Balada Cinta Kamilah

Reads
1.7K
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Putri N. Akhla

9. Tahanan Kota

 “Siapkan pasukan, dan hubungi para Mafia Tagus! Cepat!” Yang Mulia Sultan Murtaza berang.
“Siap, Yang Mulia.” Pengawal kerajaan langsung bergegas melaksanakan perintah Yang Mulia.
“Sultan Athmar Alamsyah, kau benar-benar mencari gara-gara denganku.”
Pasukan telah disiapkan. Pesawat tempur pun telah siap. Senjata berbagai macam milik Mafia Tagus dari Barat ikut dibawa. Baginda Yang Mulia benar-benar ingin membunuh pemuda yang telah membawa anak gadisnya. Selama ini mereka kisruh perihal Negara. Namun, kali ini karena Sultan Athmar yang mencintakan Kamaliah dan sebaliknya.
Baginda Yang Mulia Sultan Murtaza Syah, telah siap untuk pergi ke Kutaradja, menjemput anandanya. Sebenarnya, beliau telah mengetahui kalau saat ini Kamaliah dan tiga orang lainnya telah menaiki pesawat untuk kembali ke Negeri Indera. Namun, karena asutan dari Alfonso yang katanya, “Sungguh tidak tahu diri Sultan Athmar itu, berani-beraninya dia membawa Putri Diraja begitu saja.” Dengan begitu Baginda Yang Mulia pun semakin gusar.
Tidak butuh waktu lama. Sembari pengawal menyiapkan semua alat yang ingin dibawa, Sang Putri bersama ketiga orang yang mengawalnya telah sampai ke istana. Waktu yang tepat. Mereka sampai saat Yang Mulia Sultan dan rombongan pasukannya sedang berjalan menuju pintu gerbang istana.
"Ayahanda hendak ke mana?" tanya Putri Kamaliah yang baru saja sampai dari Kutaradja. Dia sebenarnya tahu hendak ke mana Ayahandanya. “Kenapa begitu banyak pasukan kerajaan di sini?”
“Kami hendak menuju Kutaradja Tuan Putri.” Alfonso yang berdiri di samping Yang Mulia Sultan tersenyum kepada Sang Putri.
Putri Diraja yang melihat tingkah Alfonso memandang tajam tidak suka. “Untuk apa Ayahanda ke sana? Bukankah, ananda sudah berada d sini?”
“Ayahanda nak kasihkan pelajaran buat Athmar. Dia sudah berani membawa ananda.”
“Benar sekali Tuan Putri. Athmar itu harus mati! Dia tidak pantas untuk hidup di dunia ini.”
“Saya tidak cakap dengan Anda, Tuan. Jadi tolong jangan menambah berang saya terhadap Anda.”
“Ananda, mengapa cakap tak elok macam itu?”
“Ayahanda,”—Kamaliah mengembuskan napas beratnya—“dengarkanlah cakap ananda dulu, dan mari kita ke singgasana Ayahanda. Tidak baik cakap di sini.”
“Benar, Yang Mulia Sultan. Biarkan kami dan khususnya Tungku Alia menjelaskan semua apa yang telah terjadi.” Irham mencoba ikut bicara.
“Kita tidak banyak masa Yang Mulia.” Alfonso sepertinya tidak sabar ingin menghabisi nyawa Athmar.
“Diam kau, Tagus!” Kamaliah benar-benar marah. “Ayahanda, tolong dengarkan ananda.”
“Ananda kenapa macam itu? Tak baiklah.”
“Buat apa Ayahanda ke sana? Tuan Athmar tidak bersalah.”—Kamaliah melihat Alfonso dengan nanar, sambil menunjuk—“Yang salah itu, dia!”
“Apa pula ini? Apa pasal Tuan Alfonso yang salah.”
“Benar, Yang Mulia Sultan. Tuan—“
Irham ingin menjelaskan namun dipotong oleh Kamaliah. “Biar Alia saja, Bang,” katanya sembari memegang lengan Ayahandanya dan mengajak untuk masuk Istana. “Tuan Alfonso itu yang salah Ayahanda. Percayalah!” Kini Kamaliah berbicara dengan nada pelannya.
“Apa bukti dia salah?” Alfonso yang mendengar percakapan itu pun sedikit takut.
Sambil melirik ke arah Mafia Tagus itu, Kamaliah kembali berkata dengan nada tegas dan cukup jelas di dengar oleh Alfonso. “Tuan Alfonso sudah mengadu-dombakan saya dengan Tuan Athmar. Dia menuduh saya mencuri benda pusaka miliknya, yang sebenarnya itu adalah benda palsu yang sama persis bentuknya dengan milik Tuan Athmar.” Yang Mulia Sultan Murtaza Syah kaget mendengar penjelasan dari anandanya.
“Tidak hanya itu saja, Ayahanda. Niat mereka memanfaatkan saya sebagai Putri Diraja agar dapat dengan mudah bagi mereka untuk menyerbu Kutaradja. Apalagi, Tuan Athmar yang sangat ingin mereka penggal kepalanya,” lanjut Kamaliah.
Hari itu di perkarangan istana, Sang Yang Mulia Sultan begitu berang melihat Alfonso. Tidak menyangka dia sebagai Diraja Negeri Indera dimanfaatkan untuk menyerang Kutaradja. Dengan cepat pula diperintahkan pada pengawal kerajaan untuk menahan para Mafia Tugas. Khususnya Alfonso yang begitu licik pikirannya.
Kini selesai sudah satu masalah yang terbelenggu pikiran Kamaliah. Namun, masalahnya belum selesai. Masalah dengan Athmar pun harus diselesaikan sekarang juga. Dia tidak ingin kehilangan orang yang sangat dicintai. Mencintai laki-laki beda negara dan juga—sebelumnya—menjadi musuh bubuyutan dari keluarganya memanglah tidak mudah untuk dijalani. Masih ada rasa tidak yakin kalau Ayahandanya akan merestui hubungannya dengan Athmar. Ingin sekali ia utarakan isi hatinya kepada Sang Ayahanda, tetapi melihat keadaan Yang Mulia Sultan saat ini dia mengurung niatnya untuk berbicara. Mungkin besok adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hati Putri Diraja ini.
***
Dua hari berlalu semenjak para Mafia Tagus diusir dari Kerajaan Indera, hanya tinggal Alfonso saja yang menjadi tanahan kerajaan. Dan ini akan dimanfaatkan oleh Kamaliah untuk berbicara dengan Yang Mulia Sultan Murtaza Syah perihal dia dan Sultan Athmar. Dengan dikawal oleh Irham, Lela, dan Mila, Sang Putri pergi menuju singgasana Ayahandanya.
Sesampai di singgasana ia melihat Ayahandanya sedang duduk termenung seorang diri. “Wahai Ayahandaku, ada apa gerangan termenung seperti itu sorang diri.”
“Ah, ya Ananda. Ada keperluan apa Ananda menjumpai Ayahanda di sini?”
“Mmm ... Ananda nak cakap dengan Ayahanda. Boleh tak?”
“Mahu cakap apa Ananda?”
“Perihal Tuan Sultan Athmar.” Ada rasa segan menyebut nama pemuda dari Kutaradja tersebut.
“Kenapa dengannya? Ada hal apa lagi?”
“Bukankah, lebih elok kita meminta maaf kepada Tuan Sultan Athmar Ayahanda?”Kamaliah berjalan mendekat ke Ayahandanya. “Beliau sudah menolong Ananda saat di asrama. Tuan Sultan yang telah mencari tahu dalang yang sebenarnya saat Ananda dituduh mencuri benda pusaka.” Kamaliah menjelaskan kepada Baginda Yang Mulia.
“Maaf Yang Mulia Sultan Murtaza, mungkin sudah waktunya bagi kita tidak lagi menaruh dendam kepada Tuan Sultan Athmar Alamsyah.” Irham pun ikut bicara. “Karena yang sebenarnya salah adalah para Mafia Tagus, kejadian di Bukit Kincir itu merekalah dalangnya. Dan saat dua hari yang lalu kami pergi ke Kutaradja itu adalah hanya untuk meminta maaf langsung kepada Tuan Sultan Athmar karena Sang Putri sempat berang kepada Tuan Sultan Athmar,” lanjut Irham.
“Siapkan surat permintaan maafku untunya, Irham.”
“Apa kita tidak ke sana saja?” tanya Kamaliah.
“Suruh mereka sahaja yang menghadap ke sini, ada sesuatu yang hendak aku berikan—tanda taklukku pada Sultan Athmar.”
“Baik, Yang Mulia Sultan.”
Ada sekelumit kebahagian di hati Kamaliah. Ayahandanya tidak lagi menaruh dendam kepada Sultan Athmar, tetapi bagaimana dengan hubungannya? Akankah, Ayahandanya merestui hubungan mereka? Namun, bagaimana isi hati Sultan Athmar Alamsyah saat ini? Apa dia benar-benar mencintakan Kamaliah?
***
Rindu itu kembali hadir dari sosok pemuda pemberani untuk seorang Putri Diraja nan jauh di sana. Hanya beberapa hari saja tidak bertemu rasa itu kembali bermain-main di hatinya. Rindu memang suatu rasa yang sangat tidak mengasyikkan. Apalagi, kalau tidak ada penawarnya. Memendam rindu tanpa pernah berkurang sama halnya dengan mengunyah biji langsat. Pahit. Namun, hari ini Sultan Athmar Alamsyah telah berada di Negeri Indera. Dia sudah menerima surat dari Yang Mulia Sultan seminggu yang lalu. Bertemankan Ahmad Rayyan kini dia telah berdiri di hadapan Yang Mulia Sultan Murtaza.
“Terima kasih, engkau telah menerima undanganku untuk datang ke istana.” Yang Mulia membuka pembicaraan di antara mereka.
“Sungguh senang hati hamba, Yang Mulia tidak lagi marah terhadap hamba. Dan terima kasih pula sudah mengundang hamba ke istana ini.”
“Aku mengaku salah padamu, Sultan Athmar. Tidak pernah terpikirkan olehku kalau Alfonso ternyata memanfaatkanku untuk membunuhmu.”
“Ya, lupakan saja masalah itu wahai Yang Mulia. Bukankah, lebih baik kita memikirkan hal yang baik-baik saja?”
“Benar. Tujuanku mengundangmu adalah untuk memberikan apa pun yang kau inginkan. Sebagai rasa bersalah dan taklukku padamu.”
“Apa pun itu? Benarkah wahai Yang Mulia?” Sultan Athmar tidak menyangka.
“Iya, benar. Apa yang hendak engkau minta?”
“Kalau apa pun yang Yang Mulia katakan, hamba ingin Sang Putri beserta tiga orangnya menjadi tahanan kota di Kutarajda sana.”
“Apa? Tahanan kota?” Sang Putri yang baru saja terkejut mendengarnya.
“Oh, maaf Tuanku Putri. Apa permintaan hamba ini tidak boleh? Bukankah, hamba diizinkan untuk meminta apa pun itu?”
Keadaan di dalam istana sedikit menegangkan. Yang Mulia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sudah memberi izin untuk Sultan Athmar meminta apa pun yang dia inginkan.
“Boleh, asalkan kau jaga baik-baik anandaku.”
Senangnya hati Sang Sultan Athmar. “Terima kasih wahai Yang Mulia.”
“Ayahanda, mengapa Ayahanda menyetujui permintaannya? Saya tidak mahu menjadi tahanan kota di Kutaradja. Terlebih ... ah, Ayahanda saya tak nak.”
Melihat sikap Kamaliah seperti itu, membuat Athmar tersenyum. Sedikit terobati rindu yang ada saat melihat gadis di hatinya kini ada di hadapannya. “Apa Tuanku Putri tidak suka tinggal di Kutaradja?”
“Bukan tak nak tinggal di Kutaradja. Huh, kenapa pula Kanda jadikan saya sebagai tahanan? Bukankah, seharusnya Kanda melamarkan saya saat ini?” Alia cakap apa pula kau ini, batinnya.
“Melamar? Hamba tidak terpikir ke situ.” Athmar kembali menahan tawanya.
“Bukankah, Kanda cintakan saya?” Kamaliah sepertinya lebih rindu ketimbang Athmar. Dia tidak peduli sedang berada di mana saat ini. Irham, Lela, dan Mila hanya bisa melihat dan mendengar saja. Begitu pun Yang Mulia hanya melihat anandanya sepertinya sangat menaruh hati kepada pemuda Kutaradja itu.
“Maafkan hamba Yang Mulia, sepertinya hamba harus pamit. Ada banyak hal yang harus hamba kerjakan.” Athmar tidak menggubris Sang Putri.
“Baiklah, akan kuserahkan Shazana Syafara Kamaliah dan beserta tiga orang yang berada di belakang sana untuk kau bawa, Athmar. Tetapi ingat. Jangan kau sakiti mereka, terlebih kepada anakku. Namun, aku akan lebih senang bila menjadi Ayah mertuamu.”
“Terima kasih wahai yang mulia telah menerima permintaan hamba.”
Sultan Athmar sangat bahagia akhirnya bisa membawa Kamaliah ke Kutaradja. Menjadi tahanan kota sebenarnya tidak terlalu menakutkan karena itu hanya sebagai ungkapan saja. Di sana mereka akan menjadi tamu istimewa. Hanya saja, mereka harus menetap dan menjadi rakyat Kutaradja. Kamaliah mau tidak mau harus ikut dengan Athmar karena dengan demikian setidaknya dia bisa berada di sisi laki-laki yang sangat ia cintai.

Other Stories
Tukar Pasangan

Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Sayonara ( Halusinada )

Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...

Download Titik & Koma