceritakan isi pesan yang membuatnya ketakutan, dia berpikir sikap yang sama akan terjadi pada kakaknya. Pilihan untuk mundur hanya terpikir olehnya. Apakah hadiah besar sudah membuat kakaknya terlena?

“Kau mungkin berpikir bisa mencari uang dengan cara lain. Tapi, apakah bisa sebesar yang ditawarkan Galicia Interesante? Apakah bisa lebih cepat dari itu? Kita butuh sekali hadiahnya, Eulia. Aku tidak mau sampai dituntut hanya karena tidak mampu membayar,” jelas Elena yang bersikap seperti biasa, penuh semangat.

“Tapi permainan ini tampak berbahaya, Elena. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Bagaimana mereka bisa tahu rumah kita? Bagaimana mereka bisa mengundang kita? Kenapa harus kita? Kenapa kamu tidak khawatir sama sekali? Elena, Aku benar-benar takut.” Eulia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kegusarannya.

“Kau sudah dewasa, Eulia. Tidak perlu khawatir dan takut seperti itu. Kau hanya perlu memikirkan untuk menang dari permainan dan selalu berhati-hati. Kau tahu rute permainan yang ditampilkan di peta juga bukan jalur yang berbahaya.”

“Apa hubungannya dewasa atau tidak dengan permainan ini. Ini permasalahan bahaya atau tidak. Seseorang yang mengirim pesan sudah menunjukkan ancaman seperti itu, bisa saja selama permainan kita juga bisa dalam bahaya.”

“Kau terlalu berlebihan memikirkannya, Eulia. Kita akan baik-baik saja.”

Eulia menggeleng. “Monte Pindo memiliki jalur yang berbahaya. Melakukan permainan di tempat yang berbahaya, aku rasa ini bukan permainan yang bagus untuk memperebutkan hadiah. Tidak akan mudah untuk mendapatkan hadiah sebesar itu.”

“Kau benar, Eulia. Bahaya akan selalu ada, sebanding dengan hadiah yang ditawarkan. Tapi Eulia, sampai kapan kau selalu berlindung dari bahaya? Kau mau terus bersembunyi di rumah ini? Kau pikir hanya di rumah saja akan aman? Kau tidak tahu bahaya akan datang di mana saja, Eulia. Kau sudah mendapat peringatan melalui pesan itu. Kau mau diam saja? Sama saja kau mau mengantar nyawamu dengan mudahnya tanpa melakukan apa pun.”

“Terus aku harus mengantar nyawaku dengan mengikuti permainan itu di Monte Pindo? Kau juga mau mengantar nyawamu? Lihatlah, sebelum permainan dimulai sudah ada korban. Apakah kau tidak berpikir kalau selanjutnya bisa saja ada korban? Bisa itu aku atau kau, Elena.”

“Buang jauh-jauh pikiran burukmu, Eulia. Bahkan kita saja belum memulai apa-apa. Simpan energimu untuk mendaki Monte Pindo daripada dihabiskan untuk berpikiran yang tidak-tidak. Sebaiknya kau pikirkan lagi, kau ingin diam saja di rumah atau memiliki kegiatan yang melatih otot-ototmu supaya tidak kaku.”

“Kau tidak memikirkannya sama sekali, Elena? Aku benar-benar takut. Aku takut aku atau kau dalam bahaya.”

“Simpan ketakutan itu untuk kau sendiri. Aku tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan hadiah dari permainan itu. Aku membutuhkannya dan aku tidak akan diam saja.” Elena mengambil ponsel yang memiliki stiker namanya lalu berdiri.

Eulia menggigit bibir. Dia tidak menyangka kakaknya lebih mementingkan hadiah daripada nyawanya. Sudah jelas banyak yang aneh dari pengiriman undangan, kenapa seakan Elena tidak curiga sama sekali?


Other Stories
The Innocent

Rio terbangun di sebuah TKP pembunuhan. Ia menyimpulkan dirinya dan rekanya telah diserang ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Chromatic Goodbye

"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini

Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Download Titik & Koma