Sinopsis
Kamu mungkin tidak kekurangan tempat untuk dituju, tapi sering kekurangan ruang untuk benar-benar berhenti. Di tengah notifikasi yang tak pernah habis, rapat yang menumpuk, dan rutinitas yang menelan hari, “liburan” kerap terasa seperti sesuatu yang jauh—harus menunggu cuti, menunggu tanggal merah, menunggu dompet aman.
Buku Cuti untuk Pikiran mengajak kamu melihat liburan dari sudut yang lebih sunyi: liburan sebagai keadaan batin. Bukan soal pergi, melainkan soal pulang—pulang ke tenang, tidur yang memulihkan, napas yang panjang, mandi yang menyadarkan, dan keberanian mencoba hal baru yang sederhana.
Mini buku ini adalah teman kecil untuk melambat. Untuk mengambil jeda tanpa rasa bersalah. Untuk mengingat bahwa bahkan di hari biasa, kamu tetap berhak beristirahat—dan hidupmu tidak harus selalu dikejar-kejar.
Other Stories
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...