Chapter 4
Adhira
Di samping link lagu itu kami menemukan sebuah link lain yang mengarah ke Creepypasta. Yang aku tahu Creepypasta adalah situs cerita horor di deep web.
Aku jadi teringat kisah Slenderman yang konon telah memberi banyak pengaruh buruk pada penikmatnya. Kejahatan telah mereka perbuat gara-gara tidak sanggup mengendalikan diri dari meme ataupun hal-hal horor yang mereka jumpai dari sana. Seorang anak harus berurusan dengan hukum negara lantaran menikam temannya hingga tujuh belas kali. Aku tidak tahu alasan persisnya. Mungkin ada sikap atau perkataan korban yang menyinggungnya. Atau, bisa saja itu murni karena gejolak yang ada dalam dirinya dan nahasnya seorang temannya yang tidak tahu apa-apa menjadi sasaran.
Sementara, seorang anak yang lainnya malah mampu berbuat lebih celaka dengan membakar rumah beserta anggota keluarganya. Mengerikan! Membayangkannya saja aku sudah sangat bergidik!
Setelah link itu terbuka, yang pertama sekali kami lihat adalah foto seorang lelaki. Ya, seorang lelaki yang meskipun berpose sedikit tersenyum tetapi wajahnya tidak bisa dikatakan teduh. Rahangnya keras. Kulitnya cokelat tua. Ia berkumis dan berjenggot lebat. Pandangan matanya gusar. Dan, rambutnya terlihat tidak terurus---atau memang begitu style-nya?
Aku memang tidak mengenalnya tetapi rasanya aku pernah melihatnya. Entah di mana.
"Aku pernah melihatnya," ujar Qiran yang membuatku terkejut dan buru-buru melempar pertanyaan: "Di mana? Dia siapa?"
Qiran mengangkat bahu. "Aku tidak tahu dia siapa. Tapi aku pernah melihatnya. Aku pernah melihat kepalanya di suatu malam. Ia menyeret-nyeret rantai di emperan rumahku."
Sejenak aku memicingkan mata, memperhatikan lebih lekat wajah lelaki itu. Ah ya, aku tahu. Aku sudah ingat. Ternyata ia adalah wajah yang sama dengan wajah Qiran ketika di pemakaman mamanya!
Memang, tidak ada keterangan siapa pemilik foto itu. Tidak ada namanya. Namun, aku merasa ia adalah penyanyi sekaligus musisi yang menciptakan lagu pemicu kerusuhan di kotaku ini.
"Tidak ada namanya. Ya, tapi ia adalah penyanyi dan musisinya."
"Kamu yakin?" tanyaku.
"Lihat ini!" Qiran men-scrool ke bawah. Ada beberapa kalimat yang bisa kami baca.
Selamat datang. Selamat menemukanku – aku harap siapa pun kamu benar-benar akan menemukanku.
Aku bersyukur ada yang menemukanku. Setidaknya sudah menemukan jejakku ini. Untuk itu kuucapkan terima kasih. Namun, aku minta maaf. Aku sangat-sangat minta maaf. Kamu menemukan jejakku ini artinya sedang terjadi sesuatu kerusuhan di tengah-tengahmu. Ya, lagu itu telah mengacaukan orang-orang di tempatmu.
Aku tahu jalan keluarnya. Aku tahu. Adalah, kalian harus menemukanku. Kalian harus tiba padaku terlebih dahulu.
Aku tahu, itu kedengarannya sangat egois. Aku sangat menyusahkan kamu. Aku sangat meresahkan tempatmu. Aku banyak membuat orang tersesat dan kehilangan diri mereka. Maka karena demikian, aku sangat pantas untuk tidak diampuni.
Aku punya banyak kisah untuk kamu ketahui. Aku punya banyak petunjuk untukmu. Namun, aku tidak menuliskannya di sini.
Maafkan aku. Aku tidak sempat menulis atau menyalinnya di sini. Kala itu waktuku tidak banyak. Aku terburu-buru. Tepatnya aku diburu!
Tapi jangan khawatir. Aku menyimpannya di suatu tempat. Di rumahku. Kamu bisa menemukan segalanya di sana.
Berjanjilah untuk menolongku.
Bertekadlah untuk menyelesaikan masalah di tempatmu.
Maafkan aku.
Maafkan aku.
"Gila! Dia siapa, sih? Mayat hidup? Kenapa iseng sekali mengatur sesuatu yang entah apa manfaatnya. Lagi pula, kita mana tahu alamat rumahnya?!" amuk Qiran tak terima. Ia menggeram.
Melihat Qiran begitu aku jadi teringat Tarika. Tarika yang suka kadung kesal pada setiap ulah iseng Qiran, yang benar seperti katanya, entah apa manfaatnya. Entah di mana Tarika dan Vimala sekarang. Mungkin sedang berimpit-impitan di depan pintu. Atau mungkin turut memadati jalanan. Atau mungkin pula sudah pergi mengacaukan kota lain. Berbuat sejauh yang mereka bisa. Terus menyumbang kerusuhan. Memberi pengaruh buruk bagi orang. Entahlah. Yang pasti aku sudah tidak bisa mengenali mereka lagi jika sedang berkerumun. Aku sudah tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Bukan karena takut, tapi lebih kepada merasa kasihan. Bahkan hingga saat ini pertemuan terakhirku dengan mereka masih terus membayang dan menjadi hantu di kepalaku. Hantu yang ingin membuatku terus menangis. Iba.
Qiran terus saja kesal. Aku mencoba berpikir tenang. Aku ingin memahaminya dengan bijak. Aku rasa si musisi tidak seiseng itu. Ini pasti ada sesuatu. Pasti ada.
Aku mengambil alih mouse di tangan Qiran. Aku mengarahkannya ke pojok kiri bawah. Ada. Ia menyelipkan alamatnya di sana.
"Rumahnya di sebuah kota yang berada dua jam dari kota kita," gumamku.
Qiran memukul meja. Ia tidak terima. Ia sangat gusar.
Ia lalu bangkit berdiri dan menarikku untuk melihat ke arah jalanan yang masih saja dipadati makhluk aneh itu. Ah, tidak hanya di jalanan, tetapi di pintu masuk apartemen ini juga. Hingga aku mengatakan ini mereka masih terus berebutan ingin masuk. Mendobrak-dobrak, ngotot sekali.
"Ke sana bisa dua jam, katamu?" Qiran menatapku lekat. Pertanyaannya itu bermakna, coba pertimbangkan lagi kalimatmu. Perhatikan kosa katamu!
Iya, di situasi seperti sekarang ke sana tentu sudah tidak bisa dua jam. Pasti akan berjam-jam. Atau berhari-hari. Atau kami tidak akan pernah sampai dengan diri kami yang sekarang sama sekali. Mereka tentu tidak akan membiarkan kami melaju begitu saja. Di apartemen ini saja kami dan ratusan orang lainnya sudah mengurung diri atau terkurung selama lima hari. Seorang saja, atau mungkin kami yang nanti terpengaruh oleh suara gelisah mereka maka akan mempengaruhi semua orang yang ada di sini. Jika seperti itu, adakah yang bisa selamat setelahnya? Adakah yang pada akhirnya membuat keadaan ini menjadi lebih baik? Aku jamin, pasti tidak ada. Kami yang tahu. Kami yang paham situasi ini sebab kami yang berbuat. Aku rasa harapan terakhir ada pada kami. Karena demikian kami harus selamat sampai akhir. Atau, minimal satu orang di antara aku atau Qiran. Ya, di antara kami harus ada yang selamat. Ya, kami harus memikirkan cara lain untuk keluar!
Other Stories
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...