5. Benda Pusaka
Impian Sang Putri Kamaliah telah menjadi nyata; mendirikan asrama silat untuk anak-anak dan remaja sudah jadi. Saatnya kini bagi sang Guru mengajarkan jurus-jurus jitunya kepada anak didiknya. Jumlah peserta yang ikut mendaftar tidak tanggung-tanggung; lebih dari 300 orang. Dari umur tujuh tahun hingga sampai tujuh belas tahun, bahkan ada seorang perempuan dengan umur 20 tahun.
Sebagai dasar perkenalan dan gerakan dasar dalam silat, akan diajari oleh Lela dan Mila nantinya. Kedua gadis itu tidak kalah hebat dari sang Putri. Sebenarnya, Kamaliah ingin langsung terjun sendiri untuk mengajari anak muridnya, cuma dia masih di istana. Pikirannya masih terbelunggu dengan permasalahan tiga negara, dan seorang pemuda yang belum ia tahu namanya itu pun menjadi ia berpikir keras. Kamaliah belum tahu siapa sebenarnya pemuda yang telah membuatnya merindu selama ini, dan hubungannya dengan Mafia Tagus pun dia tidak tahu. Ada rasa penasaran dalam hatinya, tetapi sang Ayahanda tidak mau memberitahunya. Begitu juga, Irham yang telah ia anggap sebagai abangnya sendiri.
Bukit Kincir kini telah dipadati oleh orang-orang yang hendak masuk asrama. Sanak saudara pun banyak yang hadir untuk mengantar anak dan kerabatnya. Sebelum dimulai perkenalan, setiap anak akan diberikan pakaian seragam warna biru berkombinasikan warna hitam untuk laki-laki dan berkombinasikan putih untuk perempuan. Semua memadai, dan tidak ada sedikit pun yang harus dibawa dari rumah. Semuanya ditanggung oleh Kamaliah, sang Guru.
“Untuk hari ini kita hanya perkenalan saja, ya.” Mila memberitahukan pada semua yang berada di lapangan lapang tersebut. luasnya tanah yang dibeli oleh Kamaliah nyaris sama dengan ukuran mahligainya. Cukup luas.
“Besok kita akan langsung membentuk kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 30 orang. Dan sebelum itu saya akan memanggil beberapa orang untuk menjadi ketua dalam kelompoknya. Sebelum saya yang tentukan, saya harap ada yang mahu dengan keinginan sendiri untuk menghadap saya,” lanjut Mila dengan suara lantangnya.
Seorang gadis paling tua dari semuanya maju untuk mengajukan diri. Parasnya tidak jauh beda dengan tiga dara yang tidak terpisahkan itu. Cantik. “Saya ingin menjadi ketua, Guru,” katanya pada Mila.
Singkat cerita, setelah perkenalan dilakukan dan juga para ketua kelompok terpilih dengan jumlah sepuluh orang. Resmi sudah asrama silat itu dibuka. Pada hari petama tidak banyak yang dilakukan oleh anak-anak tersebut. Hanya memilih bilik sesuai kelompok masing-masing. Selebihnya memilih berkumpul di lapangan. Lela yang sedang menyiapkan berkas untuk diberikan pada Kamaliah, tiba-tiba teringat akan Sang Putri.
“Tak asyik lah, tak ada Tungku,” ucap Lela di sela-sela kesibukannya pada Mila yang kini sedang rehat di sofa kantor asrama.
“Jangan engkau sebut kata ‘tungku’, Lela. Di sini, Kamaliah akan menjadi sama derajatnya dengan kita.” Itu sebenarnya pesan dari Kamaliah. Memang dari dulu Kamaliah tidak ingin orang lain tahu kalau dia adalah Putri Raja yang selalu disebut dengan “Putri Maya” maya karena tidak ada yang tahu akan dia. Bukan tidak tahu. Hanya saja, wajahnya yang tidak diketahui.
“Iya, hmm ... sedang apa ya, Alia?” tanya Lela lagi.
“Paling juga menyendiri di mahligainya,” jawab Mila sembari melihat ponselnya.
“Dan palingan sedang melamunkan bujang nan tampan itu.” Lela benar. Di istana sana, Kamaliah sedang memikirkan Sultan Athmar.
***
Sekelompok laki-laki dewasa dengan gusarnya memasuki halaman asrama milik Kamaliah di Bukit Kincir. Jumlahnya cukup banyak. Mungkin, lebih dari 50 orang. Anak-anak yang sedang latihan pada lari berhamburan. Sebagian ketua kelompok ikut bingung melihat teman-temannya pada lari masuk asrama.
“Ada apa ini?” suara Kamaliah kalah besar dengan suara keributan di luar sana.
“Biar Abang yang melihatnya,” kata Irham.
Kamaliah, Lela, dan Mila ikut ke luar ruangan. Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Ada beberapa orang anak disandra. Tidak hanya itu, mereka mengubrak-abrik tanaman di halaman asrama.
“Kenapa boleh begini jadinya? Mereka itu siapa pula?” kembali Kamaliah bertanya dengan raut muka tidak percaya.
“Mana Guru kalian?!” seorang laki-laki berbadan gemuk maju menuju ke arah tiga gadis itu.
“Tuan, ada masalah apa ini? mengapa gusar sekali?” tanya Irham yang nyaris ditinju oleh seorang laki-laki berbadan besar.
“Kalau kalian suka, bilang! Jangan menjadi seorang pencuri kalian!” teriak laki-laki yang bertanya tadi. Pakaian merekan serba hitam. Baju kaos lengan pendek dengan begitu ketat melengket di badannya.
“Hei, jangan sembarang cakap kau!” Lela dengan beraninya maju. Kini mereka berdua saling berhadapan. Mila tidak menyangka melihat Lela temannya begitu berani.
“Kenapa kalian tidak berbicara dengan baik-baik,” ucap Kamaliah.
“Baik-baik? Pada kalian yang telah mencuri barang berharga milik kami?”
“Jaga cakap kau tu, Tuan!” Irham mulai marah.
“Barang apa yang Tuan maksudkan?” tanya Kamaliah lagi.
“Ah, sudahlah tidak usah banyak tanya kalian semua.” Seseorang yang ditunjuk oleh laki-laki gemuk itu pun masuk ke asrama. “Periksa semua tempat yang ada. Barang itu pasti disembunyikan oleh mereka di dalam sana,” lanjutnya.
“Saya tidak suka seperti ini!” Kamaliah pun berang. “Kami tidak mencuri barang dari Tu—“
“Dapat Bos,” orang yang memeriksa di dalam tadi membawa ke luar satu benda kecil berbentuk pintu gerbang sebuah istana jaman dulu. Dan memtong perkataan Kamaliah.
“Ini buktinya apa, hah?”
“Kami tidak pernah mencurinya.” Kali ini Mila ikut berkomentar. Irham sendiri bingung hendak berbuat apa. Namun, tanpa diketahui seseorang dari mereka telah melukai seorang anak gadis berumur sepuluh tahun dengan pisau bergerigi. Teriakan tangisan anak itu membuat Kamaliah benar-benar berang.
“Kalian telah mencari gara-gara denganku ternyata.” Sebuah tinju menghantam pipi laki-laki yang melukai anak gadis itu.
Tidak butuh waktu lama. Kini dari kedua belah kubu akhirnya berkelahi. Anak-anak sudah diamankan dalam asrama. Kamaliah dengan gesit melawan para perusuh itu. dia benar-benar tidak rela dikatakan pencuri. Terlebih mencuri barang yang dia sendiri tidak tahu itu apa.
Sang Putri melakukan gerakan melayang ke udara, terus berjalan seperti angin di atas pundak-pundak musuh. Mereka yang telah memfitnah Kamaliah tidak diberi ampun. Di sela-sela perkelaian terjadi, Kamaliah kembali bertanya. “KALIAN SIAPA?!” dengan suara yang cukup besar membuat sebagian berhenti melakukan gerak bela dirinya.
Dan tiba-tiba gadis berumur 20 tahun yang bernama Anisa ini pun ikut membantu gurunya. Lela dan Mila mampu menghabisi dua puluh orang. Irham pun menghajar mereka habis-habisan. Laki-laki gemuk tersebut melihat keadaan yang merugikan akhirnya memilih untuk berhenti berkelahi. Namun, pihak Kamaliah tidak mau berhenti. Mereka—yang entah dari mana—telah berani memfitnah seorang Putri Raja, dan itu sama halnya dengan tidak menghormati Yang Mulia Sultan dari Kerajaan Indera.
“Wahai Tuan, Tuan,” Anisa maju beberapa langkah. “Guru dan kami semua yang ada di asrama ini tidak mencuri barang Tuan, Tuan. Jadi, tolong sekarang minta maaflah pada Guru kami!” lanjutnya diiringi dengan seruan “iya” dari beberapa ketua kelompok yang ikut membantu menyelamatkan gurunya.
“Hei, anak dara. Ini sudah ada buktinya di tanganku. Apa lagi? Sudah jelas-jelas kalian telah mencuri benda pusaka kami. Benda yang sangat berharga bagi Tuan kami. Aku tidak percaya, seorang artis nan cantik bisa-bisanya mencuri.” Panas hati Kamaliah mendengarnya. Langkah cepat dari Kamaliah mampu memiting batang leher laki-laki gemuk itu.
“Siapa Tuan kalian? Dan dari mana asal kalian semua ini?!” Kamaliah rasanya ingin mematahkan leher laki-laki tersebut.
“Sudahlah, lebih baik kalian mundur saja. Kerana kalau tidak, nyawa kalian semua akan hilang di tangan kami.” Irham melepaskan tangan Kamaliah yang menjepit batang leher orang yang telah memfitnah mereka. “Lagian benda tersebut sudah kalian temukan. Kami tidak mengambilnya, dan kami tidak tahu mengapa benda itu ada di asrama kami,” lanjut Irham.
“Tolong Tuan semuanya pergi dari tempat ini. Sebelum kami mengambil tindakan yang lebih berbahaya dari perkelahian ini.” Perkataan Mila membuat ketua gerombolan itu mundur. Bukan apa-apa, dia tidak ingin mati sia-sia. Lagian tugasnya sudah selesai.
“Baiklah, kami akan pergi dari sini. Tetapi nanti Tuan kami yang akan ke sini untuk melihat langsung siapa yang mencuri benda pusaka miliknya.” Kamaliah ingin menghajarnya kembali. Namun, ditahan oleh Irham.
Kejadian yang tidak pernah dipikirkan oleh Kamaliah terjadi begitu saja. Apa ini cobaan pertamanya dalam mendirikan asrama silat? Padahal, masih baru beberapa bulan ia mendirikan asrama di Bukit Kincir. Benda pusaka? Kenapa benda itu boleh berada di sini? Dan, mereka siapa? Pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Kamaliah. Irham yang sedang membersihkan halaman asrama merasa ada yang aneh dengan kejadian yang baru terjadi. Lela dan yang lainnya membantu anak-anak mengobati luka mereka, karena ada beberapa orang yang ikut membantu malah membuat mereka sendiri terluka.
“Bang Irham,” panggil Kamaliah disela-sela membersihkan halaman. “Kau tahu mereka siapa?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Irham singkat.
“Hmm ... benda pusaka itu kenapa ada di sini? Nanti tolong kumpulkan semua anak-anak di dewan asrama. Saya ingin tahu permasalahan ini.” Kamaliah berlalu setelah menyuruh Irham untuk kumpulkan semua orang yang ada di asrama.
***
Hari telah gelap. Senja baru saja berlalu. Semuanya berkumpul di aula asrama setelah salat Magrib berjamaah. Terdengar percakapan di antara mereka tentang kejadian kemarin. Tiga dara dengan baju hampir sama memasuki ruangan yang lumanyan luas itu. semua yang ada di sana menjadi diam. Hening. Ketiganya duduk di sofa yang telah dipersiapkan. Sedangkan yang lain duduk lesehan di depannya. Irham yang baru saja tiba ikut duduk, dengan tatapan dingin. Begitu banyak yang harus dilakukan laki-laki itu belakangan ini. Yang Mulia Sultan memberikan tugas padanya perihal senjata yang diberikan oleh Mafia Tagus. Dan sekarang kejadiin ini pun mengganggu pikirannya.
“Saya nak tahu kenapa benda pusaka tersebut boleh ada di sini?” pertanyaan Kamaliah memecahkan kesunyian. “Tolong bagi tahu saya,” pintanya.
Semuanya masih dalam keadaan diam. “Tak usah takut.” Lela memandang wajah-wajah resah dari mereka di depannya. “Katakan saja apa yang kalian ketahui.”
“Ya, cakap saja. Saya hanya sekadar ingin tahu.”
Seorang anak perempuan yang berumur delapan tahun mengankan tangan kanannya. Ada yang hendak ia katakan. “Ya, Adik kecil. Adakah yang hendak kau beritahu pada gurumu ini?”
“Iya, Guru. Tiga hari yang lalu saya melihat sekelompok orang berada di atas tower yang ada di samping asrama,” ungkapnya.
“Apa sekelompok orang yang sama seperti kemarin itu?” Lela yang bertanya.
“Benar Guru.”
“Terus ada yang tahu siapa yang membawa benda pusaka itu ke sini?” Kamaliah benar-benar ingin tahu.
“Kalau menurut apa yang dikatakan Nada, sepertinya kita dijebak oleh mereka Guru.” Kamaliah dan lainnya berpikiran yang sama seperti Anisa. Ada yang sengaja menjebaknya dan memfitnah dia. Tetapi buat apa? Apa mereka mempunyai asrama silat juga, makanya takut tersaingi? Entahlah.
Benda pusaka dengan ukuran mini berbentuk seperti bukit itu membuat Kamaliah tidak habis pikir. Bentuknya cantik dengan dibalut kuning emas. Dia jadi ingin tahu siapa yang dimaksud “tuan” oleh laki-laki gemuk kemarin. Benda yang unik, pikirnya.
“Baik, sekarang lebih baik kalian semua rehat. Esok seperti biasa kita akan latihan. Dan esok mungkin kalian akan diajarkan oleh Guru Mila dan Irham.” Semuanya memberi hormat dan berlalu meninggalkan aula.
“Bagaimana Alia?” Irham masih melihat rawut wajah yang tidak menyenangkan dari diri Kamaliah.
"Entah, saya rasanya ingin berjumpa dengan pemimpin mereka. Dan saya masih tertanya-tanya, bagaimana mereka boleh membawa masuk benda pusaka itu ke asrama yang begitu ramai ini? "
“Maaf Guru,” seorang anak laki-laki menhampiri mereka.
“Syauqy, kenapa masih di sini?”
“Maafkan saya, Guru,” katanya lagi.
“Maafkan kenapa? Ada masalah apa, Syauqy?”
“Benda itu ... benda itu saya yang membawanya ke asrama Guru.” Syauqy menundukan kepalanya, ada rasa menyesal di sudut hatinya.
“Bagaimana bisa?” Irham bertanya.
“Ada seorang Tuan memberikannya pada saya. Katanya saya boleh memiliki benda tersebut, karena cantik saya terima begitu saja.” Terjawab sudah keingintahuan Kamaliah tentang bagaimana benda itu bisa berada dalam asrama.
“Yasudah, tidak apa-apa Syauqy. Kau tidak bersalah. Laki-laki yang memberikanmu benda tersebut yang jahat. Jadi kau tidak usah resah,” kata Kamaliah. “Sekarang pergilah menuju bilikmu, dan rehatlah.”
“Terima kasih Guru.” Anak laki-laki itu pun meninggalkan ruangan.
“Liciknya mereka.”
“Iya, benar Mila. Sungguh licik.” Lela dan Mila saling tatap, dan sekilas melihat wajah Kamaliah yang masih memikirkan banyak hal.
“Lela, besok kau temani saya, ya. Dan ajak Anisa juga.”
“Kemana, Tungku?”
“Lela,” panggilan dari Mila mengingatkan Lela satu hal.
“Sorry, lupa Mila.”
“Pokoknya kau turut saja mahu saya, Lela.”
“Siap komander!” Irham tersenyum melihat tingkah Lela, dan Mila harus menahan napas melihat senyuman Irham.
Other Stories
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Test
Test ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...