La Falsedad

Reads
0
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Chapter 11

Tidak ada yang mendekati bendera lagi karena semuanya berusaha waspada. Mereka memilih melihat berbagai pemandangan dengan panorama paling mengesankan di selatan Costa da Morte. Meski lelah akibat mendaki di jalur yang curam, mereka terpukau akan tampilan alam dengan visibilitas sempurna dari Corrubedo hingga tanjung Fisterra. Makin jauh memandang mereka bisa melihat Touriñán dan Vilán.

Javiar mengakhiri pemandangan indah tersebut dengan mengajak Elena ke tiang beton sebagai tanda puncak A Moa. Teo dan Lucia menyusul mereka.

Eulia memandang kejauhan, tidak menyadari jika sudah ditinggal kakak dan Javiar. Selepas itu, dia menghampiri Juan yang menjaga jarak. “Aku ingin mengambil tasku kembali.”

Juan memandangi Eulia yang tampak muram. Dia tidak tega membiarkan perempuan yang kelelahan itu menggendong tas yang ternyata sedikit berat. “Biar aku saja yang bawa.”

“Aku tidak akan membiarkan orang yang tidak begitu aku kenal membawa tasku. Sini, berikan tas itu padaku.”

“Kalau begitu, kita bisa kenalan terlebih dahulu. Juan Macario Patricia.” Juan mengulurkan tangan, penuh kepercayaan diri.

Eulia hanya mengamati tanpa meraih tangan tersebut. “Apakah aku perlu memperkenalkan diri? Kau bilang kau mengenalku?”

“Ayolah, Eulia. Kau hanya perlu menyebutkan namamu.” Juan tampak menggoda Eulia dengan memandang dalam mata perempuan itu. “Sudahlah. Kita hanya menghabiskan waktu jika terus berkenalan.” Laki-laki itu meraih tangan Eulia begitu saja lalu berjalan menuju tiang beton. “Kakakmu sudah beristirahat di tempat berkumpul.”

Eulia berusaha menggerakkan tangan agar genggaman Juan terlepas meski langkahnya tetap mengikuti laki-laki itu. Dia kemudian melihat Elena yang berbincang akrab dengan Javiar dan Teo. “Kau ingin segera bertemu dengan Elena?” Tiba-tiba saja dirinya berpikir jika Juan juga termasuk salah satu peserta yang ingin bercengkerama dengan Elena. Bagaimana tidak? Sejak berkumpul di titik awal, Elena sudah menjadi pusat perhatian. Elena memiliki paras yang ceria, berpenampilan energik, dan mudah bergaul. Siapa yang tidak suka?

“Kau bicara apa? Kau pikir permainan ini untuk mengejar Elena? Kau sejak tadi sendirian dan seharusnya kau bersama kakakmu supaya tidak banyak melamun. Kau lihat Elena bisa berbaur dengan siapa saja. Dengan begitu, dia bisa menikmati perjalanan. Bagaimana denganmu?”

Eulia menarik tangannya kuat sampai terlepas dari pegangan laki-laki itu. “Bukan urusanmu.” Dirinya berlalu begitu saja melewati Juan sambil mengusap tangan yang tadi disentuh laki-laki itu. Dia tidak peduli lagi dengan tasnya. Bagaimana bisa dia bertemu laki-laki yang berani mengusiknya? Siapa dia? Perempuan itu memisahkan diri dari Elena, Javiar, Teo, serta Lucia saat sudah berkumpul di sekitar tiang satu-satunya yang berada di puncak A Moa. Dia bersikap tidak acuh saat Juan berdiri tidak jauh darinya. Hector dan Jade memilih berdua di belakang mereka.

Tidak lama kemudian, mereka mendapatkan pesan masuk secara bersamaan.

Permainan babak kesatu.

Lihat bendera-bendera yang berpencar. Pilih salah satu bendera dan berdiri di dekatnya. Menghadap ke depan sesuai arah panah yang berada di dekat bendera. Angkat bendera setinggi-tingginya.

Apabila bertahan mengangkat bendera sampai waktu yang ditentukan, akan dianggap lolos ke babak berikutnya.

Permainan dimulai dari sekarang! Selamat berjuang!

Eulia tidak langsung beranjak, tetapi memperhatikan Elena yang sedang mencari posisi yang akan dituju. Apakah dirinya akan mengikuti langkah Elena? Dia beranjak untuk menghampiri kakaknya. Akan tetapi, lagi-lagi, Javiar menarik tangan Elena menjauh dari tempat berkumpul. Eulia berhenti. Dia membenarkan baju training agar sedikit menutupi tubuhnya sambil menguatkan genggamannya.

Lucia dan Teo sudah menyusul Elena dan Javiar menentukan lokasi yang tepat untuk memilih bendera. Javiar menghentikan langkah di dekat bendera dan panah yang mengarah ke tanjung Fisterra, kota kecil di pesisir Galicia, berada di seberang laut Semenanjung Iberia yang tampak mengagumkan, terdapat bangunan-bangungan yang tidak jauh dari pantai. Dia menyuruh Elena berdiri di posisi tersebut. Laki-laki itu kemudian melangkah lagi ke kanan lalu berhenti di panah yang mengarah ke Praia de Estorde, pantai yang terlihat lebih kecil dari kejauhan.

Eulia belum bergerak dari tempatnya sambil melihat bagaimana cara Javiar memperlakukan Elena. Bukankah ini sangat menjengkelkan? Bukankah seharusnya dirinya tidak berada di sini? Apa maksud Javiar mengabaikannya seperti ini? Perempuan itu berdecak kesal. Dia tidak memikirkan harus mengambil ke posisi mana, sementara Teo dan Lucia yang berebut tempat untuk melihat pantai pasir putih Praia de Carnota yang melengkuh indah membuatnya tambah tidak tertarik dengan permainan ini. Namun, lamunannya kembali terusik karena tangan seseorang menarik lengannya.

“Kau melamun lagi?” Juan terpaksa menarik Eulia karena hampir semua peserta sudah menentukan tempat masing-masing. “Kau akan gagal kalau berdiam diri saja. Atau kau memang ingin menyerah tanpa melakukan apa-apa? Aku rasa kau bukan orang bodoh, tapi kenapa kau diam saja, Eulia?”

“Lebih baik aku berhenti sekarang daripada melanjutkan permainan ini.” Eulia mencoba melepaskan genggaman Juan, tetapi lebih sulit dari sebelumnya. Laki-laki itu menariknya sampai ke salah satu titik bendera dan panah yang menghadap ke Fervenza da Noveira dan sekitarnya, cagar alam yang terlihat menghijau dari puncak.

“Diam di sini dan ikuti permainannya. Aku tidak tahu masalah apa yang menghantuimu sampai ke sini. Tapi kamu harus ingat bahwa acara ini diadakan bukan untuk main-main. Semua peserta tidak bisa seenaknya mundur. Kau tahu kalau mundur semudah itu mungkin aku juga sudah berhenti. Untuk apa aku susah payah mendaki seperti ini? Tapi, apakah kau mendapat peringatan jika memilih mundur? Kau dapat?” Juan memandang mata Eulia dalam. “Sepertinya akan menjadi keputusan gila apabila memutuskan mundur begitu saja. Sekarang aku masih bisa merasakan udara bebas. Aku bisa melihat pemandangan di sini. Bagaimana kalau aku memutuskan tidak menerima undangan ini? Kau tahu apa yang akan terjadi, Eulia? Aku sarankan kau jangan coba berpikir untuk berhenti begitu saja.”

Eulia mendadak teringat pesan yang didapat saat dirinya ingin menolak undangan. Dia membalas tatapan Juan. “Kau mendapatkan foto? Ancaman? Kau?” Dirinya mulai merinding karena ingatan tersebut.

“Aku rasa bukan hanya aku saja yang mendapatkannya. Kau pasti juga, kan? Jadi sekarang jangan hanya melamun saja dan ikuti permainan ini. Kau mengerti, kan? Tidak ada yang aman di sini. Tapi kalau kau diam saja sama saja kau mengakhiri hidupmu dengan sia-sia. Kau harus menikmati permainan ini, Eulia. Nikmati hidupmu. Hirup udara sebanyak-banyaknya karena kita tidak tahu kapan permainan ini akan berakhir.”

“Kenapa kau membantuku seperti ini, Juan? Aku sama sekali tidak mengenalmu.” Eulia mulai merasa tidak nyaman karena laki-laki di depannya tampak cemas.

“Karena kau sendirian. Aku juga sendirian. Akan lebih baik kalau kita bisa bekerja sama. Kau sudah lihat bagaimana Javiar dan Elena bekerja sama. Atau kau benar-benar ingin menjalani permainan ini seorang diri?”

Eulia berpikir. Berapa lama lagi permainan ini akan berakhir? Apakah benar selama perjalanan dia akan sendirian? Tidak ada dalam pikirannya untuk mengakrabkan diri dengan peserta lain, kecuali Elena dan Javiar. Namun, setelah kakaknya dan Javiar sering memisahkan diri, dia tidak berusaha berbaur dengan yang lain.

Karena tidak langsung mendapat jawaban, Juan kembali berbicara, “Kau sudah mengerti permainannya, kan? Jangan lupa angkat benderamu. Aku akan mengambil posisi di sana.” Juan menunjuk letak bendera yang tidak jauh dari lokasi Eulia berdiri, sama-sama memandang hamparan pepohonan dan tumbuhan menghijau. “Kau jangan diam saja dan ikuti permainan.” Laki-laki itu melangkah mundur perlahan lalu berbalik dan berjalan ke bendera yang telah dipilih.

Eulia memandang Juan yang sudah berdiri menghadap pemandangan menghijau. Dia mendapat senyum dari laki-laki itu yang membuat sudut bibirnya sedikit melengkung. Hanya sedikit karena dirinya masih belum mengenal Juan. Perempuan itu menggenggam tangan sendiri, berusaha menenangkan segala pikiran yang menginginkannya berhenti dari permainan ini. Ambil bendera itu, Eulia? Ambil bendera itu.


Other Stories
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini

Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Tes

tes ...

Download Titik & Koma