Kelamin Ketiga

Reads
0
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Bab 5

Menjadi pelacur adalah pekerjaan yang paling menjijikkan!
—Narong Sarinya—




Sarinya masih ingat ketika Ayah menjual adik dan dirinya kepada Madam Dao. Saat itu usia mereka masih belasan tahun dan bayaran mereka tidak cukup memenuhi hutang judi Ayah yang terus menumpuk. Setiap malam, Ayah selalu mencarinya untuk meminta uang. Awalnya, dia tidak keberatan. Namun, makin lama amarahnya makin membumbung. Hingga pada saat awal musim hujan, Sarinya kabur sebentar dari Thisam ke rumah dan membunuh Ayah yang sedang tertidur karena mabuk. Sarinya menikamnya beberapa kali lalu kembali ke Thisam dengan baju yang sudah terciprat darah.

“Kau keren.” Kata itu diucapkan oleh Madam Dao ketika melihat penampilannya yang tak keruan—seolah Madam Dao sudah mengetahui tindakannya.

Setelah itu hidup Sarinya baik-baik saja. Tidak ada polisi atau tetangga yang mencarinya—meski sekadar memberikan kabar kalau Ayah ditemukan meninggal dunia dengan belasan tusukan.

Sarinya berharap hidupnya akan damai dan sejahtera bersama adiknya. Hingga suatu waktu Ayuthaya mengungkapkan rencana masa depannya. “Aku ingin membuka toko kue, Rong.”

Sarinya melirik adik satu-satunya itu. “Kau sudah memiliki uang untuk menebus dirimu sendiri ke Madam? Jika kurang, kau bisa bilang kepadaku.”

Sejak kecil, Ayuthaya memang pandai memasak dan bercita-cita menjadi koki dessert. Namun, kesalahan Ayuthaya adalah lahir dalam keluarga miskin. Dia pun hampir tidak sekolah. Beruntung saat itu Kakek masih ada dan menyekolahkan Ayuthaya. Sedangkan Sarinya sudah senang mendengar rencana adiknya itu. Sarinya tidak pernah memiliki mimpi yang muluk-muluk, cukup dengan melihat adiknya tersenyum.

“Dananya sudah cukup.” Ayuthaya berkata tanpa khawatir.

Sarinya memberikan penegasan. “Kau kau kekurangan uang, datanglah kepadaku. Akan kuberikan bunga spesial.”

Ayuthaya mencubit Sarinya. “Ah, Rong … kau bercanda lagi. Aku kan serius.”

“Santai dulu.” Sarinya menyodorkan sekaleng susu. “Kapan kau akan keluar dari Thisam?”

“Mungkin antara dua sampai tiga minggu lagi.” Ayuthaya terlihat tak sabar.

Rencana Ayuthaya tidak terjadi. Dua minggu sebelum dia berhenti menjadi pelacur, penjaga Thisam menyeretnya masuk ke Kubikel. Dia dinyatakan terkena HIV setelah melakukan tes. Sebagai kakak, Sarinya mencoba berbagai cara untuk membebaskan adiknya, tetapi tetap tidak berhasil hingga dia menyuap dokter dan memalsukan hasilnya, seolah dia terkena HIV pula. Demi surat positif HIV itu, Sarinya menghabiskan setengah dari tabungannya. Usaha yang dia keluarkan tidak pernah main-main. Maka wajar saja saat dia benar-benar marah ketika mengetahui adiknya habis babak belur dihantam Natcha oleh sebuah buku. Itupun gara-gara Natcha sakau akibat tidak merokok ganja. Alasan yang sangat sepele.

Awalnya, Dia ingin menghabisi Natcha saja. Namun, dia merasa kurang puas. Bukankah Natcha baru masuk ke Kubikel beberapa hari yang lalu dan belum benar-benar mengenal Kubikel? Menurut Sarinya, Natcha harus merasakan terlebih dahulu hal-hal umum yang terjadi di Kubikel. Dia ingin Natcha melihat bahwa Kubikel adalah tempat yang benar-benar berbeda. Dia tidak akan mengajukan nama Natcha untuk dilelang. Sebab Sarinya ingin Natcha tetap di sini, selamanya.

***

Natcha sudah tidak tau hari dan tanggal. Rasanya sudah lama sekali sejak dia diseret ke Kubikel. Apalagi hari terasa makin menyesakkan setelah Sarinya memasukkannya ke ruangan yang berbeda. Sebelumnya, dia pikir Kubikel adalah penjara tenang. Para pelacur akan menunggu sampai mereka dilelang. Namun, sepertinya tidak begitu. Memang, Sarinya sudah mengatakan kalau Kubikel adalah penjara berstrata. Sarinya selalu memberikan pemaknaan kalau kenyataan yang ada di Kubikel tidak akan bisa diterima oleh akal sehat.

Sekarang, Natcha mulai tertarik untuk mengingat-ingat ucapan Sarinya—yang dahulu dia dengarkan setengah-setengah.

Kubikel memiliki dua puluh ruangan yang disebut Rung. Setiap Rung memiliki nama berbeda. Natcha tidak mengetahui nama-nama Rung. Dia hanya tau kalau Rung dihubungkan oleh lorong panjang. Sarinya menyebut lorong itu sebagai Long. Para pelacur yang masuk ke Kubikel pun memiliki sebutan Ubi. Setiap Ubi akan menunggu namanya ditulis di papan berukuran 4 x 10 cm, yang dimasukkan oleh penjaga ke Rung melalui terali besi. Nama yang ditulis di papan itu adalah nama yang akan dilelang juga nama yang ditentukan oleh penguasa Kubikel. Ada tiga penguasa kubikel yang disebut Kubik dan satu di antara mereka ada yang tertinggi. Saat itu—mungkin—Sarinya menjelaskan lebih banyak, tetapi Natcha hanya berhasil mengingat itu saja. Lagipula, alasan Sarinya sangat mencurigakan. Tiba-tiba mendekatinya dan bercerita banyak tentang Kubikel, kemudian menyarankan menjadi bagian dari Kubik? Sudah pasti niat Sarinya tidak hanya balas dendam.

"Dia bajingan," gumam Natcha dengan suara serak.

Sudah beberapa hari dia diseret ke Rung D-K.01 dan Sarinya hanya diam menonton, lalu pergi lagi. Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa, meski sudah ditanya atau pun disumpah serapah. Hal yang menambah Natcha jengkel adalah mereka—para Ubi di Rung D-K.01—terlihat patuh ketika Sarinya masuk. Mereka tidak membantah. Meski begitu, mereka pun tidak memasang ekspresi tertekan. Mereka … lebih terlihat suka.

Seorang perempuan berambut ikal, berkulit sawo matang dan sedikit berisi sedang berbicara dengan Sarinya. Tingkah perempuan itu mirip seperti preman pasar dan bernada suara tinggi, tetapi cempreng sekali. Natcha memperhatikan mereka dari pojok ruangan. Dia dan Sarinya sempat bertatap mata sebelum Sarinya pergi lagi dan perempuan berambut ikal itu datang menghampirinya.

"Hai, Natcha, aku Tim." Sapaan perempuan itu mengganggu telinga Natcha.

"Kau berisik dan terlihat ceria sekali," ungkap Natcha, "kupikir kau beneran kayak preman pasar yang sok gahar."

Tim menunjuk dirinya sendiri. "Aku preman? Hooo, aku ini tomboy sejati. Suka mendominasi sekali," katanya sambil menepuk-nepuk dada.

“Kau terlihat bahagia,” ujar Natcha sambil berdecih.

“Aku selalu bahagia,” kata Tim.

“Dasar banci aneh!”

“Kau juga banci.” Tim mencubit pipi Natcha.

Natcha membela diri. “Tapi tidak aneh.”

“Semua banci itu aneh. Kalau gak aneh, kenapa jadi banci?”

Lalu para Ubi di Rung itu terdengar tertawa keras sampai memenuhi Rung. Suasana makin membuat mental Natcha menciut. Dia kalah bicara—tidak bisa menjawab ucapan Tim.

“Aku kathoey sejati dan mengakui kalo aneh.” Terdengar suara dari sudut lain. “Apalagi kalau cium-cium perjaka. Uhuy! Makin terlihat aneh sekali, tapi mantap.”

Tim melirik sumber suara. “Iya, kan? Sebenarnya, tuh orang gak sadar apa gimana si?”

“Tau,” jawabnya sambil mengendikkan bahu, “yang pasti semua Ubi di Rung ini terjamin anehnya.”

“Termasuk dia, Hoor?” Tim menunjuk Natcha.

Hoorne melirik Natcha yang terlihat lesu dan acak-acakan. “Kalau perempuan sinting itu seret dia ke sini, ya pasti anehlah! Tapi kau yakin dia ini kathoey?”

“Sarinya bilang si memang banci,” jawab Tim.

“Cantik banget. Seumur-umur, aku gak pernah lihat kathoey secakep itu. Apalagi suaranya bisa seksi gitu.” Hoorne mendekati Natcha dan menoel-noel pipinya.

Tangan Hoorne terasa dingin. Natcha membenahi duduknya agar lebih rapi. “Kenapa? Udah puas pake aku?”

Hoorne, Ubi tergila yang pernah Natcha temui di Kubikel. Dia ingat ketika Sarinya menyeretnya ke Rung D-K.01, Hoorne terlihat seperti anjing birahi. Selama berhari-hari, dia dibabat habis oleh kathoey itu. Meski sesekali dia merasa hampir mirip dengan Hoorne yang sudah kecanduan seksual, sedangkan dia kecanduan ganja.

Dalam setiap penyiksaan yang terjadi di Rung D-K.01, Hoorne-lah yang paling terlihat bersemangat. Dia suka menjamah setiap lubang badannya dan kadang-kadang mencekokinya dengan whisky—sebuah minuman yang seharusnya tidak ada di Kubikel. Sekilas, Natcha jadi ingat kalau Sarinya bisa mendatangkan narkoba. Jika narkoba bisa, pastilah minuman semacam itu pun bisa. Hanya saja, bagaimana bisa? Bahkan makanan di Rung itu terlihat lebih manusiawi ketimbang di Rung sebelumnya. Hal sesederhana ini juga ada di kuasanya?

Pernah suatu pagi, ketika Natcha memasukkan makanan ke mulut, perutnya terasa mual. Dia memuntahkan makanannya. Namun, dia lapar sekali. Jadi, dia berusaha memaksakan makanannya masuk dan mengunyahnya dengan cepat. Saat dia berusaha menelan, makanan itu kembali lagi. Begitu seterusnya sampai makanan di piringnya habis dan perutnya tak kunjung terisi, sehingga dia berusaha memakan kembali muntahannya sampai perutnya tidak lapar lagi.


Other Stories
Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Pantaskah Aku Mencintainya?

Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...

Liburan Yang Menelanjangi Kami

Tujuh mahasiswa BAKOR-UNAS memilih merayakan kebebasan selepas UAS dengan cara yang tampak ...

Di Luar Rencana

Hubungan Hening sedang tidak akur dengan Endaru, putri semata wayangnya, namun mereka haru ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Rembulan Digenggam Malam

Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...

Download Titik & Koma