Kelamin Ketiga

Reads
0
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Bab 4

Phii tidak akan membuat Maee kecewa. Jika ditanya alasannya, aku akan menjawab, “itu karena dia adalah seorang Phii.”
—May Phaelyn—





Jika dipikir-pikir lagi, Natcha pun memaklumi Sarinya. Balas dendam demi sang adik kesayangan sangatlah wajar. Namun, dia merasa Sarinya terlalu dramatis. Jika ingin balas dendam, ya tinggal balas dendam saja. Sarinya bisa memukulnya menggunakan buku atau menghajarkan secara terang-terangan di depan para pelacur. Lagi pula, dia sudah mendapatkan tidak pelecehan seksual di malam itu berkat perintah dari Sarinya. Bukankah itu bisa dianggap impas?

Ya, mungkin saja itu tidak akan bisa dianggap impas oleh Sarinya. Nasib adiknya juga bisa dikatakan sekarat—atau mungkin sudah tewas. Barangkali Sarinya adalah seorang kakak yang juga bertindak gila dan nekat. Jika benar begitu, maka dia tidak perlu khawatir karena dia pun juga seorang kakak yang bisa bertindak nekat demi adik perempuannya, May.

May adalah alasan utama yang membuatnya pergi dari Isan ke Pattaya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Isan adalah tempat yang kecil. Baginya tak ada keindahan pantai Isan yang mampu bersaing dengan pesona Pattaya atau kumpulan sejarah yang berkesan seperti keberagaman Chiang Mai, juga tidak ada lampu-lampu yang melampaui gemerlap Bangkok. Isan hanya wilAyah yang kuno. Mayoritas penduduknya terjebak dalam peran petani dengan beban utang yang membebani.

Sebagai seorang kakak yang memiliki tanggung jawab untuk menghidupi May, dia berambisi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan May tanpa perlu berhutang dan menunggu pemberian orang. Dia tidak sudi adiknya yang cerdas itu hanya berakhir menjadi petani. Adiknya harus lebih indah dari dirinya.

Harus!

Dahulu Natcha bermimpi bisa menjadi pelukis ternama. Maee merangkulnya dan berjanji untuk membawa Thanakorn mengejar pendidikan tinggi di jurusan seni. Segala kebutuhannya selalu dipenuhi dengan penuh cinta. Namun, ketika Maee meninggal dalam kecelakaan tunggal, Thanakorn mulai kelabakan. Dia kesusahan beradaptasi. Dia sulit merangkul kenyataan bahwa mimpinya yang paling sederhana itu harus terbakar dan terlarung di samudra bersama abu Maee. Meski pada akhirnya, dia berani mengambil keputusan untuk berhenti di kelas Mattayom 3 dan membiarkan May untuk melanjutkan pendidikan.
Natcha berpikir, impiannya boleh gagal, tapi mimpi adiknya jangan.

Di sela-sela lamunannya, Natcha mendengar suara Mayy yang memanggilnya: Phii—begitu.
Sudah lama sekali ia tidak pulang ke Isan. Dia tidak berani menunjukkan wujud fisiknya sekarang kepada May. “Yah, aku tau dia akan marah sekali sampai aku berhalusinasi seperti ini,” kata Natcha.

Badannya mendadak kaku ketika ada pelukan dari belakang yang mendarat di pinggulnya. “Phii,” katanya.
Sialan! Itu sangat mirip dengan suara May. Saking miripnya, sampai-sampai membuat Natcha bergeming. “Memangnya ada orang berhalusinasi sampai senyata ini, ya?” ujar Natcha lirih.

“Phii, kenapa tidak cerita apa-apa kepadaku?”

Kali ini Natcha memilih melihat perutnya. Ada sepasang tangan di sana. Dia tidak berhalusinasi. Dia segera memegang tangan itu dan berbalik. Matanya berkaca-kaca saat melihat wajah perempuan itu. Ah, May ada di sini, di Kubikel. Natcha memegang kedua pipi May. “Wajahmu makin cantik dan bersih, Nong.”

Sesaat Natcha ingin menangis, tetapi dia mendadak berteriak dan menarik tangannya. “Nong! Kau. Kau…. Kau kenapa di sini?” tanya Natcha kemudian melirik badannya. Kedua tangannya mendadak tersilang di depan dada. “Ah, jangan lihat diriku yang seperti ini, Nong. Berbalik! Berbalik, kataku!”

Pandangan May jadi sendu. “Phii.”

“Jangan melihatku, Nong! Berbaliklah!” seru Natcha, “Jangan Mendekat!”

May tidak peduli karena dia hanya ingin memeluk kakak lelakinya. “Phii, sudah jangan pergi lagi. Jangan membiarkanku berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Aku tau semuanya, Phii. Aku tau.”

Natcha membekap mulutnya sendiri. Perasaannya jadi carut marut. Sejak kapan May tau dia jadi transgender? Dari mana May mendapatkan informasi kalau ia telah menjadi pelacur di Thisam? Apakah May tau trauma dan ketakutannya? Sebenarnya, May tau sejauh apa?

“Kau pasti membenciku, kan? Semua tentang diriku berubah. Bahkan suaraku, tidaklah sama seperti dulu,” Natcha menangis.

“Phii, maafkan aku. Sungguh, aku benar-benar minta maaf.” May makin memeluk Natcha kuat-kuat. Dia tidak ingin melepaskan kakaknya lagi. “Maaf.”

Sejak keputusan Natcha pergi ke Pattaya, May selalu mencari tau kabar kakaknya itu. Meski awalnya sulit, tetapi usahanya mendapatkan hasil. Bagi May, Natcha adalah kakak yang baik dan tidak pernah egois. Natcha selalu berusaha membuatnya bahagia. Hingga May berada dalam kondisi nyaris sekarat pun, Natcha tetap berusaha membuatnya hidup. Padahal, May tidak keberatan jika Natcha bertindak egois dan memilih untuk selamat sendirian.

Di malam ketika mereka mengalami kecelakaan besar, sampai membuat Maee meninggal, Natcha memiliki kesempatan hidup lebih banyak ketimbang May. Pada saat May masuk rumah sakit dan dinyatakan tidak akan bertahan lama, seharusnya Natcha tidak menangis meronta-ronta di depan dokter; seharusnya Natcha tidak menjual barang-barang peninggalan May hanya demi biaya pengobatan May; seharusnya Natcha menyerah saja karena May tidak akan mengumpat atau memberikan sumpah serapah jika kakaknya itu enggak membantunya.

“Seharusnya, Phii hidup untuk dirimu sendiri. Kenapa kau selalu membuat dirimu kesulitan demi aku?” tanya May.

“Maafkan aku,” kata Natcha.

“Phii!” Suara May meninggi. Ia melepas pelukan. “Kenapa kau selalu meminta maaf? Kenapa kau selalu berpikir hidupmu tidak penting? Kenapa kau selalu membuat alasan nyeleneh untuk bertahan hidup? Kenapa kau harus membiarkan dirimu disetir oleh orang lain? Dan kenapa kau tidak memarahiku? Apa kau tidak penasaran?”

“Berhentilah cerewet, Nong. Sudah lama telingaku tidak sesakit ini,” kata Natcha sambil tersenyum.

“Ini yang tidak kusuka darimu. Kau terlalu memanjakanku.” May menghela napas, lalu mengelap air mata Natcha.

“Aku memang tidak bisa memarahimu,” kata Natcha, “kau satu-satunya keluargaku, Nong.”
“Aku tau, kok.”

Natcha menyentil hidung May. “Kalau kau tau, seharusnya kau tidak di sini. Sekarang aku makin mengkhawatirkanmu.”

“Aku juga khawatir kepadamu, Phii. Kau tidak pernah pulang. Kau hanya mengirimkan uang dengan nominal besar. Kau pikir aku hanya menginginkan uangmu? Dasar!”

Natcha tidak menjawab.

“Phii,” panggil May dengan suara yang lebih lembut.

“Ya?”

“Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa? Seharusnya kau penasaran aku tiba-tiba datang ke sini.”
Sekilas terlihat Natcha akan mengucapkan sesuatu.

“Phii.” May menatap Natcha lekat-lekat. “Kau makin menyedihkan, ya?”

“Aku hanya tidak tau harus bereaksi apa, Nong. Aku-aku tidak ingin melukai hatimu. Bagaimana jika setelah aku memarahimu, kau membenciku? Bagaimana kalau kau memilih tidak menemuiku lagi? Aku menyayangimu. Jadi aku pikir, aku harus bersikap lebih hati-hati agar tidak melukaimu. Aku rasa aku harus—” ucapan Natcha terhenti ketika May menampar pipi Natcha.

“Phii, Kau makin bodoh, ya?” May mendongak, mencoba menghalangi air matanya keluar. Setelah itu dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia memilih meninggalkan Natcha melewati pintu pojok ruangan yang mengarah ke lorong Kubikel. Di sana, terlihat Sarinya mengobrol sebentar dengan May, sebelum pintunya ditutup kembali. Melihat hal itu, Natcha menghampiri Sarinya dan tiba-tiba mencekik leher Sarinya.

“Jika kau ingin balas dendam, jangan melibatkan adikku.” Natcha memberi peringatan.

Sarinya meninju leher Natcha lebih keras, sehingga tangan yang mencekiknya bisa terlepas. Mereka pun terbatuk-batuk.

“Sudah kubilang kalau aku tidak suka permainan yang tidak adil.”

“Kau!”

“Jika aku bisa membuatmu masuk ke Kubikel, maka aku bisa melakukan hal yang sama kepada adikmu.” Sarinya menatap Natcha lebih dekat. “Apa kau tidak tau kalau adikmu bisa berakhir di Thisam karena ingin menemuimu? Dengan paras secantik itu, apa kau pikir Madam Dao akan melepaskannya begitu saja? Apa kau yakin dia tidak akan berakhir sama sepertimu? Atau jangan-jangan dia akan bernasib lebih buruk darimu?”

Pandangan Natcha menggelap. Otaknya terasa penuh. “Madam tidak akan membiarkan adikku berakhir buruk.”

“Ha?” Kini Sarinya merasa muak. “Kau pikir kau benar-benar spesial? Kau pikir mucikari itu benar-benar tulus? Bukankah dia selalu mengatakan, kualitas barang harus dijaga agar konsumen puas? Apa kau berpikir dia akan memandangmu sebagai manusia?”

”Tapi, dia sudah membantuku,” ucap Natcha.

“Naif. Sungguh naif,” ungkap Sarinya, “Bukankah kau pelacur termahal di Thisam? Pelacur yang ada di lantai tiga dan menangani pelanggan VIP adalah pelacur yang cerdas, tapi kenapa kau tidak?”

“Madam membantuku.”

Sarinya menepuk-nepuk pipi Natcha dengan keras. Giginya terlihat bergemeretuk. “Buka pintu lorong!” Ia memberi perintah kepada siapa saja. Seorang pelacur di ruangan yang sama membukakan pintu pojok. Sedangkan Sarinya langsung menggenggam kerah belakang Natcha, menyeretnya sepanjang lorong dan melemparkannya ke sebuah ruangan yang berbeda. Dia menamainya sebagai ruangan berkode D-K.01.

Dalam beberapa hari, Sarinya tinggal di ruang itu. Namun, dia tidak melakukan apa-apa selain melihat Natcha terpukul dan terlecehkan beberapa kali. Setelah melihat Natcha benar-benar tidak berdaya dengan posisi tengkurap, Sarinya menjambak Natcha ke belakang sampai mata mereka bertemu. “Na, kau tidak bisa mengharapkan bantuan dari Madam Dao. Urus traumamu sendiri. Berusahalah memenuhi keinginan sendiri. Lindungi adikmu dengan berani. Dan jangan mempercayai siapa pun. Dengan begitu, kau bisa bertahan hidup lebih lama di sini.”


Other Stories
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Download Titik & Koma