Camara Derie

Reads
5
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

First Step

Zola menatap keluar jendela taksi, matanya terus saja mengikuti bangunan-bangunan berwarna-warni yang berbaris rapi di sepanjang jalan berbatu. Akhirnya gadis itu tiba di Bo-Kaap, sebuah distrik di Cape Town yang dikenal dengan rumah-rumahnya yang berwarna cerah dan jalan-jalan berbatu. Meski ini adalah kunjungan pertamanya, ada sesuatu tentang tempat ini yang membuatnya merasa seperti pulang.

\"Dit is die eerste keer dat jy Bo-kaap toe kom?[1]\" tanya sopir taksi, melihat Zola melalui spion tengah.

Zola mengangguk, \"Ja, ini pertama kalinya saya ke sini. Tapi, saya merasa seolah-olah saya sudah mengenal tempat ini.\"

Sopir taksi tersenyum melalui spion, \"Bo-Kaap memiliki cara untuk membuat orang merasa seperti itu. Hierdie plek is soos die huis.[2]\"

Zola tersenyum, merasa lega. Dia sama sekali tidak meragukan apa yang disampaikan si sopir taksi.

“Berapa lama kau akan menghabiskan waktu di Bo-Kaap?”

Zola termenung sesaat sebelum kemudian menjawab, “Entahlah. Aku belum memutuskan. Bisa sebentar. Bisa juga lama.”

Sopir taksi berwarna putih tertawa mendengar jawaban Zola. Ini pertama kalinya dia menemukan turis yang tidak memiliki batas waktu. Biasanya para turis yang datang ke distrik berwarna ini selalu mempunyai tenggat waktu yang pasti, seakan dikejar-kejar oleh sesuatu.

“Sepertinya kau benar-benar datang untuk berlibur. Menikmati waktumu sendiri.”

Zola tak menjawab. Dia tidak mungkin menceritakan alasan pastinya datang ke distrik itu. Gadis itu kembali melemparkan pandangan ke luar jendela dan menikmati kesibukan orang-orang di sekitar. Dia datang ke Bo-Kaap dengan harapan tinggi. Hanya satu tujuannya dan itu tidak memiliki batas waktu. Satu-satunya yang dia tahu, semua bermula di sini.Tapi, dia merasa yakin bahwa dia akan menemukan apa yang dia cari di sini.

“Jadi, di mana tepatnya kau menginap, Nona?”

Pertanyaan itu membuat Zola menyadari bahwa dia belum memberitahu lokasi pasti dia akan turun.

“Mmm….” Gadis itu segera membuka layar ponsel dan menggulir layar, berusaha mencari informasi tentang penginapan terdekat darinya sekarang.

Menyadari apa yang dilakukan oleh penumpangnya, sopir yang terlihat berusia setengah abad itu berujar, “Hari masih siang. Kalau kau mau menikmati Bo-Kaap, sebaiknya kau mulai dari tepi pantai.”

Zola tersenyum sambil menggigit bibir. “Dankie,[3]” katanya tanpa suara yang hanya diangguki sopir.

Setelah membayar sopir taksi dan berterima kasih, Zola mengambil napas dalam-dalam, merasakan aroma rempah-rempah dan mendengar suara azan. Dia merasa seolah-olah dia telah kembali ke rumah, meski dia tidak yakin pernah berada di sini sebelumnya.

Hal yang pertama dia lakukan tentu saja mendatangi masjid terdekat. Zola yakin bahwa panggilan azan itu menjadi satu pertanda, bagaimana pencariannya dimulai. Pilihannya jatuh pada satu masjid berwarna hijau toska cerah, secerah bangunan pemukiman di sekitarnya. Sebuah kubah yang unik menandakan bahwa itu adalah rumah ibadah.

Toeris?”

Zola menjawab dengan anggukan. Perempuan yang mengenakan hijab berwarna abu-abu itu balas mengangguk dengan senyuman. Dia menunjukkan tempat penyimpanan pada Zola.

Setidaknya penduduk di sini ramah, pikir Zola.

***

Zola menghabiskan hari itu berkeliling Bo-Kaap, berbicara dengan penduduk setempat. Berbekal sedikit informasi yang dia punya, gadis itu mencoba menemukan petunjuk lain tentang keluarganya. Dia menemui beberapa jalan buntu, tetapi dia tidak putus asa. Satu hal yang dia sadari, bahwa usahanya pasti tidak akan mudah.

Saat matahari mulai terbenam, Zola duduk di sebuah taman kecil, menatap Table Mountain di kejauhan. Dia merasa lelah lalu membuka ponsel yang terus saja bergetar. Terlihat di layar ada enam puluh panggilan tak terjawab dan lima puluh pesan. Semuanya dari satu orang. Joe.

Sekali lagi ponsel di tangan Zola bergetar. Gadis itu menatap layar ponsel. Dia terlihat ragu untuk mengangkatnya, tetapi juga enggan untuk membiarkannya.

“Hallo.”

“Zola, di mana kamu sekarang?” tanya Joe begitu panggilannya diangkat. “Kau membuatku di sini khawatir.”

Zola menghela napas. Bukan ini yang dia mau, kekhawatiran dari Joe adalah hal terakhir yang harus dia pikirkan sekarang. Dia harus menuntaskan pencariannya. Sejak mendengar berita dari Steamboom, Zola tidak bisa tidur dengan tenang.

“Kamu pergi ke Boo-Kap?”

Zola mengangguk mendengar pertanyaan Joe. Dia lupa kalau lawan bicaranya tidak akan bisa melihat anggukan itu.

“Kata siapa?” Zola bertanya dengan suara tanpa nada. Meskipun perempuan itu tahu siapa yang memberitahu kekasihnya.

“Kau tidak perlu tahu, aku tahu dari siapa. Tapi, bukankah kita bisa bertemu sebelum kau pergi,” Joe berkata dengan suara rendah.

“Aku tahu mungkin terlihat seperti aku pergi tanpa penjelasan. Aku ingin kamu tahu bahwa ini bukan keputusan yang mudah bagiku. Kamu tahu betapa pentingnya keluarga bagiku, dan aku sudah mencari mereka begitu lama. Aku tidak bisa mengabaikan kesempatan untuk akhirnya menemukan mereka.” Zola berusaha untuk memberikan alasan yang masuk akal.

Joe mendesah berat. “Aku mengerti bahwa keluarga itu penting, Zola. Tapi bagaimana dengan rencana kita? Bukankah kita perlu mempersiapkannya dalam dua bulan ini?”

“Joe, justru rencana pernikahan kitalah yang membuatku yakin untuk mulai menemukan keluargaku. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang dan harus aku temukan. Aku harap kamu bisa mengerti itu.” Zola tidak bisa menahan air mata. Tanpa sadar dia mengusap ujung matanya yang basah.

“Aku mengerti, Zola. Dan aku ingin kamu bahagia. Hanya saja aku harap kamu sudah berbicara denganku sebelum membuat keputusan besar seperti ini. Rasanya seperti kamu tidak cukup percaya padaku untuk melibatkanku,” kata Joe masih dengan suara yang rendah.

“Joe, aku benar-benar minta maaf jika terlihat seperti itu. Ini bukan tentang kepercayaan, tapi tentang kebutuhanku untuk melakukan ini sendiri. Aku janji akan tetap mengabari perkembanganku dan kita masih bisa saling mendukung meskipun jarak memisahkan.”

“Baiklah, Zola. Jaga dirimu baik-baik dan kabari aku tentang perjalananmu. Aku akan dengan antusias menunggu kabar pertemuanmu dengan keluargamu.”

Panggilan itu terputus. Zola masih menempelkan ponsel di telinga. Kembali tangannya mengusap ujung netra yang masih mengeluarkan air mata. Setelah berbicara dengan kekasihnya, perasaan gadis itu masih belum sepenuhnya lega.

\"Kamu tampak seperti orang yang sedang mencari sesuatu,\" kata seorang wanita tua yang tanpa disadari Zola duduk di sebelahnya.

Zola tersenyum dan menoleh ke arah wanita itu. Dia buru-buru memasukkan ponsel ke saku parka yang dikenakannya. \"Ya, saya mencari keluarga saya. Berdasarkan apa yang saya tahu, mereka berasal dari sini, dari Bo-Kaap.\"

Wanita itu mengangguk, matanya penuh pengertian. \"Bo-Kaap adalah tempat yang penuh dengan sejarah dan cerita. Saya yakin kamu akan menemukan apa yang kamu cari.\"

Zola merasa harapannya tumbuh. Dia mulai bercerita tentang dirinya dan alasan kedatangannya ke distrik yang indah ini, menunjukkan satu foto lama yang dia bawa. Satu-satunya hal yang mengikat dia dengan keluarganya. Wanita itu mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya berkilauan dengan minat.

Setelah beberapa saat, wanita itu menunjuk ke sebuah rumah di seberang jalan. \"Rumah itu milik keluarga Dlamini. Mereka telah tinggal di sini selama beberapa generasi. Mungkin mereka bisa membantu kamu.\"

Zola merasa jantungnya berdebar. Dia berterima kasih kepada wanita itu dan berjalan menuju rumah yang ditunjuk. Dia merasa gugup, tetapi juga penuh harapan. Mungkin ini adalah awal dari penemuan keluarganya.



[1] Apakah ini pertama kalinya Anda datang ke Bo-Kaap?

[2] Tempat ini seperti rumah

[3] Terima Kasih


Other Stories
Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

The Pavilion

35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...

.

. ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

...

Mission Escape

Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...

Download Titik & Koma