Chapter 12
Di sisi kanan Eulia dan Javiar, Hector dan Jade menghadap ke Utara. Karena begitu santai, tidak berebut seperti yang lain, mereka mendapat posisi yang tidak begitu menguntungkan untuk berbahagia dalam hubungan mereka. Tidak ada pemandangan hijau seperti yang dilihat Eulia dan Juan. Tidak ada juga laut biru dengan pasir putih dan bangunan-bangunan. Mereka hanya dapat memandangi hamparan batu-batu besar, ke arah area jalur mereka menanjak.
Jade meminta tukar posisi dengan Hector. Dia ingin melihat pemandangan yang tidak penuh batu-batu. Hector tentu saja setuju. Dia tidak takut untuk melihat hamparan batu, tetapi akan takut kalau sampai kekasihnya kesal karena berdebat.
Javiar masih berusaha memimpin dengan mengajak semuanya mengangkat bendera secara bersamaan. Tidak ada yang protes karena hampir semuanya tertarik dengan keputusan tersebut. Javiar memberi perintah dengan lantang. Dia menghitung mundur dengan menyebutkan tiga hingga satu lalu semuanya menarik tiang bendera secara bersamaan.
Peserta laki-laki agak kesulitan menarik, tetapi setelah mengerahkan sedikit tenaga mereka bisa mengambil bendera. Tiang bendera dipasangkan alat yang membuat benda itu bisa berdiri kokoh. Namun, karena begitu kokohnya sampai sulit untuk diangkat. Sementara itu, peserta perempuan harus mengerahkan lebih banyak tenaga untuk mengangkatnya. Elena yang pertama berhasil menarik bendera. Lucia menyusul. Eulia dan Jade hampir bersamaan menariknya.
Javiar memerintahkan semuanya untuk mengangkat bendera tinggi. Angin menyambut tangan mereka yang terangkat. Mereka juga harus mempertahankan tubuh agar bisa berdiri tegak. Tidak lama setelah itu, ponsel mereka berbunyi bersamaan. Mereka mendapatkan pesan masuk.
Selamat beristirahat! Dilarang meninggalkan posisi masing-masing!
Eulia mulai menurunkan tubuh lalu duduk. Dia meluruskan kaki sambil tetap menghadap pemandangan bukit serba hijau. Namun, ketika hendak mengambil minum, dia menyadari tas tidak bersamanya. Seketika itu juga, dia memandang Juan yang berada di sebelah kanan. “Juan, kembalikan tasku!”
Juan pun menengok lalu mengangkat tas Eulia. “Kau mau apa?”
“Kembalikan saja padaku! Lempar!”
Juan mengangkat tas Eulia, tetapi mempertimbangkan keseimbangan Eulia untuk menangkapnya. Lumayan berbahaya jika terlempar tas atau tas justru terlempar jauh. Bagaimana kalau didorong? Juan menggeleng sambil menurunkan kembali tas. “Kau mau apa? Biar aku berikan isinya.”
“Lempar saja tasnya!” Apa sih maksudnya? Kenapa tidak mau memberikan tasku? Eulia memperhatikan Juan dengan tajam.
Juan tersenyum. “Aku akan berikan yang kaubutuhkan. Sebutkan saja.” Dia mengeluarkan sebotol air yang ditaruh di samping tas Eulia. Dia kemudian menggelindingkannya ke arah Eulia.
Eulia sergap menerima, tetapi masih berwajah masam. “Kubilang tas! Tas!” Perempuan itu mulai geram.
“Sebutkan saja, Eulia!” Elena yang bersuara. “Bahaya kalau melempar tas di posisi seperti itu!”
Hampir semua peserta duduk di posisi ujung, seakan lokasi bendera sengaja diletakkan di tempat yang berbahaya. Salah langkah sedikit bisa berakhir mengenaskan.
“Kau mendengar itu, kan, Eulia?” Juan mengeluarkan sesuatu dari tasnya, bukan tas Eulia. Dia tidak ingin sembarangan membuka tas milik perempuan itu. Setelah itu, dia melempar pelan roti bungkus agar sampai langsung ke dekat Eulia.
Eulia yang belum siap terkejut karena roti tersebut mengenai pinggulnya. Dia mengambil roti itu dan menyadari bahwa makanan itu bukan miliknya. Dia sudah membuat sendiri roti-roti kering yang tersimpan dalam tasnya.
“Kau makan saja! Aku tidak akan membuka tasmu.” Juan mengangkat roti bungkus yang sama.
“Kau baik sekali, Juan!” Elena lagi-lagi yang berkata. Perempuan itu bisa berbaur di segala situasi. Meski posisinya berada di dekat Javiar, dia tetap memperhatikan Eulia.
“¡no es un problema![1]“ Juan tersenyum pada Elena.
“Kau nanti harus mengembalikan tasku! Terima kasih,” ucap Eulia, sedikit ketus.
Mereka harus berteriak-teriak karena suara angin sedikit mengaburkan pendengaran.
Setelah waktu berlalu dengan kebahagiaan dan terpesona keindahan alam, terdengar suara berdebum. Jade kemudian berteriak yang memecahkan kegembiraan menjadi ketegangan. Perempuan itu berdiri. Tanpa memedulikan perintah pada pesan yang menyatakan dirinya harus tetap di posisi, Jade berlari ke posisi Hector sebelumnya, bahkan memandang ke bawah, mencari keberadaan laki-laki itu.
Javiar dan Juan begitu sigap, langsung berlari ke Jade dan menarik kedua tangan perempuan itu. Mereka mengkhawatirkan kemungkinan perempuan itu ikut terjatuh. Teo yang sudah mencapai lokasi memandang ke bawah dan masih belum menemukan keberadaan Hector.
Tidak ada yang melihat bagaimana Hector terjatuh.
Elena dan Lucia menyusul mereka, sedangkan Eulia merangkak mundur dengan badan gemetar. Tidak mungkin. Tidak mungkin dia yang melakukannya? Tidak.
Bersamaan dengan kepanikan tersebut, ponsel mereka berbunyi membuat suasana bertambah gaduh.
“Berengsek!” Teo mengumpat saat membaca pesan tersebut.
Selamat! Peserta yang tersisa lolos babak berikutnya.
Babak selanjutnya akan diberitahu sebentar lagi.
Persiapkan diri.
Eulia merasakan tubuhnya lemas. Setelah membaca pesan tersebut, dia benar-benar menyesal telah mengikuti permainan ini. Dia hanya memandangi mereka yang berkumpul karena kakinya seakan tidak sanggup berdiri.
Sementara di tempat semuanya berkumpul, Lucia memeluk Jade yang menangis. Punggung Jade gemetar.
Karena kesal dengan hasil permainan yang merenggut nyawa orang lain, Javiar mengirim pesan layanan.
Apa yang kau lakukan pada Hector?
Tidak lama kemudian, Javiar mendapat balasan.
Terdapat racun acónito pada tiang bendera. Racun itu sepertinya bereaksi dengan benar.
“Racun? Siapa yang akan menduga kalau di tiang bendera terdapat racun?” Javiar berkata kesal.
“Apa maksudmu?” Juan menghampiri Javiar yang melihat ponsel.
Javiar memperlihatkan pesan tersebut. Teo pun ikut membaca.
“Berengsek! Berengsek!” Teo menendang-nendang udara.
Jade yang mendengar itu makin terisak. Dirinya teringat sudah meminta bertukar tempat dengan kekasihnya. Seharusnya dia yang terkena racun itu. Seharusnya dia yang terjatuh. “Hector! Hector!” Perempuan itu berteriak dengan suara serak.
Semuanya masih tampak tegang. Jade mulai sedikit tenang, tetapi dunianya seakan runtuh dalam sekejap. Dia sudah bersama dengan Hector sejak kuliah. Sudah banyak lika-liku yang mereka lalui untuk mempertahankan hubungan. Namun, bagaimana bisa hubungan mereka harus berakhir karena sebuah permainan? Apakah dirinya harus berhenti dari permainan ini? Jade memandang kosong ke arah tempat Hector tadi terjatuh, penuh keputusasaan. Ataukah lebih baik menyusul Hector?
Other Stories
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Camara Derie
Zola mendapat informasi mengenai sanak saudara yang masih hidup. Ia memutuskan untuk menem ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...