Signal
Museum hanyalah sebuah awal. Tidak banyak yang bisa Zola peroleh dari salah satu tempat wisata di distrik itu. Mereka bertiga hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari satu jam di museum.
Hari-hari berikutnya Zola terpaksa mengandalkan rencana awalnya. Berkeliling distrik. Joe tidak pernah absen menelepon Zola. Laki-laki itu bahkan sudah menawarkan akan menyusulnya, tetapi Zola menolak.
“Kau belum akan pulang?” keluh Joe. Dalam layar ponsel terlihat Joe berbaring di atas futon.
“Ya. Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa Zola sampaikan. Dia mulai merasa keputusannya salah.
“Bagaimana kabar Shasi? Kau sudah menghubungi mereka?” Joe mengubah topik pembicaraan. Dia dapat merasakan perubahan suasana hati Zola dari suara dan raut wajahnya. Laki-laki itu merasa tak nyaman telah membuat kekasih hatinya bersedih.
Pertanyaan itu sukses mengalihkan perhatian Zola. Mau tidak mau senyumnya mengembang. “Kabarnya baik. Aku baru saja selesai melakukan video call dengannya.”
“Kau memang dekat dengannya?”
“Tentu saja. Dialah orang yang selalu mendukungku sejak aku kecil. TERmasuk juga soal pencarian keluargaku ini. Dia mendukungku seratus persen. Aku berharap bisa segera menemukan Suhila ini. Setidaknya aku tahu, aku tidak sendirian,” Kata Zola dengan haru. Dia menghela napas panjang.
Zola mengingat orang-orang yang mendukungnya dengan perasaan sendu. Tiba-tiba dia merindukan mereka semua.
“Jadi, hari ini kau akan berkeliling lagi? Bukankah distrik bagian dari Cape Town? Kurasa kau sudah sangat menguasai distrik itu karena luasnya yang tidak seberapa?”
“Are you mocking me[1]? Kau pikir aku hanya berjalan-jalan di sekitar saja?” Zola mengerucutkan bibir karena merasa diremehkan. “ Kau harus tahu, di sini kau tidak hanya sekadar berkeliling. Mereka akan menyambutmu masuk ke rumah mereka meski kau hanya mengucap salam.”
“Benarkah?”
Zola mengangkat kedua alisnya berkali-kali. Dia sengaja menggoda kekasihnya. “Tentu saja. Kau pikir apa yang membuatku betah di distrik ini?”
“Jadi, itu yang membuat pencarianmu lama rupanya.”
Zola kembali tertawa.
“Hari ini kau akan berkeliling dengan siapa?” Laki-laki yang mulai bersiap bekerja itu memastikan Zola tidak akan pernah sendirian ketika berkeliling di distrik warna-warni itu.
“Entahlah, bisa jadi Nora. Atau juga Alex.” Setelah itu Zola menutup panggilan video mereka.
Satu hal yang disyukuri Zola adalah dia mendapat teman rumah yang baik. Dia merasa beruntung Nora dan Alex tetap mau menemaninya, meski tidak bersamaan. Ada kalanya Zola hanya berdua dengan Alex, di lain waktu Zola berjalan bersama Nora. Satu-satunya momen mereka berjalan bertiga bersama-sama hanyalah ketika pergi ke museum. Itu pun Alex langsung memisahkan diri dengan alasan mencari objek foto di sekitar museum.
Alex menyukai Nora. Itu adalah sesuatu yang disadari Zola setelah semua tingkah canggung pria Belanda itu setiap ada di dekat Nora. Mungkin itu pula yang disadari oleh Namdi dan Mandla, tetapi tidak disadari oleh Nora. Zola mulai mengerti arti senyuman Mandla dan Namdi ketika mereka berdua menatap Alex yang kadang suka mencuri pandang ke arah Nora, terutama ketika makan bersama atau menghabiskan waktu di ruang tamu hangat Namdi.
“Bagaimana pencarianmu?” tanya Namdi lembut.
Sore itu, tidak banyak orang di Ocean Shack. Semua tamu sedang keluar. Hanya Zola yang memilih untuk tetap berdiam di rumah. Dia sedang membuka dan menyusun jurnal pencariannya.
Zola menutup jurnal dengan malas. Dia tersenyum dan menjawab, “Aku sedikit bersyukur.”
“Kenapa?” tanya Namdi sambil menyerahkan segelas teh hangat.
“Karena keluargaku berasal dari sini, aku bisa menemukan orang-orang yang ramah.” Zola menyeruput teh pelan. Aroma dari teh hangat itu menenangkan pikirannya yang mulai kusut.
Selama berkeliling, Zola menilai Bo-Kaap adalah komunitas yang ramah dan hangat. Berinteraksi dengan penduduk setempat, berbincang dengan mereka, memberikan wawasan baru untuknya.
“Kau sama sekali belum menemukan petunjuk lainnya?” tebak Namdi.
Zola tidak mengangguk atau menggeleng. Dia memilih untuk menunduk. Jarinya bergerak mengikuti lekuk bibir gelas. Gadis itu tak tahu harus memberi jawaban apa. Sebenarnya dia bisa saja bertanya langsung soal nama yang pernah disebutkan oleh Shashi, tetapi entah mengapa tidak pernah satu kali pun Zola menggunakan nama itu selama pencarian. Dia khawatir nama itu hanyalah nama samaran yang digunakan untuk proyek Stamboom.
“Namdi,” panggil Zola. Dia menatap perempuan itu yang langsung menoleh ketika dipanggil.
Mata Namdi tidak menyiratkan pertanyaan alasan dia dipanggil. Dia hanya menggelengkan sambil menatap Zola dengan lembut.
Selama satu minggu pencarian Zola, dia hanya mencari berdasarkan potongan-potongan ingatannya lima belas tahun yang lalu. Mulai dari ingatannya tentang sosok kedua orang tua maupun pekerjaan orang tuanya. Samar-samar dia ingat dia memiliki seorang adik, yang bisa jadi merupakan salah satu orang yang mengikuti proyek Stamboom.
“Begini, Namdi. Aku ada sebuah nama,” kata Zola.
“Nama? Orang tuamu?”
Zola segera menggeleng. Sampai sekarang dia masih hapal nama orang tua kandungnya, meskipun hanya nama depannya saja. Itulah alasan dia ragu untuk menggunakan nama Suhila Mokoena dalam pencariannya.
“Bukan. Bukan orang tuaku. Hanya saja, aku ingat kalau aku memiliki seorang adik. Adik perempuan.”
“Lalu?” tanya Namdi dengan sabar menghadapi Zola yang berputar-putar.
“Ken jy vir Suhila Mokoena[2]?”
Namdi tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir dan mengingat. Perempuan paruh baya itu bersandar sambil memejamkan mata. “Ah, sepertinya aku tidak mengenal seluruh penduduk distrik ini dengan baik.”
Zola mendesah pelan. Dia tau tidak perlu terlalu berharap.
“Apakah kau sudah bertemu dengan Aunt Fatima?” Namdi kembali bertanya pelan.
“Siapa?”
“Aunt Fatima adalah penduduk tertua di Bo-Kaap. Dia telah tinggal di sana sepanjang hidupnya dan memiliki ingatan yang tajam tentang sejarah keluarga-keluarga di lingkungan itu.”
“Benarkah? Bisakah kau memberikan alamatnya? Kurasa aku bisa mengunjunginya besok.” Zola kembali bersemangat.
Namdi bangun dari kursi yang didudukinya dan beranjak ke lemari kabinet yang ada di ujung ruang tamu. Tangannya membuka beberapa laci sekaligus.
“Sebentar, aku yakin aku menyimpan buku alamat di salah satu laci ini.”
Sirine darurat tiba-tiba meraung di seluruh kota, memecah ketenangan dan menggema di jalan-jalan. Namdi dan Zola saling pandang. Keduanya terdiam di posisi masing-masing. Fenomena ini sesuatu hal yang jarang terjadi.
“Aku akan mencari tahu apa yang terjadi.” Namdi segera menutup semua laci di lemari dan bergegas menuju pintu.
Belum sempat Namdi sampai ke pintu, Mandla dan Alex muncul membuka pintu. Keduanya tampak gelisah setelah melihat Namdi dan Zola yang berdiri mematung.
“Ada apa?” tanya Zola khawatir. “Kurasa alarm sirine bukan hal yang lumrah terdengar.”
“Periksa ponsel kalian. SAWS[3] sudah mengeluarkan peringatan dini tentang badai,” ucap Alex yang langsung berlari ke lantai dua.
Zola segera membuka ponsel. Dia baru menyadari bahwa alat elektronik itu dalam keadaan hening tanpa getar dan suara yang membuatnya tidak segera mengetahui info tersebut.
“Kita harus bergegas.” Mandla yang biasanya paling tenang di antara tamu Namdi pun tanpa ragu memperlihatkan kekhawatirannya. Dia mengikuti langkah Alex, melangkah ke lantai dua.
“Gegas apa?” Namdi tampak masih bingung.
“Kita harus bergegas evakuasi. SAWS belum bisa memastikan jenis badai yang akan datang.” Zola mencoba menerangkan dengan bahasa yang paling mudah dimengerti. Dia paham, bagi Namdi yang tidak terbiasa teknologi dan peringatan dini, apa yang sedang terjadi tentu akan membingungkan.
“Tapi kenapa? Rumah kami memang dekat dengan laut. Hal yang biasa jika ada badai, bukan?” Pemilik homestay itu masih enggan untuk mengikuti saran para tamunya.
Zola menatap Namdi sendu. Dia menggamit tangan perempuan paruh baya yang memakai dress putih kembang-kembang itu dengan hangat.
“Kita harus berlindung. Secepatnya.”
Other Stories
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Escape [end]
Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...