Bab 14
Jika seandainya dia memiliki adik seperti May, pasti ia akan bahagia.
—Narong Sarinya—
Menjadi Kubik memiliki banyak keuntungan. Pertama, dia bisa mengatur nama-nama Ubi yang akan dilelang. Kedua, dia bisa berkeliaran di Kubikel bahkan memiliki akses untuk keluar dari Rung dan menghadiri tempat lelang. Meski terbilang bebas, tetapi Kubik tidak diperbolehkan masuk ke Thisam, batasnya sebuah pintu besar yang dijaga oleh penjaga Madam Dao. Di balik pintu besar itu, terdapat gemerlap Thisam dan pelacur yang belum terkena HIV. Ketiga, Kubik tidak bisa diatur-atur oleh Ubi sebab Kubiklah yang mengatur-atur mereka.
Dahulu, Ayuthaya memiliki banyak ketakutan saat masuk ke Kubikel. Terlalu banyak orang baru, di situasi yang menakutkan. Anak itu sudah terlalu bergantung dengan Sarinya. Sejak kecil, Sarinya selalu pasang badan demi dirinya. Kini, Ayuthaya diseret ke Kubikel tanpa kakaknya. Rasanya sedikit berbeda karena dia tidak berani menyapa dan berbicara. Selama berminggu-minggu, Ayuthaya mengalami kesulitan saat memakan makanannya. Kemudian Sarinya datang ke Kubikel untuk menyusul adiknya itu—yang terlihat makin kurus. Ayuthaya langsung memeluknya dan berkata, \"maaf sebab selalu membuat Kakak kerepotan.\"
\"Dasar. Kau tau, aku kesulitan mencarimu. Ternyata kau diletakkan Rung yang berbeda,\" jelas Sarinya.
Ayuthaya tidak mengerti Rung, tetapi perempuan itu kalau Sarinya telah berusaha keras sampai bisa ke Kubikel. \"Ah, Kakak terkena HIV juga?\" tanyanya sambil berkaca-kaca.
\"Hei, tenanglah.\" Sarinya memeluk Ayuthaya erat-erat. \"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Sehat sekali.\"
Sarinya bisa bertemu dengan Ayuthaya karena kepandaiannya dalam membaca situasi. Ia mengerti kalau ada seseorang yang mengendalikan Kubikel. Sarinya tidak malas mencari informasi dan bertindak hati-hati-hati saat melakukan eksekusi.
Maka dari itu, makin Sarinya mengetahui Natcha, maka rasa dongkolnya makin tinggi. Bagaimana bisa ada seorang kakak setolol dirinya?
Suatu ketika, keluar dari Kubikel untuk mengajukan beberapa nama yang akan dilelang dan dia disuruh untuk mempersiapkan Ubi itu dalam kondisi yang baik, setidaknya masih bersih, rapi, dan cantik. Sehingga terkadang, Sarinya akan memandikan para Ubi yang sulit diatur. Ya, makin sulit diatur maka makin semangat dia untuk mengirim mereka ke Kubikel.
Sepulang dari mengirim nama, dia mendengar suara berisik dari balik pintu. Penjaga bilang ada seseorang yang mengirim narkoba khusus untuk dirinya, dan mengatasnamakan Madam Dao. Sarinya sempat mengernyitkan dahi, \"berapa orang?\"
\"Dua. Satu perempuan, satu lelaki.\"
\"Yang perempuan saja,\" ujar Sarinya.
Terbukalah pintu besar dan masuklah seorang perempuan yang membuat Sarinya bungah. \'Sialan! Wajah yang mirip,\" batinnya.
Sarinya tidak membutuhkan waktu untuk mengenali perempuan itu. Dia menelaah baik-baik. Wajah mirip dan terlihat muda. Pastilah perempuan itu adalah adik Natcha. Sarinya mengumpat berkali-kali sambil mengakui kalau dirinya dan Ayuthaya tidak semirip mereka.
\"Siapa kau?\" tanya Sarinya setengah berbisik.
May sedikit gemetar meminta tolong, \"May. Namaku May. Ngomong-ngomong apakah kau tau Natcha Siriwat?\"
Sarinya tersenyum miring. \"Kau bukan suruhan Madam Dao, \'kan?\"
\"Ya. Aku terpaksa,\" ungkap May.
Sarinya terkekeh. \"Aku bisa membawamu untuk bertemu dengannya, tapi waktunya sebentar karena kalau kau ngotot, aku yang akan meladenimu.\"
May setuju dengan tawaran Sarinya.
\"Hoi, aku akan membawa anak ini dulu. Aku harus mempelajari narkoba barunya!\" teriak Sarinya sambil melambaikan tangan dan menjauhi penjaga.
Sarinya mempertanyakan banyak hal. Tentang caranya May bisa datang ke Thisam. Tentang hubungannya dengan Natcha Siriwat. Tentang alasannya nekat masuk ke Kubikel. Dari obrolan mereka, Sarinya bisa memastikan bahwa Natcha kakak yang baik dan May adalah adik yang mandiri. Mereka saling khawatir dan memiliki hubungan yang baik--sama baiknya dari dirinya dan Ayuthaya. Ya, walau dia merasa sudah membahagiakan Ayuthaya, tetapi terkadang dia ingin egois untuk membahagiakan dirinya sendiri. Dia merasa terkadang ingin mencekik adiknya agar tidak merepotkan. Kadang-kadang dia merasa adiknya tidak bisa membantu dan selalu bertingkah kekanakan. Bikin repot saja.
Jika seandainya dia memiliki adik seperti May, pasti ia akan bahagia. Dia yakin akan menjadi kakak yang baik—jauh lebih baik dari Natcha. Namun, dia tidak perlu terburu-buru. Untuk saat ini dia akan menikmati momen pertemuan dari seorang kakak dan adik kandung yang sudah berpisah selama sepuluh tahun. Dengan senyuman, Sarinya membuka pintu Rung bagian pojok sambil berkata, \"Selamat berjumpa.\"
Sarinya melihat May memerhatikan sekeliling. Berusaha mencari sosok Natcha Siriwat, tetapi dia tidak mengetahuinya. May pun menoleh ke arahnya dan bertanya, \"Yang mana kakakku?\"
\"Yang berbalik badan.\" Sarinya menunjuk.
May terlihat ragu. Punggungnya terlihat berbeda. Bokong dan garis tubuhnya juga berbeda. Sedrastis itu, kah? May berusaha mendekat kembali untuk memastikan. Dengan ragu, dia pun bersuara, \"Phii.\"
Tidak ada sahutan. Dia pun memutuskan memeluk Natcha dengan perlahan. “Phii, kenapa tidak cerita apa-apa kepadaku?”
Baru setelah itu. Natcha menoleh dan memegang pipinya. May senang sebab bisa merasakan kembali sentuhan tangan kakaknya lagi. Namun, kesenangannya buyar saat Natcha berteriak ketakutan. Natcha melarangnya melihat bentuk badan dan wajahnya. May memang terkejut dengan perubahan fisik Natcha, tapi dia lebih terkejut dengan perubahan mentalnya. Tidak apa-apa, May menghibur dirinya sendiri. Dia ingin menenangkan Natcha sebab Natcha selalu begitu saat masih di Isan. Dengan segera, dia memeluk Phii lagi. “Phii, sudah jangan pergi lagi. Jangan membiarkanku berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Aku tau semuanya, Phii. Aku tau.”
Setelahnya, pembicaraan mereka tidak bisa dikatakan baik, tetapi cukup. Sarinya melihat dari jarak yang cukup jauh. Dia tidak bisa mengabaikan tontonan yang menarik. Meski dia tidak menyangka kalau May akan menampar Natcha dan berkata dengan nada yang sedikit tinggi. \"Phii, kau bodoh ya?\" Begitu kata May.
Saat itu tanpa sadar Sarinya mengangguk dan bergumam. \"Dia memang udah telanjur bodoh.\"
Setelah itu, May berbalik ke arahnya sambil menangis. \"Kau kecewa?\" tanya Sarinya basa-basi.
May mengeleng.
\"Lalu kenapa?\"
\"Menangisi kondisi Phii. Rasa-rasanya aku tidak bisa mengenalnya. Dia berubah, tapi bukan perubahan yang baik. Maksudku, ya aku sudah bisa menerima fakta dia melakukan operasi dan menyembunyikan pekerjaannya. Cuma dia terlihat seperti orang sakit jiwa. Ada yang rusak darinya dan aku tidak tau cara menyembuhkannya. Aku sendiri bingung. Aku—\"
Sarinya menepuk bahu May dan tersenyum. \"Apa kau ingin berada di sini? Kau bisa bersama kakakmu.\"
\"Benarkah?\"
\"Ya.\"
\"Bagaimana?\" May tampak penasaran.
\"Palsukan hasil kesehatan. Buat kau seolah-olah terkena HIV. Maksudku, tinggal suap dokternya saja dengan bayaran yang tinggi. Dokter itu tidak berani memalsukan laporan orang yang benar-benar terkena HIV, tetapi ia berani memalsukan laporan orang yang tidak terkena HIV. Itu mudah kalau kau punya banyak uang. Tinggal tawar-tawar saja,\" ungkap Sarinya.
May tidak mengatakan apa-apa terkait sarannya tadi, tetapi perempuan itu jadi kepikiran dan mempertimbangkan saran Sarinya.
Sarinya memberikan imbuhan, \"Kau tidak perlu bingung, sebab nama-nama orang yang akan masuk ke Kubikel akan diserahkan kepadaku. Akan kuletakkan kau se-Rung dengan Natcha.\"
Other Stories
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Kumpulan Tulisan
Sebuah bentuk tulisan tentang pikiran-pikiran yang jenuh dan amarah yang terpendam. ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Mimi & Peri
Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...