Mencuri Dengar
Sinar matahari yang menerobos celah gedung pagi itu terasa menyengat, seolah ikut menghakimi Bramantyo atas keputusannya semalam. Ia duduk bersandar di dinding bambu, menatap layar kamera Chronos yang kini menunjukkan angka 9%. Angka tunggal itu tampak seperti peringatan kematian. Satu digit lagi hilang dan ia merasa semakin jauh dari rumah. Semakin dalam tenggelam dalam pusaran waktu yang tidak ramah.
Bram bimbang. Foto semalam yang ia ambil—siluet ramping di dekat kantong emas—hanyalah berupa bayangan kabur yang belum bisa membuktikan apa pun. Namun, keberadaan sosok itu cukup mencurigakan. Di tengah ujian kejujuran yang sangat terkenal ini—di mana orang-orang berusaha menjaga jarak dan menjauh—mengapa ada sosok yang justru sengaja mendekatinya?
Atau jangan-jangan, ada sosok lain dari masa depan juga, dengan misi serupa seperti Bram?
\"Aku tidak boleh gegabah lagi,\" bisik Bram pada diri sendiri.
Kejadian kemarin—saat ia mencoba \'menandai\' area di sekitar kantong emas—telah menghancurkan kredibilitasnya di mata istana. Jika ia kembali menghadap pangeran atau Ratu Shima tanpa bukti yang kuat, ia tidak hanya akan diusir. Justru mungkin langsung diseret ke tiang gantungan oleh Senopati Wira. Ia harus menyelidikinya sendiri, menjadi bayangan di antara bayang-bayang.
***
Siang harinya, Gupita datang membawakannya buah-buahan dan air nira. Wajah wanita itu tetap tenang seperti air telaga, tapi ada jarak yang terasa lebih lebar dari biasanya. Ia tidak lagi menatap Bram dengan binar rasa ingin tahu, melainkan dengan kewaspadaan yang sopan.
\"Kau tampak kurang istirahat, Bramantyo,\" ucap Gupita sambil meletakkan nampan kayu. \"Apakah udara malam di Kalingga tidak cocok untukmu?\"
Bram menatap Gupita lekat-lekat. Para petinggi dan Senopati Wira mungkin akan langsung mengulitinya hidup-hidup jika dia mengungkapkan kecurigaannya, tapi kenapa dia sempat lupa dengan Gupita? Wanita ini pasti akan mau mendengarkannya, atau bahkan dia sendiri tahu sesuatu.
\"Semalam ... aku melihat seseorang di alun-alun,\" mulai Bram, suaranya rendah. \"Di depan undakan. Dekat sekali dengan kantong itu.\"
Gerakan tangan Gupita yang sedang merapikan selendangnya terhenti sejenak. Sangat singkat, hingga mungkin orang biasa tidak akan menyadarinya.
\"Malam hari di sini sangat gelap, Bramantyo,\" jawab Gupita tanpa menoleh. \"Lampu obor hanya diletakkan di gerbang-gerbang utama. Mungkin kau hanya melihat bayangan dahan pohon beringin yang tertiup angin atau mungkin penglihatanmu terganggu oleh rasa takutmu sendiri.\"
\"Sosok itu nyata, Gupita. Dia berdiri di sana, seolah-olah sedang mengamati benda itu.\"
Gupita berbalik, menatap Bram dengan tatapan yang hampir menyerupai rasa kasihan. \"Di istana ini, banyak abdi yang melakukan sembahyang malam demi keselamatan kerajaan. Jika ada seseorang di sana, itu pastilah abdi dalem yang sedang memohon doa pada Yang Kuasa agar ujian Gusti Ratu berjalan lancar. Jangan biarkan kecurigaanmu meracuni pikiranmu. Itu hanya akan membuat posisimu semakin sulit.\"
Gupita pergi setelah memberikan peringatan dingin itu. Bram terduduk lesu. Salah penglihatan? Ia tahu apa yang ia potret. Meski buram, itu adalah sosok manusia, bukan dahan pohon. Bram frustrasi. Orang-orang ini tidak tahu apa yang menanti pangeran di hari mendatang. Mereka pasti mengira Bram hanya paranoid.
Bram menyambar kameranya, mengutak-atiknya dengan sebal.
“Tidak bisakah aku pulang sekarang saja? Bagaimana caranya? Aku tidak ingin terlibat dalam proyek penyelamatan ini, kalau justru aku hanya dituduh sebagai penjahatnya,” gumam Bram sebal. Dilemparkannya kamera itu kembali ke dalam tasnya. Kamera itu tidak berubah. Tidak juga menampilkan opsi untuk pulang ke Jakarta. Hanya angka 9% yang tetap setia berpendar di sudut layarnya.
***
Sore harinya saat pengawasan terhadap dirinya sedikit melonggar karena para prajurit sedang melakukan upacara pergantian jaga di gerbang depan, Bram menyelinap keluar. Ia tidak menuju alun-alun, melainkan ke arah barak prajurit yang terletak di sisi barat kompleks istana. Area yang lebih tertutup dan jarang dilewati oleh para abdi dalem.
Bram bergerak perlahan, memanfaatkan rimbunnya pohon kamboja dan bangunan penyimpanan logistik. Sesekali ia memetik daun dan memainkannya, melipat dan meremasnya hingga mengecil. Dia mulai merasa bahwa beban yang dimilikinya di Jakarta tidak lebih berat dibanding yang harus dialaminya di sini. Dia bertekad untuk lebih banyak bersyukur nantinya jika dia sudah berhasil pulang ke Jakarta.
Saat ia mendekati sebuah pendopo kecil di belakang barak, ia mendengar suara percakapan yang diredam. Bram segera merapat ke balik dinding kayu tebal.
\"Dia terlalu ceroboh.\" Suara itu berat dan parau. Itu adalah suara Senopati Wira.
Bram menahan napas. Ia sedikit mengintip dari celah kayu. Wira sedang berdiri membelakangi Bram, berbicara dengan seorang pria kecil berpakaian hitam legam. Punggung tangan kanan pria itu memiliki tato berbentuk bulan sabit yang nampak asing.
\"Gusti Pangeran adalah pemimpin yang dicintai,\" sahut pria berpakaian hitam itu dengan nada yang terdengar seperti pujian yang dipaksakan.
\"Dicintai rakyat bukan berarti serta-merta layak memimpin Kalingga!\" bentak Wira, meski suaranya tetap diredam. \"Hukum Ratu Shima membutuhkan tangan yang keras, bukan tangan yang sibuk membagi tawa di pasar. Kecerobohannya adalah aib yang tertunda. Dia berjalan seolah-olah bumi ini miliknya pribadi. Menendang kerikil, mengabaikan tata krama ksatria yang sesungguhnya. Jika dibiarkan, dia akan membuat hukum Ratu Shima menjadi bahan tertawaan kerajaan tetangga.\"
Bram merasakan jantungnya berdegup kencang. Wira tidak menyukai Pangeran! Ia melihat Narayana sebagai pemimpin yang lemah hanya karena sang pangeran bersikap ramah.
\"Ujian kantong emas ini adalah cermin bagi seluruh kerajaan,\" lanjut Wira dengan nada berat. \"Keadilan Gusti Ratu tidak akan goyah, bahkan oleh ikatan darah sekalipun. Jika Gusti Pangeran tetap memelihara kecerobohannya dan gagal menjaga sikapnya, hal itu bisa saja menyeret Kalingga ke dalam bahaya besar. Hukum harus tetap tegak, siapa pun yang menjadi korbannya. Aku tidak akan membiarkan gangguan apa pun—termasuk pengembara asing itu—mengaburkan jalannya keadilan yang sudah digariskan.\"
Bram terperangah di balik dinding. Kata-kata Wira terdengar seperti vonis. Ia menangkap kesan bahwa Wira justru menunggu momentum kegagalan pangeran untuk menegakkan hukum yang kaku, atau mungkin lebih buruk lagi. Wira seolah sudah meramalkan pangeran pasti akan gagal karena sifatnya.
\"Pengembara itu.\" Pria hitam itu menyebut Bram. \"Dia terus memperhatikan kantong emas itu.\"
\"Dia hanya lalat yang terjebak di jaring,\" jawab Wira meremehkan. \"Aku akan segera mematahkan sayapnya jika dia mencoba lagi.\"
Bram menyadari ini adalah momen krusial. Ia harus membuktikan bahwa Wira memiliki niat terselubung. Ia meraba tas selempangnya, mengeluarkan kamera Chronos. Tangannya gemetar hebat. Jika ia memotret sekarang, ia akan kehilangan 1% lagi. Namun, ini adalah bukti bahwa sang panglima perang sedang melakukan pertemuan rahasia dan membicarakan ketidaksukaannya pada ahli waris takhta.
Bram membidikkan lensa melalui celah kayu. Ia mengatur fokus pada wajah Senopati Wira yang tampak bengis di bawah bayangan atap pendopo, tepat saat Wira sedang berbicara dengan pria serba hitam itu.
Klik.
Suara itu sangat pelan. Kendati demikian, ia terdengar seperti patahan ranting yang tajam di tengah kesunyian barak belakang.
\"Siapa di sana?!\" Wira berbalik dengan sangat cepat, tangannya sudah menghunus keris hitamnya dalam sekejap mata.Other Stories
Reuni Mantan
Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Nafas Tahun Baru
Maren pindah ke apartemen kecil di lantai paling atas sebuah gedung yang hampir kosong men ...