Hostel Atau Hotel
“Kamar boking atas nama Niel. Daniel.” Laki-laki itu mengulangi kalimatnya. Entah sudah yang keda atau ke seratus lima puluh sembilan setengah, sudah lupa.
“Uhhh, Daniel ya, Eike panggilnya Niel aja ya. Cucok, Bo!” Ujar si resepsionis bannci sok imut, cenderung menjijikan. “Sebentar ya, Eike cek dan ricek.” Kemudian mulai meekuni layar komputer di balik meja resepsionis. “Niel, badannya kotak-kotak macem es balok. Sixpack! Bikin Eike merinding disko, ih!”
Setengah mati Niel berusaha tetap tenang. Sok tegar. Meski dalam hati menjerit-jerit tidak karuan. Jangan sampai wajahnya yang sengaja diatur seangker mungkin gagal bak aktor pendatang.
“Kamar nomer 22 ya Cyn. Ini kuncinya. Mari, Inces antar.” Masih dengan gaya kemayu.
“In-ces?” Kedua alis tebal Niel bertaut. Sesaat lagi kejang.
“Ya, Eike biasa dipanggil Inces.”
Niel mengangguk pasrah dengan keringat dingin sebesar biji durian menetes. Mempertanyakan makhluk berjakun macam apa yang nama panggilannya Inces.
Kamar yang di kode bokingnya bertipeking itu visualisasinya tampak memprihatinkan. Pendingin ruangnya hanya berupa kipas angin yang mampu geleng-geleng ke kanan dan ke kiri. Sebuah televisi 14 inci, sebuah meja dan lemari yang terlapisi jamur, tak lupa sebuah ranjang besar yang tidak empuk lagi. Tidak ada mini bar, bantal lembut berisi bulu angsa, apalagi sendal hotel yang ringan dan paling nyaman sedunia. Ini fasilitas hotel terbusuk yang pernah ia inapi seumur hidup.
“Kalau butuh apa-apa bilang Inces ya ganteng!” Ucap si lelaki karbitan yang merangkap sebagai petugas hotel busuk riang gembira. Membuyarkan keterkesimaan Niel seketika.
Sepeninggalan si resepsionis, Niel mencoba untuk pasrah. Lapang dada menerima keadaan. Ia tidak punya pilihan, malam semakin larut, sedangkan dirinya tidak tahu seluk-beluk kota yang baru pertama kali dirinya injak. Tidak ada waktu untuk mencari penginapan lain. Salah-salah dirinya bisa nyasar di kota kecil antah-brantah ini, lalu diculik suku endemik untuk dipersembahkan kepada dewa jamban. Itu amat mengerikan.
Hal pertama yang ingin Niel lakukan adalah mensucikan dirinya yang nista dan penuh dosa. Handuk kecil yang merupakan bagian dari fasilitas hotel amat mengerikan. Warna putihnya telah mengalami siklus perubahan warna menjadi kecoklatan. Kendati demikian, sama-sekali tidak mengurungkan niatnya untuk mandi. Melenggang dengan santai dirinya ke dalam kamar mandi. Perkara handukan bukan masalah besar. Kepala shower telah melambai-lambai untuk dimainkan. Ia sudah tidak sabar.
Niel tersenyum penuh kepuasan. Setidaknya satu harapannya akan terkabul. Mandi dengan air panas yang mengucur deras. Diputarnya kran shower menuju arah panah merah—air panas—dengan amat jemawa. Pria itu sampai memejamkan mata rapat-rapat demi menikmati sensasi indahnya surga dunia lapis pertama. Namun detik beriktnya Niel segera melenting. Terkejut. Sebab air yang keluar dari shower bukan air panas seperti dambaannya, melainkan air dingin yang menusuk pori-pori. Shower air panasnya mati.
Memang tidak ada yang bisa diharapkan dari fasilitas hotel kelas kambing. Semuanya mengecewakan. Sayangnya, tidak ada yang bisa Niel lakukan selain pasrah menerima keadaan. Sebab protespun tidak mungkin. Ia bukan anggota ormas yang dengan gampang menggelar demo menuntut kenaikan harga cabe-cabean. Hal yang paling realistis untuk ia lakukan adalah menerima dengan lapang dada. Selapang dada Duo Srigala.
Seperti saat pagi itu, dirinya terbangun dengan wajah penuh liur yang mengeras. Membentuk pola serupa peta nusantara. Fasilitas busuk hotel nyatanya tidak mengurangi tingkat kenyenyakan tidur seorang Niel. Disibaknya gorden yang menutupi jendela kamar hotelnya yang menghadap ke timur. Berharap menemukan hangatnya mentari pagi serupa adegan yang ia lihat di FTV pagi. Namun yang terjadi di luar ekpektasi. Pemandangan pasar pagi yang becek, kumuh, dan riuh menyambutnya. Pagi yang amat buruk untuk seorang lelaki metropolitan yang biasa hidup dengan fasilitas mewah perkotaan.
Untuk melupakan pemandangan tidak sedapnya pagi ini, Niel berencana turun ke lobi, sarapan. Biar kata hotel busuk, tetapi sarapan gratis masuk kategori hak tamu hotel. Lumayan, ketimbang lumanyun. Turun dari lantai empat hotel menuju lobi yang letaknya di lantai dasar dengan tangga tidak menjadi masalah untuk ukuran pria berotot serupa Niel. Seharusnya. Tapi kenyataannya Niel punya penyakit pernapasan. Jadi Niel mesti sujud syukur sebab lift hotel sedang dalam keadaan prima.
Sepertinya, tidak ada tamu lain di hotel itu selain dirinya. Terbukti dengan meja sarapan yang amat lengang. Bubur ayam adalah menu spesial pagi itu. Sepertinya staf dapur hotel tidak ingin menyusahkan para tamunya untuk mengunyah sarapan, maka disajikanlah bunur ayam. Tinggal telan, kenyang, beres. Sepertiitulah konsep sarapan dengan bubur ayam yang lebih pas disebut nasi benyek disiram minyak sayur. Hambar. Tanpa gula kurang garam.
Niel bukan tipikal pria yang mudah menyerah. Apalagi untuk urusan perut. Dengan inisiatif tinggi, ia keluar dari hotel untuk food gathering—mencari makanan—menuju minimarket terdekat. Sekaligus tarik tunai di mesin ATM terdekat. Terhitung dari sebelum naik pesawat, Niel tidak memiliki uang cash sama-sekali.
Pada minimarket yang letaknya hanya seperlemparan mantan dari hotel, ia mulai memilih-milih barang yang menjadi kebutuhannya. Makanan dan minuman ringan, masuk keranjang. Pembalut ringan, tidak jadi masuk keranjang. Ia tidak membutuhkannya. Diserahkan kartu debit pada kasir cantik yang tidak henti-hentinya menawarkan ‘pulsanya sekalian?’
“Maaf Pak, debit card anda sudah tidak dapat digunakan lagi,” ujar si kasir setelah tidak lagi mendesak Niel untuk membeli pulsa dengan senyuman merekah.
“Apa!!!” Niel terkejut bersamaan dengan mengingat sesuatu.
Sejatinya kedatangan pria itu ke kota kecil yang jauh dari pusat kota adalah untuk mengasingkan diri. Memulai hidup baru di kota antah-brantah yang belum pernah ia kunjungi. Otomatis seluruh identitas dirinya baru. Seluruh identitas lamanya tidak dapat lagi digunakan. Alias diblokir. Itu memang bagian dari permintaan pada rekan bisnisnya. Sayangnya, tidak terpikir pada otak dangkal Niel.
Kini identitas lamanya sudah nonaktif namun identitas barunya belum juga terbit. Niel mendadak curiga, rekan bisnisnya mulai menjalankan aksi tipu-tipu. Padahal biasanya manusia sok misterius itu akan menghubungi Niel secara berkala. Entah itu menanyakan kabar atau menanyakan sudah makan belum, bahkan hingga pertanyaan makan pakai apa menggunakan nomor yang selalu berbeda. Sebab si rekan bisnis Niel tipikal orang yang ganti perdana baru tiap habis kuota internet.
Terpaksa Niel kembali ke hotel busuk tempatnya menginap dengan tangan hampa. Tidak ada pilihan lain selain menanti. Ia memiliki waktu tenggang sepuluh hari sebelum masa sewa kamar hotelnya berakhir. Setelah itu ia tidak memiliki rencana cadangan. Hidup dan mati lelaki itu sepenuhnya bergantung pada suasana hati si rekan keparat.
Niel lebih memilih untuk duduk merenung sembari meratapi nasib di restoran hotel yang lengang. Tempat yang sangat cocok untuk uji nyali. Dan pemeran hantupun datang.
“Pagi ganteng. Pagi-pagi udah melamun aja Cyn. Awas lho kesambet.”Si petugas hotel datang dengan gaya kemayu khasnya.
Niel bergeming di tempat duduknya. Suasana hatinya sedang buruk. Amat buruk.
“Capek deh Inces, enggak ada yang bantuin beres-beres hostel. Si bos katanya mau rekrut karyawan baru. Tapi gak dapet-dapet dong bo. Pucing kepala Inces nih kalo tiap hari begini.” Rancau siInces, bermaksud mencurahkan isi hati.
“Apa Ces? Host-tel—, apa itu?” Dahi Niel berkerut bukan hanya karena mendapatkan kosa-kata baru, tapi juga karena Inces berkata tanpa berpedoman pada ejaan bahasa Indonesia. Sulit dimengerti.
“Iya ganteeeng! Ini tuh hostel. Penginapan murah, masa Niel gak tau sih bo. Kampungan deh!”
Niel menggeleng. Sama sekali tidak mengerti. “Jadi penginapan ini bukan hotel.”
“Ya bukan lah, Bo. Hostel. Bukan hotel. Beda tau! Lebih terjangkau. Fasilitas minimalis. Cucok untuk para backpacker kere seperti kamu,” jelas Inces masih dengan gayanya yang khas sembari tertawa mengejek. “Eh ganteng, omong-omong, kenapa sih melamun melulu. Mending bantuin Inces berberes. Banyak kerjaan nih, capek.”
“Ada timbal baliknya gak?” Respon Niel sembari mengeluarkan upil dari dalam lubang hidungnya menggunakan tiga jari sekaligus. Rekor yang luar biasa.
“Ish, ya ada lah bo. Ya, bantuin jadi cleaning service. Inces jamin Niel ganteng gak akan kelaparan siang malam.”
“Cuma makan? Gak, gak mau!” Tolak Niel setengah mentah.
“Ih, ganteng jahara! Menu bisa pilih sesuka hati Niel deh.” Inces mulai mengeluarkan jurus andalannya. Untuk urusan rayu merayu, lelaki karbitan ini memang jagonya.
“Engg—“ Baru saja Niel ingin menolak rayuan Inces mentah-mentah, namun kondisi perut sedang tidak berpihak padanya. Sebuah bunyi mengerikan akibat belum sarapan terdengar dari sistem pencernaannya.
“Idih, tuh kan Niel lapar. Inces bilang juga apa. Udah deh bo, gak usah sok jual mehong. Mau aja, oke gak tuh?” Inces mengedip-edipkan dengan genit kedua matanya.
Niel terpaksa menyanggupi karena ia memang tidak memiliki pilihan lain. Jangankan untuk membeli makanan empat sehat lima sempurna, untuk membeli pulsa demi menghubungi rekan sialannya saja ia tidak mampu. Dompetnya benar-benar kosong melompong.
“Nih sapu. Nih sulak. Nih alat pel. Senjata baru, Bo. Kamar nomor 22 ya Cyn, lantai tiga. Sekalian tuh, usir pasangan mesum di sana!” Perintah Inces gak pakai basa-basi. Bak seorang bos banci.
“Mulai kerja sekarang, apa gak terlalu cepat, Ces?”
“Banyak alasan deh ganteng. Lebih cepat kan lebih baik.”
Dengan terpaksa, Niel menyeret dirinya ke lantai tiga gedung bangunan yang ternyata berjenis hostel. Ketika pria itu menemukan kamar bernomor 22, ia mulai mengetuk dan membuka kenop pintu yang tidak terkunci. Kemudian melenggang masuk. “Permisi, waktunya chek out.”
Detik berikutnya Niel terkesima, akibat pemandangan sepasang kekasih sedang bergulat di atas ranjang berukuran king yang menyambutnya. Refleks otaknya memutar sebuah ingatan. Tragedi yang masih terngiang jelas di kepala. Amat cepat serupa de javu. Menimbulkan gejolak tidak biasa di dalam dadanya.
***
Jika sedang libur seperti saat ini, Alena selalu menghabiskan waktunya penuh bersama Saga. Dua kali dua puluh empat jam serupa siskamling. Seperti siang ini, keduanya sedang asik jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kotanya. Bermain di wahana permainan bersama, berfoto studio, menonton film di bioskop, membeli mainan, menjahili SPG pakaian, dan segala hal yang membuat mereka bahagia.
Saga sangat menyukai Olaf, seorang tokoh kartun ciptaan Putri Elsa di di film animasi berjudul Frozen. Apapun yang berbentuk Olaf dan bertema Frozen adalah favorit Saga. Mulai dari cangkir minum, tas sekolah, hiasan dinding hingga pakaian dalam bertema Frozen telah Saga miliki. Alena memang sangat memanjakan adik satu-satunya itu. Sebab itu pula, di acara ulang tahun Saga yang ke enam esok lusa akan mengangkat tema tentang Frozen.
Kebetulan Event Organizer yang akan mengurusi acara ulangtahun Saga berkantor di pusat perbelanjaan itu. Maka sembari berenang mancing ikan. Alena menemani Saga bermain sembari membicarakan kesiapan untuk pesta perayaan ulangtahun Adiknya. Gadis itu ingin semuanya sempurna. Baik kue ulang tahun, katering untuk tamu undangan, dekorasi, badut, dan seluruh kelengkapan.
“Kakak, Saga mau badutnya ada tiga ya. Pokoknya gak mau kalau cuma satu,” rajuk Saga sembari mengembungkan kedua pipinya yang memang sudah tembam.
“Iya sayang, berapapun. Mau empat puluh delapan macam JKT juga akan Kakak kasih. Jangan khawatir,” tukas Alena sembari melihat-lihat album foto kostum badut.
Sebuah koran harian tergeletak di dekat album foto yang sedang Alena pegang. Kepala beritanya membuat fokus gadis itu seketika buyar. Matanya memicing demi melihat ilustrasi yang memenuhi separuh halaman koran. Berita tentang kematian seorang mafia narkoba kota Metropop yang tewas. Entah mmagnet dari mana, gadis itu begitu tertarik untuk mengetahui kelengkapan beritanya. Diraihnya seonggok lembaran koran itu sebelum mulai membaca.
“Di suntik air, ya,” desis Alena pada dirinya sendiri. Magnet pada berita itu begitu kuat mempengaruhinya.
Intisari berita itu terus mengiang di kepalanya ‘Diperkirakan mafia mati karena persaingan bisnis dengan sesama bandar besar narkotika. Hasil autopsi menunjukkan bahwa keduanya mati karena disuntik air pada pembuluh darahnya, yang membuatnya terkena serangan jantung mendadak.’ Enggan terlepas. Hingga beberapa saat lamanya.
“Kakak, lihat Saga, kak! Saga cobain kostum badut. Bagus gak?” Tergopoh-gopoh si bocah gempal itu dengan kostum badut yang kebesaran. “Besok ini aja ya badutnya, keren Kak!”
Lamunan Alena buyar. Belakangan gadis itu memang memiliki hobi baru; terbengong seorang diri. “Sayang itu kostum The Smurf, bukan Olaf. Kamu merusak tema deh.” Sedikit gemas pada adiknya.
“Yaudah deh, Saga cobain ini ya.” Menunjukan kostum lain pada sang kakak.
“Te-tapi, tapi itu kostumnya putri Anna tau. Kamu kan laki-laki, coba kostum yang lebih jantan lagi dong. Oke!”
“Yah.”
***
Deretan bangku sebuah taman yang diselingi pepohonan tinggi dan rindang dengan sebuah kolam buatan di tengahnya tampak asri dan sejuk dipandang. Seorang pria serupa tuna wisma sedang menumpang tidur siang di salah satu bangku taman yang dinaungi pohon berigin besar. Ditemani angin sepoi-sepoi, dibantu si pria untuk segera tenggelam di alam mimpi. Betapa beruntung tempat seindah taman kota itu letaknya tidak jauh dari hostel. Siang terik seperti saat ini, kamar hostel Niel sudah pasti pengap dan panas serupa teras neraka.Belum lagi suara riuh-rendah dari pasar di bawah hostel yang amat berisik.
Sebelumnya, Niel tidak pernah merasakan sulitnya bertahan hidup. Semua kebutuhannya serba tercukupi. Apapun yang ia inginkan terpenuhi. Fasilitas tidak hanya lengkap, tapi juga mewah. Maka hal yang wajar jika pria itu mengalami gegar budaya ketika mencoba meninggalkan zona nyaman.
Meskipun cukup ekstrem tapi sudah kepalang basah. Tidak ada pilihan baginya selain menceburkan diri sekaligus. Niel sudah masuk dan tidak mungkin untuk kembali lagi. Ia bahkan sudah berjanji. Kadang untuk membuat sebuah pantat panci menjadi bersih mengilap, kita memerlukan menggosok dengan pasir kasar dengan kekuatan penuh. Memang menyakitkan, tapi hasilnya pasti memuaskan. Itulah yang saat ini Niel lakukan. Menghapus jejak. Ia pasti mampu bertahan, menanti jalan terang serupa lampu bertuliskan exit pada theater bioskop.
Tidur pada bangaku taman yang berupa susunan bilah-bilah kayu keras membuat punggungnya pegal. Fasilitas mewah yang selama ini ia miliki membuatnya menjadi anak manja. Kendati demikian ia betah bersantai ria di tamankota. Tempat yang cukup sepi. Hanya ada beberapa pasang muda-mudi berseragam yang sedang asik memadu kasih. Tipe-tipe pacaran hemat.
Terlalu asik menikmati suasana membuat Niel lupa daratan. Ia bahkan tidak sadar jika ada satpol PP yang sedang melakukan aksi razia. Beberapa pengemis dan anak jalanan tampak lari kocar-kacir ke segala arah. Mengakibatkan Niel ikut panik, murni refleks. Entah apa yang sebenarnya Niel takutkan, yang jelas pria itu turut berlari tunggang-langgang sembari berteriak panik. Persis seperti mamah muda yang kehabisan stok eye linear.
Merasa terdesak disaat tidak ada sesuatu yang mendesak membuat otak pria itu dangkal. Berpikir cepat dan tidak taktis. Demi menghindari kejaran satpol PP, Niel memasuki sebuah kantor di antara jajaran ruko yang ia lewati tanpa pikir panjang. Apapun itu, yang paling penting dirinya terhindar digelandang ke kantor satpol PP.sebab tidak memiliki KTP.
Di balik tembok sebuah ruko, ia bersandar. Menormalkan ritme pernapasannya dengan keringat mengucur deras. Hidungnya kembang kempis demi mensuplay oksigen ke dalam alat pernapasan payahnya. Sebelum ia sadar akan tempat persembuyian dari kejaran satpol PP, seorang lelaki setengah baya sudah lebih dahulu menghampirinya. “Kamu ya yang mau jadi badut pengganti?”
Niel seketika melongo. Entah tersambar petir dari jenis awan apa, kepalanya mengangguk kecil serupa burung beo.
“Dari tadi saya tunggu, gerak cepat. Kerjaan sudah menanti!” Bentak si lelaki setengah baya menyemangati.
Tidak butuh seribu alasan, seribu perkataan, maupun jajanan seribuan untuk Niel bertransformasi menjadi seorang badut ulang tahun. Dirinya bahkan masih saja belum sadar kalau kolor dan kaus oblongnya telah berlapis dengan baju badut lengkap dengan hidung besar merah dan bedak tebal. Ia harus menjaga agar tidak bersin, atau kulit wajahnya akan terkelupas bersama dempul itu.
Tugasnya setelah dirias tentu saja mendampingi acara ulang tahun seorang bocah cilik, dengan dikerubungi balita-balita tugasnya mengalir dengan lancar jaya. Padahal ia tidak tahu menahu mengenai badut pengganti. Peserta yang penting ia tidak digelandang petugas satpol PP sebab tidak punya KTP.
“Bagus kerjamu, Boy! Besok datang lagi kau.” Titah si pria setengah baya sembari menyerahkan sebuah amplop.
Seperti mimpi Niel menerima lembaran uang yang ternyata jumlahnya lumayan. Ini uang pertama yang ia miliki setelah pindah ke kota kecil antah-berantah. Sepertinya bekerja sambilan menjadi badut patut diperhitungkan. Sebab tugasnya sebagai cleaning service hostel hanya menghasilkan menu makan dua kali sehari. Sangat tidak sehat untuk imunitas diri.
***
Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...