Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

Reads
404
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
sebelum ya ( ketika hidup butuh diperjuangkan )
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
Penulis Nenny Makmun

Yogyakarta, Aku Kembali

"Mi, kenapa alimun?"

Senyumku merekah. Dik Byan, masih melafalkan melamun dengan alimun. Tanyanya menjeda ingatan yang sedang singgah di tempat simbah, setengah tahun lalu. Masa di mana kakaknya sakit, dan tidak mau ditinggal sebentar pun.

"Emang, Ummi terlihat sedang melamun?"

"Iya, la itu diem?"

"Oh. Maaf, Adik mau apa?"

"Aku kangen Simbah, Mi."

Demikianlah hidup, saat berpisah dengan abinya, kangen Abi. Sekarang, tidak bersama Simbah, kangen Simbah. Pantas saja saya jadi ingat Allah SWT berfirman,

"Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat." (Q.S. Al-Baqarah: 45).

Cocok dengan kondisi batin kita, saat merindu apa hal yang tidak ada. Tapi, semoga saja kita tidak merindukan harta tanpa usaha. Bila memang harus rindu, maka ada sejumput ikhtiar membersamai doa.

Namun, dalam posisi ini, kurasa bukan perintah sholat yang tepat untuk anak berusia lima tahun itu.

"Kita berdoa, ya, semoga Simbah sehat. Adek jangan banyak-banyak jajannya. Nabung, biar bisa ketemu Simbah lagi."

"Iya deh."

Dia menghela napas panjang. Gayanya menirukan ekspresi tokoh di film kartun anak Ipin-Upin. Gaya yang berubah-ubah ini, tentu mungkin juga membuat simbahnya kangen. Apalagi, beliau memang hanya memiliki satu anak, yaitu suamiku. Maksudku anak yang masih hidup. Berdasar cerita suami, dia dulu punya saudara, tapi meninggal saat masih kecil.

Aku sedikit membayangkan, bagaimana jadi seorang simbah yang jauh dengan cucunya, setelah 5 bulan bersama. Mau bagaimana pun bayangan dalam pikiran menari, tetap saja aku yakin, simbah tetap memilih tinggal di tanah lahirnya--sebagaimana para orang sepuh lain--daripada ikut bersama kami.

Ah, ya. Aku memang akan menuliskan bagaimana cerita, keluarga kecil ini bisa sampai ke kota Pelajar, lagi. Kota yang sudah tujuh tahun kami tinggal bersama, sebelum akhirnya kami ke Madura. Karena yang kami jalani, sampai ada yang bilang, "Mondar-mandir, memangnya enggak pusing?"

Tentu saja aku hanya tersenyum, antara menertawakan diri, dan juga pertanyaannya. Kadang, bukankah dalam hidup, serapi apapun planing peta kita mewujudkan impian, tetap ada hal yang tidak kita inginkan? Dan itulah yang sedang kami alami.

Ada juga pertanyaan lain, dulu, terlontar saat kami baru saja akan ke tanah kediaman 'Bu Bariyah--dalam serial Unyil era 90-an'.

"Gila lu. Gak takut kena santet apa di sana?"

"Loh? Ya enggak ada orang minta bertemu hal yang mengancam, kan?"

"Soalnya sana terkensl dengan itu. Temanku nih, sekeluarga juga baru terbebas dari santet."

Aku tidak menjawab lebih banyak lagi. Yang kutahu, dari perkataan dai kondang masa kecil, "Musuh jangan dicari, kalau ketemu musuh, jangan lari."

Ya...

Minimal anggap saja hal yang tidak kita inginkan serupa musuh, yang bila kita mendapatinya, harus dihadapi, jika tidak ada, enggak perlu minta diadakan.

"Mi, aku mau main, ya?"

"Oke. Kalau azan, pulang, lho."

"Iya, Mi."

Anak berambut ikal itu berlalu. Pikiran ini terjeda dari mengingat-ingat kenang. Angin menelusup membuat suasana 'panas' jadi lebih sejuk. Tempat ini adalah kontrakan kami. Ada di desa Puton, yang sampai saat ini aku sering lupa mengingat RT atau RW nya. Antara RT 6, RW 5, atau RT 5, RW 6. Saat masuk ke desa ini dari arah Jalan Imogiri, ada gapura bertuliskan, 'Putton Hanseo Durian Village.'

Ketika baru melihat tulisan itu, kupikir sedang terdampar di kampungnya Atuk--tokoh kakek dalam Ipin-Upin. Konon, nama Hanseo dan agak keluarluarnegerian itu adalah tanda, bahwa dulu, saat gempa, desa ini mendapat bantuan dari Korea. O, pantas kata 'Hanseo' itu memang bukan kosa kata 'ngayogyakaryto' banget.

Lokasi kontrakan ini juga beberapa kali membuat orang bingung. Pertama seseorang yang tidak kusebut namanya. Dia ke sini saat malam hari. Membawa pesanan buku yang akan kujual lagi. Ahai! Aku mungkin terlambat menuliskan ini. Aku menjual buku-buku yang stoknya ada di teman. Nah, seseorang yang tidak kusebut namanya ini baik sekali. Dia datang untuk mengantar tujuh buku 'reward' dan pesanan buku-buku lain. Mungkin kamu bertanya, buku apresiasi apa itu? Itu adalah tanda terima kasih, ketika kami, timnya menjualkan sekian jumlah buku. Lebih dari lumayan, kan bisa mendapatkan tujuh buku gratis?

Orang bingung kedua yang datang ke sini adalah teman TPY. Temu Penulis Yogyakarta. Karena aku belum izin untuk mempublikasikan namanya, maka aku pun akan menyebutnya seseorang kedua yang tidak kusebut namanya.

Dia datang, bertanya, dan kujawab, "Desa Punggok." Aduh, melafalkannya saja aku belum tentu shohih. Punggok, Ponggok, atau Pungguk (tanpa merindukan bulan). Setelah konfirmasi dengan ibu pemilik warung--yang lokasinya di depan kontrakan kami, ternyata aku keliru memberi informasi. Setelah perbaikan informasi kusampaikan, suara motor pun datang dan sosok yang sudah kukenal--orang kedua yang tak kusebut namanya--muncul.

Aku sengaja menunggu di jalan mini, depan kontrakan. Dia pun membelokkan motor, dan kami beriringan kr arah utara. Sekitar 10 meter dari jalan mini tadi.

Dia masuk, duduk, dan memberikan sesuatu.

"Ini alpukat. Titipan dari Bu Dokter."

Wah, ya maaf, aku tidak menyebutkan nama lagi. Tidak bermaksud membuatmu kesal juga dengan banyaknya tokoh tanpa nama. Dan, bagi yang merasa, lalu tidak disebutkan mamanya, mohon tidak berkecil hati, sebab ini bukan cerpen fiksi, yang tokoh 'lampirannya' tidak perlu disebutkan nama. Semua kulakukan karena belum izin saja. Kalian--semua tokoh yang tidak kusebutkan namanya adalah istimewa.

Asyik mengembarakan pikir, tidak kusadari ada yang datang. Tadi, terdengar langkah kakinya, tapi kupikir itu hanya orang lewat. Ternyata mendekat.

"Bu, anaknya tidak sekolah?"

Suara itu membuyarkan fokus. Bagaimana ya, kujawab pertanyaan ini. Yang tanya itu tahu bahwa anak kami main ke sana-kemari pada jam sekolah. Bersyukur karena beliau pasti tidak kenal nyata dengan Kak Seto. Kalau kenal, mungkin aku dilaporkan. Eh, kenapa jadi buruk sangka?


Other Stories
Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Tukar Pasangan

Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Download Titik & Koma