Camara Derie

Reads
5
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Face The Darkness

“Hai, gadis kecil, siapa namamu? Kau bisa memanggilku Shashi.”

Zola menatap wajah perempuan yang menyapanya, tetapi tidak ada jawaban yang meluncur dari mulut kecilnya. Dia hanya memeluk tas biru yang sudah kusam.

Perempuan itu menghela napas. Dia sudah duduk di sebelah gadis itu selama satu jam lebih dan belum mendapat informasi apapun. Padahal dia harus sudah menyerahkan informasi gadis ini ke kantor CWSA pusat. Sudah dua hari berlalu sejak bencana mall runtuh. Banyak anak yang menjadi korban dari kejadian itu, mengingat bencana terjadi di akhir pekan dan banyak pengunjung keluarga. Kebanyakan anak-anak itu terpisah dari keluarganya, atau orang tua menjadi korban jiwa tak selamat. Salah satunya adalah gadis yang duduk di sebelahnya.

“Maaf, sekarang jam berapa?” tanya gadis itu memecah lamunan Shashi.

“Kau bertanya padaku?”

Zola kecil hanya menunduk tak menjawab. Tidak mau kehilangan momen, Shashi segera menjawab, “Sekarang jam 12 siang lewat beberapa menit.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis kecil di depan Shashi segera turun dari bangku panjang yang didudukinya dan mengeluarkan gumpalan kain dari dalam tas. Shashi hanya bisa menyaksikan bagaimana gadis kecil itu menunaikan ibadahnya. Dia dengan sabar menunggu.

“Assalamualaikum,” kata Shashi pelan. Dia tidak yakin itu yang harus dia ucapkan. Namun, tentu saja itu berhasil menarik perhatian gadis di depannya.

“Kau muslim?” tanya Zola sambil menatap Shashi dengan tatapan menyelidik.

“Oh, bukan,” sangkal Shashi cepat secepat dia kemudian mengoreksi, “tetapi itu yang para muslim saling ucapkan ketika bertemu bukan?”

Zola tak menjawab hanya mengangguk. Dia kembali melipat kain panjang yang digunakannya untuk menutup kepalanya ketika sholat tadi. Gadis itu kemudian duduk lagi.

“Aku hanya akan menunggu orang tuaku.”

Kalimat itu terdengar seperti penolakan, dan itu bukan hal yang aneh di telinga Shashi. Sebagai relawan resmi di CWSA, kalimat itu sering terdengar dari mulut anak-anak yang terlantar.

“Maukah kau membantuku? Kudengar para muslim senang membantu orang.”

Kalimat itulah yang menjadi awal mula pertemanan Shashi dan Zola. Sehingga Shashi memutuskan keluarga yang mengadopsi Zola hanyalah dari keluarga muslim juga.

***

Suara tetes air terdengar bergema ketika Zola membuka mata. Zola merasa bingung dan disorientasi. Kegelapan yang pekat memenuhi pandangan, membuatnya sulit untuk melihat apa pun. Dia mencoba untuk bergerak, tetapi tubuhnya terasa lemah dan berat, seolah-olah baru saja bangun dari tidur yang sangat dalam.

Zola merasakan permukaan yang keras di bawah, mungkin lantai atau tanah, dan suara gemerisik yang jauh di kejauhan. Suara itu terdengar seperti angin yang berhembus melalui daun jendela atau mungkin suara air yang mengalir. Selain itu, tempat ini sangat tenang, hampir tidak ada suara lain.

Gadis itu mencoba untuk berdiri, tetapi tubuhnya merasa lemah dan gemetar. Dia merasa pusing dan sedikit mual, mungkin efek samping dari pingsan. Zola merasa dingin dan basah, mungkin karena keringat dingin atau mungkin karena udara di tempat ini lembab dan dingin.

Zola mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelum pingsan, tetapi pikiran kabur dan sulit untuk berkonsentrasi. Dia duduk sendirian di sudut ruangan yang gelap, membiarkan pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Teringat akan perpisahan yang menyakitkan dengan keluarganya dan rasa kehilangan yang mendalam. Di tengah keadaannya saat ini, trauma masa lalunya muncul kembali dengan kuat.

***

Dia teringat akan momen terakhir mereka bersama. Air mata mengalir ketika dia mengingat wajah ibunya yang penuh kekhawatiran, dan senyum hangat ayahnya yang memberikan kekuatan padanya.

\"Kamu harus tetap kuat, Zola. Kami akan selalu mencintaimu,\" kata ibunya dengan suara lembut.

Zola menggenggam erat satu-satunya foto keluarga yang dia simpan di saku. Dia merasa kehilangan yang mendalam, tetapi dia tahu dia harus mencari kekuatan dalam dirinya sendiri untuk tetap tegar.

\"Keluargaku, aku berjanji untuk tetap kuat dan bertahan,\" bisik Zola dengan suara yang penuh tekad.

“Aisha,” bisik satu suara dari balik pintu yang berseberangan dengan posisi Zola.

Demi mendengar suara itu, Zola bergerak. Gadis itu merangkak ke arah pintu yang bergerak pelan.

“Aisha, kau di sana?” Tepat ketika pintu terbuka, Zola mendongak. Seorang gadis berusia tidak lebih dari lima belas tahun terlihat berantakan. Kerudung scarf yang dikenakan remaja itu penuh dengan hujanan debu reruntuhan.

“Kau si adik?” tanya Zola dengan suara pelan.

Remaja itu diam mematung tak menjawab. Dia malah mengernyitkan kening dan melangkah mundur.

“Jangan bergerak,” pinta Zola yang diikuti batuk. “Kalau kau mencari kakakmu yang ada di kamar ini, dia sudah keluar. Aku dari tim relawan.”

Penjelasan Zola membuat langkah remaja itu berhenti, tetapi tetap tidak menyurutkan kewaspadaan dari wajahnya. Dia tetap tidak melepaskan tatapan dari Zola. Ketiadaan sang kakak membuat remaja itu semakin khawatir.

“Siapa namamu? Namaku Zola.” Zola berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari remaja itu dengan memperkenalkan dirinya.

“Aleeya,” jawab remaja itu dengan pelan, tetapi masih dapat didengar Zola.

Tiba-tiba, mereka mendengar suara yang datang dari luar. \"Apakah ada yang orang di sana?\" teriak suara itu.

Zola berteriak sekuat tenaga, \"Kami di sini! Kami terjebak!\" Perempuan bermata cokelat itu yakin, suara barusan adalah tim first respondent. Ada harapan dan keberanian dalam suara itu.

Tim first responder segera mulai bekerja. Mereka menggunakan peralatan khusus untuk mengangkat dan memindahkan reruntuhan, berusaha untuk mencapai Zola dan Aleeya. Mereka bekerja dengan cepat dan efisien, tetapi juga dengan hati-hati untuk tidak menyebabkan lebih banyak kerusakan.

\"Kami akan membawa kalian ke rumah sakit,\" kata salah satu anggota tim, berbicara dengan lembut kepada Zola dan Aleeya. \"Kalian akan baik-baik saja.\"


Other Stories
Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

hjskjdhueysnajkhdHHfhdhffowdwddcnnnnnnnnnnnnnnnndhlwhe;ofh becccccccc 3on4qnmofjinv,hi843 ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Download Titik & Koma