Kelamin Ketiga

Reads
0
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Bab 15

Membawa nama keadilan dari mulut orang yang tak adil, itu memuakkan.

—Natcha Siriwat—

Natcha berlari kelabakan setelah membaca tulisan dari Sarinya. Surat itu berisi sebuah kertas bertulis "Dia di sini" dengan sekumpulan potongan rambut. Sebenarnya, dia tidak mengetahui pemilik potongan rambut itu. Isi suratnya pun ambigu. Namun, dia mulai merasa batinnya tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ada yang keliru. Dia memasang raut khawatir, tetapi tidak tau sebab kekhawatiranya. Dia pun terlihat mondar-mandir seperti setrikaan panas. Sesekali menggigit jari, di waktu lain dia melamun.

Ahara, yang mengaku memiliki insting seorang ibu, telah memperhatikan Natcha sejak lama, tepatnya sejak dia menerima surat. Awalnya, dia tidak ingin ikut campur mengingat Natcha sudah melakukan kesalahan membunuh Ayuthaya. Ditambah, dia pun merasa dongkolnya saat mendengar Ayuthaya meninggal karena ulahnya. Walau Ahara tau, tidak setiap Ubi akan meninggal dengan mudah hanya gara-gara dihajar habis-habisan. Namun, di Kubikel tidak ada perawatan untuk korban semacam itu. Sama seperti Tim dan beberapa Ubi lainnya, Ayuthaya pun pasti akan dibiarkan sampai mati. Toh, Madam Dao bukan orang yang bermurah hati. Mucikari itu hanya menyayangi sesuatu yang dianggap masih berguna. Tidak ada alasan khusus baginya untuk mempertahankan seorang pelacur yang sudah terkena HIV. Dengan adanya status Kubik, itu menjadi bukti ketidakpedulian Madam Dao terhadap mereka. Jikalau mereka masih harus dilelang, itu karena Madam Dao selalu memikirkan keuntungan. Jika masih berharga, ya bagus. Jika tidak, ya bunuh. Ya, pada dasarnya Madam Dao berhati dingin dan tidak manusiawi.

Hanya saja, sebagai perempuan yang pernah menjadi Ibu, walaupun hanya beberapa hari sebab putrinya sakit, Ahara merasa rasa tidak nyaman yang dialami Natcha harus diselesaikan segera. Dengan nada lembut, Ahara berkata, "Kau tampak khawatir sesuatu. Ada apa?"

Natcha menoleh dan memandang ke bawah, ke arah Ahara yang sedang duduk sebab Preeyanuch tertidur di pangkuannya. "Aku merasa diancam oleh Sarinya, tetapi aku tidak tau itu bentuk ancamannya. Dia hanya mengirimkan ini," jelasnya sambil menyodorkan sebuah surat dan potongan rambut.

Ahara diam sebentar. "Bagaimana jika itu rambut adikmu? Bukankah kau pernah bercerita kepadaku kalau kau memiliki adik?"

"Tidak mungkin. Bagaimana bisa dia ke sini?" kata Natcha, "Ah, dia pernah ke sini. Saat itu di ke sini dengan Sarinya."

Natcha pun segera berlari menuju pintu pojok yang menuju Long. Namun, Hoorne dan Mano Kiat Sitthibawornchot menghalangi. Kata mereka, Natcha tidak boleh keluar dari Rung tanpa izin. Kata mereka, hanya karena Natcha bisa menghabisi Tim, bukan berarti dia bisa bersikap seenaknya. Ada batasan antara penguasa Rung dan Kubik. Penguasa Rung hanya bisa hidup damai, saat ada di Rung-nya saja. Jika seandainya dia datang di Rung lain, dia tetap bisa dihabisi oleh Ubi-Ubi di Rung lain. Sedangkan Kubik tidak. Dia bisa datang ke Rung manapun dan mengakses sesuatu yang lebih luas.

Natcha membentak, "Biarkan aku keluar! Aku ingin menemuimu Sarinya."

"Tidak bisa. Kalau kami tidak menghalangi, nasib kami yang jadi taruhannya." Hoorne tak mau kalah.

Namuang menyela, "Biarkan dia keluar."

Natcha menatap Namuang sekilas lalu kembali menggedor pintu pojok, kemudian Mano Kiat Sitthibawornchot membukakannya. Setelah Natcha berhasil keluar, barulah dia berlari kencang dan terburu-buru sambil berteriak memanggil nama Sarinya. Sedangkan Ahara menatap Namuang. "Kau benar-benar mengizinkan mereka berakhir seperti itu?"

Namuang menjawab dengan nada acuh. "Ya. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya. Aku terlalu malas mengurusnya."

Mano Kiat Sitthibawornchot berkata, "Namuang, bukankah kau adalah Kubik pertama?"

"Ya. Kenapa? Apa aku harus membuat drama-drama penyiksaan seperti yang Sarinya lakukan sedangkan aku lebih suka menjalani hidup dengan tenang? Paw, aku benci dipaksa melakukan sesuatu." Namuang kembali melanjutkan bacaannya.

***

Natcha kembali ke Rung sebelumnya—Rung saat dia datang pertama kali ke Kubikel. Dia jumpa Sarinya di sana, dan dia berharap kali ini keberadaan Sarinya pun di sana. Dia menggedor pintu pojok dengan keras sambil berteriak, "May! Apa kau di dalam? Apa ada Sarinya di sana?"

Pintu terbuka. Hanya ada beberapa Ubi di sana. Bisa terhitung dengan jari. Dua? Natcha membuka matanya lebar-lebar. Dia sungguh hanya menemukan dua Ubi, tetapi tidak ada Sarinya. Mungkin Sarinya tidak ada di Rung itu. Jadi, dia harus mencarinya di Rung lain. Sehingga dia hendak menutup pintu. Namun, dia mendapat pukulan dari belakang. "Bajingan!" umpat Natcha.

Seketika, kepalanya menjadi pusing. Nyeri sekali. Dia merintih sakit. Natcha mencoba fokus, mencari tau orang yang sudah berani memukulinya. Sungguh licik!

Natcha berujar, "Apa kau Sarinya? Apa kau disuruh Sarinya?"

Tidak ada jawaban selain tubuhnya yang didorong masuk.

Natcha memegang kepalanya yang nyeri sambil mengumpat, "Kalau aku disuruh masuk, ya tidak perlu memukul kepala!"

"Ya, maafkan mereka. Kadang-kadang, mereka bertindak berlebihan." Terdengar sahutan dari kamar mandi. "Kau datang di saat yang kurang tepat." Sarinya tertawa.

"Di mana, May?" ceria Natcha.

"Lah, ke mana dia?"

"Katanya kau bawa May?"

"Kata siapa?"

"Ahara."

Sarinya tertawa. "Kan kata Ahara, bukan kataku."

"Tapi pesanmu...."

"Aaa, pesanku?" Sarinya terlihat merenung. "Aaa, suratku?"

"Iya. Suratmu."

Sarinya tertawa lagi. "May ada di dalam kamar mandi. Kau mau lihat? Lihat aja."

Tanpa basa-basi, Natcha segera ke kamar mandi. Dia melihat May sudah tak sadarkan diri. Tubuhnya berdarah-darah. Syukurnya, masih bernapas. Darah Natcha mendidih. Ia marah sekali dan membentak Sarinya. "Sudah kubilang, kalau kau ingin balas dendam atas kematian Ayuthaya, langsung saja ke aku. Jangan berdalih menungguku jadi penguasa Kubikel. Pakai kata-kata adil. Padahal kau tidak cocok sama sekali kalau sedang berlagak adil."

Sarinya menghampiri Natcha. "Awalnya memang begitu niatku. Nah. Kalau nasib May jadi begini, itu bukan gara-gara kau membunuh Ayuthaya. Aku belum balas dendam perkara itu lo. Aku memiliki masalah lain dengan May. Habisnya, dia sok sekali. Aku sudah memberikan tawaran untuk jadi adikku saja. Dia tidak mau. Dia pilih kamu. Padahal aku menawarinya dengan baik. Tapi lama-lama dia menyinggung kalau aku tidak akan bisa menggantikan posisimu sebagai kakak. Padahal aku, kan selalu menjadi kakak yang pengertian. Aku selalu melindungi Ayuthaya dari Ayah dan Madam Dao. Bahkan aku yakin kalau aku jauh lebih baik dari kau."

Natcha melongo mendengar penjelasan Sarinya. Dia terdiam sebentar, mencoba memahami. "Kau sudah gila sungguhan!"

Kesimpulan yang Natcha ambil lebih terasa masuk akal. Mungkin saja, Sarinya terpukul dengan kematian Ayuthaya. Meski dia kurang mengetahui jalan hidup mereka berdua, tetapi sebagai seorang kakak yang memiliki adik kesayangan, pasti usahanya tidak main-main demi adiknya. Sama seperti dirinya yang nekat menjadi transseksual dan merahasiakan pekerjaan sebenarnya agar adiknya tidak khawatir dan malu, Sarinya pasti melakukan hal nekat demi Ayuthaya. Pada dasarnya, Sarinya adalah orang baik.

"Kau pikir aku gila?" tanya Sarinya, "Hei, aku ini sehat sekali. Otakku masih bisa digunakan dengan baik."

Natcha keceplosan. "Biasanya si, orang gila tidak pernah mengakui dirinya gila. Persis sepertimu."

Sarinya langsung melotot. Sedangkan Natcha menggendong May dan membawanya ke Rung D-K.01 meski Sarinya berkali-kali protes dan melarang membawa May keluar. "Halangi pelacur itu!"

Beberapa Ubi langsung menghalangi Natcha yang hendak membawa May pergi. Padahal May memiliki banyak luka di badan yang harus segera ditangani. Masalah cara menanganinya bisa dia pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang, dia bisa membawa May dan menjauhi Sarinya. Sehingga, dia menendang tulang kelamin para Ubi. Setidaknya, memang itu salah satu kelemahan manusia baik perempuan atau lelaki—yang masih memiliki testis atau yang sudah memotongnya. Akan tetapi, cara itu sampai membuat mereka berhenti karena Natcha tidak terlalu pandai menendang. Seharusnya lebih keras.

Saat kondisinya terdesak, Mano Kiat Sitthibawornchot mendobrak pintu pojok. "Hai kathoey, aku menjemputmu!"


Other Stories
Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Bu Guru Dan Mantan Murid

Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Download Titik & Koma