Takdir Pangeran
\"Kalingga ini bukan kerajaan, ini adalah penjara!\" Gupita kembali menyumpah, jemarinya menunjuk ke arah Ratu dan Senopati Wira bergantian. \"Kalian semua memuja hukum seperti memuja Tuhan, tapi kalian lupa bagaimana rasanya menjadi manusia. Aku ingin melihatmu hancur, Shima! Aku ingin melihat wajah sucimu retak saat kau menyadari bahwa tanganmu sendirilah yang membunuh putramu! Aku ingin kau mati dalam penyesalan, dihantui oleh bayang-bayang keadilanmu yang buta!\"
\"Cukup, pengkhianat!\" Senopati Wira menghardik, amarahnya sudah di ujung ubun-ubun.
Gupita tertawa lagi lebih keras, hingga air mata kebencian mengalir di pipinya. \"Hukum saja aku! Bunuh aku! Tapi ingatlah, setiap kali kau melihat putra atau rakyatmu, kau akan ingat bahwa di jantung istanamu, ada seorang abdi yang begitu membencimu hingga ia rela bekerja sama dengan iblis hanya untuk melihatmu menangis!\"
Para prajurit segera menyeret Gupita keluar. Wanita itu masih terus meronta, menyumpahi seisi istana dengan kata-kata kasar hingga suaranya menghilang di ujung lorong. Meninggalkan keheningan yang menyakitkan di peraduan.
Ratu Shima mematung, menatap kosong ke arah altar. Ia tampak jauh lebih tua dari beberapa saat yang lalu. Bahunya yang biasanya tegak kini tampak sedikit merosot.
Bram yang berdiri di sudut ruangan tiba-tiba merasakan sebuah pencerahan yang dingin menyergap benaknya. Pikirannya melayang kembali ke masa depan, ke ruang perpustakaan museum tempat ia menghabiskan ribuan jam meneliti naskah kuno Kalingga.
Jadi ini alasannya ... batin Bram.
Selama ini, tidak ada catatan mengenai dayang utama atau sosok perempuan berpengaruh di samping Ratu Shima dalam sejarah Kalingga. Nama ‘Gupita’ tidak pernah muncul dalam prasasti maupun naskah manapun. Sekarang Bram paham. Nama itu bukan hilang karena waktu, melainkan sengaja dikubur hidup-hidup oleh perintah Sang Ratu sendiri. Ratu Shima telah melakukan damnatio memoriae—penghapusan ingatan sejarah—terhadap wanita yang telah mengkhianati hatinya.
Ratu Shima berbalik menatap Bram. Matanya masih menyimpan luka, tapi ia memberikan anggukan kecil yang sarat akan makna. \"Pengembara, kau telah melihat aib terbesar kerajaan ini. Simpanlah kebenaran itu dalam kotak logammu, tapi biarkan dunia mengenalku sebagai Ratu yang hanya memiliki hukum, bukan pengkhianatan.\"
Bram menunduk dalam, memeluk kamera Chronos-nya yang kini benar-benar menjadi saksi bisu bagi sejarah yang sengaja dilupakan. Di luar fajar mulai menyingsing, menandai awal dari pengadilan yang akan dikenang sepanjang masa. Di mana seorang pangeran akan tetap dihukum dan seorang pengkhianat akan dihapus dari ingatan dunia selamanya.
Ratu Shima memejamkan mata sejenak. Ketika ia membukanya kembali, tidak ada lagi keraguan. \"Senopati Wira, batalkan persiapan hukuman mati untuk putraku. Cari wanita asing yang membantu Gupita untuk diadili. Dan panggil kembali putraku ke hadapanku sekarang juga.\"
Wira segera memberi perintah. Kini hanya tersisa Ratu Shima dan Bram di ruangan itu.
\"Bramantyo,\" ucap Ratu Shima. Untuk pertama kalinya, Bram melihat gurat kelembutan di wajah sang penguasa yang keras itu. \"Kau bilang kau hanya seorang pengembara. Namun malam ini, kau telah menjadi penjaga bagi keadilan Kalingga yang sesungguhnya. Tanpa \'cermin\' milikmu ini, aku mungkin akan menghabiskan sisa hidupku dengan tangan yang berlumuran darah putraku sendiri.\"
Bram membungkuk sangat dalam. \"Hamba hanya ingin kebenaran tetap tegak, Gusti.\"
Ratu Shima menatap ke arah jendela, di mana semburat fajar mulai muncul di ufuk timur. \"Fajar ini seharusnya menjadi fajar kematian. Berkat dirimu, Kalingga akan melihat fajar pengampunan.\"
***
Pagi menyingsing dengan warna kemerahan yang ganjil di ufuk timur Kalingga. Suasana di alun-alun kerajaan terasa berat, lebih sesak daripada biasanya. Rakyat telah berkumpul membentuk lautan manusia yang tertunduk diam. Di tengah-tengah mereka sebuah panggung kayu telah berdiri. Di atasnya, Pangeran Narayana berlutut dengan kepala tertunduk.
Bramantyo berdiri di undakan takhta tepat di samping Senopati Wira. Di bawah sana, di antara barisan prajurit yang menjaga perimeter, Bram melihat sosok pria bertato bulan sabit yang tempo hari bercengkerama dengan Senopati Wira. Pria itu tidak lagi mengenakan pakaian sipil, melainkan zirah hitam tanpa lambang kesatuan biasa. Dia tidak sendirian. Kira-kira ada satu pasukan pria dengan seragam dan tato bulan sabit serupa.
\"Siapa mereka, Senopati?\" bisik Bram pelan.
Wira melirik ke arah pria itu. \"Mereka adalah bagian dari Bayangkara Gelap. Prajurit khusus yang hanya tunduk pada titah langsung Sang Ratu. Mereka adalah pemburu Candala.\"
Bram bergidik. Ternyata tato itu bukan penanda pengkhianatan, melainkan simbol predator tertinggi di Kalingga. Wira melangkah maju, suaranya menggelegar menyapu alun-alun.
\"Rakyat Kalingga! Dengarkan titah Sang Ratu! Telah terungkap sebuah pengkhianatan besar di dalam jantung istana. Dyah Gupita, abdi kesayangan kerajaan, telah terbukti melakukan makar dengan bekerja sama dengan kaum buangan untuk mencelakai kesucian hukum kita!\"
Gumam terkejut merambat di antara kerumunan. Wira melanjutkan dengan menceritakan bagaimana Gupita menggunakan minyak jarak untuk menjebak sang pangeran. Namun, saat rakyat mulai bersorak menuntut pembebasan total bagi Pangeran Narayana, Ratu Shima berdiri.
Seketika, alun-alun kembali senyap sesunyi kuburan.
\"Benar bahwa ada pengkhianatan.\" Suara Ratu Shima tajam, menusuk setiap sudut lapangan. \"Benar bahwa kakinya diarahkan oleh niat jahat orang lain. Namun, hukum Kalingga tidak mengenal kompromi pada \'sentuhan\'.\"
Bram tersentak. Ia menatap Wira, berharap sang Senopati akan membela. Wira yang berdiri tegak hanya menunduk dalam.
\"Hukum adalah hukum,\" lanjut Ratu Shima. \"Jika aku membebaskan putraku sepenuhnya hanya karena ia dijebak, maka besok setiap pencuri di pasar akan mengaku bahwa mereka dijebak oleh iblis. Setiap pelanggar akan berkata bahwa tangan mereka digerakkan oleh sihir. Keadilan akan menjadi bahan tawar-menawar.\"
Ratu Shima melangkah turun, mendekati putranya. Narayana mendongak, matanya berkaca-kaca menatap ibunya.
\"Narayana,\" ucap Ratu dengan suara yang sedikit melunak, tapi tetap berwibawa. \"Kesalahanmu adalah kurangnya kewaspadaan. Seorang pemimpin tidak boleh membiarkan dirinya bisa dijebak. Tubuhmu tetap menyentuh barang yang bukan milikmu. Keadilan harus tetap ditegakkan agar rakyatku tahu bahwa hukum tidak memandang bulu, bahkan terhadap darah dagingku sendiri.\"
Ratu Shima menatap algojo. \"Hukuman mati dibatalkan karena tidak ada niat mencuri. Namun, hukum sentuhan tetap berlaku. Potonglah kakinya yang telah menyentuh emas itu.\"
Bram merasakan dunianya berputar. Inilah alasannya. Inilah mengapa dalam catatan sejarah yang ia pelajari di abad ke-21, pangeran tetap kehilangan kakinya. Bukan karena Ratu Shima kejam, melainkan karena ia harus menjaga integritas hukum agar tidak ada celah bagi pelaku kejahatan di masa depan untuk mencari alasan ‘dijebak’. Sebuah pengorbanan tragis demi kepastian hukum sebuah bangsa.
Algojo melangkah maju. Narayana menarik napas panjang, ia memejamkan mata dan mengangguk pelan. Ia menerima nasibnya demi wibawa ibundanya.
Srak!
Suara pedang yang menebas udara diiringi jeritan tertahan dari kerumunan. Bram memalingkan wajah. Hatinya hancur, tetapi ia mulai mengerti. Sejarah tidak berubah. Ia hanya baru saja melihat proses di balik layar yang tidak pernah tertulis di buku teks.
Other Stories
Testing
testing ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Awas, Ada Bakpao!
Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...