Rumah Rahasia Reza

Reads
1.7K
Votes
1
Parts
7
Vote
Report
Penulis Joe Chang

Bab 3 - Kecurigaan Vania

Pagi itu, Vania menatap meja sarapan yang tersaji rapi, tapi tak tersentuh. Roti panggang, telur rebus, dan potongan alpukat mengering di sisi piring. Reza telah pergi sejak pukul enam, katanya ada inspeksi proyek di Tangerang. Tapi Vania tahu, hari itu Reza tak ada jadwal lapangan.

Ia membuka Google Calendar yang biasa ia lihat diam-diam dari laptop Reza. Di situ tertulis: "Meeting internal - Cipete." Tidak lazim. Biasanya Reza menulis nama proyek atau nama klien. Kali ini hanya lokasi. Vania menandainya dalam hati.

Hari-hari belakangan, Vania mulai mencium aroma kebohongan yang lebih tebal. Parfum Reza berubah—lebih manis. Pakaian dalamnya kadang berganti dengan yang baru dan mahal, tapi tak pernah ia lihat dicuci. Dan yang paling menyakitkan: pandangan kosong Reza saat mereka bercinta, seolah tubuhnya ada, tapi pikirannya di tempat lain.

Vania bukan wanita bodoh. Ia lahir dari keluarga pengusaha. Ia tahu betul permainan citra dan kepalsuan. Tapi ia juga tahu, cinta dan harga diri tidak bisa hidup berdampingan dalam waktu lama.

Malam itu, ia duduk di ruang kerja Reza. Aroma kopi basi dari mug yang tertinggal masih menusuk. Ia membuka laptop suaminya, memindai folder demi folder. Kosong. Semua bersih. Terlalu bersih.

Tiba-tiba matanya tertumbuk pada folder berjudul “Konsolidasi Proyek Lama.” Ia buka. Di dalamnya ada beberapa dokumen PDF, namun satu file mencurigakan bernama "Denah Alternatif 3 - PIK.pdf."

Vania membukanya. Denah rumah. Modern, minimalis. Tertulis: “Client: R.H.”

Jantungnya berdebar. Ia tahu Reza tidak sedang membangun rumah pribadi. Setidaknya, tidak untuk keluarga mereka. Untuk siapa rumah itu?

Esoknya, ia menemui sahabat lamanya, Lita—seorang mantan wartawan yang kini bekerja sebagai investigator pribadi.

"Aku butuh bantuan," kata Vania, suaranya berat.

Lita menatapnya lama. "Kamu siap untuk apapun yang akan kamu temukan?"

Vania menarik napas. "Lebih baik sakit karena tahu, daripada dibodohi sampai mati."

Dua hari kemudian, Lita mengirimkan serangkaian foto. Reza. Di Cipete. Bersama wanita berambut pendek yang menatapnya seperti menatap pahlawan. Di Senopati. Bersama wanita lain yang terlihat seperti mahasiswi. Di PIK. Di Rawamangun. Semua berbeda. Semua akrab. Semua... terlalu intim.

Vania menggenggam ponselnya erat. Tenggorokannya kering. Ia membaca ulang pesan dari Reza malam sebelumnya: “Maaf nggak bisa pulang cepat. Klien banyak permintaan. Love you.”

Cinta apa ini, pikir Vania. Cinta macam apa yang menyelipkan kebohongan seperti jarum di bawah kulit?

Malam itu, ia berdiri di depan kaca besar kamar tidur mereka. Ia melihat pantulan dirinya sendiri. Cantik, elegan, terawat. Tapi kosong. Perlahan, air mata jatuh, tapi wajahnya tetap tenang. Ia tidak ingin meledak. Ia ingin merencanakan sesuatu.

"Kalau dia bisa menyembunyikan empat rumah," bisiknya ke dirinya sendiri, "aku akan pastikan semuanya runtuh satu per satu."


Other Stories
Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Balada Cinta Kamaliah

Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...

2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Download Titik & Koma