Balada Cinta Kamilah

Reads
1.7K
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Putri N. Akhla

8. Antara Cinta Dan Benci

Penyesalan memanglah selalu datang terlambat dan kini tidak ada yang bisa dilakukan oleh Kamaliah, sudah sebulan lebih semenjak kejadiaan yang tidak terlupakan. Kejadian di mana dia membanting dengan kuatnya tubuh laki-laki yang sangat ingin ia miliki. Kejadian di mana dia memilih mengurung diri di mahligainya. Sudah hampir sebulan juga Putri Diraja ini tidak berada di asrama silatnya. Ya, mana mungkin dia mau ke sana. Bayangan-bayangan tentang Athmar sangat jelas terlihat setiap kali ia berada di halaman asrama. Bak putus cinta Kamaliah benar-benar ‘hidup segan mati tak mau’ untuk sekarang ini. Lela, Mila, dan juga Irham sudah habis banyak cara dilakukan agar Putri dari Rajanya kembali seperti dulu; ceria dan selalu dalam keadaan yang mengasyikkan. Sang Sri Maharani pun tidak mampu berbuat apa-apa untuk anandanya.
“Alia, masih belum keluar dari mahligainya kah, Irham?”
“Belum, Baginda Yang Mulia. Tetapi, hari ini: Lela, Mila, dan hamba akan mengajak Tuan Putri untuk jalan-jalan.”
“Baguslah kalau begitu.”
***
Tuan Putri Diraja bosan juga hanya duduk di mahligainya. Rasa rindu yang semakin menggunung pun membuatnya harus kuat. Sekarang bukan saatnya lagi untuk dia bersedih hati hanya karena penyesalan. Sekarang saatnya bagi Kamaliah mengungkapkan isi hatinya. Ya, ia akan mencari Athmar walau harus ke Kutaradja sekali pun.
“Aku ingin menemui Athmar, Bang.” Irham memandan Kamaliah tidak percaya.
“Aku ingin menemuinya!” Kamaliah mengulang ucapannya.
“Dia kemabali ke Kutaradja. Banyak hal yang harus dia lakukan di sana. Lagian sikap dari Mafia Tagus membuatnya berang. Bisa jadi dalam waktu ini kita akan kembali berperang dengan Kutaradja.”
“Tapi, saya nak jumpakan dia.” Kamaliah menundukkan kepalanya. Ada tetesan air mata jatuh membahasahi kerudungnya.
Irham tidak tega melihat Kamaliah sedih seperti itu. “Oke, esok kita tumui Athmar di Kutaradja.”
“Sekarang!” pinta Kamaliah.
“Tak bisa esok hari?”
“Tidak.”
“Hmm,”—Irham berdiri—“bagaimana kalau Baginda Raja Tahu?”
“Ya, jangan sampai Ayahanda tahu.” Kamaliah ikut berdiri.
“Kalian mengerti maksudnya, ‘kan?” Irham bertanya pada Lela dan Mila yang dari tadi bersama mereka.
“Siap Tuan Irham. Kami akan mempersiapkan semua keperluan Tuanku Putri.”
Mereka berempat pun pergi meninggalkan Negera Indera untuk sesaat. Kamaliah benar-benar ingin berjumpa dengan laki-laki yang telah membuatnya karu. Pada sore hari mereka sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda. Itu kali pertama Putri Kerajaan Indera menginjak kakinya di tanah Kutaradja. Tidak ingin membuang waktu percuma, mereka pun bergegas ke rumah Athmar.
***
Begitu terkejutnya Athmar melihat Kamaliah dengan tiga orang lainnya berada di halaman rumahnya. “Irham, ada apa gerangan ini?”
“Maafkanlah kami, Kawan. Tidak memberitahukanmu sebelumnya karena ini tidak direncanakan.”
“Masuklah dulu. Tapi ... hmm, aku tidak ingin dia menginjak kakinya di rumahku Irham.” Athmar menunjuk ke arah Kamaliah. Dan itu sebenarnya hanya gurauan saja. Athmar ingin melihat reaksi dari gadis yang telah membanting tubuhnya itu. Namun, tanpa disadari Kamaliah duluanlah yang memasuki rumah dengan cat putih tersebut. melihat keadaan itu, Athmar hanya tersenyum.
“Ada maksud apa ini, Irham?”
“Kamaliah ingin bertemu dengamu, Athmar.”
“Wah, untuk apa? Jangan bilang Cik Shazana jauh-jauh dari Indera ke sini untuk membanting tubuhku lagi.” Ucapan Athmar membuat Lela ketawa dan langsung berhenti saat Kamaliah memandanginya tajam.
“Sebegitunya Tuan membenci saya?” tanya Kamaliah.
“Tidak juga, cuma saya takut tulang saya akan remuk kalau Cik Shazana memukul saya lagi,” guraunya.
“Saya ke sini bukan untuk memukulmu. Huh, kenapa laki-laki itu susah sangat mau mengerti.”
“Hah? Eh, sebentar. Irham kau kenal Cik Shazana ini sudah lama? Di mana?” Irham hanya tersenyum dengan pertanyaan Athmar.
“Saya nak cakap bedua saja denganmu,” pinta Kamaliah serius. Anggukan dari Irham pada Athmar membuat pemuda Kutaradja ini mengerti.
“Sepertinya serius sangat. Baiklah, mari ikuti saya.”
Kamaliah dan Athmar yang berada tidak jauh dari tempat Irham dan kedua gadis Indera mencoba untuk berbicara. Kali ini pembicaraan dari hati ke hati akan dimulai.
“Ada apa jauh-jauh ke mari? Apa yang hendak Cik Shazana mau dari saya?”
“Maafkan saya,” kata Kamaliah pelan.
“Apa?” Athmar mendengarnya dengan jelas, tetapi ia sengaja ingin mendengarnya lagi.
“Maafkan saya!” dengan lantang Kamaliah mengulang katanya.
“Wah, baru sekarang minta maafnya.” Tidak sampai hati Athmar melihat tatapan sendu Kamaliah. “Sebelum Cik Shazana meminta maaf, saya sudah memaafkan. Memang iya, saya sangat kecewa dengan sikap Cik Shazana. Tetapi ya, kita sebagai manusia kan, harus saling memaafkan. Ya, ‘kan?” senyum itu ... ah, Kamaliah tidak lepas memandang laki-laki di hadapannya.
“Cik Shazana,” Athmar mengagetkan gadis di depannya. “Saya terlalu tampan kah, untuk dipandangi seperti itu?” lanjut Athmar.
“Apa sih,” malunya Putri Raja ini.
“Terima kasih, Cik pernah menolong saya dulu. Dan terima kasih sudah mau datang ke sini jauh-jauh.” Kamaliah kembali memandang Athmar.
“Sekarang kita baikan?”
“Ya, tergantung Cik Shazana saja.”
“Saya nak jadi kawan Tuan. Boleh?”
“Lebih dari itu pun boleh sangat.” Keduanya pun saling menarik garis bibir masing-masing.
“Betul, kah?” Kamaliah tidak menyangka.
“Tapi, ada syaratnya.”
“Apa?”
“Jangan Panggil saya dengan sebutan ‘tuan’.”
“Dan jangan pula memanggil saya dengan sebutan ‘cik’.”
Mereka berdua pun tersenyum. Senja yang tak terlupakan. Rindu yang menggunung sedikit banyak sudah terobati. Dari beranda rumah Athmar tiga pasang mata yang melihat mereka berdua pun ikut bahagia.
“Beneran, ‘kan?” Kamaliah masih tidak percaya.
“Iya, Adinda. Beneran.”
“Janji?”
“Iya, janji. Hmm, boleh ‘kan, saya memanggilmu dengan sebutan ‘adinda’? Kamaliah hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.
***
“Tuanku Putri, kita punya masalah besar.” Lela tergesa-gesa menghampiri Kamaliah yang sedang membereskan barangnya yang hendak balik ke Negeri Indera.
“Masalah apa lagi?”
“Baginda Yang Mulia Sultan Murtaza, Tuanku.”
“Kenapa dengan Ayahanda?”
“Ayahanda?” Kamaliahaget bukan main melihat Athmar yang kini berada di hadapannya. “Adinda adalah seorang Putri Diraja? Anandanya Yang Mulia Sultan Murtaza? Seorang Putri Diraja yang tidak pernah mau orang lain tahu sosok dirinya?” begitu banyak pertanyaan dari seorang Athmar. Dia tidak pernah melihat sosok Kamaliah sebelumnya di dalam istana, mereka yang hanya bertemu saat Kamaliah menolong di Bukit Kincir. Irham mendengar suara Athmar yang meninggi pun menghampiri.
“Oh, pantaslah seorang pemimpin dari pengawal kerajaan selalu setia ke mana pun dan di mana pun gadis ini berada,” kata Athmar lagi sembari melihat ke arah Irham tajam.
“Memangnya kenapa kalau saya ini Putri Raja, Kanda?”
“Jangan panggil aku ‘kanda’!”
“Kau telah berjanji kemarin sore,” kata Kamaliah pelan.
Ini masalah yang lebih sulit dari sekadar salah paham bulan lalu. Bagaimana tidak, Kerajaan Indera dan Kutaradja—khususnya Athmar sendiri—tidaklah baik dari keduanya. Kekisruan yang telah lama—bahkan bertahun-tahun—tidak pernah berangsur membaik. Dan Athmar sangat yakin kalau Yang Mulia Sultan Murtaza Syah tidak akan mengizinkan anaknya menjalin hubungan dengannya. Sebenarnya, laki-laki itu sangat ingin memperistrikan Kamaliah. Namun, niat baik itu tidak akan berjalan mudah.
“Lebih baik kalian tinggalkan tempat ini. Aku tidak ingin pengawal istana menyerbu rumahku hanya karena seorang gadis.”
“Baru kemarin kau berjanji denganku. Kenapa sekarang seperti ini?” bola mata Kamaliah berkaca-kaca.
“Percuma aku katakan beribu kata cinta padamu, Alia. Mengertilah dengan keadaan ini! Kita tidak akan pernah bisa bersatu.”
“Lebih baik kita pulang, Alia,” ajak Irham. “Tidak baik untuk Athmar kalau sampai Yang Mulia memerintahkan pengawal kerajaan untuk menjemputmu di sini.”
“Iya.” Athmar merasa sedih melihat gadisnya berlinang air mata. “Untuk kebaikan kita, lebih baik sekarang Alia pulang.”
Athmar tidak menyangka harus seperti ini. Pupus sudah harapannya ingin memiliki Kamaliah. Padahal, baru kemarin hubungan membaik dan mereka belum sempat mengutarakan isi hati masing-masing walau tahu bagaimana perasaan dari keduanya. Mereka yang saling jatuh cinta tidak selamanya harus mengungkapkan isi hati karena dengan tanpa memberitahukan, mereka akan tahu dengan merasakannya. Kamaliah tahu isi hati Athmar, begitu pula sebaliknya. Namun, keinginan untuk mengungkapkan pasti ada dari keduanya.

Other Stories
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Download Titik & Koma