Prosesi Yang Memberatkan
Zola menahan napas. Dia tidak mampu untuk menggerakkan kakinya. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal menyelamatkan dirinya atas penghinaan yang sedang dia dengarkan tanpa disengaja.
Perempuan berambut keriting tebal itu bersandar di pilar. Dia sengaja menyembunyikan dirinya dari meja di seberang pilar. Beberapa pengunjung dan pelayan restoran menatapnya penuh rasa ingin tahu, tetapi diabaikannya oleh gadis itu. Fokusnya mendengarkan pembicaraan meja nomor nomor sebelas.
Dua orang sedang berbicara serius di meja nomor sebelas. Keduanya duduk saling berhadapan. Makanan yang terhidang di atas meja sama sekali diabaikan oleh keduanya. Ketegangan yang terpancar dari wajah kedua orang itu tidak luput dari pantauan Zola. Mereka berdua adalah orang akan gadis itu temui. Joe, sang kekasih dan ibunya.
“Jy kan nie jou verhouding voortsit nie[1],” putus Ma Tambo membuat Joe dan Zola terhenyak di tempat masing-masing.
Zola menggigit bibir bawahnya. Dia tidak bisa menahan perasaannya ketika keputusan itu meluncur dari mulut seorang wanita yang awalnya dia yakini akan sangat dia hormati.
“Tapi, Ma.” Laki-laki berambut yang mengenakan kemeja berwarna pasir itu mencoba untuk memprotes apa yang diputuskan ibunya.
“Tidak ada penolakan. Ini sudah menjadi keputusan keluarga.”
“Kenapa?” tanya Joe masih tidak bisa menerima keputusan ibunya. “Bukankah Ma sudah pernah bertemu dengannya. Kau juga bilang, dia gadis Afrika yang sempurna.”
Perempuan yang mengenakan blouse berwarna tosca itu meneguk minumannya dengan anggun. Dia tidak tampak terganggu dengan protes dari putranya itu. Kerut yang menghiasi ujung matanya membuat perempuan paruh baya itu tampak semakin berwibawa.
“Kau terlalu naif, Nak. Apakah pujian itu berarti aku wajib menerimanya menjadi bagian dari keluarga kita?”
Joe mengeratkan genggaman tangannya di atas meja. Dia tampak terluka diremehkan oleh ibunya sendiri. Sesekali laki-laki itu melirik jam tangannya, dia berharap Zola belum sampai ke restoran sehingga tidak perlu mendengar apa yang kini disampaikan oleh ibunya tersebut.
Sementara itu Zola mengatur ponsel di tangannya agar berubah ke mode tanpa suara. Dia tahu seharusnya dia angkat kaki dari tempatnya sekarang, tetapi dia juga tidak bisa menolak untuk mendengar apa alasan dirinya tidak bisa diterima oleh ibu sang kekasih.
“Dengan latar belakangnya yang hanya seorang yatim piatu, dia tidak akan mampu mengadakan lobola. Siapa yang akan mewakilinya? Lalu bagaimana dengan prosesi umabo? Apakah kekasihmu juga akan mengabaikan prosesi itu?”
Joe mendesah. Akhirnya kata yang merupakan kata keramat bagi Zola keluar juga dari mulut ibunya. Sesuatu yang memang dikhawatirkan Zola sejak Joe mengutarakan keseriusan tentang hubungan mereka berdua.
Lobola. Itu merupakan sebuah tradisi dimana keluarga calon pengantin pria menyiapkan harta kekayaan sebagai mahar yang diminta oleh keluarga mempelai pengantin wanita. Meskipun terlihat sederhana, prosesinya bisa memakan waktu lebih dari satu hari. Pengajuan mahar dan negosiasi ini tidak bisa dilakukan oleh para calon pengantin. Keluargalah yang menentukan mahar dan melakukan prosesi lobola ini.
Di balik pilar, Zola menepuk pelan dadanya. Dia sudah memperkirakan bahwa hal ini yang akan terjadi. Namun, tetap saja mendengarnya langsung dari mulut Ma Tambo, ibu dari Joe, membuat dadanya nyeri.
Penentuan mahar dari prosesi lobola biasanya dilihat dari latar belakang perempuan. Termasuk juga status pendidikan dan status keperawanan. Zola sama sekali tidak khawatir mengenai aspek tersebut, hanya saja, dia sendirian. Sebagai perempuan yang besar di panti asuhan, gadis itu tidak memiliki sanak saudara yang bisa dia jadikan perwakilan untuk prosesi lobola. Kesendiriannya pun menjadi salah satu pemberat dalam penentuan nilai mahar.
“Ma, aku sudah pernah memberitahumu tentang hal ini sebelumnya. Dan, kau sama sekali tidak menunjukkan keberatan.” Sekali lagi Joe berusaha membela kekasihnya.
Ma Tambo melirik putranya. Dia mendengkus tanpa suara, meremehkan putra yang dia besarkan dia penuh kasih.
“Nak, yang kau katakan saat itu adalah ‘dia tidak memiliki orang tua’. Kau tidak mengatakan ‘dia tidak memiliki keluarga’,” kata Ma Tambo sambil menatap tajam Joe. “Die twee sinne het verskillende betekenisse.”[2]
“Apa bedanya, Ma?”
Perempuan yang berbusana dengan elegan itu tampak lelah dengan keteguhan putranya yang dinilai sangat kekanakan. “Ketika kau bilang dia tidak memiliki orang tua, aku menganggap gadis itu yatim piatu yang masih dikelilingi oleh paman dan bibi. Namun, rupanya dia tidak memiliki keluarga yang berarti tidak ada prosesi. Kau harus tahu, setiap prosesi menuju pernikahan tidak bisa dilakukan seorang diri.”
“Kalau begitu, kami bisa menikah tanpa perlu prosesi yang begitu memberatkan, Ma.”
Ma Tambo sekali melemparkan tatapan tajam ke arah putranya. “Tidak bisa! Prosesi ini adalah tradisi yang sudah berjalan selama ratusan tahun, dan kau mengabaikan prosesi ini hanya demi gadis itu.” Suara Ma Tambo meninggi karena pernyataan sang anak.
Semua pengunjung restoran memandang meja mereka. Joe menunduk karena merasa tak enak sudah mengganggu kenyamanan restoran. Sementara Zola semakin merapatkan diri ke dinding pilar yang menghalangi pandangan Joe dan ibunya.
“Belum lagi, prosesi umabo yang pasti tidak akan bisa dilakukan oleh gadis itu.”
Joe memejamkan mata begitu Ma Tambo menyebutkan satu lagi tradisi yang enggan ditinggalkan oleh ibunya. Umabo. Salah satu acara penuh kegembiraan di mana keluarga mempelai wanita menyambut gerbang baru dalam kehidupan seorang perempuan. Perayaan itu dirayakan dengan pemberkatan dan pemberian hadiah dari setiap anggota keluarga kepada mempelai wanita. Hadiah biasanya berupa barang-barang penting untuk rumah tangga, seperti selimut, perlengkapan dapur, dan lainnya.
“Sekarang, mana gadis itu?”
“Ma, namanya Zola. Bisakah Ma menyebut namanya daripada berulang kali menggunakan kata ‘gadis itu’?”
“Siapapun namanya, aku tahu kau pasti mengerti maksudku. Jadi dimana gadis … eh, Zola.Di mana Zola? Bukankah dia mengajakku ke mari untuk makan siang?”
Joe berdecih mendengar pertanyaan itu. “Aku justru berharap dia tidak akan pernah datang.”
“Apa maksudmu?”
“Lebih baik dia tidak datang daripada harus mendengar semua ucapanmu, Ma.”
Ma Tambo tidak memedulikan ucapan anaknya. Dia kembali menyesap minuman di cangkirnya. “Semua yang kukatakan tidak ada yang salah. Dan bagus kalau dia tidak datang, memberikan lebih banyak alasan untuk menolaknya menjadi bagian dari keluarga kita.”
“Ma!” sergah Joe tidak suka. Laki-laki itu bangun dan melempar serbet ke atas kursi. “Aku akan menghubunginya.”
Zola segera berlari keluar restoran begitu mendengar derit kursi yang bergerak, tanda Joe bangkir dari duduknya. Gadis itu yakin, sang kekasih akan menghubunginya. Dia bersyukur sudah mengubah nada panggilan menjadi mode senyap. Jauh di lubuk hatinya, dia tidak pernah mau untuk bertemu dengan keluarga Tambo untuk sementara waktu.
Other Stories
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Kamera Sekali Pakai
Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...