Sinopsis
Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, Lydia merasa waktu berjalan terlalu cepat dan dirinya terlalu lambat. Ia ingin berubah. Ingin keluar dari zona nyaman yang ia bangun dengan hati-hati: hidup damai, tenang, tanpa konfrontasi, tanpa gebrakan besar. Tapi entah kenapa, setiap kali mencoba melangkah, energinya selalu habis bahkan sebelum memulai.
Menikah, punya karier cemerlang, berani mengejar impian, semua terdengar indah dan mudah dalam teori. Tapi Lydia tidak tahu dari mana harus mulai. Ia hanya tahu satu hal: di usia tiga puluh satu, ia belum “sesuai standar.” Kakak dan adiknya sudah menikah dan berkarier, sementara Lydia masih mencari arah. Ia baru saja memilih keluar dari pekerjaannya, dengan harapan bisa mengejar beasiswa dan belajar di luar negeri, tapi sampai sekarang, belum juga berangkat.
Di mata banyak orang, hidupnya mungkin terlihat mandek: tidak menikah, tidak punya karier tetap, dan… entah bagaimana, terasa seperti gagal. Namun di balik semua itu, Lydia hanya ingin menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri meski ia belum tahu seperti apa bentuknya. Dan di sela pencarian itu, pertanyaan lama terus muncul di kepalanya: apa ada yang salah denganku?
Lahir sebagai anak tengah dari tiga bersaudara di keluarga sederhana, Lydia tumbuh di rumah yang hangat, cinta yang tidak selalu diucapkan, tapi terasa dalam hal-hal kecil: buah yang sudah dipotong di kulkas, Mama yang mengajari pelajaran sekolah anak-anaknya dengan nada naik dua oktaf, atau suara Ayah yang setiap pagi ribut membangunkan anak-anaknya salat.
Namun kehidupan keluarga itu tak selalu tenang. Ketika bisnis Ayah perlahan jatuh, dunia Lydia ikut bergetar. Ia belajar bahwa hidup tidak selalu tentang nilai bagus atau kelas unggulan, tapi tentang bagaimana bertahan ketika segalanya tiba-tiba berubah arah.
Sejak itu, Lydia tumbuh menjadi seseorang yang kuat di luar tapi penuh gelisah di dalam. Ia terbiasa menyembunyikan rasa.
Dalam pertemanan, Lydia berusaha terlihat ceria, centil, dan lucu. Ia menutup rapat hal-hal tentang keluarganya, tak ingin teman-temannya tahu seperti apa keluarganya sebenarnya.
Di rumah pun sebaliknya, ia jarang bercerita tentang sekolah, apalagi tentang laki-laki yang sedang dekat dengannya.
Ia terbiasa membelah dirinya menjadi dua: Lydia yang ringan untuk dunia luar, dan Lydia yang berat di dalam kepala sendiri.
Semakin dewasa, ia mulai sadar: banyak hal dalam dirinya berakar dari satu hal yang tak pernah benar-benar selesai, yaitu rasa bersalah terhadap Ayah. Ada hal-hal yang dulu tak sempat ia ucapkan, perhatian kecil yang dulu ia anggap sepele, dan cinta yang baru terasa penuh justru setelah kehilangan datang.
Ia merasa, selama hidupnya, ia hanya tahu cara menerima, jarang benar-benar memberi. Ia sering menganggap kasih sayang Ayah sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Dan penyesalan itu kini menempel diam-diam di hatinya.
Lucu, hangat, dan menyentuh, Lydia adalah kisah tentang tumbuh dewasa seorang perempuan di antara tawa dan kehilangan. Tentang menemukan kembali makna cinta keluarga lewat kenangan yang paling sederhana dan paling dalam. Tentang berani menghadapi diri sendiri, dan perlahan mencari apa sebenarnya yang ia butuhkan… dan ia inginkan.
Buku ini bisa menjadi teman bagi pembaca usia 30-an yang masih single dan sedang mencari jati diri — sebuah pengingat bahwa it’s okay to have your own path, at your own pace.
Other Stories
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Dua Tanda Baca
Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...
Loren Ipsum
test ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...