Nyanyian Hati Seruni

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Diana Yana

6. Pelabuhan Belawan

Setelah beberapa kali mengalami pengunduran jadwal keberangkatan, akhirnya datang juga berita A1 (pasti) keberangkatan pasukan. Sebetulnya berita itu tidak dinantikan oleh personil, khususnya bagi personil yang sudah berkeluarga. Karena jika mereka jadi berangkat artinya mereka akan berpisah dengan istri dan anak-anaknya untuk waktu yang tidak sebentar. Meski dalam surat penugasan hanya 10 bulan di tempat, namun mendengar cerita dari pasukan yang pernah tugas di sana biasanya tidak tepat waktu dengan berbagai macam alasan. Kendala itu bisa berupa armadanya yang mengalami kerusakan, pasokan bahan bakar yang terlambat datang, hingga faktor cuaca yang tidak bagus.
Seperti ibu-ibu yang lain, sudah sejak pagi Seruni sibuk di dapur menyiapkan bekal lauk kering untuk dibawa Pras sebagai lauk yang bisa disantap di perjalanan nanti, karena perjalanan ke Pulau Irian Jaya memakan waktu yang cukup lama. Bisa sampai setengah bulan, tergantung cuaca, ketersediaan bahan bakar, kondisi kapal dan faktor cuaca yang tidak mendukung. Meski saat itu ia sedang merasakan nyidam tidak tahan bau-bauan bumbu masakan, namun demi suami tercintanya, Seruni menahan rasa mualnya agar tetap bisa memasak beberapa jenis masakan.
Sebetulnya Pras sudah melarang tapi Seruni tetap bersikeras ingin melakukannya. Karena di kapal tentunya menunya bisa jadi kurang rasa. Menjelang petang semua masakan akhirnya selesai juga. Ada rendang kering daging sapi, ada makanan khas masyarakat di sini yaitu kering teri medan yang merah dan pedas kesukaan Pras, tak lupa ayam goreng kalasan masakan favorit Pras. Malam ini Pras berangkat duluan ke Pelabuhan Belawan bersama personil yang akan bertugas, sementara Seruni dan ibu-ibu baru akan berangkat dini hari besok, untuk mengantar suami ke medan tugas.
Meski sejak menikah beberapa waktu yang lalu Seruni sudah menyiapkan batinnya, mentalnya harus siap bila tiba-tiba mendadak harus ditinggal Pras ke daerah operasi, namun berita yang didapatnya sehari yang lalu dari Pras sempat membuat hatinya bersedih, apalagi ini pengalaman pertamanya ditinggal tugas ke daerah operasi dan dia harus tinggal di sini tanpa sanak saudara dalam kondisi hamil pula.
“Sanggupkah aku di sini sendiri tanpa Pras, tanpa ada saudara? Sedang saat ini aku sedang hamil. Bagaimana jika aku melahirkan nanti, siapa yang akan membantuku nanti?” begitu Seruni membatin saat menerima berita itu.
Ia ingat pesan dari Danyon saat menghadap beliau, istri harus mampu memberi semangat kepada suaminya dalam situasi seperti ini, jangan justru menjadi beban dengan berkeluh kesah. Itu sebabnya Seruni tidak mengungkapkan perasaannya kepada suaminya, dia tidak ingin Pras merasa tidak enak hati meninggalkan Seruni di tempat ini seorang diri, apalagi dalam kondisi hamil. Ia ingin menunjukkan bahwa ia cukup tegar menghadapi kepergian Pras, ia justru meyakinkan Pras agar jangan mengkhawatirkan dirinya.
Malam itu usai salat isya, daerah perumahan terasa sangat sunyi, rumah-rumah tiba-tiba senyap, pintu-pintu rumah kebanyakan ditutup rapat, mungkin mereka ingin menikmati waktu yang tersisa bersama istri dan anak-anaknya yang beberapa saat lagi akan berangkat. Demikian pula dengan Pras, ia bersama Seruni duduk di ruang tamu, sambil minum teh dan pisang goreng buatan Seruni, Pras menyempatkan rileks sejenak sebelum berangkat, masih ada waktu dua jam lagi.
“Mas, di sana harus selalu waspada dan hati-hati, sama anggota juga harus memimpin dengan bijak, jangan lupa salat ya Mas,” pinta Seruni kepada Pras, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Pras.
“Tentu Sayang, Mas akan selalu ingat itu. Runi juga pandai-pandai membawa diri di sini, terutama bergaul dengan ibu-ibu anggota dan juga ibu-ibu senior di Persit. Jika harus menegur, tegur dengan lemah lembut. Dan jangan lupa jaga kesehataan dan juga kandunganmu ya... rajinlah memeriksakan kandungan ke bidan, jangan malas makan. Sesekali datanglah ke rumah keluarga Pak Mahmud, beliau adalah orang tua angkat kita di sini. Kalau ada kesulitan, koordinasi dengan Bamin ya, karena dia sebagai Kakorum di kompi kita. Kita saling mendoakan ya Sayang. Mas akan berusaha selalu berkirim kabar ke sini setiap ada kesempatan. Karena kabarnya di sana komunikasi agak sulit,” ujar Pras, sambil membelai rambut istrinya yang dibiarkan tergerai sebahu.
“Iya Mas,” jawab Seruni singkat.
Lehernya seolah tercekat sehingga tak bisa berkata-kata lagi, air matanya sudah hampir jatuh, namun cepat-cepat dihapusnya. Dia tidak ingin Pras melihatnya menangis.
Pras membelai perut Seruni yang sudah mulai buncit, tiba-tiba janinnya terasa bergerak. Pras sempat terkejut karena baru sekali itu ia merasakan tendangan dari dalam perut Seruni, sehingga ia kegelian. Lalu ia berlutut di dekat Seruni, diciumnya perut buncit istrinya sambil berkata, “Anakku, Ayah pergi dulu ya, mungkin Ayah tidak bisa menyambut kelahiranmu, mungkin Ayah tidak bisa mengumandangkan azan dan iqomah di telingamu saat kau lahir. Tapi Ayah akan selalu menyapamu lewat doa-doa yang akan Ayah panjatkan di setiap hembusan napas Ayah. Ayah berangkat dulu ya Sayang, saat lahiran nanti jangan buat Bundamu repot ya. Ayah sayang kamu anakku.”
Seruni mendengarkan dengan seksama sambil mengaminkan permintaan Pras. Beberapa kali dirasakannya janinnya bergerak-gerak, seakan mengerti apa yang dikatakan Pras. Seruni tersenyum haru melihat adegan itu, seperti adegan sinetron saja.
Sebetulnya Pras paham betul perasaan Seruni saat itu, karena ia pun merasakan hal yang sama. Maka untuk menghilangkan suasana sedih ia pun mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain yang tidak membuat Seruni sedih.
Tepat pukul 22.00 seluruh personil sudah berbaris rapi, mereka akan melakukan tradisi masyarakat setempat, yaitu penepung tawaran, untuk personil yang akan berangkat. Ibu-ibu Persit beserta anak-anak mereka juga sudah berbaris rapi di seberang barisan peleton yang akan berangkat. Sejumlah Muspika dan tokoh masyarakat juga tampak hadir dalam acara tepung tawar.
Beberapa tampah berisi bunga yang dicampur beras kuning juga sudah disiapkan, tak lupa sebaskom air yang sebelumnya sudah didoakan ustadz di dalamnya diisi irisan jeruk purut, semangkuk bedak bayi yang sudah dilarut dengan air sehingga menjadi larutan kental mirip bubur, seikat daun bunga yang berwarna merah sebagai alat untuk mencipratkan air doa tadi kepada orang yang ditepung tawari.
Upacara tepung tawar dimaksudkan sebagai pengantar bagi pasukan yang hendak bertugas, agar berangkat menuju tempat tugas dengan selamat dan mampu melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik sampai akhirnya mereka dapat pulang kembali ke tengah keluarga dengan selamat.
Upacara diawali dengan doa selamat yang dilanjutkan dengan beberapa sambutan dari tokoh masyarakat, dilanjutkan dengan pemberian tepung tawar kepada komandan pasukan. Bapak Camat mengawali tepung tawar, beliau menorehkan larutan tepung ke tangan Danki selaku komandan pasukan, kemudian mencipratkan air doa ke kepala dan tangan Danki, terakhir menaburkan bunga dan beras kuning ke atas tubuh Danki dan kemudian disebarkan kepada seluruh anggota. Setelah itu, baru secara bergiliran dipersilakan istri masing-masing kepada suaminya, termasuk Seruni. Suasana sangat khidmat dan mengharukan bagi siapapun yang mengikuti acara tepung tawar malam itu, sesekali terdengar isak tangis beberapa anggota keluarga yang akan ditinggal tugas.
Upacara tepung tawar pun selesai dilaksanakan, seluruh yang tinggal membuat pagar betis menyalami seluruh personil yang akan berangkat. Dan malam itu pasukan diberangkatkan ke Pelabuhan Belawan dengan menggunakan angkutan truk tentara sejumlah enam unit, yang didatangkan dari Kodam I/Bukit Barisan di Medan. Pasukan nantinya singgah di Markas Yonif di Kisaran terlebih dahulu, lalu berangkat bersama dengan pasukan dari kompi yang lain beriringan membentuk konvoi menuju Pelabuhan Belawan.
Setelah pasukan berangkat, Seruni dan ibu-ibu anggota yang lain pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat karena setelah subuh mereka akan menyusul pasukan untuk mengikuti upacara pelepasan suami ke medan tugas.
Seruni berusaha memejamkan mata, namun hingga jarum jam dinding di kamarnya menunjukkan angka satu, matanya tak juga bisa dipejamkan. Janin di perutnya juga bergerak aktif, membuatnya semakin tidak bisa tidur. Diambilnya buku novel yang beberapa hari lalu baru dibelikan Pras untuknya. Seruni beruntung akhirnya ia bisa tertidur.
Pukul tiga suara petugas jaga sudah terdengar nyaring membangunkan ibu-ibu agar bersiap, karena pukul empat pagi rombongan pengantar akan berangkat menuju Belawan. Seruni segera terjaga dari tidurnya yang hanya dua jam saja. Ia segera bersiap, mandi dengan air hangat yang sudah disiapkannya sebelum tidur dan ia sempatkan ssalat subuh, baru setelah itu segera berkumpul di pos jaga bersama ibu-ibu yang lain. Saat tiba di pos jaga sudah banyak ibu-ibu berkumpul di sana. Pada pukul lima pagi setelah semua kumpul, mereka pun berangkat ke Pelabuhan Belawan menggunakan beberapa mobil yang dipinjam dari perusahaan sawit yang ada di sekitar kompi.
Beruntung kekurangan jam tidur semalam bisa tergantikan, selama perjalanan tidak banyak percakapan di dalam mobil, sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak. Ibu-ibu lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir lima jam, akhirnya rombongan ibu-ibu sampai di pelabuhan, kendaraaan langsung menuju ke salah satu sisi pelabuhan yang sudah ditentukan untuk pengantar. Ibu-ibu diperintahkan mengganti pakaiannya dengan seragam Persit supaya identitas mereka dapat diketahui, hanya mereka yang mengenakan seragam Persit yang boleh memasuki area yang lebih dekat dengan dermaga tempat pasukan berkumpul. Di sana sudah berkumpul ibu-ibu dari kompi lain yang sudah datang lebih dulu, di sana pula Seruni berjumpa dengan dengan Mbak Reni, anak perempuan keluarga Pak Mahmud, suaminya memang ikut berangkat ke daerah operasi.
Tampak hiruk pikuk kesibukan personil menaikkan beberapa logistik, hilir mudik naik turun kapal. Hampir satu jam mereka menunggu untuk bisa bertemu dengan suami masing-masing, setelah apel breafing dari Danyon, pasukan dipersilakan berkumpul dengan keluarga masing-masing, termasuk Seruni yang akhirnya dapat juga bertemu dengan Pras.
Mereka mencari tempat yang agak menjauh dari rombongan pengantar, mereka ingin menikmati kebersamaan mereka untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke daerah operasi. Mereka berdua menggelar tikar di sudut lapangan di bawah pohon untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan Seruni dari rumah sambil mengobrol santai.
“Wah nanti, Ayah gak bisa menyambut kamu ya Nak. Tapi Ayah yakin kamu anak hebat, kuat dan sehat. Nanti Ayah pulang kamu sudah bisa apa ya?” kata Pras sambil mengelus perut Seruni, sesekali janinnya memberi reaksi dengan menendang, sehingga gerakannya teraba dari luar perut.
Seruni kembali merasakan hatinya seperti teriris, perih. Kali ini air mata tak lagi bisa ditahannya, deras mengalir keluar dari kedua ujung matanya. Melihat itu Pras jadi merasa bersalah, diraihnya tubuh Seruni ke dalam pelukannya yang membuat tangis Seruni makin menjadi. Pras berusaha menenangkannya.
“Seruni, Mas tahu ini tidak mudah bagimu, apalagi kondisimu dalam keadaan hamil. Ini memang resiko yang harus kita hadapi, masih ingatkan Sayang, nasehat dari Danyon, Pangdam saat kita menghadap beliau? Jangan merasa sendiri, ada Ibu Danki dan ibu-ibu anggota lain yang sama sepertimu saat ini. Selalu komunikasi dengan Ka Korum di kompi jika perlu bantuan. Jangan capek-capek ya, jaga kesehatan. Tadi Mas sudah minta izin kepada Danyon jika nanti Runi diizinkan pulang untuk melahirkan di Yogya dengan syarat dijemput oleh orang tua kandung. Dan Bapak tadi sudah Mas telepon agar berkenan menjemput Seruni,” kata Pras lagi.
Berangsur tangis Seruni mereda, ganjalan di hatinya bagai terurai bersamaan derai air mata. Pras mengusap air mata Seruni dengan penuh kasih sayang menggunakan sapu tangannya.
“Mas, maafkan Runi yang tidak bisa menahan perasaan sedih ini. Runi tidak bisa membohongi perasaan Runi saat ini. Rasanya sakit di hati ini harus melepas Mas Pras pergi ke daerah tugas. Mas Pras, maukah berjanji sekali lagi untuk Runi?” tanya Seruni sambil menatap mata suaminya dalam-dalam.
“Janji apa Dek? Apapun itu Mas akan penuhi keinginanmu. Katakan apa itu?” jawab Pras.
“Mas Pras harus janji akan pulang dengan selamat bersama seluruh yang berangkat ini,” kata Seruni.
Pras mengambil tangan Seruni, ditaruhnya di dada sebelah kanannya, kemudian ia berucap dengan mantab, “Insya Allah Seruni, Mas janji akan kembali dengan seluruh yang berangkat. Mas juga minta didoakan untuk kami semua ya.”
“Terima kasih Mas, tentu kami semua yang tinggal akan mendoakan untuk semua yang berangkat,” kata Seruni.
“Kasih kabar kalau anak kita lahir ya, akan Mas bikinkan nama yang indah buat anak kita,” kata Pras kembali memeluk Seruni.
“Iya Mas,” jawab Seruni singkat.
“Mas, tadi Runi bertemu keluarga Pak Mahmud, yuk kita gabung dengan mereka, tuh mereka ada di sana,” kata Seruni menunjukkan posisi keluarga Pak Mahmud.
“Ayo,” kata Pras singkat.
Mereka segera melipat tikar dan memasukkan perangkat makan ke dalam keranjang bawaan Seruni dan menuju tempat keluarga Pak Mahmud berkumpul.
Keluarga Pak Mahmud menyambut kedatangan Pras dan Seruni dengan hangat, dan mempersilakan mereka berdua untuk bergabung dengan mereka. Suasana sedih sama sekali tidak terlihat, mereka tetap tampak gembira. Apalagi ditambah dengan kabar bahagia karena Mbak Reni saat ini juga sedang hamil dua bulan. Bergabung dengan keluarga ini sungguh sangat membuat Seruni betul-betul nyaman, semangatnya kembali bangkit, kini raut kesedihan sudah jauh dari wajahnya.
Tak lama mereka bercengkerama, tanda berkumpul seluruh pasukan dibunyikan, para prajurit segera berkumpul. Upacara pelepasan akan segera dilaksanakan. Sebelum pergi, Pras kembali memeluk Seruni erat, dikecupnya kening Seruni untuk yang kesekian kalinya.
“Mas berangkat dulu ya Sayang, Mas janji akan kembali untukmu. Jaga kesehatan ya,” kata Pras.
“Iya Mas, hati-hati di sana ya. Kirim kabar jika sudah sampai,” kata Seruni
“Sapu tangan ini Mas bawa ya, untuk kusimpan sebagai pengobat rindu,” kata Pras, mengambil sapu tangan dalam genggaman Seruni.
Dan begitulah siang itu, Seruni menyaksikan Pras naik ke kapal, dan melepaskannya ke tempat penugasan di Pulau Cendrawasih... Irian Jaya. Seruni berdiri di pinggir dermaga, hingga kapal yang membawa pasukan berubah menjadi titik hitam di kejauhan. Beberapa ibu muda juga melakukan hal yang sama. Ya, mungkin mereka sama seperti dirinya, baru pertama kali ditinggal ke daerah operasi.
“Selamat jalan Sayang, selamat bertugas prajuritku. Aku kan menanti kepulanganmu di sini,” ujar Seruni lirih sebelum ia pergi beranjak dari tempatnya berdiri.

Other Stories
Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Download Titik & Koma