Tersingkap
Merasa sudah menang telak dengan segala bukti yang ia peroleh, Bram meletakkan kamera itu di ranjangnya dan menatap Gupita dalam-dalam. Tangannya menangkup di depan dadanya, seolah memohon.
\"Gupita, tolonglah. Kau adalah orang terdekat Ratu. Bawa aku menghadap beliau sekarang. Tunjukkan gambar ini pada beliau. Jika kita menunggu sampai besok siang, nasib pangeran dipertaruhkan! Dia bisa saja kehilangan nyawa! Kita harus bertindak sekarang!\"
Gupita menggelengkan kepala dengan cepat, matanya memancarkan keraguan yang luar biasa. \"Gusti Ratu sedang dalam keadaan kalut. Jika kau masuk sekarang dan menunjukkan alat sihir ini sambil menuduh panglima perangnya, beliau tidak akan percaya. Beliau akan menganggapmu sebagai penyihir yang mencoba mengadu domba petinggi kerajaan untuk melemahkan Kalingga. Kau akan dihukum mati sebelum sempat menjelaskan!\"
\"Jadi kita biarkan saja?\" suara Bram serak karena putus asa. \"Kita biarkan pangeran menjadi korban dari ambisi Wira?\"
\"Aku tidak bilang kita membiarkannya!\" Gupita mencengkeram bahu Bram, kuku-kukunya sedikit menusuk kulit pria itu. \"Tapi kau harus mengerti keadaan di sini. Hukum Gusti Ratu tidak bisa diganggu gugat. Beliau baru saja menyatakan di depan ribuan rakyat bahwa hukum harus tegak. Jika beliau membatalkannya hanya karena kata-kata seorang asing di tengah malam, wibawa kerajaan akan runtuh. Rakyat akan menganggap Ratu bisa digoyang oleh sihir.\"
\"Lalu apa solusinya?\"
Gupita menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu, tangannya memilin-milin selendangnya. \"Besok pagi. Saat fajar menyingsing, Gusti Ratu biasanya melakukan meditasi di taman sari sebelum pengadilan dimulai. Itu adalah satu-satunya waktu di mana beliau tidak dikelilingi oleh menteri atau prajurit Wira. Aku akan membawamu ke sana secara rahasia.\"
\"Fajar? Itu terlalu lama, Gupita! Wira bisa saja melenyapkan bukti di alun-alun malam ini!\"
\"Wira tidak akan menyentuh alun-alun itu malam ini karena itu akan terlihat mencurigakan!\" balas Gupita cepat. \"Dengarkan aku, Bramantyo. Jika kau ingin menyelamatkan pangeran, kau harus mengikuti caraku. Jika kau nekat menghadap sekarang, kau hanya akan mengantarkan nyawamu sendiri. Simpan alatmu itu. Jangan biarkan siapa pun melihatnya.\"
Bram terdiam. Ia menatap Gupita, mencari tanda-tanda kebohongan di wajah wanita itu. Ia melihat ketakutan yang nyata, tapi juga sebuah tekad untuk melindungi pangeran. Bram perlahan mengangguk, menyetujui rencana yang diusulkan Gupita.
\"Baik,\" ucap Bram lirih. \"Besok pagi. Tapi jika terjadi sesuatu pada pangeran malam ini, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri, dan aku tidak akan memaafkanmu.\"
Gupita menatap Bram dengan pandangan yang sulit diartikan. \"Tidurlah, Bramantyo. Kau butuh kekuatan untuk hari esok. Dan berdoalah pada dewa-dewamu, karena besok adalah hari di mana kebenaran akan diuji oleh pedang.\"
Setelah Gupita pergi, Bram tidak bisa tidur. Bram membaringkan tubuhnya, tetapi pikirannya tetap terjaga. Di dalam kegelapan penjara yang tak jauh dari sana, ia seolah bisa mendengar isak tangis Narayana yang memanggil ibunya. Sebuah suara yang akan terus menghantuinya jika ia gagal besok pagi.
Di luar, langit Kalingga mulai tertutup awan mendung, menelan cahaya rembulan sepenuhnya. Suasana menjadi sangat hening, jenis keheningan yang biasanya datang sebelum badai besar menghantam. Bram memeluk tasnya erat-erat, menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar terikat pada empat persen energi terakhir dari masa depan yang mungkin tidak akan pernah ia lihat lagi.
Malam ini, gedung terasa seperti kotak sesak yang menghimpit paru-paru Bramantyo. Meski tubuhnya lelah luar biasa, matanya menolak untuk terpejam. Setiap kali ia menutup kelopak mata, ia mendengar suara benturan sandal Pangeran Narayana pada kantong emas itu dan teriakan histeris yang membelah alun-alun. Isak tangis itu seolah merayap dari penjara bawah tanah, menembus dinding-dinding kayu, dan membisikkan kegagalan di telinganya.
Bram bangkit, duduk di tepi bale-bale. Ia melirik kamera Chronos. Angka 4% itu berkedip merah, dingin dan menuntut.
\"Tidak,\" bisiknya. \"Aku tidak bisa menunggu sampai fajar.\"
Insting seorang kurator memberitahunya bahwa situs sejarah yang telah ‘terkontaminasi’ tidak akan bertahan lama. Jika benar ada minyak di lantai alun-alun itu, sang pelaku tidak akan membiarkannya tinggal di sana sampai matahari terbit. Bukti fisik adalah hal yang paling rapuh dalam sejarah, dan malam ini, di bawah perlindungan kegelapan, seseorang pasti akan mencoba menghapusnya.
Bram mengenakan kain gelapnya, menyelipkan kamera ke dalam saku kain yang paling aman, dan menyelinap keluar melalui jendela belakang. Ia bergerak seperti bayangan, memanfaatkan ingatan tentang jadwal patroli prajurit Wira yang sudah ia pelajari. Ia merangkak di antara semak-semak kemuning, menghindari obor-obor yang berderit ditiup angin, hingga ia sampai di tepi alun-alun yang luas.
Suasananya sangat mencekam. Alun-alun itu, yang siangnya penuh dengan sorak-sorai dan tangis, kini tampak seperti padang kematian yang sunyi. Undakan batu itu tetap kokoh di bawah naungan beringin, pucat di bawah sinar rembulan yang tertutup awan tipis. Tidak ada penjaga. Wira tampaknya menarik pasukannya ke ring luar untuk menghindari spekulasi bahwa mereka sedang mengutak-atik tempat kejadian perkara.
Tiba-tiba, sebuah gerakan kecil menangkap mata Bram.
Di dekat undakan, sebuah bayangan ramping bergerak. Sosok itu tidak berdiri tegak, melainkan berjongkok, hampir merayap di atas lantai batu. Bram menahan napas, merapatkan tubuhnya ke batang pohon beringin yang besar. Jantungnya berdegup kencang hingga ia takut suaranya akan memecah kesunyian malam.
Sosok itu memegang sepotong kain. Dengan gerakan cepat dan efisien, ia menggosok lantai di sekitar undakan, dekat dengan lokasi kantong emas sebelumnya berada. Bram bisa melihat pantulan cahaya rembulan yang sedikit lebih redup di area yang sedang dibersihkan—sisa-sisa pelumas yang membuat pangeran tergelincir.
\"Dia sedang melenyapkan jejaknya,\" batin Bram.
Bram mengeluarkan kamera Chronos. Ia tahu, setiap jepretan di kegelapan akan menyedot daya lebih besar karena sensor harus bekerja ekstra keras. Namun, ini adalah satu-satunya cara. Ia harus menangkap basah pelakunya.
Ia membidik. Fokus kamera digital masa depan itu mengunci pada punggung sosok yang tertutup pakaian serba hitam dan kain penutup kepala.
Klik.
Suara mekanis kamera itu sangat halus, tapi tidak malam ini. Di keheningan yang mematikan ini, Bram merasa suaranya seperti dentuman meriam. Sosok itu tersentak. Ia berhenti menggosok, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan waspada.
Bram mematung, bahkan tidak berani berkedip.
Sosok itu tampaknya tidak melihat Bram di balik kegelapan pohon beringin. Merasa waktu hampir habis, sosok itu mempercepat gerakannya. Ia menyelesaikan gosokan terakhirnya, lalu berdiri hendak melarikan diri ke arah gerbang belakang istana.
Tepat saat ia hendak berbalik, embusan angin malam yang kencang menyapu alun-alun. Kain tipis yang menutupi wajah sosok itu tersibak, tersangkut sejenak pada hiasan telinganya yang berkilau.
Bram tidak membuang sedetik pun. Ia menekan tombol rana sekali lagi.
Klik.
Layar kamera berkedip. Angka 2% muncul dengan peringatan baterai lemah yang kritis. Namun, di layar pratinjau, sebuah wajah tertangkap dengan jelas.
Itu bukan wajah Senopati Wira. Bukan pula wajah laki-laki.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Berkemah, Jangan Berlemah!
Dinda, Skye, dan Sally semangat untuk sebuah liburan seru untuk berkemah. Namun dengan Sta ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...