A Memory
Aroma roti yang baru saja matang dan kue yang manis menggoda setiap orang yang lewat. Di dalam toko, suara mesin pembuat roti, percakapan antar pembeli, dan suara bel pintu yang berdentang setiap kali pintu dibuka dan ditutup, menciptakan suasana yang hidup.
Seorang gadis berusia sepuluh tahun berdiri di belakang meja kasir, membantu kedua orang tuanya. Dia memakai seragam toko, selembar apron putih dengan logo toko roti keluarga mereka yang lucu di bagian depan.
\"Selamat pagi, Pa Gaseem! Mau pesan roti manis lagi hari ini?\" tanya gadis itu pada pelanggan tetap mereka.
Gaseem, seorang pria paruh baya dengan senyum hangat mengangguk, \"Ya, Zola. Tambahkan juga dua buah croissant ya.\"
Zola tersenyum dan menulis pesanan Pak Budi di kertas nota. \"Baik, Pa. Sebentar ya,\" katanya sebelum berbalik dan memberikan pesanan tersebut kepada ibunya yang berada di bagian dapur.
Seorang wanita yang selalu tampak ceria dan berenergi, mengangguk dan segera mempersiapkan pesanan tersebut. Sementara itu, seorang laki-laki dengan apron serupa yang dikenakan Zola, sedang sibuk melayani pelanggan lain.
\"Zola, tolong bantu, ya,\" pinta laki-laki itu ketika melihat antrian semakin panjang.
Zola mengangguk dan segera membantu. \"Halo, mau pesan apa hari ini?\" tanya Zola pada pelanggan berikutnya.
Suasana toko roti semakin ramai. Meski begitu, Zola dan orang tuanya tampak tenang dan terorganisir. Mereka bekerja sama dengan baik, saling membantu, dan selalu menjaga agar toko tetap bersih dan rapi.
Pelanggan datang dan pergi, membawa pulang kotak-kotak roti yang berisi berbagai jenis roti dan kue lezat. Beberapa dari mereka berhenti sejenak untuk mengobrol dengan Zola atau orang tuanya, menanyakan resep atau sekadar bercerita tentang hari mereka.
Zola selalu menyambut mereka dengan senyum dan kata-kata yang hangat. Baginya, toko roti keluarga mereka bukan hanya tempat untuk menjual roti, tetapi juga tempat untuk berbagi kebahagiaan dan cinta melalui roti yang mereka buat.
Pada akhir hari, setelah toko tutup dan pelanggan terakhir pergi, Zola dan orang tuanya duduk di meja kecil di sudut toko. Mereka menikmati secangkir teh dan beberapa potong roti sambil membicarakan hari itu.
\"Mereka semua tampak senang dengan roti kita, ya?\" tanya sang ayah sambil tersenyum lebar.
Zola dan Ibu Zola mengangguk, \"Ya, mereka pasti akan kembali lagi,\" kata Zola sambil mengajak adiknya bermain cilukba.
***
Zola kecil berlari-lari kecil di tepi pantai, mengejar ombak yang datang dan pergi. Rambut ikalnya tergerai tertiup angin yang berdesir ringan. Ayah dan ibunya mengamati dengan penuh cinta dari kejauhan. Sang ibu tampak bermain pasir dengan balita yang kerap menghancurkan apa yang dibangun ibunya.
\"Zola, hati-hati ya!\" teriak ayahnya, menunjukkan kepeduliannya.
Zola berbalik dan tersenyum lebar. \"Iya, Pa!\" balasnya ceria, sebelum kembali bermain dengan ombak.
Sementara itu, ibu Zola duduk di kursi pantai, sambil tetap mengawasi anak bungsunya yang kini sedang menggali pasir dengan sekop mungilnya. Sesekali dia mencuri pandang pada putri pertamanya yang menatap Zola dengan penuh kasih sayang.
\"My man, dia sangat bersemangat ya,\" katanya diiringi senyum pada suaminya.
Laki-laki berambut pendek yang sudah mengarungi rumah tangga bersamanya selama 12 tahun itu mengangguk. \"Ya, dia memang anak yang penuh semangat. Tapi nanti, kita harus mengajaknya ke mall juga, seperti janji kita.\"
\"Tentu saja, saya yakin dia akan sangat senang.\"
Tidak lama kemudian, Zola berlari kembali ke arah orang tuanya, \"Pa, Ma, saya mau ke mall Di pusat Cape Town sekarang!\" katanya, hampir kehabisan napas.
Ayahnya tertawa lalu menatap sang istri. “Kurasa putri kita memiliki indera pendengaran super.”
\"Baiklah, Zola. Kita akan pergi sekarang. Tapi kau harus bersihkan dirimu dulu sebentar.\"
Mereka berangkat ke mall, dengan Zola yang bergandengan tangan dengan adiknya. Kedua kakak beradik itu mengenakan pakaian yang serupa. Yang membedakan hanyalah Zola menggendong tas ransel berwarna biru kesukaannya. Mall cukup ramai, karena akhir pekan. Orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang berjalan-jalan, berbelanja, atau sekadar menikmati suasana. Ada suara gemerincing belanjaan, tawa anak-anak, dan musik latar dari toko-toko yang berbeda.
Zola dan adiknya memasuki mall, terpesona oleh cahaya lampu yang berkelap-kelip dan dekorasi yang mewah. Mereka merasa bersemangat dan penuh antisipasi. Pertama, mereka mungkin pergi ke toko pakaian favorit mereka. Mencoba berbagai pakaian, saling memberi saran, dan akhirnya memilih beberapa item untuk dibeli.
Setelah berbelanja, mereka mungkin merasa lapar dan pergi ke food court. Mereka bisa memilih dari berbagai jenis makanan, mulai dari makanan cepat saji hingga hidangan lokal. Sambil menikmati makanan mereka, mereka bercerita, tertawa, dan menikmati waktu bersama.
Sebelum pulang, mereka berjalan-jalan sebentar, menikmati pemandangan dan suasana mall yang ramai. Mereka melihat keluarga yang bermain di area permainan anak-anak, pasangan yang sedang berjalan-jalan, dan grup teman yang sedang tertawa dan bercanda.
\"Terima kasih, Ma, Pa!\" kata Zola dengan mata yang bersinar-sinar.
Bapak dan Ibu Zola tersenyum, melihat kebahagiaan anak-anak mereka. Mereka berjanji akan selalu membuat Zola dan adiknya bahagia, dan hari itu adalah salah satu hari di mana mereka memenuhi janji itu. Tiba-tiba, tanpa peringatan, gempa mulai mengguncang bangunan.
\"Apakah itu gempa?\" tanya ibunya dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Ayahnya berdiri, mencoba untuk tetap tenang, \"Semuanya, tetap tenang dan ikuti saya,\" katanya.
Kepanikan segera menyebar. Orang-orang mulai berteriak dan berlari, mencoba untuk mencari jalan keluar. Zola kecil merasa takut dan bingung, dia meraih tangan ibunya, tetapi dalam kekacauan itu, dia terpisah dari orang tuanya.
\"Ma! Pa!\" teriak Zola, mencoba untuk menemukan mereka di antara kerumunan orang yang panik. Dia merasa sangat takut dan sendirian. Dia berlari dan berteriak, mencoba untuk menemukan orang tuanya, tetapi semakin banyak orang yang berlari dan berteriak, semakin sulit baginya untuk menemukan mereka.
Zola merasa terjebak, dikelilingi oleh orang-orang yang tidak dia kenal, dan tidak bisa menemukan orang tuanya. Dia merasa sesak napas, jantungnya berdebar kencang, dan dia merasa seperti dia tidak bisa bergerak. Dia merasa seperti dia tidak bisa bernapas, seperti dia terjebak di dalam kerumunan orang yang panik.
\"Ma! Pa! Tolong!\" teriak Zola lagi, tetapi suaranya tenggelam dalam kebisingan kerumunan. Dia merasa sangat takut dan sendirian, dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Pada saat itu, Zola merasa seperti dia terjebak, tidak bisa bergerak, dan tidak bisa bernapas. Dia merasa seperti dia terjebak di dalam kerumunan orang yang panik, dan dia tidak bisa menemukan jalan keluar. Pengalaman ini sangat menakutkan bagi Zola, dan ini adalah awal dari klaustrofobianya.
Other Stories
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Hotel Tanpa Cermin
Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...