Rana Takdir

Reads
116
Votes
4
Parts
20
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Terdesak

Bram mengerutkan kening, bingung. "Apa maksudmu?"

"Kemarin, di depan undakan kantong emas itu ... kau bicara dengan sangat bodoh di depan pangeran dan Wira. Kau bicara tentang 'ketidaksengajaan'. Kau bicara tentang bagaimana seseorang bisa tergelincir tanpa niat mencuri." Gupita tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang putih sempurna. "Saat itu aku tersadar. Selama ini aku mencari cara untuk menjatuhkan pangeran tanpa terlihat seperti sebuah pembunuhan politik. Dan kau datang, membawa konsep 'kecelakaan' itu di atas nampan perak. Aku hanya perlu sedikit membantu takdir dengan beberapa tetes minyak jarak di waktu yang tepat."

Bram tertegun. Rasa bersalah yang amat sangat menghantam dadanya. Jadi, peringatannya yang berniat baik justru menjadi inspirasi bagi rencana jahat Gupita. Pengetahuan masa depannya telah dipelintir menjadi senjata untuk menghancurkan sejarah yang ia cintai.

"Dan bagian terbaiknya?" Gupita melanjutkan, kini ia berdiri dan berjalan mengelilingi Bram seperti pemangsa. "Semua orang tahu Senopati Wira sangat membenci kecerobohan pangeran. Dengan kau yang terus-menerus menuduh Wira, Ratu akan memiliki kambing hitam yang sempurna. Wira akan dieksekusi karena dianggap berkhianat, dan pangeran akan mati. Tidak ada lagi penerus takhta. Kalingga akan lumpuh."

"Tapi kenapa?" tanya Bram, suaranya bergetar. "Kenapa kau ingin menghancurkan kerajaan ini? Apa salah Ratu Shima padamu?"

Wajah Gupita mendadak berubah. Kelembutannya hilang, digantikan oleh kebencian yang murni dan purba. Ia mencengkeram kain di dadanya sendiri.

"Salahnya? Salahnya adalah dia terlalu suci! Dia terlalu memuja hukum hingga lupa bahwa hukumnya telah menghancurkan keluargaku!" Gupita berteriak, suaranya bergema di dinding pondok. "Ayahku ... dia adalah seorang pejabat di wilayah pesisir. Hanya karena dia memberikan sedikit keringanan pajak pada desa yang sedang dilanda kekeringan, Shima menuduhnya melakukan korupsi. Dia dihukum mati di depan mataku sendiri demi 'kesucian hukum' yang ia agung-agungkan!"

Bram terdiam. Di balik sejarah emas tentang keadilan Ratu Shima, ternyata ada luka-luka yang tidak tercatat.

"Itu sudah lama sekali, aku masih kecil saat itu. Tidak ada yang mengenali asal-usulku. Setelah aku dewasa, aku datang. Aku tidak perlu bersusah payah. Rasa iba yang dimiliki Shima terhadap gadis sepertiku sudah cukup menjadi gerbang masukku ke sana. Aku masuk ke istana ini, merangkak dari bawah, menjadi abdi yang paling setia, hanya untuk menunggu saat ini." Gupita melanjutkan dengan napas yang memburu. "Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin dia melihat hukumnya sendiri mencabik-cabik orang yang paling dia cintai. Aku ingin dia mati dalam penyesalan, melihat Kalingga runtuh bukan karena serangan musuh, tapi karena keadilan yang buta."

"Kau tidak akan berhasil," desis Bram. "Aku punya bukti di dalam tas ini."

Gupita melirik tas selempang Bram yang kini berada di tangan wanita asing itu. Wanita itu menyerahkannya pada Gupita. Dengan kasar, Gupita merogoh isinya dan mengeluarkan kamera Chronos.

"Benda aneh ini?" Gupita menimang kamera itu. "Kau pikir Shima akan lebih percaya pada kotak hitam ini daripada padaku, yang sudah menemaninya selama sepuluh tahun? Aku hanya perlu mengatakan bahwa kau adalah penyihir yang mencoba mengguna-gunanya dengan kotak ini. Dia akan membakarmu hidup-hidup."

Gupita mencoba menekan-nekan bodi kamera itu dengan kasar. Bram melihat layar kecil di bagian atas kamera berkedip merah.

[Status Baterai: 1%]

"Hati-hati!" teriak Bram tanpa sadar. "Jika kau merusaknya, kau tidak akan tahu apa yang tersimpan di dalamnya!"

Gupita berhenti. Ia menatap kamera itu dengan rasa ingin tahu yang jahat. "Oh? Jadi ada cara untuk melihat isinya? Tunjukkan padaku, Pengembara. Tunjukkan 'sihir' apa yang kau miliki yang membuatmu begitu berani menentangku."

Bram memutar otak. Tangannya masih terikat ijuk yang sangat kuat, tapi pikirannya bekerja seribu kali lebih cepat. Ia hanya punya sisa satu persen daya. Satu jepretan terakhir untuk membuktikan tempat ini jika perlu, atau justru daya itu adalah satu-satunya kesempatannya untuk bisa pulang ke tahun 2005. Jika ia menggunakannya sekarang untuk pamer, ia akan kehilangan segalanya.

"Aku tidak bisa menunjukkannya jika tanganku terikat," kata Bram, mencoba menenangkan suaranya. "Dan kau butuh cahaya yang lebih terang untuk melihat gambar ini. Bawalah aku lebih dekat ke lampu itu."

Gupita memberi isyarat pada wanita asing itu. Wanita itu menarik kerah baju Bram dan menyeretnya ke dekat meja tempat lampu minyak berada. Satu tebasan pedang wanita itu memotong ikatan di tangan Bram. Gupita meletakkan kamera itu di depan Bram, sementara wanita asing itu siap menghunuskan pedangnya jika sewaktu-waktu Bram membelot.

"Cepatlah. Kesabaranku ada batasnya," ancam Gupita.

Bram menatap kamera itu. Di dalam memori digitalnya, tersimpan foto Gupita yang sedang berbincang dengan gadis ini, foto kerikil, dan foto minyak. Itu adalah bom waktu yang siap meledak. Namun, ia menyadari sesuatu. Di pondok ini hanya ada mereka bertiga. Jika ia menunjukkan fotonya sekarang, Gupita hanya akan menghancurkan kamera itu dan membunuhnya di tempat.

Ia butuh saksi lain. Ia butuh Ratu Shima atau Senopati Wira.

Bram meraih kamera itu, pura-pura mengutak-atiknya.

"Gupita." Bram mulai bicara, suaranya kini lebih tenang, hampir menyerupai nada seorang kurator yang sedang menjelaskan sejarah. "Kau pikir kau bisa mengendalikan segalanya. Tapi sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang membangun takhtanya di atas kebohongan. Kau membenci Ratu Shima karena hukumnya yang kaku, tapi kau sendiri sedang menggunakan kekakuan itu untuk membunuh pangeran yang tidak bersalah. Apa bedanya kau dengan apa yang kau benci?"

Gupita menampar wajah Bram dengan keras. Plak! Sudut bibir Bram pecah, darah segar mulai mengalir.

"Jangan berani-berani menceramahiku!" desis Gupita. "Kau tidak tahu rasanya melihat ayahmu dipenggal karena sebuah kebaikan kecil! Aku akan menghancurkan Kalingga, dan aku akan memulainya dengan melenyapkan pangeran kesayangan kalian!"

Bram meringis, merasakan asinnya darah yang merembes dari sudut bibirnya. Di tengah denyut rasa sakit itu, jemarinya yang tersembunyi di balik bodi kamera merasakan getaran halus yang berbeda. Layar kecil di bagian atas kamera mendadak memancarkan pendar oranye yang redup. Sebuah protokol daya darurat terakhir yang hanya muncul saat perangkat mendeteksi ancaman fatal terhadap penggunanya.

Di layar itu, dua ikon kecil berkedip bergantian, menuntut keputusan instan.

Ikon pertama bergambar lingkaran spiral dengan keterangan tulisan ‘Temporal Recall’. Jika Bram menekannya sekarang, sistem akan menarik seluruh atom tubuhnya kembali ke titik asal di ruko tua tahun 2005. Akhirnya, ia bisa meninggalkan kegilaan ini. Kembali ke dunianya yang aman dan membiarkan sejarah Kalingga menjadi debu yang terlupakan.

Ikon kedua bergambar kilatan petir dengan keterangan tulisan ‘Defense Flash’. Sebuah ledakan foton berkekuatan jutaan lumen yang dirancang untuk melumpuhkan optik lawan dalam radius lima meter.

Bram menatap Gupita yang berdiri dengan dada naik-turun karena amarah. Di belakang Bram, wanita asing itu sudah siap menusuknya jika Bram berani mengambil tindakan nekat.



Other Stories
Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Download Titik & Koma