Sosok Pencuri
Matahari Kalingga baru saja naik setinggi penggalah, tapi panasnya sudah mulai memanggang alun-alun istana yang luas. Dari jendela gedungnya, Bramantyo memperhatikan undakan di bawah pohon beringin itu dengan perasaan gelisah yang kian menebal. Di sudut itu, kantong emas ujian Ratu Shima tampak berkilau samar terkena cahaya yang menembus sela-sela daun.
Bram tahu, menurut garis waktu yang ia pelajari di museum, insiden ‘ketidaksengajaan’ itu tinggal menghitung hari. Pangeran Narayana, dengan segala keceriaan dan sikap meremehkannya, sedang berjalan menuju tebing kehancuran. Sebagai seorang kurator, Bram dididik untuk tidak mengintervensi artefak, tapi toh Narayana bukan artefak. Dia adalah manusia yang bernapas, yang kemarin baru saja berbagi tawa dengannya.
"Aku harus menghentikannya," gumam Bram pada dirinya sendiri.
Meskipun demikian, Bram bingung. Bagaimana cara memperingatkan seorang pangeran yang merasa dirinya tak tersentuh oleh hukum? Jika ia bicara terlalu gamblang, ia akan dianggap meramal hal buruk atau—lebih parah lagi—dianggap sebagai mata-mata yang mencoba mengguncang mentalitas kerajaan.
Bram memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih halus. Ia keluar dari gedung, mengenakan pakaian Kalingga-nya dengan canggung. Ia berencana mendekati undakan tempat kantong emas itu di saat penjagaan tampak renggang, sekadar untuk melihat apakah ada cara untuk ‘menandai’ area berbahaya di sekitar meja tersebut agar sang pangeran tidak berjalan terlalu dekat.
Baru saja ia melangkah keluar dari bayang-bayang gedung, ia merasa hawa dingin menusuk tengkuknya. Di bawah pohon tanjung, Senopati Wira berdiri diam seperti patung batu, matanya yang tajam tidak pernah lepas dari gerak-gerik Bram. Bram menelan ludah, mencoba bersikap sewajar mungkin. Ia berjalan ke arah alun-alun, berpura-pura sedang menikmati udara pagi.
\"Indah sekali pagi ini, Senopati,\" tegur Bram saat melewati Wira.
Wira tidak menjawab. Ia hanya mengikutinya dengan tatapan yang seolah mampu menguliti punggung Bram. Bram terus berjalan hingga ia sampai di pinggir alun-alun. Ia melihat Pangeran Narayana sedang berbincang dengan beberapa abdi dalem di sisi lain lapangan. Sang pangeran tertawa lepas, tangannya melambai-lambai, dan langkah kakinya yang ceroboh sesekali menendang pasir di jalanan.
Bram mendekati undakan itu. Dari jarak lima meter, ia berhenti. Ia memperhatikan tanah di sekitar meja. Tanah itu bersih, dipadatkan dengan sangat rapi. Tidak ada pagar, tidak ada pembatas. Hanya ruang kosong yang mengundang maut.
Kalau saja ada tanda di sini, pikir Bram. Sesuatu yang membuat pangeran harus melangkah memutar.
Bram merogoh kantong kainnya, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Ia menemukan beberapa kerikil kecil yang ia kumpulkan tadi pagi. Rencananya sederhana, ia akan menjatuhkan kerikil-kerikil itu dalam pola tertentu di sekitar undakan. Di tempat asalnya, tanda seperti ini sering digunakan di museum untuk memberi tahu pengunjung agar tidak terlalu dekat dengan etalase.
Ia melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.
\"Berhenti!\"
Suara itu mengelegar seperti guntur di tengah langit yang cerah. Bram tersentak, tangannya yang memegang kerikil gemetar hebat. Ia menoleh dan melihat Senopati Wira sudah berada hanya beberapa langkah di belakangnya, tangannya sudah berada di hulu keris.
\"Apa yang kau lakukan di dekat meja ujian, Pengembara?\" suara Wira rendah, sarat dengan ancaman yang mematikan.
\"Saya ... saya hanya ingin melihat lebih dekat, Senopati. Keajaiban kejujuran ini sangat termasyhur di tempat saya,\" jawab Bram dengan suara yang diusahakan tenang, meski keringat dingin mulai mengucur deras.
\"Melihat tidak butuh jarak sedekat itu,\" desis Wira. Ia maju selangkah, menekan Bram. \"Kau sudah diperingatkan. Rakyatku saja tidak berani menatap kantong itu dari jarak sedekat ini. Mengapa kau tampak begitu tertarik dengan letak kantong itu di atas meja?\"
\"Saya tidak bermaksud mencuri, Senopati!\" seru Bram, menyadari bahwa situasinya memburuk dengan cepat.
Keributan kecil itu menarik perhatian Pangeran Narayana dan Dyah Gupita yang sedang berjalan dari arah istana. Mereka bergegas menghampiri.
\"Ada apa ini, Wira?\" tanya Narayana, dahinya berkerut melihat Bram yang tampak terpojok.
\"Gusti Pangeran, pengembara ini mencoba mendekati meja ujian secara sembunyi-sembunyi,\" lapor Wira tanpa melepaskan pandangannya dari Bram. \"Aku melihatnya merogoh sesuatu dari kantongnya. Dia mungkin mencoba menggunakan sihir atau mencuri emas itu saat penjagaan berganti.\"
Gupita menatap Bram dengan pandangan yang sulit dibaca. Ada sedikit kekecewaan yang terpancar dari matanya yang bening. \"Bramantyo, benarkah itu? Bukankah sudah kukatakan padamu untuk menjaga sikap di tempat ini?\"
\"Gupita, Pangeran ... saya hanya ingin membantu,\" ujar Bram putus asa. Ia tahu ia tidak bisa menceritakan tentang masa depan. \"Saya melihat pangeran berjalan dengan sangat santai. Saya khawatir jika ada orang—bukan hanya pangeran—yang secara tidak sengaja menyenggol meja ini. Saya hanya ingin meletakkan tanda agar orang-orang lebih berhati-hati.\"
Narayana tertawa, tapi kali ini tawa itu tidak terdengar seramah biasanya. Ada nada tersinggung di sana. \"Membantu? Kau pikir aku begitu lemah sehingga bisa menyentuh benda itu karena ceroboh? Atau kau pikir rakyat Kalingga butuh bimbingan darimu untuk tahu di mana letak hukum?\"
\"Bukan begitu, Gusti … \"
\"Bramantyo.\" Gupita memotong, suaranya dingin. \"Kejujuran di sini bukan tentang tanda di atas tanah. Kejujuran adalah kesadaran di dalam jiwa. Dengan mencoba memberikan \'tanda\', kau justru menghina kesucian ujian ini. Kau membuat seolah-olah kejujuran kami hanyalah karena rasa takut akan tersandung, bukan karena pengabdian pada hukum Gusti Ratu.\"
Wira mendengus sinis. \"Alibi yang sangat cerdik, Pengembara. Mengatakan ingin membantu keamanan padahal sebenarnya kau sedang memetakan jarak untuk mencuri. Hanya pencuri yang berpikiran tentang \'ketidaksengajaan\'.\"
Pangeran Narayana menggelengkan kepala. \"Aku kecewa, Bramantyo. Kupikir kau adalah penjaga sejarah yang bijak. Ternyata kau hanyalah orang asing yang penuh ketakutan.\"
Pangeran kemudian berbalik dan pergi, diikuti oleh Gupita yang sempat melirik Bram sekali lagi—tatapan yang seolah mengatakan bahwa posisi Bram kini berada di ujung tanduk.
Wira mendekati telinga Bram, baunya seperti minyak perang dan besi tua. \"Mulai detik ini, setiap embusan napasmu adalah tanggung jawabku. Jika kau terlihat satu jengkal lagi mendekati alun-alun tanpa izin, aku tidak peduli pada pembelaan Gupita. Aku akan memastikan tanganmu yang ingin \'menandai\' tanah itu tidak akan pernah bisa menyentuh apa pun lagi.\"
Bram berdiri terpaku saat Wira pergi meninggalkannya sendirian di pinggir alun-alun. Ia merasa sangat bodoh. Logika modernnya tentang ‘keamanan dan tanda peringatan’ ternyata menjadi bumerang yang mematikan di dunia yang menjunjung tinggi simbolisme dan kehormatan.
Malam harinya, Bram tidak bisa tidur. Kabar miring tentang dirinya telah menyebar dan ia merasa terisolasi di dalam gedungnya sendiri. Ia merenung di dekat jendela, memperhatikan alun-alun yang kini diselimuti kegelapan dan hanya diterangi cahaya rembulan yang redup.
Tiba-tiba, gerakannya terhenti. Di tengah alun-alun yang sunyi, ia melihat sebuah siluet ramping sedang berjalan menuju kantong emas. Siluet itu bergerak dengan sangat halus seolah-olah kaki-kakinya tidak menyentuh bumi.
Sosok itu berhenti di depan kantong emas. Ia tidak menyentuhnya, tapi ia berdiri sangat dekat. Seolah-olah sedang membisikkan sesuatu pada benda mati tersebut. Bram menyipitkan mata, berusaha mengenali sosok itu. Apakah itu Wira? Tidak, tubuhnya terlalu ramping. Apakah itu Gupita? Tidak, Bram yakin Gupita tidak bergerak seperti itu.
Rasa curiga dan insting kuratornya meledak. Ia harus tahu siapa orang ini. Jika terjadi sesuatu pada kantong itu, ia akan menjadi tersangka utama karena kejadian siang tadi.
Bram meraih kamera Chronos dari tasnya. Tangannya gemetar. Layar biru kecil itu menunjukkan angka 10%. Ia tahu risikonya. Mengambil foto di kegelapan seperti ini akan memakan daya yang sangat berharga. Namun, jika ia tahu siapa sosok ini, ia mungkin bisa mencegah kehancuran Pangeran Narayana.
Ia membidikkan lensa besar kamera itu ke arah alun-alun. Fokusnya mengunci pada siluet yang membelakangi gedungnya itu.
Klik.
Suara mekanis kamera itu terdengar seperti ledakan di telinga Bram. Sosok di alun-alun itu tersentak, menoleh sekilas ke arah gedung, lalu menghilang dengan cepat di balik rimbunnya pohon beringin.
Bram segera melihat layar pratinjau. Napasnya tercekat.
[Status Baterai: 9%]
Angka itu kini tinggal satu digit. Ia melihat fotonya. Di sana terlihat punggung seseorang yang mengenakan kain halus yang berkilau di bawah rembulan, tapi wajahnya tertutup oleh bayangan dahan beringin. Gerakan yang terlalu cepat membuat gambarnya sedikit blur. Sosok itu mengenakan perhiasan di lengan yang memantulkan sedikit cahaya, tapi juga tidak cukup jelas untuk menentukan identitasnya.
\"Siapa kau?\" bisik Bram dengan suara serak.
Ia merasa jantungnya berpacu. Foto itu tidak memberinya jawaban langsung. Namun, ia kini yakin akan satu hal. Ia tidak sendirian dalam ketertarikannya pada kantong emas itu. Ada orang lain yang bergerak di dalam kegelapan. Entah bermaksud sebagai kawan atau justru lawan.
Other Stories
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
DAISY’s
Kisah Tiga Bersaudari ...