Chapter 18
Setelah meninggalkan O Fiero yang tidak berpenghuni, berjalan di jalur besar yang di sisi kanan-kiri masih ditumbuhi pohon-pohon pinus, mereka tiba di bendungan. Elena mengatur napas, lelah karena mengatur ritme berjalan dengan Javiar yang seperti tidak kehabisan tenaga serta kekhawatiran pada Eulia yang tertinggal di belakang. Javiar langsung duduk sambil tersenyum lega. Dia berhasil keluar dari hutan-hutan dan suasana yang kurang menyenangkan. Lucia yang baru sampai terengah-engah karena berusaha mengejar mereka. Dia tidak ingin tertinggal sendirian. Juan dan Eulia tertinggal jauh sekali di belakang.
Selama perjalanan, Juan merasa Eulia makin berubah dari saat bertemu di O Pindo. Eulia tidak banyak bicara, tetapi tidak juga ketus. Saat Juan meminta Eulia untuk memberikan tas agar dibawa olehnya, Eulia menyerahkan begitu saja. Justru, Eulia yang menjadi penurut membuatnya sedikit tegang.
Setelah Juan dan Eulia sampai di titik Javiar, Elena, serta Lucia berada, pesan masuk mulai berbunyi. Mereka yang masih mengistirahatkan kaki tidak langsung membaca pesan. Javiar yang memintanya. Dia ingin memberikan waktu pada dirinya dan peserta yang tersisa untuk mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Permainan Babak Keempat
Berkumpul di tengah bendungan Presa do encoro Santa Uxia. Tepat di atas air terjun Rio Xallas
Akan ada pesan selanjutnya setelah berkumpul.
Setelah semuanya membaca pesan, Eulia tiba-tiba memeluk Elena. Dia merasa selama ini telah dijaga Elena bahkan menemaninya setelah bermimpi buruk. Lantas, sampai kapan dirinya akan bergantung pada Elena? Sampai kapan dirinya akan menyimpan rahasia dari Elena?
“Kau harus selamat, Elena,” ucap Eulia dengan lembut di telinga Elena. “Kau harus menikah dengan Daunte.”
“Kau juga harus selamat, Eulia.” Elena sedikit bingung dengan perasaannya saat ini, tetapi tetap berharap keselamatan untuk dirinya dan Eulia.
Eulia tersenyum. Meski selamat, hubungan dirinya dengan Elena akan berubah. Entah apa yang akan terjadi apabila Elena mengetahui sesuatu tentangnya, tentang Cariann?
Juan menyadari senyum Eulia tampak ganjil. Senyum yang tulus dan hangat. Berbeda sekali dengan senyum Eulia sebelumnya yang tampak dipaksakan. Apakah ada yang Eulia rencanakan?
Javiar sudah berjalan lebih dahulu meninggalkan kakak-adik dan Lucia mengikuti di belakangnya. Javiar sengaja berjalan lambat sambil memandangi air laut yang berada di sisi kanan bendungan. Dia sengaja ingin membuat pengirim pesan menunggu. Jika kalah dalam permainan keempat ini, setidaknya dia sudah mempermainkan pengirim pesan itu. Dia tersenyum dengan kepuasan kecil ini.
Eulia dan Elena menyusul mereka. Setelah berpelukan, Eulia menjadi lebih diam. Elena merasakan sesuatu yang berbeda. Tidak enak. Tidak nyaman. Namun, dirinya tidak ingin bertanya pada Eulia. Eulia akan menceritakan sendiri apa yang dipikirkannya apabila ingin bercerita. Elena hanya perlu menunggu.
Juan mengikuti mereka sambil menjaga jarak. Dia menjadi lebih waswas. Sepertinya, permainan-permainan yang sudah terjadi telah mengubah kondisi setiap orang. Bagaimana dengan dirinya?
Mereka sampai di pertengahan bendungan, lokasi yang sudah ditentukan. Suara air yang berjatuhan ke Rio Xallas, air laut yang melewati bendungan, seakan memberikan kehidupan karena betapa sunyinya perjalanan mereka sebelumnya.
Lucia menikmati angin yang berembus dari laut. Daripada menikmati pemandangan air terjun, Eulia memandangi air laut yang tidak terbatas dan luas, seperti pikirannya yang tidak terbatas. Pikiran baik dan buruk bergerak bersamaan tanpa ada yang bisa menghentikannya meski sudah berusaha dibendung.
Javiar kembali akrab dan berbincang dengan Elena. Elena yang tidak ingin terus merasakan ketidaknyamanan mulai mengakrabkan diri lagi.
Juan masih menjaga jarak dari Eulia, tetapi tetap memperhatikan perempuan itu yang rambut putih keemasannya berkibar-kibar tertiup angin.
Tidak lama kemudian, bunyi pesan datang bersamaan. Mereka melihat pesan dan membacanya perlahan. Javiar tersenyum senang. Elena tampak murung. Eulia tersenyum sekaligus menyeringai. Juan kebingungan. Lucia merasa kecewa. Ketika pesan bahwa permainan babak keempat dimulai, semuanya bergerak cepat, seakan saatnya untuk melepaskan dahaga karena menahan haus beberapa waktu.
Javiar segera menangkup wajah Elena lalu mencium bibir perempuan itu. Elena membuka mata lebar karena terkejut. Lucia tampak kesal karena melihat Javiar bertindak cepat pada Elena, sedangkan dirinya hanya mendapat tugas bergandengan tangan dengan laki-laki itu. Juan hendak memeluk Lucia karena mendapat tugas itu, tetapi Eulia lebih dahulu mencapai Lucia yang berdiri di dekat air terjun lalu mendorong perempuan itu sekuat tenaga. Lucia yang sedang tidak fokus terdorong ke belakang dan terjatuh dari ketinggian.
Elena yang sudah dilepaskan oleh Javiar dan melihat tindakan Eulia segera menghampiri adiknya itu. Dia segera menampar Eulia sesuai pesan yang didapatkannya, padahal sebelumnya driinya tidak ingin melakukannya.
Eulia, yang merasakan tangannya masih bergetar, merasakan juga pipinya berdenyut. Dia tidak memandang Elena, tetapi menunduk memandang jalan bendungan.
“Apa yang kau lakukan, Eulia?” Elena bernada marah. Tidak pernah terpikirkan olehnya jika Eulia akan melakukan tindakan yang sangat bodoh. “Kenapa kau mendorongnya sampai terjatuh? Kau sama saja sudah membunuh Lucia, Eulia. Kau ....”
Juan bergegas memeluk Eulia. Seharusnya dia memeluk Lucia, tetapi semua terjadi begitu cepat. Dia bisa merasakan punggung Eulia gemetar.
Elena ingin memisahkan Juan dan Eulia karena perlu bicara empat mata dengan adiknya, tetapi Javiar lebih dahulu menariknya menjauh.
Eulia mendadak ketakutan. Dia teringat peristiwa dahulu saat mendaki Monte Pindo bersama teman-teman kuliahnya. Saat itu, malam hari, dia menemui Cariann yang sedang mabuk berat dan sendirian. Mereka berjalan berdua menjauhi area hutan pinus sampai di area berbatu. Sesekali mereka berciuman. Eulia merasa senang bisa bersama Cariann yang baru saja bertengkar dengan Elena. Cariann merupakan pacar Elena. Laki-laki itu mabuk karena dipaksa minum oleh Lucia dan sepertinya dia menganggap Eulia sebagai Elena. Eulia tidak menolaknya sama sekali. Mereka mendaki ke tempat yang lebih tinggi dengan hati-hati. Cariann membawa senter yang kesulitan ketika menyalakannya. Mereka mencari tempat yang aman untuk bersembunyi lalu mematikan senter. Mereka kembali berciuman dengan lebih berani. Cariann bergerak cepat sampai tangannya sudah berada di dalam kaus tipis Eulia. Dia seperti sudah ahli, sedangkan Eulia baru pertama kali.
Cariann membisikkan sesuatu ke telinga Eulia sebelum melanjutkan lebih jauh, “Apakah kau mencintaiku, Elena?”
Eulia segera menjawab, “Aku mencintaimu.”
Seperti mendapat peringatan, Cariann tiba-tiba menghentikan pergerakkan tangan yang hampir berpindah ke bawah. “Kau siapa? Kau bukan Elena?” Dia sangat mengenal suara Elena, tetapi kali ini suaranya berbeda.
Eulia kembali mencium Cariann, tetapi laki-laki itu menolaknya.
“Kau bukan Elena.” Cariann menjauhkan diri dari Eulia.
Eulia mencoba menarik kembali Cariann karena terhuyung, tetapi Cariann mengabaikan tangannya. Eulia masih berusaha menangkap Cariann yang kesulitan menurun. Namun, penolakan yang ketiga membuat Eulia mengambil keputusan cepat dengan memeluk Cariann dari belakang lalu melepaskannya begitu saja sambil sedikit mendorong. Laki-laki itu kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke depan dan berguling ke bawah. Dia berpindah ke lokasi awal tadi datang dan berdiam diri sambil memandang ke bawah. Apa yang baru saja dia lakukan?
Other Stories
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Mimi & Peri
Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...