Sakit
"Ummi, aku mau ngaji, ya?"
Kusodorkan Iqro bersampul hitam padanya.
"Bukan itu."
Anak berusia enam tahun itu menarik napas pendek-pendek. Tapak tangannya memberi ungkapan bahwa aku keliru.
Badannya hangat. Kedua pipinya merah. Mata bulat miliknya meredup. Rambutnya kusut karena sudah dua hari dia di tempat tidur. Disisir, awut-awutan lagi. Guling kanan, guling kiri, dan hanya duduk. Itu yang bisa dilakukan saat ini. Kadang, bila adiknya pergi, dia memanggil-manggil minta ditemani. Sesekali adiknya mau, lain waktu dia tetap pergi, dan kakaknya mengejar sambil menangis. Melihat kakaknya lemah, si adik berhenti. Kembali ke kamar diikuti kakaknya. Byan, adiknya, duduk di tepi kasur.
Aku mengusap rambutnya. Meletakkan buku Iqro dan menepuk pundaknya pelan.
"Yang mana?"
Kupikir dia ingin buku iqro lain. Ternyata aku keliru.
"Ummi ngaji. Aku dengerin."
Ya Allah...
Mendadak pikiran ini berperang sendiri. Satu sisi berpikir perihal akhir dari sakit anak sulungku, sisi lain menghalaunya pergi. Pikiran positif berbisik sangat lirih. 'Semua akan baik-baik saja.'
"Iya, iya. Ummi mau ngaji."
Kutahan sesak yang semakin menghimpit dada. Tiga jam lalu, Maisan memanggil-manggil abinya. Bertanya, "Kapan Abi pulang, Mi? Aku mau sama Abi." Lalu adiknya yang mendengar ucapan kakaknya itu langsung menimpali, "Aku juga kangen Abi. Kapan Abi pulang?"
Pertanyaan sama terus diulang, sejak suami ke Yogyakarta. Dia kembali mengajar di SD Muhammadiyah Jogokariyan, dan kami masih di Madura--tempat yang sama sekali belum pernah kubayangkan untuk tinggal di sini.
"Ummi, ayo ngaji!"
Segera kubuka mushaf hijau, Al Quran yang kubeli saat masih di Yogyakarta. Tepatnya di pameran buku, di GOR Universitas Negeri Yogyakarta.
Kedua bibir mendadak gemetar. Lafaz ta'awudz pun kudengar lemah. Ah! Jangan sampai anakku tahu kesedihan yang tertahan ini. Dia hanya mau mendengar bacaan ayat suci, bukan mendengar kepiluan suara umminya. Perlahan kuubah intonasi suara, setelah berhasil mengusir pikiran buruk. Dari parau menjadi lebih jelas. Surat Al-Baqarah pun kulewati ayatnya satu per satu. Pada ayat ketigapuluh, Maisan mulai bernapas lebih pelan.
"Sudah, Mi. Sudah. Aku mau tidur."
Lega rasa di dada.
Aku bisa ikut memejam sebentar. Tapi, ada naskah ke Penerbit Visi Mandiri yang terlanjur kusepakati penyelesaiannya.
Ah!
Rasanya begini berjauhan dengan suami?
Meski kadang dekat tidak lepas dari benturan-benturan kecil, saat jauh benturan itu menjadi memori indah.
Perihal naskah tadi, aku sudah tahu hanya ada 2 juta sebagai harga beli. Awalnya agak ragu, apa mau diterima atau abaikan saja. Tapi, kulihat banyak yang berminat, mereka berjuang untuk menyodorkan outline, tapi belum diterima. Masa iya aku yang sudah lolos mau diam begitu saja, tidak menyelesaikan, dan pasti mengecewakan diri sendiri. Apalagi, saat baru mau seleksi, aku juga sempat minta doa pada suami. Saat itu, pintu kamar kecil ini terbuka. Hamparan sawah dan lambaian daun pohon kelapa membayang hitam. Angin sedang istirahat berembus, kukatakan, “Minta doanya ya semoga lolos.”
Ya Allah…
Bimbang menyerang. Ragunya meracuni pikir, apakah badan yang seolah remuk ini mampu menyelesaikan?
Jam di android sudah menayangkan angka 01.35. Laptop sudah beberapa hari enggak mau diajak kerjasama. Aku harus mengetik di HP, jika ingin melanjutkan naskah kumpulan cerita anak. Baiklah, aku mulai saja. Setidaknya ini akan jadi proses belajar.
Sayang, baru saja icon word kusentuh, satu suara mengalihkan perhatian,
“Mi. Mau minum.”
Maisan sudah memanggil.
Aku lekas berdiri dan menuju dapur. Tempat yang mengingatkanku pada dapur di masa masih di kampung lahir. Dinding bambu, dan alas tanah, serta beberapa perabot yang khas. Bergelantungan di paku yang menancap di bambu.
Dari kamar hanya butuh lima langkah untuk mengambil gelas. Mendekati termos air panas, menyeduh dan menyampurnya dengan air dingin. Kutuang sedikit ke tapak tangan untuk memastikan tidak terlalu panas. Cukup hangat saja.
“Mi…!”
Suara Maisan kembali memanggil. Aku menghampirinya sambil berdoa, semoga semua ini lekas berlalu. Setelah dia minum, kuletakkan gelas di gawangan jendela bercat biru. Cat yang pudar. Tapi, aku tidak ingin memiliki harapan serupa cat itu. Di manapun aku berada, harapan tetap tergantung di tangan-Nya. Selama ada keyakinan, ia selalu ada.
“Mi. Aku mau dipangku.”
Anak berambut lebat itu menyibak selimut, menggeser badan dan mendekat. Aku sempat menempelkan tapak tangan ke keningnya. Panas.
“Aku mau bobok di sini.”
Rabbi…
Ini amanah-Mu.
Kupeluk dia dan membiarkan kedua matanya merapat perlahan. Tidak kupikirkan lagi apakah akan mengetik atau akankah naskah itu selesai. Aku hanya wajib merawat anak saat ini.
Kepala terasa berat. Bagian belakang sudah berdenyut dan badan kaku-kaku. Di pangkuan ada Maisan, dan di sebelah kananku ada Byan, adiknya. Kantuk dan penat bertandang bersama. Kedua mata mulai terasa berat. Persis saat aku hampir lupa ada di mana karena kantuk, Maisan bergerak.
“Mi, aku mau makan.”
Mata yang hampir rapat, lekas kubuka.
Other Stories
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...