Rana Takdir

Reads
9
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Nasib Tak Tentu

Wira memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membuka jalan. Gupita berbalik ke arah Bram. Tangannya yang halus terulur untuk membantu Bram berdiri. Saat jemari Gupita menyentuh tangan Bram, ia merasakan kehangatan yang nyata. Itu bukan sihir, itu adalah sentuhan manusia.

\"Ikutlah denganku, Bramantyo,\" bisik Gupita. \"Jangan lepaskan benda logam itu, tapi jangan pula kau tunjukkan pada siapa pun untuk saat ini. Simpan di dalam tasmu.\"

Bram menurut. Ia memasukkan kamera Chronos ke dalam tas selempangnya dengan hati-hati. Ia berjalan di samping Gupita, melewati barisan prajurit yang masih menatapnya dengan benci. Sepanjang jalan menuju istana, Bram memperhatikan bagaimana rakyat Kalingga bersujud saat Gupita lewat. Ia menyadari bahwa wanita di sampingnya ini memiliki pengaruh yang sangat besar.

Diam-diam, Bram mulai mengorek ingatannya. Sejauh ini, dia sangat asing dengan nama dan sosok Senopati Wira maupun Dyah Gupita. Dia yakin, sejarah Kalingga yang tertulis di tahun 2005 tidak mencantumkan nama mereka berdua. Aneh, padahal mereka berdua sepertinya punya peran penting di sisi Ratu Shima. Apakah ada sejarah yang hilang sehingga nama mereka tidak tercatat?

\"Kenapa Anda, eh, menyelamatkan saya?\" tanya Bram pelan saat mereka sudah agak menjauh dari kerumunan. Dia agak kebingungan, tidak tahu pasti tatanan bahasa yang harus ia gunakan di masa ini.

Gupita tidak langsung menjawab, ia bisa menangkap kecanggungan dan kehati-hatian dalam suara Bram. Ia terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan, ke arah gerbang batu raksasa yang tampak seperti foto yang dilihat Bram di album tadi. \"Karena aku melihat sesuatu yang berbeda di matamu. Bukan kebencian, bukan pula ambisi kekuasaan. Aku melihat kebingungan ... dan kesedihan yang mendalam. Seperti seseorang yang kehilangan rumahnya.\"

Bram tertegun. Kata-kata Gupita begitu tepat sasaran. \"Saya … memang berasal dari tempat yang sangat jauh.\"

\"Aku tahu,\" Gupita menoleh sedikit, sinar matahari senja membuat hiasan emas di rambutnya berkilau indah. \"Kalingga adalah tanah yang adil, tapi keadilan terkadang buta terhadap keajaiban. Kau adalah keajaiban yang tidak pada tempatnya, Bramantyo. Dan di sini, keajaiban sering kali dianggap sebagai ancaman bagi hukum.\"

Bram berjalan satu langkah di belakang Gupita, melewati barisan prajurit yang masih memegang tombak dengan posisi siaga. Sepanjang jalan menuju istana, Bram memperhatikan bagaimana rakyat Kalingga menjauh dan menunduk saat Gupita lewat, tapi tetap melirik ke arah Bram dengan pandangan penuh selidik.

Setelah beberapa saat berjalan dalam keheningan yang kaku, Bram mencoba membuka suara. Ketegangannya sedikit mencair, digantikan oleh rasa syukur yang luar biasa karena lehernya masih utuh.

\"Terima kasih. Eh, maaf, saya harus memanggil Anda apa? Gusti Putri? Atau … ?\" Bram bingung. Di tahun 2005, ia hanya tahu sebutan \'Mbak\' atau \'Ibu\', dan ia sadar istilah itu mungkin akan terdengar sangat menghina di sini.

Wanita itu menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh. \"Aku adalah abdi istana. Kau boleh memanggilku Gupita,\" jawabnya singkat. Tidak ada nada bangga atau merendah dalam suaranya. Hanya kejujuran yang polos.

\"Baik, Gupita. Terima kasih sudah menyelamatkan saya tadi. Saya benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi jika Anda tidak muncul,\" ucap Bram tulus.

Gupita kembali berjalan. \"Jangan berterima kasih kepadaku. Berterima kasihlah pada hukum yang dijunjung tinggi di tanah ini. Aku hanya memastikan hukum itu tidak ternoda oleh kemarahan Senopati Wira yang buta. Di Kalingga, kejujuran adalah nyawa, dan aku ingin melihat apakah kau membawa kejujuran itu bersamamu.\"

Bram terdiam. Kalimat Gupita terasa sangat berbobot. Ia mengikuti Gupita memasuki kompleks istana. Bangunan-bangunan di sana terbuat dari kayu jati berukir yang sangat indah, dengan lantai batu yang disapu bersih. Di tengah alun-alun, ia melihat sebuah undakan di bawah naungan pohon beringin tua. Di tempat itu, terdapat sebuah kantong kain berwarna cokelat yang terikat rapi.

Jantung Bram mencelus. Kantong emas itu.

\"Itu adalah ujian kejujuran dari Gusti Ratu.\" Gupita menjelaskan tanpa diminta, menyadari arah pandang Bram yang terpaku. \"Sudah berbulan-bulan kantong itu di sana. Tak ada satu pun rakyat Kalingga yang berani menyentuhnya. Jika kau benar-benar pengembara yang tersesat, kau akan mengerti bahwa di sini, mengambil apa yang bukan milikmu berarti menyerahkan nyawamu.\"

Mereka sampai di depan pintu gedung utama. Dua prajurit kekar membukakan pintu kayu jati yang sangat berat. Di ujung ruangan yang luas, di atas singgasana yang sederhana nan berwibawa, duduklah seorang wanita dengan pakaian serba putih. Wajahnya tenang, tapi tatapannya seolah bisa membedah isi kepala siapa pun yang datang menghadap.

Itu adalah Ratu Shima.

Gupita bersimpuh dengan gerakan yang sangat halus. Ia memberi isyarat agar Bram melakukan hal yang sama. Bram pun berlutut, menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai batu yang dingin.

Bau kemenyan dan melati yang dibakar dalam tungku kuningan memenuhi udara bangunan istana yang luas. Di bawah cahaya obor yang dipasang pada pilar-pilar jati raksasa, Bram merasa dunianya menyusut menjadi hanya beberapa meter persegi di atas lantai batu yang dingin. Ia masih bersujud, dahi menempel pada permukaan lantai yang keras, sementara suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti genderang perang yang tak kunjung berhenti.

\"Angkat kepalamu, Pengembara.\"

Suara itu tenang, tapi memiliki wibawa yang dalam. Bram perlahan mengangkat kepalanya. Di depannya, di atas singgasana yang tidak berhias emas berlebihan dan justru tampak megah karena kesederhanaannya, duduklah Ratu Shima. Sang Ratu mengenakan kain sutra putih bersih dengan selendang yang tersampir anggun di bahunya. Tidak ada mahkota yang menjulang, hanya tusuk konde perak yang menjepit rambutnya yang hitam pekat. Wajahnya tidak menunjukkan amarah. Namun, matanya yang tajam seolah sedang membaca setiap dosa yang pernah Bram lakukan seumur hidupnya.

Di sisi kiri singgasana, Senopati Wira berdiri dengan tangan menggenggam hulu keris. Wajah parutnya tampak semakin mengerikan di bawah cahaya obor yang bergoyang. Di sisi kanan Bram, Gupita bersimpuh dengan tenang, matanya menatap lantai, tak menunjukkan ekspresi apa pun yang bisa Bram jadikan pegangan.

\"Senopati Wira mengatakan kau muncul dari udara yang terbelah,\" ucap Sang Ratu, suaranya menggema di langit-langit gedung yang tinggi. \"Senopati Wira mengatakan kau membawa alat-alat penyihir yang bisa mengeluarkan suara dan cahaya. Katakan padaku, dengan bahasa yang tidak berbelit ... siapa kau, dan apa tujuanmu menginjakkan kaki di bumi Kalingga?\"

Bram menelan ludah yang terasa sekering pasir. Ia tahu, satu jawaban yang salah akan membuat kepalanya terpisah dari leher sebelum ia sempat bernapas lagi.

\"Gusti Ratu yang Mulia.\" Suara Bram bergetar. Ia mencoba mengingat-ingat tata bahasa sopan yang pernah ia baca di naskah-naskah kuno, tapi lidahnya yang terbiasa dengan gaya bahasa Jakarta tahun 2005 terasa kaku. \"Nama saya Bramantyo. Saya ... saya adalah seorang kurator. Penjaga sejarah. Saya tidak memiliki niat jahat. Saya berasal dari masa yang sangat jauh, dari tempat yang mungkin tidak pernah Gusti bayangkan.\"

\"Masa yang jauh?\" Wira menyela, suaranya berat dan penuh kecurigaan. \"Atau kerajaan yang jauh? Jangan bermain kata dengan kami, Penyihir!\"

\"Cukup, Wira!\" Ratu Shima mengangkat tangan kirinya sedikit. Seketika Senopati itu terdiam, meski matanya masih memancarkan kebencian. Ratu kembali menatap Bram. \"Penjaga sejarah, katamu? Sejarah adalah apa yang tertulis dan apa yang terjadi. Mengapa seorang penjaga sejarah harus berpakaian seperti orang gila dan membawa benda logam yang aneh?\"

Bram meraih tas selempangnya dengan gerakan sangat lambat, memastikan Wira tidak menganggapnya sebagai ancaman. Ia mengeluarkan ponsel Nokia 3310-nya yang sudah mati total dan kamera Chronos yang masih menunjukkan angka 11%.

\"Benda ini ... ini adalah alat untuk mencatat apa yang mata lihat.\" Bram menjelaskan, mengangkat kamera itu dengan tangan gemetar. \"Di tempat asal saya, kami menggunakan ini untuk memastikan bahwa kebenaran tetap abadi, agar anak cucu kami tahu betapa adilnya hukum di Kalingga. Saya tersesat di sini karena benda ini.\"

Ratu Shima terdiam cukup lama. Keheningan itu begitu berat hingga Bram bisa mendengar derik kayu bangunan yang memuai karena panas obor. Ratu kemudian memberi isyarat kepada Gupita. Dengan gerakan gemulai, Gupita bangkit dan mendekati Bram, mengambil kamera itu dari tangannya. Lalu, membawanya ke hadapan Ratu.

Bram menahan napas saat Ratu Shima menyentuh bodi logam kamera tersebut. Jari-jarinya yang lentik meraba ukiran Chronos-01. Ratu menatap layar kecil yang masih menyala redup dengan cahaya biru.

\"Dingin, tapi bergetar seperti memiliki nyawa,\" gumam Ratu Shima. Ia menatap Bram kembali. \"Kau mengatakan benda ini untuk mencatat kebenaran. Namun, di Kalingga, kebenaran tidak butuh alat. Kebenaran ada di dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan. Jika hatimu kotor, alat ini hanya akan menjadi saksi kehancuranmu sendiri.\"

Ratu Shima menyerahkan kembali kamera itu kepada Gupita untuk dikembalikan kepada Bram.

\"Kau boleh menyimpan alat-alatmu, Bramantyo,\" ucap Ratu, membuat Bram sedikit bernapas lega. \"Meskipun begitu, dengarkan peringatanku. Jika alat ini mengeluarkan cahaya yang melukai rakyatku, atau jika kau terbukti menggunakan benda ini untuk merencanakan sihir yang merugikan kerajaan, aku sendiri yang akan menghancurkan benda itu dengan tanganku, dan kau akan menerima hukum yang sama dengan pencuri emas di tengah jalan. Hukuman mati.\"


Other Stories
Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

La Falsedad

Setiap orang menyimpan rahasia masing-masing. Akan tetapi, bagaimana jika rahasia tersebut ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Tirmo Ghar

Saat Nepal sedang mengalami huru-hara akibat perang sipil melawan komunis pada periode tah ...

Download Titik & Koma