Chapter 3
Eulia membaca undangan karena rasa penasaran dan terkejut yang membuatnya berdebar. Monte Pindo. Dia teringat sesuatu. Samar-samar lalu semakin jelas. Dia mengingat tentang dirinya dan Elena berkemah di gunung batu tersebut yang terletak di Galicia. Tidak mungkin ini ada hubungannya dengan saat itu? Eulia memandang peta Monte Pindo yang berbentuk garis tidak lurus yang menunjukkan rute awal sampai akhir gunung tersebut.
“Eulia, kau memikirkan apa?” tanya Elena yang khawatir melihat adiknya melamun dan tampak kurang nyaman. “¿Estás bien?[1]”
“Monte Pindo. Kau pasti juga teringat sesuatu. Memang hadiah permainan ini kita sangat membutuhkannya, tapi apakah tidak ada cara selain datang lagi ke tempat itu?” Eulia mengamati Elena, memastikan kecemasan yang sama dengan dirinya. Namun, kakaknya tampak baik-baik saja.
“Ya. Aku masih ingat. Tapi itu kan sudah sangat lama berlalu, Eulia. Tidak ada salahnya kalau kita mendaki lagi. Kapan lagi ada yang memberikan hadiah sebesar itu? Kita akan kesulitan membayar ganti rugi kalau tidak mengikuti tawaran ini.” Elena tersenyum secerah mungkin. “Kau mau terima undangan ini, Eulia?”
“Apabila ada cara lain untuk mendapatkan uang lebih cepat, aku tidak mau ikut permainan itu.” Eulia tidak ingin datang lagi ke tempat yang seharusnya sudah dia lupakan.
“Kenapa Eulia? Tawaran ini sungguh membantu. Apakah kau lebih ingin kita dituntut karena tidak sanggup membayar ganti rugi?” Elena memandang adiknya, heran. “Adakah sesuatu yang kamu takutkan?”
Eulia menunjukkan ekspresi gelisah.
Elena menangkap kegelisahan itu. “Tapi itu sudah berlalu sangat lama. Kau pasti sudah tidak begitu mengingatnya, kan?”
“Aku sudah ingat kembali setelah membaca undangan itu. Sepertinya permainan itu bukan sesuatu yang bagus untuk aku ikuti. Bisa kan, Elena, kita mencari cara lain?”
Daunte dan Elena saling pandang, mengkhawatirkan Eulia yang benar-benar tidak tertarik untuk ikut. Laki-laki itu berdiri lalu mengusap rambut putih kecokelatan milik Eulia. “Masa lalu tidak bisa kauubah. Tapi Eulia, kau bisa mengubah saat-saat ini. Kau bisa memilih untuk melupakan masa-masa sulit di masa lalu dan menjalani kehidupanmu sekarang lebih berani lagi. Apakah kau tidak ingin segera melunasi ganti rugi itu?”
“Aku akan membantu melunasi itu. Tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk pergi ke Monte Pindo.” Eulia menggeleng. Dia kembali mengingat sosok yang jauh di bawah dalam kegelapan. “Elena, kau saja yang pergi jika ingin. Akan lebih baik jika Daunte yang menemanimu.” Eulia berdiri sambil mengangkat gelas kopi. “Aku sudah kenyang dan mau bersiap-siap.” Perempuan itu menaruh gelas kosong ke mesin pencuci piring.
***
Eulia dan Elena diantar bekerja oleh Daunte menuju Baiona yang menghabiskan waktu sekitar 2 jam perjalanan menggunakan mobil. Mereka bekerja di hotel bernuansa elegan dan terletak di benteng kuno, bangunan terbentuk dari batu-batu, dengan pemandangan laut yang menakjubkan.
Mereka berpisah untuk bekerja di bagian masing-masing. Eulia harus bekerja di restoran, sedangkan Elena bekerja mengurus kamar. Sejak tadi, Eulia merasa gelisah. Dia merasa melihat seorang laki-laki seperti sedang memperhatikannya setelah memasuki hotel. Meski sudah berbalik untuk memastikan sesuatu, dia hanya melihat Elena berbincang-bincang dengan rekannya sambil tertawa ramah. Perempuan itu mengamati sekitar, tetapi tidak lagi menemukan sosok yang mencurigakan tadi. Mungkin hanya perasaanku saja.
Selesai bekerja, Eulia menemui Elena yang sudah menunggunya di lobi.
“Aku sudah mengajukan cuti selama seminggu. Cutimu juga,” jelas Elena sambil memandang adiknya yang tampak kelelahan. “Kita bisa pergi ke Monte Pindo.”
“Apa katamu, Elena? Kau mengajukan cutiku juga? Kau tidak membicarakan ini denganku? Kau pikir aku akan setuju begitu saja?”
“Aku tahu kau tidak akan setuju, tapi aku tetap mengajukannya karena kita harus pergi untuk mendapatkan hadiahnya. Cuti kita juga sudah disetujui, jadi kau tidak perlu berangkat bekerja.”
“Semudah itu?” Eulia mengernyit.
“Aku juga tidak tahu kenapa, tapi atasan kita menyetujui begitu saja. Katanya sudah waktunya bagi kita untuk berlibur. Tidak masalah untuk mengambil cuti.”
Eulia mendadak gelisah. Cuti yang biasanya sulit didapat karena hotel hampir tidak pernah sepi pengunjung, tiba-tiba disetujui dengan mudah. Setelah lama berpikir, dia baru teringat bahwa hotel tempatnya bekerja merupakan daerah pariwisata di Galicia. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Galicia Interesante?
Mereka bertemu Daunte yang sudah menunggu cukup lama. Eulia tampak kelelahan. Selama perjalanan, Elena dan Daunte tidak berhenti berbincang, sedangkan Eulia berusaha memejamkan mata sambil bersandar. Perempuan yang duduk di kursi penumpang sendirian itu tidak begitu senang karena kedua orang yang duduk di depan masih membicarakan tentang undangan dari Galicia Interesante.
“Kapan kalian pernah mendaki Monte Pindo?” tanya Daunte sambil tetap menyetir. Sesekali, dia memandang Elena. Pasangan kekasih yang sudah berencana untuk hidup bersama itu sudah terbiasa dengan saling menatap.
“Saat kami masih kuliah. Sepertinya kurang dari sepuluh tahun yang lalu,” jawab Elena masih tetap bersemangat. Dia tidak merasa bosan saat bersama Daunte.
“Masa-masa muda yang indah. Eulia, kau pasti sangat lincah mendaki saat itu.” Daunte melirik kaca spion tengah, memperhatikan bagaimana kondisi adik kekasihnya itu.
Ya. Sangat lincah. Begitu lincah sampai bisa saja terjatuh. Eulia hanya menjawab dalam hati. Dia tetap memejamkan mata. Sampai kapan pembicaraan ini akan selesai?
“Dia sangat lincah. Dia bisa mendaki sendiri tanpa bantuan. Aku selalu memerlukan bantuan agar tidak terpeleset,” jelas Elena sambil mengecilkan sedikit volume radio.
“Kalau dia begitu pandai mendaki, kenapa dia terlihat tidak ingin lagi datang ke sana? Padahal ini kesempatan bagus agar dia menambah kegiatan. Bisa juga dia mendapat kekasih. Pasti ada peserta lain yang juga akan ikut permainan ini. Kita tidak mungkin membiarkan Eulia selalu sendiri, apalagi kalau kau sudah bersedia tinggal denganku.”
“Kami mendapat kejadian kurang menyenangkan saat itu. Kami termasuk teman-teman lain merasa terpukul. Aku berhasil lepas dari bayang-bayang kejadian itu, tapi Eulia sepertinya tidak bisa. Beberapa kali dia sering mimpi buruk. Tapi di antara kami semua, Eulia memang yang paling merasa bersalah.”
Hentikan Elena. Kau sengaja ingin aku mengingat lagi kejadian itu?
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Daunte penasaran.
Elena yang biasanya lancar berbicara jadi terdiam sebentar. “Teman kami terpeleset saat sedang bermalam. Eulia berada di sekitar lokasi dan sepertinya melihat kejadian itu. Meninggalnya teman kami membuatnya ketakutan. Seperti yang kau tahu sampai sekarang dia tidak mau mengingat-ingat kejadian itu.”
Teman? Kau bilang teman? Elena, kau benar-benar sudah melupakannya, ya?
“Pasti berat untuknya. Sepertinya hubungan Eulia dan teman kalian cukup dekat sampai Eulia sulit melupakannya.”
“Ya. Mereka dekat. Teman kami lumayan dikenal, jadi banyak yang merasa kehilangan, termasuk Eulia.”
Kau tidak merasa kehilangannya? Sampai saat ini?
Eulia memejamkan mata sambil meremas tangan. Dia kesal karena Elena harus membicarakan kejadian itu. Semua karena undangan tidak bernama itu. Siapa sebenarnya yang mengadakan permainan di tempat berbahaya itu?
Hari pertama cuti, Eulia yang mulai merasa jenuh bersantai di sofa setelah membersihkan rumah. Dia memperhatikan boks yang dikenalnya. Boks yang membuatnya gelisah sejak kemarin. Apa dibuang saja, ya? Dia mengambil boks itu lalu membukanya perlahan. Dua ponsel masih tersimpan di dalam, sedangkan surat tidak terlihat. “Apa gunanya ponsel ini?” Dia ingin mengambil dua benda pipih itu, tetapi segera menutup kembali boksnya. “Aku tidak akan tertarik.” Eulia menaruh boks ke meja lalu memilih beristirahat di kamar.
Namun, beberapa menit kemudian, Eulia terbangun dengan tegang. Dia lekas ke kamar mandi untuk membasuh wajah dengan cepat di wastafel. Cermin memantulkan ekspresi ketakutan yang terbalut sisa-sisa air di wajahnya. “Jangan lagi. Aku tidak takut. Aku akan segera melupakannya.” Eulia kembali mengusapkan air ke wajah dengan lembut dan hati-hati. Dia pun merapikan ikatan rambut putihnya. Setelah merasa lebih baik, meski bayang-bayang kegelapan masih samar, dirinya meninggalkan kamar lalu menuju dapur. Dia mengambil segelas air dingin lalu duduk di kursi yang menghadap meja.
Beberapa kali, Eulia menghela napas cepat. Dia meminum air dari gelas dengan cepat, berharap bisa segera mendinginkan pikirannya.
Tidak lama kemudian, Elena memasuki dapur dan duduk di dekat Eulia. Ikatan batin di antara keduanya begitu kuat sehingga Elena berkeinginan datang ke dapur saat berada di kamar.
“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Elena berbicara lebih lembut dari biasanya. Dia mengamati wajah adiknya itu.
“Aku tidak mau ke Monte Pindo, Elena. Aku tidak mau.” Eulia tampak gusar.
“Apa yang membuatmu gelisah seperti ini?” Elena memasang wajah cemas.
“Dia mendatangiku.” Eulia makin terlihat tidak nyaman. “Dia akan datang. Aku tidak akan ke sana.”
“Siapa yang mendatangimu?”
“Dia, Elena. Dia!”
Elena mengernyit. Perempuan itu baru memahami setelah beberapa detik. “Eulia, dia sudah tidak ada. Bagaimana dia bisa mendatangimu? Hentikan ketakutanmu itu.”
“Aku tidak mau!” Eulia bersuara keras. “Aku tidak ingin bertemu dengannya!” Dia berdiri lalu mundur hampir jatuh karena menghantam kursi. Dia mondar-mandir dengan gelisah. Perempuan itu teringat mimpinya yang sedang berlari dalam kegelapan seperti tidak ingin tertangkap sesuatu. Dia terus berlari sampai melewati batu-batu. Kanan dan kiri terdapat batu. Dia berhenti saat melihat seseorang terkapar di antara batu, tidak jelas, dalam kegelapan malam.
Elena yang beberapa kali melihat kepanikan Eulia segera meraih bahu adiknya itu lalu memeluknya. “Hentikan Eulia. Tidak akan ada yang mendatangimu. Kau hanya sedang takut. Hentikan ketakutan-ketakutanmu itu. Semua akan baik-baik saja. Dia sudah pergi, Eulia. Dia sudah pergi.”
Eulia memeluk erat kakaknya. Di saat seperti ini, dia tidak kagum juga tidak membenci Elena. Dia hanya ingin seseorang menemaninya dan memberikan tempat bersandar. Hanya Elena yang bisa melakukannya. Dia sudah pergi, Eulia. Tidak. Dia sudah mati. Dia mati. Jangan takut. Dia mati. Jangan takut. Dia sudah mati, Eulia.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Nafas Tahun Baru
Maren pindah ke apartemen kecil di lantai paling atas sebuah gedung yang hampir kosong men ...
Kota Ini
Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...
Pulang Tanpa Diikuti
Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...