Kelamin Ketiga

Reads
0
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Bab 16

Tidak semua orang memiliki kewajiban untuk ikut campur dan membantu masalah orang lain.

—Preeyanuch—

Namuang suka menikmati segala hal yang ada di lingkungannya. Sebagai penyuka buku filsafat, dia selalu menganggap bahwa takdirnya sangatlah spesial dan indah. Tolak ukurnya adalah perasaannya sendiri. Dia akan bersedih ketika kehilangan, dan tertawa ketika bahagia. Semua jenis rasa yang ada dalam badannya, dia nikmati benar-benar kemudian barulah dia menyadari bahwa hidupnya indah sekali. Meski dahulu dia bekerja menjadi pelacur dan berakhir di Kubikel. Namuang berasa di Kubikel adalah tempat untuk memperbaiki diri. Dia menjauhi segala konflik karena ingin merasakan kedamaian. Meski faktanya, tidak benar-benar damai.

Kadang-kadang, dia merasa risih dengan suara Mano Kiat Sitthibawornchot dan guyonan-guyonan seks ekstrem Ahara. Kemudian kesenangannya kembali seperti musim semi saat seorang Ubi baru dimasukkan ke Rung D-K.01. Ayuthaya, perempuan kalem dan banyak bertanya. Namuang selalu merasa bahagia saat berbicara dengan Ayuthaya. Anak itu terlihat ceria dan banyak mimpi. Sesekali dia bertanya tentang Tuhan, di lain waktu dia bertanya tentang makanan dan hewan.

\"Aku memiliki seorang kakak. Dia baik sekali. Aku sangat senang diurus dengannya. Aku disekolahkan kakak walau tidak sampai jenjang yang lebih tinggi karena Ayah menjual kami. Namun, Kadang-kadang, kakak membawakan buku dan guru.\" Ayuthaya menceritakan dirinya dengan ramah.

Sedangkan Natcha berbeda. Jelas, usia mereka juga berbeda. Namun, darinya Namuang bisa mengerti segala kekhawatiran saat memiliki adik kesayangan. Meski Namuang tidak pernah merasakan berada di posisi Ayuthaya atau Natcha, tetapi dia mengerti kalau mereka memiliki cara untuk menghargai dan menyayangi keluarganya—terutama dalam hubungan adik kakak.

Namuang terkejut saat tau Ayuthaya sudah dihajar sampai sekarat oleh Ubi baru. Namun, dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merasa Ayuthaya orang yang penting. Sebelumnya selalu begitu. Namun, perasaan tidak nyaman muncul saat Sarinya mengatakan ingin membalas dendam atas kematian Ayuthaya. Dengan mata menyala-nyala, Sarinya berkata, \"Aku tidak sudi adikku mati sia-sia. Dia adik yang aku besarkan dengan kasih sayang dan aku cukupkan dengan uang. Selama ini aku selalu berusaha keras jika sudah berkaitan dengan dirinya!\"

Namuang diam.

Sarinya lanjut mengoceh, \"Kau tau Ubi itu bilang apa saat memukul Ayuthaya? Besinya harus kena mata. Bajingan itu mengulangi terus kalimatnya. Aku benar-benar kecolongan.\"

Namuang diam. Matanya melirik Sarinya yang mulai mabuk karena minuman. Rung yang mereka pilih untuk berkumpul pun mulai terasa dingin dan lembab. \"Selesaikan saja dengan caramu sendiri,\" katanya lalu pergi.

Sebagai Kubik pertama, dia sudah mengalami berbagai banyak tantangan untuk mempertahankan kekuasaan. Meski dia tidak menyukai konflik, tetapi akal sehatnya mengatakan kalau telah dilelang pun tidak akan seleha-leha sekarang. Oleh karena itu, ketika Sarinya bercerita, Namuang sudah memutuskan untuk tidak terlibat dalam balas dendam yang sudah Sarinya niatkan.

Hari ini dia mendengar kabar kalau Sarinya melibatkan adik kandung Natcha. Dia tidak mengerti rencana yang Natcha siapkan, tetapi ada satu hal yang dia kelirukan. May tidak terkena HIV. Namuang mendengar cerita saat Sarinya dan May bertemu di pintu besar melalui penjaga yang sudah dia suap. Seharusnya, Namuang tidak perlu bertindak sejauh itu, tapi cerewetnya Ayuthaya saat bertanya dan belajar membuat Namuang merasa harus melakukan sesuatu.

\"Kurasa Sarinya sudah gila!\" jelas Namuang. \"Akan habis Ubi itu kalau melawan Sarinya.

Namuang akui kalau Sarinya adalah Kubik yang bisa membuatnya kelelahan. Maka dari itu, dahulu dia pernah menertawakan niat Natcha yang katanya ingin membunuh perempuan itu.

***

Mano Kiat Sitthibawornchot menutup pintu pojok Rung D-K.01 dan Natcha segera meletakkan May dengan khawatir.

\"Aduh, parah sekali.\" Preeyanuch menatap Ahara.

\"Ya, parah sekali.\" Ahara setuju. \"Kalau sudah begini, penjaga akan mengambilnya dari Kubikel seperti Ayuthaya. Kau harus bersiap-siap.\"

Natcha menggeleng. \"Tidak. Tidak. Mungkin ada cara biar penjaga tidak mengambilnya?\"

\"Ada.\" Hoorne menyahut.

\"Bagaimana?\" Natcha berjalan menggunakan lutut ke arah Hoorne.

Mano Kiat Sitthibawornchot, Hoorne, Ahara, dan Preeyanuch menatap Namuang. Hal itu membuat Natcha ikut menoleh. \"Ada apa?\"

\"Tidak. Aku tidak akan melakukan apa-apa terkait May. Selama ini, tidak ada Ubi yang aku tolong saat kondisinya seperti itu. Aku diam dan biarkan mereka. Aku selalu begitu dan akan begitu. Toh aku sudah meminta Paw untuk menjemput Natcha.\" Namuang menolak dengan tegas.

Natcha tidak tau apapun tentang Namuang, tetapi dilihat dari ekspresi para Ubi, Namuang adalah orang yang bisa diandalkan. Dia pun berbicara, \"Kumohon.\"

Namuang hanya melirik Natcha, lalu membaca bukunya lagi.

Natcha kesal. Dia berdiri, merebut buku Namuang, dan berteriak, \"Namuang!\"

Sesaat setelah dia berteriak, pintu pojok Rung D-K.01 tergedor. Keras sekali. Itu Sarinya.

Preeyanuch berjalan ke pintu pojok. \"Aku harus membukanya.\"

\"Kenapa?\" tanya Natcha, \"kenapa kau tidak membantuku? Apa karena aku Ubi baru?

\"Karena aku tidak memiliki kewajiban untuk ikut campur ke dalam masalahmu,\" kata Preeyanuch sebelum membuka kunci pintu pojok dan berkata, \"bawalah Natcha saja. Tinggalkan May di sini. Ini perintah Namuang.\"

Sarinya menghentak-hentakkan kaki dan berjalan bahagia sekali. Dia menghampiri Natcha lalu terkekeh. \"Ikut aku!\"

Natcha dijambak. Dia diseret paksa. Kejadian familier terjadi lagi. Natcha meringis karena kulit kepalanya sakit. Dengan kasar, Sarinya membuka pintu pojok Rung—yang entah Rung mana. Natcha dimasukkan ke Rung itu dan Sarinya menguncinya. \"Kau benar. Kenapa aku harus berpura-pura adil? Kau benar, aku tidak perlu menunggumu menjadi penguasa Kubikel untuk membalas dendam,\" ujar Sarinya sambil menendang perut Natcha berkali-kali. \"Aku sudah berkali-kali menghabisi pelacur dan aku tidak keberatan kalau harus membunuh lagi. Toh, Ayuthaya tidak akan hidup lagi dan janjiku untuk tidak bertindak kasar telah terhapus karena Ayuthaya sudah mati. Benar sekali. Bagaimana kalau aku memanggil penjaga, untuk menyodomimu?\"

Natcha membelalakkan mata. Dia berusaha berdiri dan mendekati pintu pojok. Namun, Sarinya menangkapnya dan mendorongnya jauh. Dengan ekspresi curiga sekaligus senang, dia berujar, \"Wah, wah, kenapa? Kau takut disodomi? Kau trauma?\"

Natcha diam.

\"Kalau begitu aku akan memanggil dua penjaga yang pasti akan membuatmu bahagia!\" Kemudian Sarinya bernyanyi, menari tanpa musik. Dia berputar-putar, tertawa keras, lalu menangis. Dia menggumamkan nama Ayuthaya berkali-kali, setelah itu marah-marah sendiri.

\"GILA!\" teriak Natcha.

Sarinya mendekati Natcha kembali, mengelus kepalanya, lalu menjambak rambutnya jauh lebih kuat dari sebelumnya. \"Ya, aku memang tak waras sejak kau menghajar Ayuthaya. Kalau kau kehilangan May, apa otakmu masih waras? Tidak, kan? Kau melihat May babak belur di kamar mandi saja sudah bertingkah seperti orang kesetanan. Jadi bukankah wajar bagiku yang sudah melihat adikku mati bertingkah seperti orang kesurupan?\"

Sarinya melempar kepala Natcha sampai terbentur dan meninggalkannya untuk memenuhi janji membawa dua orang penjaga.


Other Stories
Pulang Tanpa Diikuti

Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...

Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

hjskjdhueysnajkhdHHfhdhffowdwddcnnnnnnnnnnnnnnnndhlwhe;ofh becccccccc 3on4qnmofjinv,hi843 ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Pertemuan Di Ujung Kopi

Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...

Cinta Di Ibukota

Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...

Download Titik & Koma