La Falsedad

Reads
0
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Chapter 8

Javiar membantu Elena membawa Eulia ke tempat yang tidak terlalu dekat dengan peserta lain. Teo, laki-laki dengan pakaian mencolok—kemeja motif berbunga-bunga cerah—menghampiri mereka dan beramah-tamah. Namun, laki-laki itu memilih berada di dekat Elena. Dia tampak berbinar memandang Elena yang sedang mencemaskan Eulia.

Di sisi lain, Juan, laki-laki yang berpenampilan biasa, mengenakan kaus biru muda dan celana gunung hitam selutut, hanya memperhatikan mereka tanpa ikut campur.

Dari sekian peserta, hanya Eulia yang tegang terutama setelah pistol mengarah kepadanya, sedangkan peserta lain tampak santai dan menikmati pertemuan ini.

Petugas yang mengantar Eulia dan lainnya menjelaskan bahwa permainan dimulai dari sini. Tidak boleh ada yang mundur karena dianggap meremehkan undangan dari Galicia Interesante. Dia juga memberi tahu bahwa segala informasi terkait permainan akan disampaikan melalui pesan di ponsel yang didapatkan masing-masing. Pengawal akan ikut dengan berpencar untuk memastikan permainan lancar dan tidak ada yang mundur begitu saja. Setelah petugas memberikan penjelasan, semua peserta mendapatkan pesan yang sudah ditunggu-tunggu.

Berjalan ke A Moa dan nantikan pesan selanjutnya.

“Kau sanggup melanjutkan, Eulia?” tanya Javiar sambil mengamati wajah Eulia yang sedikit pucat.

“Aku akan baik-baik saja.” Eulia menjawab dengan lesu. Bagaimana dia bisa baik-baik saja setelah mendapat kejutan bertubi-tubi?

“Tetaplah bersamaku, Eulia.” Elena menggenggam tangan Eulia.

“Aku akan berada di dekat kalian. Usahakan kalian jangan sampai tertinggal di belakang.” Javiar mengangkat tas yang sempat dia taruh di bawah.

“Terima kasih, Jave,” jawab Eulia dan Elena bersamaan yang membuat Javiar tersenyum senang.

“Elena, izinkan aku berjalan di sampingmu.” Teo yang mendadak sangat tertarik dengan Elena berdiri di sisi perempuan itu. Namun, Juan yang sendirian menarik lengan laki-laki itu menjauh. Saat sedang mengamati kakak-adik itu, pandangannya tidak sengaja bersirobok dengan Eulia. Dirinya sadar jika perempuan itu memandang penuh kewaspadaan.

“Apa yang kau lakukan?” protes Teo yang ingin mengikuti langkah Elena.

“Kau hanya menyulitkannya. Kau tidak lihat dia sedang membantu adiknya.” Juan menahan lengan Teo dengan tambahan tenaga. “Kita amati dari belakang saja dan bantu mereka sebisanya. Sikapmu itu bisa saja membebaninya.”

“Kau siapa seenaknya mengaturku?” Teo mengibaskan lengan agar tangan Juan terlepas.

“Bagaimana kau bisa mengenalku jika di matamu hanya ada perempuan cantik?” Juan pun berjalan menyusul mereka.

Teo berpura-pura meludah karena kesal dengan laki-laki itu. Namun, dia juga berusaha mengingat-ingat kembali untuk memastikan dirinya mengenal laki-laki itu atau tidak.

Lucia menyusul mereka serta meninggalkan Jade dan Hector di belakang. Dia tidak ingin menjadi lalat yang mengganggu. Dirinya heran dengan pasangan itu yang bisa menjalin hubungan sepasang kekasih selama bertahun-tahun sejak kuliah. Apakah mereka tidak bosan?

Eulia yang didampingi Elena berjalan mengikuti Javiar. Dia berjalan dengan perasaan tidak menentu. Apakah setelah ini semuanya akan baik-baik saja?

Setelah melewati jalan masuk yang berada di samping rumah penduduk, mereka mulai melangkah di tanah yang kering dengan batu-batu dan tumbuhan hijau di kanan-kiri.

Javiar berjalan di paling depan sambil mengamati sekitar. Dia juga mengangkat ponsel dan mengarahkan ke depan. “Penyelenggara ternyata tidak ingin membuat kita bosan. Ponsel ini bisa mengambil gambar dan video.” Dia sedang merekam. “Sayangnya hanya dapat digunakan di forum diskusi.”

Berkat perkataan Javiar, beberapa orang mengeluarkan ponsel untuk mencoba.

“Kau benar. Ini lumayan menarik.” Jade mengambil foto dengan Hector sambil bergaya bebas lalu mengirimkan ke forum diskusi.

Teo juga mencoba hal yang sama, dia mengabadikan foto Elena yang sedang bersama Eulia dari belakang. Sementara itu, Elena dan Eulia, Lucia, dan Juan tidak memedulikan penggunaan kamera itu. Juan justru sibuk membaca peta yang bergerak seiring dengan langkahnya. Dirinya salut pada penyelenggara yang sampai mempersiapkan ponsel khusus seperti ini. Pasti banyak biaya yang dikeluarkan dan memang merugikan jika ada yang mundur begitu saja. Tiba-tiba dia memandangi punggung Eulia. Jika Eulia benar-benar mundur, apakah pengawal itu benar-benar menembaknya? Laki-laki itu bergidik.

“Kau sudah lebih baik, Eulia?” Elena menarik tangan Eulia. Dia berjalan lebih dahulu.

“Aku rasa perjalanan ini tidak akan mudah.” Eulia berjalan dengan hati-hati yang membuat Elena sedikit kesulitan. Kakaknya itu ingin segera bergerak bebas.

“Kau yang membuatnya tidak mudah. Apa yang membuatmu takut? Pistol itu? Kan kau sendiri yang memulainya.” Elena kembali mengoceh agar tidak bosan.

“Kau pikir pengawal itu cuma menggertakku? Dia benar-benar akan menembakku, Elena.”

“Sudah tahu begitu, sebaiknya kita tidak berbuat macam-macam di sini. Ikuti saja permainannya dan nikmati perjalanan ini. Ayo lebih cepat. Kita tertinggal dari Jave dan akan menghambat yang lain.”

Eulia tampak enggan, tetapi Elena menariknya lebih cepat sehingga langkahnya mengikuti. Pakaian training yang tertutup membuatnya berkeringat lebih cepat. Dia ingin segera berhenti untuk mengistirahatkan diri dan pikirannya.

Lucia yang ingin segera sampai menyalip Teo yang sesekali berhenti dan Juan yang fokus melihat ponsel. “Kenapa aku harus bermain bersama mereka? Tidak adakah orang-orang baru yang bisa aku dekati.” Namun, pandangannya langsung tertuju pada Javiar yang berada di paling depan. “Kalau tidak salah ingat, dia kan temannya dia. Ternyata dia sudah banyak berubah.” Dia ingin menyusul, tetapi Elena dan Eulia lebih dahulu berada di dekat Javiar.

Hector dan Jade saling berpegangan tangan dan berjalan santai, hampir tertinggal oleh peserta lain. Mereka mengobrol apa saja seakan dunia hanya milik berdua.

Setelah berjalan beberapa menit dan melalui jalur menanjak yang mulai terdapat batu-batu lebih besar dan pohon-pohon kecil di kanan-kiri, mereka harus menunduk untuk melewati bawah batang pohon yang menutupi jalur mendaki. Javiar yang berbadan tinggi lebih memilih untuk melintasi batang pohon dengan memanjatnya. Elena melemparkan tas miliknya dan tas milik Eulia melalui bawah batang pohon, baru kemudian mereka menunduk sambil melewatinya. Mereka harus mengulangi hal yang sama di batang pohon selanjutnya.

Lucia yang begitu feminim agak kesulitan melemparkan tas. Rambutnya yang tergerai jadi terurai ke bawah saat menunduk sambil melintas. Teo juga sedikit kesal karena tubuh yang tinggi membuatnya sedikit kesulitan jika harus menunduk. Dia melintas sambil menyeret tas. Juan tampak santai. Dia melempar tas seperti yang dilakukan Elena lalu melintas sambil menunduk.

Hector dan Jade yang paling ribut hanya untuk melintasi bawah batang pohon. Mereka berdebat untuk melintasi bersama atau sendiri-sendiri. Karena hal itu, mereka makin tertinggal.

“Jade, cepatlah!” Hector tiba-tiba mendorong Jade agar bergegas.

“Apa yang kau lakukan?” Jade kebingungan, tetapi tetap mengikuti perintah kekasihnya.

“Cepat susul yang lain. Ada banyak kalajengking.” Hector pun bergegas.

“Apa?” Jade memperhatikan sekitar lalu melirik ke bawah dan belakang. Berpuluh-puluh kalajengking mulai keluar dari sela-sela batu membuat perempuan itu berteriak. “Kenapa banyak sekali?”

“Ayo cepat!” Hector segera menarik Jade.

“Ada apa?” Juan yang di depan mereka seketika berhenti.

“Kalajengking. Ada banyak kalajengking bermunculan,” teriak Hector sambil tetap berlari.

Teriakan itu membuat semua peserta mengamati sebentar kalajengking yang sudah memenuhi jalan. Ekor kalajengking berdiri seakan siap menancapkannya dan kaki-kaki kalajengking terus bergerak maju. Tanpa berpikir lebih lama lagi, semuanya berlari.

Elena mencengkeram tangan Eulia erat sambil terus berlari tanpa memikirkan Eulia yang kesulitan. “Ayo, lari lebih cepat, Eulia!”

“Kau yang terlalu cepat, Elena,” ucap Eulia sambil tetap mengatur napas. Perempuan itu tidak secepat dan sekuat kakaknya saat berlari.



Other Stories
Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Bumi

Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Download Titik & Koma