Di Balik Kaca Display
Jakarta, 25 Maret 2005.
Lantai marmer Museum Sejarah Nasional itu biasanya memantulkan cahaya lampu gantung yang megah. Namun sore ini, marmer itu hanya memantulkan bayangan seorang pria yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya. Bramantyo, atau Bram, berdiri di tengah atrium utama yang luas. Suara detak jam dinding kuno dari era kolonial di sudut ruangan terdengar seperti dentuman palu hakim yang menghunjam jantungnya.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Museum ini seharusnya menjadi jantung peradaban, tempat di mana identitas bangsa dirawat dengan penuh hormat. Bagi Bram, tempat ini lebih mirip dengan makam raksasa. Bau apek dari kayu jati kuno yang mulai lembap dan aroma samar pengawet kimia dari koleksi taksidermi bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer pengap yang menyesakkan dada.
Bram melangkah gontai menyusuri galeri prasejarah. Di sana, replika tengkorak Pithecanthropus erectus menatapnya dengan rongga mata kosong, seolah mengejek nasib kuratornya yang hampir sama punahnya dengan spesies tersebut. Tidak ada satu pun pengunjung. Bahkan bangku panjang di tengah ruangan, yang biasanya disediakan untuk pelajar yang mencatat atau turis yang kelelahan, tampak mengilap karena lebih sering dibersihkan dibanding diduduki. Debu-debu halus menari di bawah sisa cahaya matahari yang menerobos lewat jendela tinggi di langit-langit, menunjukkan betapa statisnya udara di sini.
"Satu orang, Bram. Hanya satu orang sepanjang hari ini," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya bergema, terpantul dari dinding-dinding tinggi, membuatnya merasa semakin kesepian.
Pagi tadi, seorang kakek membawa cucunya masuk. Bram sempat merasa secercah harapan. Ia sudah bersiap memberikan penjelasan paling menarik tentang kapak perimbas atau sistem irigasi kuno. Namun, si cucu hanya bertahan lima menit sebelum merengek meminta pulang karena ‘tempatnya seram dan bau’. Sang kakek hanya mengangkat bahu meminta maaf, lalu pergi membawa satu-satunya harapan pendapatan museum hari ini.
Bram beralih ke Galeri Kerajaan Hindu-Buddha. Di sini, ia berhenti di depan sebuah arca Ganesha yang kehilangan satu tangannya. Ia mengusap kaca etalase yang dingin, meninggalkan bekas sidik jari yang buram.
"Kamu beruntung, Ganesha," gumam Bram. "Kamu tidak perlu membayar tagihan listrik yang menunggak tiga bulan. Kamu tidak perlu mendengar ancaman dari dewan pembina bahwa tempat ini akan dialihfungsikan."
Pikiran itu membuatnya mual. Ia ingat jelas pertemuannya dengan Kepala Museum kemarin.
"Kita tidak bisa mempertahankan ini lagi, Bram," suara Pak Hendra, Kepala Museum yang sudah menyerah, terngiang kembali di telinga Bram. "Minggu depan, dewan kurator dan perwakilan kementerian akan datang. Jika kita tidak punya rencana konkret untuk meningkatkan jumlah pengunjung secara drastis dalam satu bulan, museum ini akan ditutup secara permanen. Koleksi akan didistribusikan ke gudang-gudang daerah, dan gedung ini ... mungkin akan disewakan untuk kepentingan komersial."
Museum Sejarah Nasional ini memiliki segalanya, dari keris-keris legendaris yang konon bisa berdiri sendiri, kain tenun kuno dengan motif yang sudah punah, hingga catatan harian para pejuang kemerdekaan yang kertasnya sudah menguning dan rapuh. Bagaimana Bram bisa meyakinkan orang-orang di luar sana yang sedang tergila-gila dengan siaran televisi swasta dan gaya hidup metropolitan bahwa sebuah arca yang retak memiliki nilai yang lebih tinggi daripada tren terbaru?
Bram melewati koleksi Zaman Logam. Nekara perunggu besar yang dulu digunakan untuk upacara pemanggil hujan itu kini tampak kusam. Bram menyentuh permukaannya yang dingin, merasakan pola-pola hiasan yang rumit. Dulu, benda ini dianggap suci, sebuah penghubung antara manusia dan langit. Sekarang, ia hanyalah rongsokan berharga yang menunggu untuk dipindahkan.
Bram berjalan menuju meja kerjanya yang terletak di sudut tersembunyi di balik barisan lemari arsip. Di sana, tumpukan surat peringatan berwarna merah tampak mencolok di atas tumpukan jurnal arkeologi. Surat pemutusan aliran listrik, surat teguran dari dinas kebudayaan tentang penurunan target pendapatan, dan yang paling menyakitkan yaitu surat pengunduran diri dari dua orang staf terakhirnya yang memilih bekerja sebagai kurir ekspedisi karena gajinya lebih pasti.
Bram menghempaskan tubuh ke kursi kayu yang berderit protes. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan, merasakan denyut di pelipisnya. Di sudut meja kerjanya, sebuah radio kecil berdengung lirih, menyiarkan berita tentang fluktuasi harga BBM yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan.
Frustrasinya mencapai titik puncak ketika ia melihat laporan mingguan. Angka nol besar tertera di kolom ‘Pengunjung Pelajar’. Sekolah-sekolah lebih memilih menyewa bus pariwisata untuk membawa siswanya konvoi ke Dufan atau nonton film Blockbuster terbaru di Bioskop 21, daripada mengajak mereka menelusuri kejayaan Majapahit atau memecahkan misteri Kerajaan Kalingga.
"Kalau saja aku punya satu hal ... satu saja benda yang bisa membuat mereka terpukau," desisnya.
Ia bangkit kembali, kali ini dengan energi kemarahan yang meluap. Ia menendang kaki meja, menimbulkan suara dentuman yang keras di keheningan museum. Ia mulai berjalan mondar-mandir, melewati barisan artefak dengan pandangan nanar.
Bram berhenti di depan sebuah lemari kaca yang memajang replika perhiasan emas Kalingga. Di sana, terdapat teks penjelasan yang ia tulis sendiri bertahun-tahun lalu dengan penuh semangat.
Ratu Shima (674 M): Simbol keadilan absolut. Hukum tidak pandang bulu, bahkan terhadap darah dagingnya sendiri.
"Keadilan, ya?" gumam Bram pahit. "Sekarang tidak ada lagi keadilan untuk sejarah. Jika kamu tidak menghasilkan uang, kamu dianggap tidak ada."
Ia menatap kosong pada bayangan wajahnya di kaca etalase. Matanya cekung, lingkaran hitam menghiasinya akibat kurang tidur berminggu-minggu. Rambutnya berantakan, dan kemeja kuratornya yang dulu selalu rapi kini tampak lusuh. Ia merasa seperti hantu yang terjebak di dunianya sendiri.
Mendadak hujan mulai turun dengan deras, menghantam atap museum dengan suara yang memekakkan telinga. Air mulai merembes dari sudut plafon di ruang numismatik, ruangan yang menyimpan ribuan koin kuno dari berbagai penjuru nusantara. Bram segera berlari mengambil ember plastik, menaruhnya di bawah tetesan air untuk melindungi koin-koin perak peninggalan masa kolonial.
Ting.
Suara air yang jatuh ke ember plastik yang kosong terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu. Ting. Ting. Suara itu seolah menghitung mundur waktu kematian museum ini.
Lampu di lorong utama tiba-tiba berkedip, lalu padam. Museum itu tenggelam dalam kegelapan total selama beberapa detik sebelum lampu darurat yang redup menyala. Suara buzzing dari instalasi listrik tua nyaris seperti rintihan kematian.
"Hebat. Benar-benar hebat." Bram tertawa getir. Tawa yang terdengar hampir seperti isak tangis.
Bram mengambil tas selempangnya dan payung, lalu susah payah berusaha mengunci pintu museum dengan tangan gemetar. Ia keluar menuju teras museum yang luas. Saat ia melangkah keluar, dinginnya air hujan yang terbawa angin langsung menyergap kulitnya. Beberapa orang tampak berteduh di halte bus terdekat, tanpa menoleh sedikit pun ke arah bangunan kolonial megah yang berdiri lesu di samping mereka.
Bagi orang-orang itu, museum ini hanyalah latar belakang pemandangan yang tak kasat mata. Sebuah bangunan tua yang dianggap mati, terkubur oleh hiruk-pikuk Jakarta yang sedang keranjingan gaya hidup metropolitan dan teknologi baru yang membuat segalanya terasa lebih nyata daripada sejarah.
Bram berjalan menembus hujan, membiarkan ujung celananya basah kuyup. Ia tidak ingin pulang ke apartemen kecilnya yang juga penuh dengan buku-buku sejarah yang berdebu. Ia butuh berjalan. Ia butuh menjauh dari kenyataan bahwa besok ia mungkin harus mulai mengepak barang-barangnya.
Langkah kakinya membawanya menjauh dari jalan protokol. Ia masuk ke gang-gang kecil di daerah pemukiman tua yang jarang ia lalui. Di sini, lampu jalanan temaram, dan toko-toko kecil sudah mulai menutup pintunya. Hujan perlahan mereda menjadi gerimis tipis, menyisakan bau tanah dan aspal yang basah.
Bram merasa tersesat, tapi ia tidak peduli. Justru dalam rasa tersesat itu, ia merasa sedikit tenang. Tidak ada sejarah yang harus ia selamatkan di gang sempit ini. Hanya ada keheningan yang berbeda.
Ia melewati sebuah ruko tua yang terjepit di antara dua bangunan tinggi yang tidak terawat. Ruko itu terlihat sangat kontras. Pintunya terbuat dari kayu jati tua dengan ukiran yang sangat halus, sangat mirip dengan gaya ukiran yang sering ia lihat di artefak-artefak abad pertengahan.
Di atas pintunya, sebuah papan kayu kecil bergantung miring, tertulis dengan cat yang sudah mengelupas: Toko Antik Sekala.
Entah mengapa, bulu kuduk Bram meremang. Sebagai seorang kurator, ia memiliki insting tajam terhadap benda-benda yang memiliki jiwa. Ruko ini seolah memanggilnya, memancarkan aura yang sangat kuat, seolah ada sesuatu yang sedang menunggunya di dalam sana.
Rasa penasaran mengalahkan rasa lelahnya. Bram mendekati pintu kayu itu. Saat tangannya menyentuh gagang pintu yang terbuat dari kuningan dingin, ia merasakan sengatan listrik statis yang kecil. Ia mendorong pintu itu pelan.
Kring!
Bunyi lonceng kecil di atas pintu menandakan kehadirannya, memecah kesunyian gang itu.
"Selamat datang, Nak." Sebuah suara serak terdengar dari balik kegelapan di ujung ruangan.
Seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang diikat rapi muncul. Ia mengenakan beskap hitam sederhana dan memegang sehelai kain sutra untuk membersihkan sebuah bejana perunggu. Matanya kecil, tapi tatapannya tajam.
"Maaf, saya ... saya hanya berteduh," ujar Bram gugup, tiba-tiba merasa seperti pencuri yang tertangkap basah.
Orang tua itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. "Tidak ada yang masuk ke toko ini hanya untuk berteduh, Bramantyo."
Other Stories
Lydia
Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, Lydia merasa waktu berjalan terlalu cepat ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...