Face The Storm
“Ini tehmu,” kata Zola sambil menyerahkan segelas teh yang masih mengepulkan asap ke arah Nora.
Perempuan itu menerima tanpa bersuara. Dia tidak berhadapan dengan laptop seperti hari-hari biasanya, Nora kini hanya sibuk dengan buku di tangannya. Sebuah buku yang Zola yakin milik perpustakaan distrik.
Badai yang telah diantisipasi dengan ketakutan akhirnya tiba dengan kekuatan penuh di Bo-Kaap. Angin kencang menerjang, hujan deras mengguyur, dan petir menyambar langit. Rumah-rumah di sekitar terguncang oleh kekuatan alam yang tak terkendali. Zola dan orang-orang di Ocean Shack terjebak dalam badai ini, dan mereka setidaknya harus berjuang untuk bertahan hidup.
Namdi yang bersikukuh tidak mau meninggalkan Ocean Shack akhirnya membuat Zola juga enggan untuk mencari camp perlindungan seperti yang sudah diberitakan di radio dan pesan darurat. Gadis muda berusia 27 tahun itu akhirnya memutuskan untuk tetap menemani Namdi. Keputusan yang akhirnya diikuti oleh tiga tamu lainnya.
Saat suara hujan deras semakin intens, Zola dan para penghuni homestay berkumpul di ruang tamu, mencoba mencari perlindungan dari kekuatan alam yang mengamuk di luar. Mereka saling memandang dengan ekspresi ketakutan dan kecemasan yang tergambar jelas di wajah mereka.
“Bagaimana perasaanmu?”
Namdi hanya diam mendengar pertanyaan yang diajukan Mandla. Laki-laki itu tampak telaten mengelus punggung Namdi. Sejak hujan deras mengguyur, Namdi seakan tersedot jiwanya. Perempuan itu hanya diam. Dia memilih untuk duduk dan memejamkan mata. Bibirnya tampak bergerak-gerak tanpa suara.
Samar Zola bisa mendengar lantunan zikir yang keluar dari mulut perempuan. Mengingatkannya pada sosok Ma Odili, yang senantiasa diam ketika menghadapi musibah.
Nora yang kemudian mengambil alih urusan dapur. Beruntung Namdi telah memiliki banyak persediaan di dapurnya. Nora mampu menghidangkan beberapa makanan yang cocok untuk semua orang.
Angin kencang menerpa jendela dan pintu, menghasilkan suara gemuruh yang menakutkan. Hujan deras merembes masuk melalui celah-celah, membuat lantai menjadi licin dan berbahaya. Lima orang yang duduk di ruang tamu saling berdiam diri, mencoba memberikan dukungan dan kekuatan satu sama lain di tengah kekacauan ini.
\"Kita harus tetap tenang dan berjuang untuk bertahan,\" ucap Zola dengan suara bergetar, mencoba menguatkan semangat mereka.
“Bukankah seharusnya kita berlindung di bunker?” bisik Alex.
Zola menggeleng. “Pemukiman di Bo-Kaap tidak dirancang untuk menghadapi cuaca ekstrim seperti sekarang, sehingga jarang ada yang memakai bunker di rumah mereka. Termasuk juga Ocean Shack. Itulah kenapa pemerintah setempat menyarankan untuk evakuasi ke tempat yang sudah ditentukan.”
“Apakah warga di sini semuanya sudah mengungsi?” tanya Alex lagi sambil tetap berbisik. Matanya melirik Namdi yang masih bersandar lelah di sofa.
Zola menggeleng. “Aku tidak tahu. Tapi berdasarkan pengalamanku ketika mengobrol bersama mereka, aku tidak yakin warga di sini mau meninggalkan rumah. Contohnya ….” Zola tidak meneruskan kalimatnya, dia hanya melirik Namdi. Hal yang langsung dipahami oleh tiga tamu lain di Ocen Shack.
“Kalian sudah menghubungi keluarga masing-masing?” tanya Namdi dengan suara yang pelan tetapi masih bisa terdengar oleh ketiga orang lainnya.
Zola yang pertama menjawab, “Aku hanya mengirimkan pesan teks saja. Belum sempat menelepon.”
Setelah itu tidak ada lagi yang bersuara. Hanya keheningan yang menjawab pertanyaan dari perempuan tua pemilik rumah.
“Selain Zola, kalian tidak mengabari keluarga kalian.”
“Keluargaku tahu aku baik-baik saja. Setidaknya tidak akan ada kiriman jasad ke rumah keluargaku,” jawab Nora sambil membawa sepiring besar vetkoek.
Kalimat Nora membuat dua laki-laki yang ada di ruangan itu saling pandang. Keduanya terdiam. Entah karena jawaban Nora yang terdengar seperti sebuah ironi atau karena enggan menjawab pertanyaan Namdi yang kini mulai berangsur-angsur tenang meskipun masih khawatir.
Alex berdiri di dekat jendela, memandangi badai dengan pandangan serius. Dia memegang radio tangan, mencoba mencari informasi tentang perkembangan badai di luar. Sepertinya hanya itu alat komunikasi yang masih bisa dimanfaatkan di tengah suasana badai. Laki-laki itu mengatur frekuensi dan mencoba menangkap sinyal yang kuat. Mereka berusaha mencari informasi terkini tentang badai, seperti perkiraan cuaca, arah badai, dan peringatan yang dikeluarkan oleh otoritas setempat.
Sementara Mandla memegang erat sebuah foto keluarga di tangannya. Wajahnya tampak tegang dengan ekspresi yang penuh perhatian.
Dalam genggaman tangannya, foto keluarga itu tampak berkilauan terkena cahaya gemerlap kilatan petir. Dia memandang foto tersebut dengan penuh cinta dan kekhawatiran yang mendalam. Wajah-wajah tersenyum di dalam foto tersebut mengingatkannya akan kehangatan dan kebahagiaan keluarga yang ia cintai.
Suara gemuruh badai yang semakin dekat dan kegelapan yang menyelimuti kota membuat mereka merasa terisolasi dan rentan. Mereka merasakan getaran dari guncangan-guncangan yang tak henti-hentinya, memperkuat ketegangan yang ada.
Tiba-tiba, sebuah pohon besar tumbang menimpa atap rumah. Serpihan-serpihan kayu dan genting-genting beterbangan di sekitar mereka. Kelima orang itu berteriak dan berlindung di bawah meja, berharap dapat melindungi diri dari bahaya yang mengancam.
Tiba-tiba, sebuah puting beliung muncul dari kegelapan langit. Angin berputar-putar dengan kekuatan yang luar biasa, menghancurkan segala sesuatu yang ada di jalannya. Bangunan-bangunan roboh, genting-genting beterbangan di udara, dan serpihan-serpihan pecahan kaca terbang di mana-mana.
Suara gemuruh puting beliung dan hantaman keras angin memenuhi udara, menciptakan suasana yang menakutkan dan mencekam. Orang-orang berteriak dan berlarian mencoba mencari tempat perlindungan yang aman, tetapi puting beliung terus merusak dengan kekuatannya yang dahsyat.
“Namdi! Nora! Alex! Mandla!” Zola memanggil satu per satu penghuni Ocean Shack. Samar dia mendengar ada yang menjawab panggilannya.
Zola yang terjebak berusaha berpegangan pada apa pun yang bisa diraihnya, mencoba bertahan dari kekuatan alam yang tidak terkendali. Semua berusaha berlindung di sudut-sudut bangunan yang paling kuat.
Puting beliung terus merusak kota dengan kejamnya. Bangunan-bangunan roboh satu per satu, meninggalkan pemandangan yang hancur dan puing-puing di sekitar mereka. Debu dan serpihan-serpihan terbang di udara, membuat sulit untuk bernapas.
Di tengah kepanikan dan kecemasan, Zola mencoba mempertahankan ketenangan dan memberikan instruksi kepada mereka yang berada di sekitarnya. Dia berteriak melalui suara angin yang kencang, mencoba memberikan petunjuk tentang apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup.
\"Berpeganglah pada apa pun yang kuat! Cari tempat perlindungan yang lebih aman jika memungkinkan!\" seru Zola dengan suara yang lantang.
Di tengah pusaran debu, gadis itu melihat satu titik. Dia teringat dengan tempat penyimpanan di bawah tangga.
“Mandla! Kalau kau bersama Namdi, bawa dia ke gudang di bawah tangga!” perintahnya langsung.
Alex dan Nora yang mendengar suara Zola segera menyadari maksud perintah gadis itu. Setidaknya tempat itu bisa jadi tempat perlindungan mereka sekarang.
Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Kota Ini
Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...