Rana Takdir

Reads
116
Votes
4
Parts
20
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Kembali Ke Istana

Bram berpikir cepat. Jika ia pulang sekarang, ia selamat. Namun, di detik ia menghilang, Pangeran Narayana akan menghadapi pedang algojo esok pagi. Gupita akan tertawa di atas reruntuhan hati Ratu Shima, dan Kalingga—kerajaan yang ia agungkan sebagai pilar kejujuran Nusantara—akan tercatat dalam sejarah sebagai tanah kekejaman yang lahir dari manipulasi.

Aku bukan sekadar kurator lagi, batin Bram. Aku adalah saksi yang dipilih.

Bram menyadari sebuah paradoks yang selama ini luput dari pikirannya. Kehadirannya di sini bukan sebuah kecelakaan. Jika ia melarikan diri, ia justru akan menjadi penyebab rusaknya sejarah yang selama ini ia pelajari. Hanya dia yang mengetahui tentang kejahatan Gupita. Jika dia pergi, Pangeran Narayana akan dijatuhi hukuman mati dan Gupita akan terus melancarkan aksinya untuk menjatuhkan Kalingga. Ia adalah bagian dari simpul waktu ini. Untuk menyelamatkan sejarah, ia harus merelakan masa depannya sendiri.

"Gupita," bisik Bram, suaranya kini tenang, hampir terdengar seperti doa. "Kau salah. Sejarah tidak ditulis dengan tinta hitam di atas kertas putih. Sejarah ditulis dengan pilihan-pilihan sulit di tengah kegelapan."

"Apa yang kau bicarakan, Pengembara bodoh?!" Gupita melangkah maju, hendak merampas kamera itu.

Bram memejamkan matanya rapat-rapat. Jari telunjuknya tidak menekan ikon spiral. Dengan satu sentakan pasti, ia menekan ikon kilatan petir.

"Sekarang!" teriak Bram, memberikan kekuatan bagi dirinya atas pilihan sulit yang akan dilaluinya.

BOOM!

Bukan suara ledakan mesiu, melainkan ledakan cahaya putih yang begitu murni dan dahsyat hingga seolah-olah matahari jatuh tepat di tengah pondok kayu itu. Cahaya itu menembus celah-celah kayu, menerangi hutan jati sekejap seperti siang hari.

"Mataku! Argh!" Gupita menjerit histeris, menutupi wajahnya dengan tangan saat retinanya dipaksa menerima jutaan lumen cahaya dalam sepersekian detik. Wanita asing di belakang Bram terjerembap, menabrak meja kayu sambil mengerang kesakitan, buta total dalam kegelapan yang mendadak menjadi putih.

Bram tidak membuang sedetik pun. Meski matanya pun perih karena pantulan cahaya, ia sudah mengantisipasinya. Dengan kekuatan dari adrenalin murni, ia menyambar tas selempangnya, menendang pintu pondok yang tidak terkunci rapat, dan berguling keluar ke semak-semak.

Layar kamera di tangannya berkedip pelan. Nol persen. Ajaibnya, kamera itu tidak mati, tetapi label baru muncul di tempat yang sebelumnya menampilkan hitungan mundur daya baterai.

[Daya Habis. Status Kamera: Pratinjau]

Bram tertegun sejenak. Tampaknya, sistem Chronos memiliki cadangan energi kinetik terakhir yang hanya cukup untuk menjalankan fungsi dasar sebagai bukti visual, tapi tidak cukup untuk mengambil gambar lagi atau melakukan lompatan waktu.

Bram tidak menoleh lagi. Ia berlari menembus kegelapan hutan, mengandalkan insting dan suara aliran sungai di kejauhan sebagai penunjuk arah menuju benteng istana. Di belakangnya, teriakan murka Gupita bergema, memerintahkan pengejaran yang buta.

Ia tahu, dengan melakukan ini, ia baru saja menutup pintu kepulangannya selamanya. Tidak akan ada lagi Jakarta. Tidak ada lagi ruko tua. Namun, saat ia melihat bayangan obor para penjaga istana di kejauhan, Bram merasakan sebuah kepuasan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Ia membawa bukti itu. Ia membawa kebenaran. Dan esok, saat fajar menyingsing di alun-alun Kalingga, ia akan memastikan bahwa pedang algojo tidak akan pernah menyentuh leher sang pangeran. Ia akan berdiri di sana. Bukan sebagai pengamat dari masa depan, melainkan sebagai pengembara yang namanya mungkin akan hilang ditelan zaman. Namun, tindakannya akan terukir abadi dalam garis waktu yang ia selamatkan.

Bram terus berlari, memeluk tasnya erat-erat. Menuju fajar yang akan menentukan nasib sebuah kerajaan besar.

Langit di ufuk timur Kalingga mulai memucat, mengubah warna hitam pekat menjadi kelabu yang dingin dan mencekam. Kabut tipis merayap di antara batang-batang jati, seolah ingin menyembunyikan dosa yang dilakukan di bawah naungannya. Langkah Bram terasa berat seperti ditahan oleh setiap jengkal tanah Kalingga untuk tetap tinggal selamanya. Napasnya tersengal, tetapi ia terus berlari menembus rimbunnya belukar hingga akhirnya kakinya menapak pada jalanan batu yang rata.

Wanita asing yang bersama Gupita tadi tidak mengejarnya, seolah tidak berani melangkahkan kakinya mendekati istana secara terang-terangan. Meski demikian, Gupita sendiri masih mengejar Bram.

"Berhenti!" Sebuah teriakan menggelegar memecah kesunyian malam.

Bram tersungkur di atas lantai batu saat sebilah tombak melintang tepat di depan dadanya. Di sana, berdiri tegak dengan zirah kulit yang berkilau di bawah cahaya obor, adalah Senopati Wira. Sang panglima perang menatap Bram dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan.

"Pengembara? Mengapa kau berkeliaran seperti pencuri di jam segini dengan tubuh penuh luka?" Suara Wira berat dan penuh selidik.

"Senopati ... Syukurlah!" Bram terengah-engah, mencoba bangkit sambil memeluk tasnya. "Gusti Pangeran ... dia dijebak. Gupita ... dia pelakunya!"

"Hentikan bualannya, Wira!" Suara melengking Gupita terdengar dari arah belakang.

Gupita muncul dengan napas yang tak kalah memburu. Rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan dan matanya masih tampak merah akibat kilatan cahaya tadi. Ia segera memasang wajah penuh keprihatinan yang dibuat-buat begitu berdiri di depan Wira.

"Senopati, tangkap orang gila ini!" seru Gupita sambil menunjuk Bram. "Dia menyerangku di hutan! Dia menggunakan sihir terkutuk untuk membutakan mataku dan mencoba melarikan diri setelah aku memergokinya mencoba menghancurkan bukti-bukti kejahatannya sendiri. Dia kehilangan akal karena ketakutan akan pengadilan yang akan datang!"

Wira memandang Gupita, lalu beralih pada Bram. Tangannya masih kokoh memegang hulu keris. "Gupita adalah abdi kesayangan Ratu. Mengapa aku harus mempercayai kata-katamu, Pengembara?"

"Karena aku punya bukti yang tidak bisa dibantah!" Bram merogoh tasnya, mengeluarkan kamera Chronos yang layarnya masih menunjukkan label [Pratinjau]. "Di dalam kotak ini, ada gambaran nyata tentang apa yang terjadi di alun-alun dan di pondok rahasia Gupita. Dia bekerja sama dengan wanita asing untuk melumasi lantai meja batu itu dengan minyak!"

"Cukup!" Gupita berteriak, suaranya sedikit gemetar. "Wira, jangan dengarkan dia! Kotak logam itu adalah alat teluh! Dia mencoba memengaruhi pikiranmu seperti dia mencoba memengaruhi pangeran. Bunuh dia sekarang sebelum dia mencelakai istana lebih jauh!"

Suasana menjadi sangat tegang. Para prajurit di sekitar gerbang mulai mengepung Bram. Ujung tombak mereka hanya berjarak beberapa inci dari lehernya. Bram menatap mata Wira dengan tajam, mencoba menyalurkan kejujuran yang ia miliki.

"Senopati Wira," ucap Bram, nadanya memohon. "Selama ini aku menganggapmu keras kepala dan buta karena hukum. Tapi aku tahu kau adalah pria yang paling mencintai kerajaan ini setelah Gusti Ratu. Jika kau membunuhku sekarang, kau tidak hanya membunuhku, kau membunuh kebenaran. Kau akan membiarkan musuh yang sebenarnya tidur di dalam selimut istana."

Wira terdiam. Rahangnya mengeras. Ia melihat luka-luka di tubuh Bram, lalu beralih menatap kegelisahan yang tersembunyi di balik mata Gupita yang memerah. Sebagai seorang senopati yang kenyang akan asam garam pertempuran, Wira memiliki insting yang tajam terhadap niat seseorang. Ia tidak gegabah. Baginya, hukum bukanlah soal siapa yang paling keras berteriak, melainkan apa yang paling masuk akal.

"Dunia ini memang penuh dengan sihir dan tipu daya," ucap Wira perlahan sambil menyarungkan sedikit kerisnya. "Meskipun demikian, aku tidak akan menjadi hakim di tempat yang bukan milikku."

"Wira! Apa yang kau lakukan?" Gupita memprotes keras.

Wira mengabaikannya. Ia memberikan isyarat kepada para prajurit untuk menurunkan tombak, tapi tetap waspada.

"Bramantyo, jika kotakmu itu adalah alat teluh, kau akan dibakar hidup-hidup esok pagi. Namun, jika apa yang kau katakan adalah kebenaran, maka malam ini sejarah Kalingga akan berubah." Wira menatap lurus ke arah gerbang peraduan Ratu. "Kita tidak akan menunggu fajar. Kita akan selesaikan ini sekarang, di hadapan Gusti Ratu Shima sendiri."




Other Stories
Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Download Titik & Koma