Tragedi
Keluar sekarang, Bramantyo,\" perintah Narayana sambil kembali mengambil busurnya. \"Jangan datang lagi padaku dengan cerita-cerita tentang pengkhianatan. Jika kau ingin mencari muka, lakukanlah dengan cara yang lebih bermartabat—seperti membantu Gupita di dapur atau membersihkan perpustakaan. Jangan mencoreng nama baik Senopatiku.\"
Bram berdiri dengan lutut yang gemetar. Ia membungkuk hormat, menyadari bahwa kata-katanya tidak lebih dari sekadar desau angin bagi sang pangeran. Saat ia berbalik menuju pintu, ia mendengar suara Narayana lagi.
\"Dan satu hal lagi ... jangan biarkan Wira tahu kau memata-matainya. Dia tidak punya rasa humor sepertiku. Jika dia menangkapmu lagi, aku tidak akan menjamin lehermu akan tetap menyatu dengan bahumu.\"
Bram keluar dari peraduan pangeran dengan perasaan hampa. Di selasar, ia melihat bayangan Gupita di kejauhan, sedang berjalan menuju arah yang berlawanan. Gupita tampak terburu-buru, selendangnya berkibar tertiup angin malam. Bram ingin mengejarnya, ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi. Namun, ia teringat dinginnya sikap Gupita kemarin.
Ia berjalan kembali menuju gedungnya melewati taman tengah istana. Saat itulah, ia melihat Senopati Wira berdiri di sudut gelap, sedang memberikan instruksi kepada beberapa prajurit tambahan untuk memperketat penjagaan di sekitar alun-alun besok pagi. Wira melihat Bram lewat. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Tatapan Wira penuh dengan kejayaan terselubung, seolah ia tahu bahwa Bram baru saja gagal meyakinkan sang pangeran.
Sesampainya di gedung, Bram segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia mengeluarkan kameranya. Angka 8% berkedip pelan. Ia membuka pratinjau foto yang ia ambil di barak kemarin.
Di layar kecil itu, wajah Wira tampak sangat jelas sedang berbicara dengan pria berpakaian hitam. Ia membandingkan pria itu dengan potret sosok yang didapatinya mendekati kantong emas di malam sebelumnya. Postur tubuhnya tidak bisa dibilang persis, tapi juga nyaris tidak berbeda. Apakah mereka berdua sebetulnya orang yang sama?
\"Apakah Wira menyuruh orang untuk melakukan suatu pekerjaan kotor yang berhubungan dengan nasib pangeran dan kantong emas itu?\" bisik Bram.
Bram memutar otaknya, mencoba memikirkan kemungkinan dari kisah sejarah yang entah bagaimana tidak pernah disebut di buku teks di zamannya ini. Wira mungkin tidak secara aktif ingin membunuh pangeran, tetapi ia membiarkan kondisi tercipta sedemikian rupa agar pangeran ‘menghancurkan dirinya sendiri’. Wira adalah penegak hukum yang perfeksionis, dan ia ingin menyingkirkan elemen ‘lemah’ dari takhta, meskipun elemen itu adalah pangeran yang ia asuh sendiri.
Ini cocok! pikir Bram. Mungkin kisah ini hilang dari buku teks sejarah karena ternodai oleh pengkhianatan, sehingga hilang dikubur zaman.
Bram duduk di lantai, memeluk lututnya. Ia merasa sangat kecil di tengah pusaran sejarah ini. Lusa adalah hari di mana kemungkinan besar insiden itu akan terjadi. Jika ia tidak bisa memperingatkan pangeran, maka ia harus ada di sana saat kejadian itu berlangsung. Ia harus menangkap momen itu dengan lensanya.
Bukan hanya untuk membuktikan ketidaksengajaan pangeran, tapi untuk melihat siapa yang sebenarnya menarik benang di balik layar.
Ia menatap langit-langit gedung, membayangkan wajah ibunya di tahun 2005, membayangkan aroma kopi di museum, dan kebisingan jalanan Jakarta. Semuanya terasa seperti mimpi yang sangat jauh. Di sini, di bawah rembulan Kalingga yang dingin, ia hanyalah seorang penjaga cahaya yang hampir kehabisan minyak.
Malam itu, Bram tidur dengan kamera di bawah bantalnya, tangan kanannya tak pernah lepas dari gagang tasnya. Di dalam mimpinya, ia melihat undakan itu berlumuran berdarah, dan Pangeran Narayana tersenyum saat kakinya menyentuh emas itu, tidak menyadari bahwa itu adalah langkah terakhirnya sebagai seorang manusia yang utuh.
***
Udara Kalingga terasa lebih berat dari biasanya, seolah atmosfer sendiri tahu bahwa lembaran sejarah akan segera digoreskan dengan tinta yang tak bisa dihapus. Bram berdiri di balik pilar kayu di tepi alun-alun, tangannya berkeringat dingin saat ia meraba tas selempangnya. Di dalam sana, kamera Chronos terasa seperti jantung kedua yang berdenyut dengan sisa daya 8%.
Alun-alun sudah mulai ramai oleh rakyat yang ingin melihat sekilas wajah sang Ratu yang dikabarkan akan keluar meninjau pasar pagi. Di bawah teduhnya pohon beringin, undakan itu terasa seperti siap menjegal langkah kaki yang terlalu gegabah. Kantong emas di sudut masih sama diamnya, bermandikan cahaya matahari pagi.
\"Jangan terlalu menonjolkan diri, Bramantyo.\" Suara lembut Gupita terdengar dari sampingnya.
Bram tersentak. Gupita sudah berdiri di sana, mengenakan kain berwarna jingga pucat. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya terus bergerak menyisir kerumunan. Tak lama kemudian, rombongan kerajaan muncul. Di depan, Ratu Shima berjalan dengan keanggunan yang membekukan, diikuti oleh Pangeran Narayana.
Sang pangeran berjalan dengan gaya khasnya. Santai, ceria, dan terlalu percaya diri. Ia sesekali melambai pada rakyat, membuat langkah kakinya tidak beraturan. Bram sudah bersiap dengan kameranya. Jantungnya berdegup kencang. Ia harus menangkap momen kontak itu jika terjadi.
Narayana berjalan mendekati area undakan. Tiba-tiba, tubuhnya limbung sedikit. Kakinya tampak seolah akan menghantam sudut pohon.
KLIK!
Bram menekan tombol rana dengan refleks yang terlalu cepat. Namun, pangeran ternyata hanya melakukan gerakan koreksi langkah yang tangkas. Ia tidak menyentuh kantong itu sedikit pun. Bram melihat layar: 7%.
\"Sial,\" umpat Bram pelan. Ia terlalu tegang.
Beberapa langkah kemudian, seorang anak kecil di kerumunan melempar sekuntum bunga ke arah pangeran. Narayana menoleh sambil tertawa, dan langkahnya kembali goyah. Tubuhnya miring tepat ke arah kantong emas itu.
KLIK!
Lagi-lagi Bram terpancing. Ia memotret momen di mana pangeran tampak hampir jatuh, tapi pangeran berhasil menyeimbangkan diri di detik terakhir. Layar berkedip: 6%.
Keringat dingin mengucur di pelipis Bram. Ia hanya punya sedikit kesempatan lagi. Narayana kini benar-benar sudah berada di samping undakan. Ia berjalan sambil bersenda gurau dengan seorang pengawal di sampingnya, sama sekali tidak memperhatikan bahwa jalur jalannya menyempit. Bram hampir putus asa. Ia merasa seperti sedang dipermainkan oleh takdir. Dan kemudian, momen itu benar-benar datang tanpa aba-aba.
Narayana, yang merasa sudah melewati ‘area bahaya’ undakan, mengayunkan kaki kanannya dengan lebar saat hendak berbalik menyapa rakyat di sisi lain. Ayunan sandalnya menghantam tepat pada kantong emas yang sejajar dengan pergelangan kakinya.
Srak!
Di tengah alun-alun yang mendadak hening, Pangeran Narayana kehilangan keseimbangan. Kantong emas itu tergeser, dan ujung sandal pangeran menekan kain kantong itu sebelum ia sempat menarik kakinya kembali.
KLIK!
Bram berhasil menekan tombol untuk terakhir kalinya dalam rangkaian kejadian itu. Layar kamera Chronos bergetar dan menunjukkan angka terakhir: 5%.
Keheningan seketika menyergap alun-alun. Keheningan yang mencekam, yang membuat suara napas ribuan orang terdengar seperti desis ular. Senyum di wajah Narayana menghilang seketika. Ia menunduk, menatap kakinya yang masih menyentuh kantong emas itu.
Other Stories
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
The Last Escape
The Last Escape, Berawal dari rencana liburan oleh 15 sekawan dari satu universitas, untuk ...