Rana Takdir

Reads
9
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Tidak Ada Yang Percaya

Bram tidak menunggu. Ia segera memasukkan kamera ke dalam tas dan berlari secepat mungkin melalui jalan setapak di balik bangunan penyimpanan. Ia merunduk di antara tumpukan jerami. Jantungnya memacu adrenalin hingga ke ujung jari. Ia mendengar derap langkah kaki Wira yang berat mendekati posisi persembunyiannya tadi.

"Cari di sekitar sini! Aku tahu ada seseorang!" teriak Wira kepada prajuritnya.

Bram terus merayap dalam kegelapan senja yang mulai turun, memanfaatkan pengetahuannya tentang denah istana yang sudah ia pelajari beberapa hari ini. Ia berhasil kembali ke gedungnya lewat pintu belakang, masuk dengan napas yang terputus-putus. Ia segera menyembunyikan kameranya dan berpura-pura sedang membaca gulungan lontar saat seorang prajurit mengetuk pintunya beberapa menit kemudian.

"Ada apa?" tanya Bram, mencoba mengatur napasnya agar tetap stabil.

"Hanya pemeriksaan rutin, Tuan," jawab prajurit itu dengan pandangan curiga, tapi ia tidak masuk lebih dalam.

Setelah prajurit itu pergi, Bram terduduk lemas di lantai. Ia meraih kameranya dengan tangan lemas. Layarnya menyala, menunjukkan angka yang menyakitkan.

[Status Baterai: 8%]

Delapan persen. Ia baru saja menggunakan satu persen lagi untuk memotret Wira. Ia segera melihat hasilnya. Foto itu menangkap wajah Wira dengan sangat jelas—mata yang penuh ambisi dan pria serba hitam itu. Itu adalah bukti visual dari pengkhianatan terselubung.

"Aku punya buktinya sekarang," bisik Bram. "Wira bukan pelindung. Dia adalah pemangsa yang sedang menunggu mangsanya jatuh karena kesalahan sendiri."

Bram mendekap tasnya erat. Delapan persen daya yang tersisa bukan lagi sekadar angka untuk pulang, tapi beratnya sebuah kebenaran yang harus ia sampaikan sebelum sejarah mencatat pangeran malang itu dengan tinta darah. Namun, kepada siapa ia harus bicara? Gupita sudah menolaknya. Ratu Shima terlalu kaku pada hukum.

Bram bimbang. Hari di mana pangeran akan menyenggol kantong emas itu semakin dekat, dan dia tidak punya kemajuan apa pun untuk mencegah insiden itu terjadi.

Apakah sudah waktunya untuk langsung bertindak?

***

Lantai batu di selasar menuju ruang peraduan pangeran terasa dingin di telapak kaki Bram, sebuah kontras yang tajam dengan gejolak yang membakar dadanya. Ia tidak lagi memperhatikan indahnya ukiran sulur pada pilar-pilar kayu jati atau harum melati yang menguar dari vas-vas perunggu di sepanjang lorong.

Bram menyadari bahwa ia sedang berjudi dengan waktu. Bukan hanya waktu temporal yang tersisa di dalam kamera Chronos-nya, tetapi waktu sebelum sejarah mencatatkan tragedi berdarah di tanah Kalingga. Di tangannya, ia meremas bungkusan kain kecil berisi beberapa butir kacang hutan. Sebuah alasan remeh yang ia siapkan agar bisa masuk ke wilayah pribadi Pangeran Narayana tanpa memicu kecurigaan para penjaga.

"Gusti Pangeran sedang tidak ingin diganggu, Pengembara." Salah satu pengawal di depan pintu kamar pangeran menghalangi jalan Bram dengan tombaknya yang menyilang.

"Saya hanya ingin menyerahkan persembahan kecil sebagai tanda maaf atas kekacauan di alun-alun tempo hari," ucap Bram, mengatur suaranya agar terdengar serendah dan sepasrah mungkin. "Saya tidak akan lama."

Kedua penjaga itu saling lirik. Reputasi Bram sebagai ‘orang aneh yang dimaafkan Gupita’ membuatnya memiliki sedikit kelonggaran. Setelah beberapa saat yang menegangkan, salah satu dari mereka mengangguk dan membukakan pintu kayu jati yang berat itu.

Bram melangkah masuk. Ruangan itu luas, dengan cahaya lilin yang menari-nari di dinding. Pangeran Narayana sedang duduk bersantai di atas bale-bale rendah, hanya mengenakan kain lilitan sutra tipis. Di depannya, berserakan gulungan lontar dan sebuah nampan berisi buah-buahan. Sang Pangeran tampak sedang memoles busur panah kesayangannya dengan minyak cendana.

"Kau lagi?" Narayana mendongak. Matanya menyipit, tapi tidak menunjukkan kemarahan yang meledak. Hanya ada rona kebosanan yang kental. "Kupikir kau sudah kapok mendekati kantong emas itu setelah hampir kehilangan tangan di bawah keris Wira."

Bram segera bersimpuh, meletakkan bungkusan kacangnya di atas lantai. "Gusti Pangeran, saya datang bukan untuk membahas meja itu. Saya datang karena ... karena rasa hormat saya pada keselamatan Anda."

Narayana tertawa kecil, suara tawanya memantul di langit-langit ruangan. Ia meletakkan busurnya dan mengambil sebutir anggur. "Hormat? Ataukah kau sedang mencoba mencari muka agar Gupita kembali tersenyum padamu? Aku tahu wanita itu mendiamkanmu sejak kejadian kemarin. Kau pasti merasa kesepian di gedungmu yang sunyi itu."

"Ini lebih dari sekadar urusan pribadi, Gusti." Bram memajukan tubuhnya, suaranya kini merendah menjadi bisikan. "Saya mendengar sesuatu di dekat barak prajurit sore kemarin. Senopati Wira ... dia membicarakan tentang Anda. Dia membicarakan tentang kecerobohan Anda di depan orang asing berpakaian hitam."

Gerakan tangan Narayana yang hendak memasukkan anggur ke mulutnya terhenti. Sesaat, ruangan itu menjadi sangat sunyi hingga suara sumbu lilin yang terbakar terdengar jelas. Namun, alih-alih menunjukkan kekhawatiran, wajah Narayana justru perlahan berubah menjadi senyuman sinis.

"Wira memang seperti itu, Bramantyo," ucap Narayana santai, lalu mengunyah anggurnya. "Dia adalah anjing penjaga yang galak. Baginya, setiap orang di istana ini ceroboh kecuali ibuku. Dia sudah mengomel tentang cara jalanku sejak aku bisa berdiri tegak. Itu bukan berita baru, dan itu pasti bukan alasanmu datang ke sini secara sembunyi-sembunyi."

"Tapi dia menyebutkan tentang ujian kantong emas itu!" sela Bram, sedikit mendesak. "Dia bilang itu adalah 'kesempatan terbaik' untuk membuktikan bahwa Kalingga butuh pemimpin yang lebih keras. Gusti, dia tidak sedang menjaga Anda. Dia sedang menunggu Anda jatuh!"

Narayana bangkit dari duduknya. Ia berdiri tegak, memamerkan postur tubuhnya yang atletis dan penuh kebanggaan sebagai putra mahkota. Ia berjalan mendekati Bram, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal.

"Dengarkan aku, Pengembara." Suara Narayana kini terdengar tajam. "Aku tahu apa yang sedang kau lakukan. Kau takut posisimu di sini terancam setelah kau bertindak konyol kemarin. Maka, kau mencoba menciptakan musuh fiktif. Kau mencoba menuduh Wira—orang yang paling setia pada ibuku—hanya agar aku merasa kau adalah satu-satunya teman yang bisa kupercaya."

"Saya punya bukti!" Bram hampir saja berteriak. Tangannya meraba tas selempangnya, menyentuh bodi dingin kamera Chronos. "Saya punya gambaran percakapan mereka!"

"Gambar?" Narayana menatap tas Bram dengan pandangan meremehkan. "Alat sihirmu itu lagi? Kau pikir aku akan percaya pada bayangan di dalam kotak logammu daripada pada kesetiaan seorang Senopati yang sudah melindungi kerajaan ini sejak aku masih di dalam kandungan?"

Bram tertegun. Ia menyadari paradoks yang menyakitkan bahwa kebenaran yang ia bawa terlalu asing untuk logika abad ketujuh. Di mata Narayana, Wira adalah pilar stabilitas, sementara Bram adalah anomali yang baru datang kemarin sore.

"Gusti, tolong dengarkan saya satu kali saja," pinta Bram, matanya memancarkan keputusasaan yang tulus. "Jangan berjalan terlalu dekat dengan kantong emas itu besok atau lusa. Jaga langkah kaki Anda. Hanya itu yang saya minta. Anggaplah saya gila, tapi tolong, lakukan itu demi ibu Anda."

Narayana menggelengkan kepala, wajahnya kini menunjukkan rasa kasihan yang merendahkan. "Kau benar-benar ketakutan, ya? Ketakutanmu telah mengaburkan akal sehatmu. Aku adalah darah daging Ratu Shima. Tanah ini mengenalku. Angin ini menjagaku. Aku tidak akan mungkin tersandung oleh hukum yang dibuat oleh ibuku sendiri. Hukum itu ada untuk mendisiplinkan rakyat, bukan untuk menjerat putranya."

Inilah inti masalahnya, pikir Bram. Keangkuhan Narayana bukan berasal dari niat jahat, melainkan dari rasa aman yang terlalu tebal. Ia merasa menjadi bagian dari hukum itu sendiri, sehingga ia lupa bahwa hukum sejati bersifat buta warna dan tidak mengenal kasta.



Other Stories
Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Conclusion

Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Bumi

Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...

Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Download Titik & Koma