Rana Takdir

Reads
9
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Portal Masa Lalu

Keheningan yang menyergap setelah hilangnya pria tua itu terasa tidak alami. Bram berdiri mematung di sudut paling belakang Toko Antik Sekala. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadanya sampai terasa ngilu. Ia menoleh ke kiri dan kanan, menembus bayang-bayang rak kayu yang tinggi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Pria tua itu betul-betul menghilang!

\"Pak? Ini tidak lucu,\" ucap Bram, suaranya parau dan sedikit gemetar. Namun, hanya gema suaranya sendiri yang kembali menyapa, memantul di antara guci-guci kuno dan arca yang bisu.

Ketakutannya perlahan mulai bercampur dengan rasa penasaran yang magis. Perhatiannya kembali jatuh pada benda logam berat yang tadi ia temukan di samping album foto. Dalam keremangan toko, benda itu tampak memancarkan aura yang berbeda. Sesuatu yang terlalu canggih untuk ruko tua di gang sepi, tapi terlalu kasar untuk disebut teknologi modern tahun 2005.

Bram mengangkat kamera itu ke depan wajahnya. Beratnya mantap, memberikan sensasi dingin yang merambat ke telapak tangannya. Ia memutar-mutar bodi kamera itu di bawah cahaya bohlam yang berkedip.

Ia mencari-cari logo yang familiar. Tidak ada tanda-tanda bahwa benda ini diproduksi massal oleh pabrik di Jepang atau Jerman. Saat ia membalikkan bodi kamera tersebut, ia menemukan sebuah plat kecil di bagian bawah dengan tulisan grafir yang sangat halus, hampir menyerupai ukiran perhiasan.

Chronos-01: Proyek Penjaga Cahaya.

Dahi Bram berkerut. Nama itu tidak ada dalam kamus sejarah teknologinya. Jari Bram gemetar saat ia menemukan tombol kecil di sisi kanan bodi kamera yang tersembunyi di balik lipatan logam. Begitu ditekan, sebuah layar kecil di bagian belakang—yang tadinya tampak seperti kaca hitam mati dan buram—berkedip pelan.

Sebuah antarmuka digital muncul dengan font yang tajam dan cahaya biru neon yang intens, sangat kontras dengan rongsokan kayu dan artefak berdebu di sekelilingnya.

[Status Baterai: 12%] [Sinkronisasi Lokasi: Terdeteksi] [Target Temporal: Tidak Diatur]

\"Antarmuka macam apa ini?\" bisik Bram. Pandangannya beralih kembali ke album foto Kalingga yang masih terbuka di atas meja. Rasa penasaran kurator dalam dirinya memberontak. Ia ingin melihat lebih jelas. Ia ingin tahu mengapa foto-foto itu begitu buram. Tanpa berpikir panjang, Bram mengangkat lensa kamera logam itu, membidiknya tepat ke arah foto terakhir—foto persimpangan jalan di mana sebuah kantong emas tergeletak dalam kesunyian yang mencekam.

Begitu lensa itu menangkap fokus pada gambar di dalam album, sesuatu yang mengerikan terjadi.

Tiba-tiba, kamera itu memanas. Sangat panas hingga Bram ingin melepaskannya, tapi tangannya seolah menempel secara magnetis pada bodi logam tersebut. Rasa panas itu bukan sekadar suhu tinggi, melainkan sensasi seperti kobaran api yang menjilat-jilat kulitnya. Layar di bagian belakang berubah warna dari biru tenang menjadi merah menyala yang berdenyut-denyut.

[KRITIS: Gangguan Temporal Terdeteksi] [MENGUNCI KOORDINAT: KALINGGA - 674 M]

\"Tunggu! Apa yang terjadi?!\" teriak Bram. Suaranya pecah, ditelan oleh suara mendenging tinggi yang tiba-tiba memenuhi ruko.

Udara di sekelilingnya mendadak bergejolak. Aroma khas ruko dan kertas tua lenyap, digantikan oleh bau ozon yang tajam dan hawa panas yang seolah menjilat-jilat wajahnya seperti bara api yang ditiup angin kencang. Cahaya di dalam toko mulai melengkung. Rak-rak buku seolah meleleh menjadi garis-garis cahaya vertikal.

Bram merasa seolah seluruh molekul di tubuhnya sedang ditarik dari berbagai arah. Pemandangan di depannya menjadi sangat terang, putih menyilaukan hingga matanya terasa perih. Ia mencoba menutup mata. Namun, cahaya itu menembus kelopak matanya, memaksa masuk ke dalam kesadarannya. Rasa panasnya kian tak tertahankan, seolah-olah ia sedang dipanggang di dalam tungku raksasa yang tidak terlihat.

Lalu, sebuah guncangan hebat terjadi.

Dunia seolah terbalik. Bram merasakan sensasi jatuh bebas yang sangat panjang, meski kakinya terasa masih berpijak pada sesuatu. Suara bising dari toko antik digantikan oleh kesunyian yang mendengung, sebelum akhirnya meledak menjadi hiruk-pikuk suara alam yang asing.

Brak!

Bram terjatuh dengan posisi terduduk di atas tanah yang keras dan berdebu. Napasnya tersengal-sengal, paru-parunya terasa kering seolah baru saja menghirup udara padang pasir. Ia terbatuk-batuk, berusaha mengeluarkan debu yang menyumbat tenggorokannya. Tangannya masih menggenggam erat kamera logam itu.

Ia menunduk melihat layar kamera. Angka digital itu berkedip satu kali sebelum menetap di angka yang lebih rendah.

[Status Baterai: 11%]

\"Satu persen … \" bisik Bram tak percaya. \"Hanya untuk ini?\"

Bram perlahan mengangkat kepalanya, detak jantungnya seolah berhenti sesaat.

Ia tidak lagi berada di dalam ruko sempit di Jakarta Pusat. Tidak ada lagi hujan gerimis yang membasahi aspal. Langit di atasnya berwarna biru cerah yang begitu murni, tanpa jejak polusi sedikit pun. Matahari bersinar dengan intensitas yang luar biasa, menggantung tepat di atas kepala, membakar kulit lengannya yang hanya tertutup kemeja kurator tipis.

Ia berada di tengah sebuah persimpangan jalan tanah yang sangat luas dan rata. Tanah itu dipadatkan sedemikian rupa hingga hampir sekeras semen. Di kejauhan, ia melihat deretan bangunan yang terbuat dari kayu jati kokoh dengan atap rumbia yang tinggi dan runcing. Tidak ada kabel listrik. Tidak ada suara mesin. Yang ada hanyalah suara burung hutan yang bersahut-sahutan dan desau angin yang membawa aroma tanah basah dan melati. Namun, yang membuat Bram membeku adalah orang-orang di sekelilingnya.

Puluhan pasang mata menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan—perpaduan antara horor, bingung, dan kemarahan. Mereka adalah pria dan wanita dengan kulit cokelat gelap yang sehat. Para pria tidak berbaju, hanya mengenakan kain lilitan dari pinggang hingga lutut dengan motif yang sangat sederhana dan ditenun dengan rapi. Para wanita mengenakan kain yang menutupi dada dan dihiasi gelang-gelang perunggu di lengan atas mereka.

Bram menunduk melihat dirinya sendiri. Ia mengenakan kemeja berwarna krem, celana bahan kain berwarna gelap, dan sepatu kulit modern. Di pinggangnya masih melingkar tas selempang berisi dompet dan ponsel Nokia 3310-nya. Di tangannya, ia memegang kamera Chronos yang tampak seperti teknologi alien di mata orang-orang ini.

Ia benar-benar tampak seperti makhluk asing yang jatuh dari bulan.

\"Siapa ... siapa kalian?\" tanya Bram spontan. Suaranya terdengar sangat asing di telinganya sendiri.

Alih-alih menjawab, kerumunan itu justru mundur selangkah dengan serentak. Seorang pria tua dengan janggut putih panjang menunjuk ke arah Bram dengan jari yang gemetar. Ia meneriakkan sesuatu dalam bahasa yang terdengar seperti perpaduan antara Sanskerta dan Jawa kuno yang kasar. Bram hanya menangkap satu hal yang diucapkan berulang-ulang.

\"Maling Aguna!\" (Penyihir atau makhluk jahat).

\"Bukan! Saya bukan penyihir! Saya ... saya kurator! Saya dari Jakarta!\" teriak Bram putus asa. Naas, teriakan itu justru memicu ketakutan yang lebih besar. Beberapa pria mulai memungut batu dari pinggir jalan. Bram merasa nyawanya terancam. Ia berdiri dengan gemetar, mencoba mencari jalan keluar. Matanya liar mencari celah di antara kerumunan.

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang teratur dan berat terdengar dari arah utara jalan. Kerumunan orang itu mendadak terbelah dengan cepat, memberikan jalan dengan kepala yang tertunduk dalam, tanda hormat sekaligus ketakutan yang luar biasa.



Other Stories
Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Kk

jjj ...

Beyond Two Souls

Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...

(bukan) Tentang Kita

Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...

Tessss

pengaplikasian doang ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Download Titik & Koma