2. Hayati Dagang
Hayati mulai menjajakan dagangan yang mereka jual. Untuk membantu penjualan, Hayati rela keliling pasar sambil meletakkan keranjang di atas kepalanya yang berisi stroberi segar, yang baru saja dipetik di ladang milik Pak Darwis. Sedangkan Iklimah duduk menjaga dagangan, sesekali wanita tua itu hanya mengumbar senyum, merasa bangga dengan perlakuan Hayati.
"Hayati, maafkan Mak… Nak," sambil mengelus dada. Iklimah menatap Hayati dengan pandangan sayu.
"Stroberi, masih segar. Siapa yang berminat? Ayo buruan… stroberi manis," jajal Hayati, sambil berjalan dari tempat satu ke tempat yang lainnya. Usaha Hayati memang berbuah manis, sambil mengelilingi pasar, stroberi yang dijualnya pun semakin berkurang. Sesekali mengumbar senyum, Hayati merasa sangat bangga masih bisa membantu Maknya untuk menutupi kebutuhan mereka sehari-hari.
"Alhamdulillah…" bisik Hayati riang, kemudian kembali membawa keranjang sambil meletakkannya di atas kepala.
"Stroberi manis, siapa berminat? Masih segar…" Hayati kembali menjajakan dagangannya, hingga akhirnya ada seorang pemuda memanggil dari arah belakang.
"Permisi, stroberinya Mbak," mendengar panggilan itu, Hayati berhenti sambil memutar badannya, kemudian melirik ke arah yang memanggilnya.
"Kamal," sambil meletakkan keranjang, Hayati tersenyum manis.
"Kamal, kamu ada di sini," panggil Hayati. Namun lelaki yang barusan memanggilnya tak menghiraukan. Hanya melihat beberapa buah stroberi yang ada di keranjang Hayati.
"Tidak, tidak mungkin. Ini pasti kembarannya Kamal… yaitu Kamil," bisik Hayati dalam hati.
"Manis," tutur lelaki itu, memang wajahnya tak jauh berbeda dengan lelaki yang dikenal Hayati, Kamil. Lelaki itu hanya tersenyum saat mencicipi buah stroberi yang ditawarkan Hayati.
"Mbak, yang nanam? Sungguh manis," Hayati hanya menganggukkan kepala.
"Aku beli sisanya," Hayati tersenyum, seolah-olah masih menyimpan sejuta pertanyaan di benak pikirnya, apakah benar ini lelaki yang Kamil sebutkan? Apakah ini Kamil yang sesungguhnya? Kamil yang sebelumnya berniat melakukan transgender.
"Kamil," bisik Hayati dalam lamunannya. Namun, lelaki yang berada di depannya menganga, kemudian tersenyum.
"Mbak, kamu kenal aku?"
"Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku..." Hayati grogi sendiri. Sambil menatap lelaki yang masih berdiri di depannya. Namun selang beberapa menit, Hayati yang masih mengemas stroberi yang ingin dibeli konsumennya, tiba-tiba Kamil yang dikenal Hayati, datang sambil memanggil nama Kamil.
"Kak, Kamil. Ternyata kakak ada di sini," lagi-lagi Hayati kaget setelah melihat sosok yang tak asing lagi di matanya datang menemui Kamil.
"Hayati, kok kamu…"
"Iya, aku tadi bantu Mak jualan stroberi ini," Hayati melihat ke arah Kamil. Bukan ke arah lelaki yang menyapanya barusan. Memang dari sisi wajah, Kamal dan Kamil mirip, namun yang membedakan, Kamil lebih tinggi dibanding Kamal.
"Jadi, kalian sudah saling kenal? Pantasan dia tadi manggil Kamal," Hayati hanya mengumbar senyum, menundukkan kepala, kemudian menatap Kamal.
"Maaf," ujar Hayati sambil berdiri. Akhirnya Kamal, Kamil, dan Hayati kembali menuju di mana Iklimah berada. Selama di perjalanan, Hayati sering mengumbar senyum terhadap Kamil, seolah-olah ingin lebih dekat dan akrab dengan lelaki tampan itu, meski sudah tahu bagaimana seluk beluk kehidupannya melalui mulut Kamal, lelaki sang pujaan hatinya.
Melihat kedatangan Kamal, Kamil, dan Hayati, Iklimah kaget, serasa tidak percaya jika Kamil memiliki saudara kembar yang selama ini memang disembunyikan Kamil. Bahkan nama Kamil yang sebenarnya itu belum diketahui Iklimah.
"Mak…" tutur Hayati. Iklimah tersenyum, hingga akhirnya mereka berempat hanyut dalam obrolan panjang, dengan suasana pasar yang begitu hidup dan menyenangkan.
***
"Mak belum percaya jika Kamil memiliki kakak kembar. Apa kamu sudah tahu sebelumnya?" Iklimah terus merapikan piring yang berserakan di atas meja. Sedangkan Hayati mencoba merapikan tikar yang masih terhampar di atas lantai.
"Aku juga baru tahu Mak, sebelumnya Kamil nggak pernah cerita," ucap Hayati singkat. Iklimah menatap Hayati, namun anak daranya terus sibuk menggulung tikar bekas duduk tamu mereka yang datang dari kota ketika itu.
"Mak yakin, Keluarga Kamal sangat senang memiliki dua anak lelaki ganteng, baik lagi!" Hayati menghentikan pekerjaannya, kemudian berdiri. Akhirnya melanjutkannya kembali.
"Mak, semoga saja mereka bahagia," hanya itu yang diucapkan Hayati, berharap apa yang diucapkan Iklimah menjadi sebuah kenyataan. Meski sejauh ini, dirinya sudah mengetahui latar belakang kehidupan keluarga Kamil.
"Hayati. Itu Buk Imas ingin memperkenalkan anaknya sama kamu. Mak rasa tidak ada salahnya kamu kenal dengan anaknya itu, dia baik lho. Waktu kalian masih bayi, Mak dulu pernah…" sebelum melanjutkan pembicaraan, tiba-tiba Hayati memotong.
"Kalau sebatas kenal sih Mak, nggak masalah buatku. Namanya juga kenalan."
"Mak rasa juga begitu," Iklimah kembali melanjutkan aktivitasnya usai mengalihkan pandangan dari Hayati. Sepertinya Iklimah sadar, jika pengakuan Hayati itu masih ternilai ego. Senyap seketika di dalam rumah itu tanpa ada suara tanya jawab, yang ada hanya suara cucian piring, menggunakan peralatan seadanya. Hayati masuk ke dalam kamarnya, kemudian duduk di atas tempat tidur, sepertinya bayang-bayang Kamil masih mengiang di benak pikirnya yang kini mulai berbunga-bunga.
"Kau bukan Kamil. Tapi Kamal. Siapapun namamu, hanya cinta dan setia yang kuharapkan. Cintailah aku sepenuh hatimu," Hayati berkhayal, mulai membisikkan nama Kamal dan menyisihkan nama Kamil.
"Tapi, siapa wanita yang bersama Kamal itu, apakah dia wanita yang ingin dinikahi Kamil?" Hayati bergumam dalam nisbat-nya, hingga akhirnya termenung sendiri.
"Jika memang kau ditakdirkan untukku, pengabdian ini akan menjadi pengabdian yang sempurna. Ya Tuhan… bimbinglah hamba-Mu ini untuk selalu mencintainya."
"Hayati, Hayati…"
"Ya, Mak," Hayati keluar dari dalam kamar, kemudian menemui Iklimah sambil merapikan pakaiannya agar terlihat lebih rapi.
"Ini Bahrum, yang barusan Mak ceritain."
"Anaknya Tante Imas ya Mak?"
"Iya, kenalkan… Bahrum," ucap lelaki kurus, tinggi dan memiliki wajah oval itu dengan senyuman.
"Hayati," sambil mengumbar senyum, Hayati mempersilakan Bahrum masuk ke dalam rumah.
"Mak tinggal sebentar ya," Iklimah mengumbar senyum mengarah kepada Bahrum, kemudian menuju dapur. Hayati yang semulanya dingin terhadap kedatangan Bahrum, lama kelamaan menjadi tak karuan usai Bahrum menceritakan pengalaman serunya selama tinggal di kota. Mulai dari pendidikan dasarnya, hingga sekarang masih duduk di bangku kuliah semester akhir.
"Ternyata kamu lucu juga ya orangnya. Aku malah tak ingat masa-masa kecilku," Hayati sesekali mengumbar senyum, Bahrum menikmati kebersamaan mereka di rumah itu, penuh dengan keceriaan. Meski persahabatan baru dimulai dengan tanda senyum riang menawan.
"Nggak kok, aku biasa-biasa saja orangnya, malah kata teman-teman di kampus, aku lelaki pendiam."
"Serius? kamu!"
"Iya, serius. Tapi, aku merasa sih nggak," Bahrum kembali tertawa. Hayati yang mendengar pengakuan Bahrum hanya mengumbar senyum. Begitu juga dengan Iklimah, begitu senang saat melihat keakraban Hayati dengan Bahrum, sesekali melirik ke tempat duduk putrinya dengan pria putra dari sahabatnya.
"Apalagi saat-saat kalian masih sangat kecil… lucu-lucu," Iklimah datang dari dapur sambil tersenyum, kemudian duduk di dekat Bahrum.
"Ah, Mak…" Hayati tersenyum kemudian menundukkan kepala.
"Ngomong-ngomong… kalian ke kampung ada keperluan apa?" Iklimah memulai bertanya.
"Sepertinya sih…"
"Atau jangan-jangan ingin mencari pendamping hidup?" potong Iklimah sebelum Bahrum menuntaskan penjelasannya. Bahrum hanya mengumbar senyum, kemudian mengalihkan pandangan melihat Hayati.
"Bagaimana pun jika memang niat baik itu ada, insya Allah akan dipermudah oleh Yang Maha Kuasa."
"Mak, bisa saja. Siapa juga yang mau cari pendamping. Bahrum itu datang ke mari karena dia kangen sama tanah kelahirannya. Lagi pula kalau menurutku, malah lebih cantik-cantik wanita di kota ketimbang wanita di kampung ini," ujar Hayati.
"Iya Tante, benar apa yang dikatakan Hayati. Sambil menemani Ibu, katanya kangen dengan nuansa kampung ini."
"Tu… kan betul Mak," Hayati tersenyum. Mereka bertiga hanyut dalam masa lalu di rumah yang sederhana itu. Bahrum kini sudah masuk ke dalam kehidupan Hayati, sedangkan Hayati masih menyimpan sejuta khayal yang ingin dituangkannya lewat tulisan, agar damba dan puja menyatu dalam ingatan, tertuju pada lelaki yang kerap dirinduinya. Dan sosok lelaki yang kerap bayangnya menari di pelupuk mata.
"Nuansa di kampung ini memang sungguh teduh ya," Bahrum memandang lepas dari luar rumah, sepertinya ingin menikmati pemandangan di kampung itu.
"Ya… beginilah di kampung," desuh napas Iklimah, sedangkan Hayati masih di dalam rumah.
"Tante rasa… Hayati bisa menemani kamu jalan-jalan di kampung ini," Bahrum tercengang usai mendengar apa yang dituturkan Iklimah, wanita lanjut usia yang berdiri di depannya.
"Kalau Hayati tidak keberatan," Bahrum tersenyum sambil mengalihkan pandangan, kembali menatap lurus ke depan. Hayati kini keluar dari dalam rumah, mengambil posisi di belakang Iklimah.
"Kapan kamu ajak Bahrum menikmati kampung ini?"
"Aduh, Mak. Bukannya Bahrum anak yang terlahir di kampung ini?" Bahrum hanya tersenyum, kemudian mengambil tempat duduk, tidak jauh dari Iklimah dan Hayati. Sepertinya ingin menikmati nuansa yang begitu teduh, dan meninggalkan huru-hara dan kebisingan kota, tempat tinggalnya yang ranah membara, dengan sejuta fenomena.
Other Stories
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...