12. Jadi Guru
Dua tahun berlalu... dalam perjalanan hidup Seruni ada sosok yang membawa perubahan dalam kehidupannya, dia adalah Bu Adi. Dia adalah istri anggota waktu ia masih tinggal di kompi, rumahnya hanya beberapa langkah saja dari rumah Seruni yang baru. Rumah Seruni hanya dibatasi oleh jalan lintas di kompi. Sudah dua tahun ini Seruni menempati rumah dinas yang baru. Kebetulan ada perwira yang pindah tugas ke kompi yang lain, sehingga ada rumah perwira yang letaknya agak di tengah perumahan anggota.
Sejak kepulangan personil kompi dari penugasan di Irian tempo hari, ada pergeseran struktur pasukan, dari level yang paling bawah hingga pimpinan tertinggi. Hal ini memang biasa terjadi, tujuannya adalah penyegaran satuan, dalam kondisi normal penyegaran satuan dilakukan dua sampai tiga tahun sekali, bisa rolling antar kompi bisa juga pindah ke satuan yang lain.
Termasuk dalam kompi ini, Danki dan beberapa perwira digeser ke satuan yang lain, dan demikian juga dengan beberapa anggota. Sebagai akibat penyegaran itu, ada beberapa perwira yang dipindahkan ke kompi lain, sehingga ada rumah yang kosong. Kesempatan itu tidak disia-siakannya, rumah perwira yang pindah langsung ia tempati karena lokasinya lebih nyaman dan letaknya lebih di tengah asrama sehingga lebih ramai.
Dan sekarang tetangga terdekat adalah rumah keluarga Sertu Adi. Hampir setiap hari Dewi, anak pertama Seruni main ke rumah keluarga muda yang baru menikah sebulan yang lalu. Saat itu Bu Adi bekerja sebagai guru honor di sebuah SD tak jauh dari kompi. Ia dan suaminya memang sangat suka dengan anak-anak. Hampir setiap hari Dewi, anak Seruni bermain ke rumah Bu Adi, dan saking betahnya Dewi baru mau pulang jika diantar ke rumah oleh Bu Adi.
Keakraban Seruni dengan Bu Adi terjalin saat untuk yang kesekian kalinya personil kompi bantuan diberangkatkan tugas operasi ke wilayah Aceh selama satu setengah tahun. Saat itu Danki dijabat oleh perwira yang masih lajang, sehingga secara otomatis Seruni-lah yang melaksanakan tugas ketua ranting dalam kepengurusan Persit di kompinya. Dan sebagai sekretaris, Seruni menunjuk Bu Adi, karena selain dia sudah mahir di bidang komputer, dia juga memiliki semangat mau belajar tentang organisasi Persit.
Pada suatu ketika di Kabupaten Asahan dibuka penerimaan CPNS secara serentak d iseluruh wilayah Indonesia untuk mengisi formasi di seluruh dinas, termasuk dinas pendidikan. Dinas pendidikan membuka peluang untuk guru seluruh tingkatan dan semua guru bidang studi termasuk BK. Di sinilah kisah itu berawal, saat itu Bu Adi mengajaknya ikut mendaftar pada penerimaan PNS di daerah itu, kebetulan ada posisi untuk guru BK. Awalnya Seruni menolak karena ia tidak punya berkas yang diminta. Tapi dengan gigihnya Bu Adi terus mengajak Seruni untuk menemaninya ikut mendaftar. Sebetulnya Seruni sudah merasa pesimis karena sebelumnya ia pun pernah ikut mendaftar untuk penerimaan guru Honda (Honor Daerah), tapi tidak lulus.
Tapi karena desakan Bu Adi yang terus menerus, akhirnya Seruni menerima ajakan Bu Adi. “Tidak ada salahnya jika dicoba,” pikir Seruni saat itu. Maka ia meminta izin kepada Pras yang saat itu sedang melaksanakan tugas di daerah operasi di Aceh, untuk mencoba ikut seleksi PNS. Ia sendiri tidak yakin bisa diterima, karena selain usianya sudah pada batas akhir pendaftar di kota ini, ia juga tidak punya channel/orang kuat yang bisa memberi pengaruh agar dirinya bisa diterima, belum lagi uang untuk mengurus ke orang-orang tertentu yang kabarnya jumlahnya sampai jutaan rupiah. Jika dipikir yang terakhir itu lebih mirip suap, tentu saja hal itu bertentangan dengan prinsip yang selama ini dipegangnya. Namanya bekerja itu mencari uang bukan memberi uang.
Memohon itu kepada Allah bukan kepada manusia. Ia sangat yakin jika rezeki itu tidak akan tertukar, begitu prinsipnya. Sehingga dalam mendaftar pun Seruni mengikuti prosedur yang ada.
Akhirnya, jadi juga Seruni ikut mendaftar bersama Bu Adi, dengan menggunakan mopen (sebutan angkot) mereka berdua pergi ke Kota Kisaran mendaftarkan diri sebagai peserta seleksi CPNS. Saat itu adalah hari terakhir pendaftaran, suasana di gedung tempat pendaftaran dipadati ratusan pendaftar. Demi menghemat waktu mereka berpencar, sebelumnya mereka akan bertemu kembali di gedung ini jika sudah selesai. Bu Adi lebih memilih menjadi CPNS di Departemen Agama, sedangkan Seruni lebih tertarik mendaftar CPNS di Dinas Pendidikan.
Ada kejadian yang menggelitik saat pendaftaran, dia didekati beberapa orang yang menawarkan bantuan “pengurusan” begitu mereka menyebutnya. Oknum itu menawarkan janji-janji manis, bahwa nanti bisa membantunya lulus dalam tes, tapi selalu ia jawab dengan halus,
“Maaf ya Pak, saya hanya percaya kepada Allah, karena hanya Dia yang bisa menolong saya, tanpa imbalan apapun. Kalaupun saya tidak diterima ya saya ikhlas menerimanya, karena saya yakin berarti bukan di sini tempat saya,” begitu Seruni setiap kali ada orang yang mendekatinya menawarkan bantuan.
Setelah seleksi berkas dinyatakan lolos, seminggu kemudian Seruni mengikuti ujian seleksi. Semua urusan ia serahkan kepada Allah, dia hanya berusaha semampunya, apa yang menjadi materi test-nya nanti itu yang ia pelajari, karena ia yakin tugas manusia adalah berusaha.
***
Dua minggu setelah pelaksanaan tes CPNS, pasukan tiba kembali di kompi. Kali ini Seruni tidak pulang ke Yogya karena ternyata Pras menerima perintah pindah satuan ke Korem di Pematang Siantar, masih di wilayah Kodam I/Bukit Barisan. Ini adalah pengalaman pertama Seruni mengikuti suami pindah tugas. Waktu yang diberikan hanya satu minggu setelah kepulangan Pras dari Aceh. Sehingga mau tidak mau Seruni dengan dibantu beberapa ibu anggota mengemasi barang-barangnya.
Seruni merasa sedih karena sebenarnya ia sudah betah dan nyaman tinggal di kompi ini, meski jauh dari kota, namun sarana prasarana dan fasilitas umum mulai diperbaiki oleh pemerintah. Contohnya jalan sudah di aspal hingga kompi, ada dibangun pekanan (pasar yang buka seminggu sekali) di sebelah kompi, wartel pun banyak didirikan di sekitar kompi dan lain sebagainya. Tapi karena perintah maka ia harus meninggalkan kompi yang telah mengukir kenangan di mana ia memulai hidupnya bersama Pras dan mengawali menjadi anggota Persit.
Dengan berat hati Seruni meninggalkan asrama yang begitu ia cintai. Ibu-ibu anggota Persit banyak yang datang ke rumah Seruni pagi itu, untuk sekedar mengucapkan selamat jalan. Dengan diiringi deraian air mata dari ibu-ibu asrama, Seruni meninggalkan asrama kompi menuju tempat tugas suaminya.
***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Seruni menunggu pengumuman hasil seleksi penerimaan CPNS yang beberapa waktu yang lalu diikutinya. Setelah berselang tiga bulan kemudian, pengumuman hasil seleksi penerimaan CPNS diumumkan. Tapi saat itu Seruni sudah di Pematang Siantar, sehingga agak susah mendapatkan koran yang berisi pengumuman hasil seleksi penerimaan CPNS.
Setelah hunting beberapa kios koran akhirnya Seruni dan Pras berhasil menemukan koran yang dimaksud. Tapi sayangnya koran yang memuat hasil seleksi CPNS itu tinggal satu dan itupun sudah jadi milik si penjual koran. Untungnya si penjual koran sudah kenal baik dengan Pras karena sering membeli koran di situ, sehingga dengan senang hati meminjamkan koran itu untuk Pras. Tanpa menunggu lagi, langsung saja koran itu mereka bentang di tempat penjual koran karena segera ingin tahu hasilnya, mereka berdua mencari nama Seruni di kelompok Guru BK, jantungnya berdegup kencang bercampur dengan perasaan harap-harap cemas, diurutkannya dari nomer ujian peserta.
Matanya terhenti saat ia menemukan namanya di urutan kelima dari delapan orang yang diterima. Sontak Seruni menjerit histeris karena tidak percaya dirinya bisa diterima, dipeluknya Pras saking senangnya. Bapak penjual koran pun ikut senang mendengar kabar jika Seruni diterima. Sebagai rasa syukur ia membayar lima puluh ribu untuk koran yang ada di tangannya, penjual koran pun dengan senang hati menerima pemberian Seruni, tak lupa ia mengucapkan selamat dan terima kasih tiada henti.
Tapi kebahagiaan itu sedikit berkurang, karena ternyata Bu Adi tidak lolos dalam seleksi CPNS kali ini. Seruni merasa tidak enak hati, karena Bu Adi-lah yang memberinya motivasi dan sedikit memaksa Seruni ikut daftar CPNS. Sekarang giliran Seruni yang memberikan motivasi kepada Bu Adi agar tetap sabar dalam menerima ketentuan dari Allah. Bu Adi adalah salah satu pendaftar yang tergiur rayuan calo pendaftaran CPNS, ia agak terguncang karena ia sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk pengurusan agar dirinya bisa diterima.
Kabarnya sejak menerima kenyataan tidak diterima dalam seleksi CPNS, Bu Adi merasakan kesedihan yang berkepanjangan, ia jadi tidak bersemangat dalam bekerja. Saat di rumah pun ia hanya mengurung diri dalam kamar. Kabar dari suaminya ia menyesal tidak mendengar nasihat dari Seruni. Dan Bu Adi tak hentinya meratapi kebodohannya karena bisa ditipu dengan mudahnya oleh oknum yang mengaku kerabat dekat Bupati.
Padahal saat itu Seruni sudah memberikannya peringatan dan nasihat agar jangan tergiur janji orang yang menawarkan jasa itu, tapi Bu Adi lebih memilih tidak mendengar kata Seruni. Seruni mengambil hikmah dari kejadian ini, bahwa hidup adalah pilihan, yang dalam setiap pilihan akan ada konsekuensinya masing-masing.
Seruni bersyukur karena dipertemukan dengan Bu Adi, yang sudah dengan gigihnya dan dengan berbagai cara merayunya agar mau menemani ikut mendaftar CPNS, jika tidak mungkin ia tidak akan menjadi PNS hingga kini.
Kenyataan diterimanya Seruni menjadi CPNS di Kabupaten Asahan, ternyata menyisakan permasalahan sendiri bagi Pras dan Seruni, karena satu bulan kemudian Seruni menerima SK penempatan tempat tugas. Dan ternyata Seruni mendapat tugas di SMA di tempatnya dulu tinggal. Berarti ia harus kembali ke tempat di mana Pras ditugaskan untuk yang pertama kalinya. Artinya Pras dan Seruni harus berpisah rumah!
Kabar baik yang datang hampir bersamaan dengan penerimaan Seruni menjadi CPNS diiringi kabar bahagia yang lain, berita sudah turunnya hasil UKP (Usulan Kenaikan Pangkat) Pras, SK kenaikan pangkat Pras ke Kapten. Tentu saja kebahagiaan ini disambut dengan penuh suka cita dan rasa syukur yang tak terkira oleh Pras dan Seruni. Keberhasilan itu menjadikan Seruni dan Pras semakin bersyukur ke hadirat Allah dan berjanji akan menjalankan tugas yang baru dengan sungguh-sungguh. Meski untuk itu ia harus tinggal terpisah jauh karena Seruni ditempatkan di kecamatan tempat ia tinggal dulu.
Tiba-tiba Seruni jadi ingat lagu anak-anak yang dulu sering ia nyanyikan bersama teman-temannnya saat Taman Kanak-kanak,
“Bapak naik pangkat, Ibu jadi guru...”
Rasanya pas benar dengan kejadian yang ia alami saat itu.
***
Dua tahun berlalu...
Suatu siang di tempat fotocopy-an, Seruni tidak sengaja berjumpa dengan Ibu Adi. Bu Adi menceritakan bahwa ia sedang sibuk dengan urusan pengusulan pengangkatan guru Honda menjadi CPNS di lingkungan Dinas Pendidikan. Mendengar kabar itu Seruni sangat bahagia. Disalaminya Bu Adi, tidak lupa ia mengucapkan terima kasih karena dulu telah memaksanya menjadi CPNS dan sekarang sudah menikmati hasil kerjanya sebagai PNS.
Other Stories
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...