Hilangnya Daya
Bram menunduk dalam. \"Saya mengerti, Gusti Ratu. Saya bersumpah demi langit dan bumi, saya tidak akan menyalahgunakannya.\"
\"Sumpah mudah diucapkan, tapi berat untuk dipikul.\" Ratu bangkit dari singgasananya, berdiri dengan keanggunan yang tak terbantahkan. \"Pakaianmu itu membuat rakyatku ketakutan. Mereka menganggapmu iblis atau utusan jahat. Aku tidak bisa membiarkan keresahan menyebar di pasar dan jalanan.\"
Ratu menoleh ke arah Gupita. \"Gupita, bawa dia ke gedung belakang. Berikan dia pakaian yang layak bagi seorang pengembara di tanah ini. Bersihkan debu-debu yang ia bawa, dan pastikan dia mengerti aturan di istana ini. Mulai hari ini, dia berada di bawah pengawasanmu.\"
\"Sendika dhawuh[1], Gusti Ratu,\" jawab Gupita dengan sembah yang sempurna.
\"Dan Senopati Wira.\" Ratu menatap panglima perangnya. \"Tahan kerismu. Jangan biarkan kemarahanmu mendahului kebijaksanaanku. Biarkan waktu yang membuktikan apakah pria ini membawa berkah atau kutukan.\"
Wira membungkuk, meski rahangnya mengeras. \"Hamba patuh, Gusti.\"
Gupita kemudian mendekati Bram dan memberi isyarat agar ia berdiri. Bram bangkit dengan kaki yang terasa seperti jeli. Ia mengikuti Gupita keluar dari gedung, melewati Wira yang memberikan tatapan seolah ingin menguliti Bram hidup-hidup.
Saat mereka berjalan menyusuri lorong istana menuju gedung belakang, suasana mulai terasa sedikit lebih tenang. Langit sudah berubah menjadi ungu gelap, dan suara jangkrik mulai bersahut-sahutan.
\"Kau beruntung,\" bisik Gupita tanpa menghentikan langkahnya. \"Gusti Ratu sedang dalam suasana hati yang adil. Jika tidak, Senopati Wira mungkin sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.\"
\"Apa Senopati Wira selalu seperti itu?\" tanya Bram pelan.
\"Dia adalah pedang Kalingga. Tugasnya adalah curiga. Tugasmu adalah membuktikan bahwa kecurigaannya salah,\" jawab Gupita datar.
Mereka sampai di sebuah ruangan kecil yang bersih dengan lantai kayu dan jendela tanpa kaca yang menghadap ke taman teratai. Di atas sebuah bale-bale bambu, sudah tersedia tumpukan kain. Gupita menunjuk ke arah kain-kain tersebut.
\"Lepaskan pakaian anehmu itu. Simpan di dalam peti di sudut sana. Kenakan kain lilitan ini dan rompi kulit pelindung. Jika kau ingin diterima di sini, kau harus terlihat seperti kami.\"
Gupita berbalik untuk memberikan privasi bagi Bram. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Bram mulai melepas kemeja kuratornya yang sudah basah oleh keringat dingin. Ia melepas celana bahannya dan jam tangan plastiknya, menyimpannya ke dalam tas bersama ponselnya.
Ia mulai melilitkan kain jarik bermotif sederhana itu ke pinggangnya, mencoba mengingat cara memakainya dari demonstrasi busana tradisional yang pernah diadakan di museum. Setelah beberapa kali percobaan yang gagal, ia akhirnya berhasil mengikatnya dengan kuat. Ia mengenakan rompi kulit tipis yang disediakan, yang terasa sedikit kaku.
\"Sudah?\" tanya Gupita dari balik pintu.
\"Sudah,\" jawab Bram.
Gupita masuk kembali. Ia menatap Bram dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk pertama kalinya, Bram melihat sedikit kilatan geli di mata wanita itu, meski hanya sekejap.
\"Sekarang kau tampak lebih seperti manusia, meski rambutmu masih terlalu berantakan untuk ukuran seorang pengembara,\" ujar Gupita. Ia mendekati Bram, membawa sebuah sisir kayu dan minyak kelapa yang harum.
Tanpa diduga, Gupita mulai merapikan rambut Bram. Jari-jarinya yang halus terasa sangat nyata di kulit kepala Bram. Bau harum dari tubuh Gupita kembali menyergapnya, perpaduan melati dan sesuatu yang kuno. Bram terpaku, tidak berani bergerak sedikit pun.
\"Dengarkan aku, Bramantyo,\" ucap Gupita dengan nada yang sangat serius meski tangannya tetap lembut merapikan rambutnya. \"Di istana ini, dinding memiliki telinga dan bayangan memiliki mata. Ratu Shima tidak hanya menjunjung tinggi hukum, tapi juga ketenangan. Jangan pernah mengeluarkan alat logammu itu di depan umum. Mengerti?\"
\"Mengerti,\" jawab Bram singkat.
Gupita mundur satu langkah, puas dengan hasil kerjanya. Bram kini benar-benar terlihat seperti pria dari masa Kalingga, kecuali matanya yang masih menyimpan kebingungan manusia modern.
\"Malam ini, istirahatlah. Makanan akan diantarkan ke sini. Jangan keluar dari gedung ini sampai fajar menyingsing,\" ucap Gupita sebelum ia melangkah menuju pintu.
\"Gupita?\" panggil Bram sebelum wanita itu menghilang.
Gupita berhenti dan menoleh.
\"Kenapa kau begitu percaya padaku?\"
Gupita menatapnya cukup lama, cahaya obor di luar gedung menciptakan bayangan yang menari di wajah cantiknya. \"Aku tidak bilang aku percaya padamu, Bramantyo. Aku hanya bilang aku ingin melihat kejujuranmu. Ada perbedaan besar di antara keduanya.\"
Setelah Gupita pergi, Bram terduduk di bale-bale bambu. Ia meraba tas selempangnya yang ia sembunyikan di bawah bantal kayu. Ia mengeluarkan kamera Chronos. Layarnya masih berkedip 11%.
Rasa penasaran kurator dalam dirinya kembali bergejolak. Ia ingin menguji apakah benda ini benar-benar berfungsi sebagai kamera di dimensi ini, ataukah ia hanya sekadar kunci portal yang kini telah mati. Bram mengarahkan lensa besarnya ke arah jendela gedung yang terbuka. Di sana, di bawah cahaya rembulan yang perak, tampak siluet pohon beringin raksasa di tengah alun-alun istana, dan di kejauhan, tempat kantong emas legendaris itu diletakkan.
Pemandangan itu begitu magis. Ini adalah sejarah yang hidup, sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan melalui literatur yang kering di perpustakaan museum.
Bram menahan napas, menstabilkan tangannya, lalu menekan tombol rana pelan.
Klik.
Suara mekanis kamera itu terdengar sangat garing di keheningan malam. Tidak ada kilatan cahaya yang meledak seperti saat ia berada di ruko antik tadi, hanya sebuah kedipan halus pada layar digitalnya. Bram segera melihat pratinjau pada layar kecil di bagian belakang.
Matanya membelalak. Gambar yang dihasilkan sangat jernih, jauh lebih tajam daripada resolusi kamera digital mana pun yang ada di tahun 2005. Ia bisa melihat tekstur kulit kayu beringin, bahkan serat-serat pada kantong kain itu dengan detail yang luar biasa. Foto itu seolah-olah menangkap bukan hanya cahaya, tapi juga esensi dari waktu itu sendiri.
Akan tetapi, kegembiraannya hanya bertahan sedetik.
Bram tersentak saat melihat angka di pojok kanan atas layar berkedip cepat sebanyak tiga kali, lalu berubah.
[Status Baterai: 10%]
\"Apa?\" bisik Bram dengan suara tercekat. \"Hanya untuk satu foto?\"
Ia menekan tombol navigasi, berharap itu hanya kesalahan sistem atau pembulatan angka. Namun, angka itu tetap diam di sana, menatapnya dengan dingin. Sepuluh persen. Ia baru saja menyadari sebuah konsekuensi yang mengerikan. Setiap kali ia menekan tombol rana untuk mengabadikan sejarah, ia juga sedang memotong satu langkah jalannya untuk pulang.
Daya kamera ini bukan sekadar baterai listrik biasa, itu adalah bahan bakar temporal. Satu jepretan berarti satu bagian dari ‘energi waktu’ yang hilang. Jika ia memotret sepuluh hal lagi, kamera ini mungkin akan benar-benar mati, meninggalkannya membusuk di abad ketujuh tanpa harapan untuk kembali ke Jakarta tahun 2005.
“Tapi bagaimana caranya aku bisa pulang?” gumam Bram, sambil menekan-nekan tombol lain di kamera itu. “Tidak ada opsi untuk kembali ke tahun 2005. Apakah aku harus menemukan objek foto dari masa depan untuk dipotret agar aku bisa kembali ke masa yang kuinginkan? Tapi itu mustahil, tidak ada apa pun dari masa depan selain aku sendiri di sini!”
Bram menatap kantong emas di luar sana dengan ngeri. Sepuluh persen daya yang tersisa kini terasa seperti butiran pasir terakhir di dalam jam kaca.
\"Berarti aku tidak bisa sembarangan,\" gumamnya sambil mendekap kamera itu di dadanya. \"Aku harus menghematnya. Hanya untuk foto yang tepat yang mungkin bisa membawaku pulang. Mungkin ada misi yang harus aku selesaikan, mengabadikan momen yang benar-benar mengubah jalannya waktu. Hanya untuk catatan sejarah yang paling berarti.\"
Bram menyimpan kembali kamera itu ke dalam tas, menyembunyikannya di balik bantal kayunya dengan perasaan waswas. Malam itu, ia berbaring menatap langit-langit gedung yang terbuat dari susunan bambu, menyadari bahwa setiap detak jantungnya di zaman ini adalah taruhan yang sangat mahal. Di luar, bayangan Senopati Wira dan kelembutan Gupita seolah menari di antara pepohonan, menunggunya membuat kesalahan pertama.
Other Stories
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...