After Meet You

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Ld.lustikasari

Hari Tersibuk Alena

Hari ini akan menjadi hari tersibuk untuk Alena. Ya, adik kecil kesayangannya akan melaksanakan pesta ulang tahun yang keenam. Kendati demikian, hatinya sedang berbunga-bunga. Tidak ada yang lebih membahagiakan kekcuali melihat jagoan kecilnya bahagia. Gaun mekar warna biru muda serupa milik putri Elsa membalut tubuh sintalnya.
Rumahnya sejak pagi amat ramai dengan kru event organizer yang mengatur dekorasi. Menjadi amat meriah dengan dekorasi tidak meninggalkan secuilpun setting film Frozen. Bahkan patung Olaf yang menjadi favorit Saga dipahat dari bahan balok es sungguhan. Amat mengesankan.
Saga, si bocah gempal itu tidak henti-hentinya berlari ke sana-ke mari. Kegirangan. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Telah genap dirinya berusia enam tahun. Usia yang cukup dewasa untuk tidak lagi ngompol di celana. Meski tidak seheboh kakaknya, Saga tetap berpakaian dengan tema Frozen. Badannya yang bergelambir lemak, membuatnya gampang berkeringat. Maka ia hanya menggunakan setelan kaus oblong yang nyaman dan pasti berharga mahal.
Satu-persatu tamu undangan mulai berdatangan. Seperti janji Alena, seluruh teman adik tersayangnya turut diundang. Sayang si Boy anak jalanan tidak dapat turut hadir sebab sedang sibuk syuting. Tetapi anak kompleks dan anak geng motor yang lain dapat turut hadir.
Ketika team badut datang, Saga langsung menyambutnya dengan menari tor-tor. Bocah itu amat senang dengan badut. Tidak heran jika sejak pagi sudah menanti dengan antusiasme yang luar biasa. Terdiri dari badut Olaf, badut putri Anna, dan Badut putri Elsa. Yang akan ikut memeriahkan pesta ulang tahun Saga selain Kangen Band dan Noah.
Badut Olaf dan Badut putri Anna segera menjadi bulan-bulanan para tamu undangan anak-anak kecil. Membaur bersama semarak meriahnya pesta ulang tahun. Sementara badut satu lagi, yang memerankan putri Elsa justru terbengong di ambang pintu halaman belakang yang menjadi pusat pagelaran pesta. Mata si badut terpaku pada satu fokus. Memerhatikan amat detail. Terpesona pada sebuah wajah ayu yang dirasa tidak asing.
Si badut putri Anna sedang berusaha memeras otak untuk mengingat sesuatu. Sayang seribu sayang, ingatannya lelet. Kalah cepat dengan refleks sibintang pesta. Ditarik oleh Saga tangan si badut Elsa dalam sekali entakkan. Wajahnya tampak kesal, sebab si badut putri Elsa dinilai tidak secantik dalam imajinasi bocah berpipi tembam itu. Terbersitlah keinginan untuk menjahili si badut putri Elsa.
Dengan bantuan beberapa teman geng motornya, Saga mulai menyusun rencana untuk menjahili si putri Elsa supercopy. Mulai dari keisengan normal hingga keisengan abnormal Saga dan teman-temannya lancarkan. Dijambak, dilempar kue, disiram minuman, disiram kenangan dan berakhir dengan didorong hingga jatuh ke kolam renang. Suasana pesta yang memang dirancang meriah, berakhir ricuh. Beruntung tidak ada aksi bakar-bakar ban dari aksi Saga dan teman-teman.
Alena tahu apa yang membuat adik kesayangannya menjadi ricuh. Sebuah perhatian, ya Saga begitu haus akan perhatian. Tumbuh dan besar tanpa figur kedua orang tua membuat Saga rela melakukan apapun demi asupan perhatian serta cinta. Sayangnya Alena tidak dapat memberikan itu setiap saat. Ia harus bekerja demi mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan Saga. Sehingga kehangatan keluarga menjadi barang yang amat langka untuk Saga.
Merasa iba dengan figuran badut putri Elsa, Alena berinisiatif untuk meminta si badut mengganti kostumnya. Sebab sudah amat kuyup dan kotor. Kasihan, si badut tidak memiliki urusan apapun dengan keluarganya, tapi justru menjadi korban aksi anarkis adiknya. “Maaf ya, adik saya nakal sekali. Ayo ganti baju saja, saya pinjami. Nanti masuk angin,” ujar Alena penuh rasa penyesalan.
Si badut mengangguk pasrah. Membuntuti Alena masuk ke dalam rumah.
“Ini baju gantinya. Kostum kau buang saja, nanti biar saya yang bertanggung jawab dengan semua kerusakan,” ujar Alena lagi.
Si badut mengangguk. Ingin bicara, namun tergagu. “ngg, a-a-anu.” Menatap satu stel pakaian yang diangsurkan Alena. Tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.
“Sudah ya, itu kamar mandinya. Saya tinggal dulu.” Alena meninggalkan si badut. Menuju halaman belakang tempat di mana pesta ulang tahun yang amat kacau terjadi.
Si badut yang mengenakan atribut serupa putri Elsa supercopy mulai membuka atributnya satu-persatu. Menampilkan wajah aslinya berupa pria dewasa berusia dua puluh lima tahun. Ditatapnya sekali lagi setelan pakaian yang diangsurkan Alena. Gadis itu pasti mengira si badut adalah wanita. Dibuktikan dengan setelan pakaian yang diserahkan berupa kaus wanita berwarna merah jambu pula.
Niel tidak bisa sulap, sehingga hal yang paling mungkin terjadi adalah memakai setelan merah muda yang ternyata kekecilan itu. Harga dirinya pasti langsung mengalami inflasi besar-besaran. Ia tidak bernyali untuk mematut diri di depan cermin. Bahkan hingga lima puluh sembilan setengah menit berselang. Saat pesta ulangtahun sudah selesai, ia masih enggan meninggalkan kamar mandi.
“Halo, yang di dalam. Sudah selesai atau tidur?” Teriak suara serak-serak banjir dari luar kamar mandi. Suara Alena menjadikan akhir penantian Niel. Serta menjadi awal dari keterjatuhan harga dirinya sebagai lelaki yang absolut.
“Ya, saya sudah selesai,” sahut Niel sembari membuka pintu. Jiwanya pasti akan terguncang melihat respon makhluk hidup pertama yang melihat penampilannya. Ia tidak siap.
Seperti dugaannya, Alena dan seorang asisten rumah tangga yang berdiri khawatir di depan pintu kamar mandi seketika merubah raut wajah. Terbahak sekencang-kencangnya. Menyaksikan Niel, si lelaki berotot dan perut sixpack mengenakan kaus ketat berwarna merah muda. Menjijikan sekaligus menggelikan.
Dengan wajah yang merah padam serupa tomat ranum, Niel menahan rasa malu. Jika ia tidak memiliki traumatis dengan petugas satpol PP yang sering merazia gang doly, dirinya pasti lebih memilih tidak memakai pakaian ketimbang memakai kaus ketat berwarna merah muda itu. Keduanya memiliki derajat yang setara dengan menistakan diri sendiri.
“Maafkan saya ya, tidak ada baju laki-laki di rumah ini. Kecuali Saga, semua penghuni rumah ini perempuan,” ucap Alena penuh penyesalam. “Saya benar-benar tidak mengira jika kamu yang ada di dalam badut itu laki-laki. Sebab tokoh yang kamu perankan Elsa,” imbuh gadis itu lagi. Masih dengan nada penyesalan yang sama.
Acara ulangtahun sudah selesai. Bahkan pihak dekorasi sudah menyelesaikan pekerjaan berberes dan mengangkut barang. Team badut yang datang bersama Niel sudah pergi duluan, menikmati honor bekerja sore ini. Sementara sii pengacau Saga ketiduran karena kelelahan mengerjai badut putri Elsa sepanjang pesta. Teman-teman geng motornya juga sudah pulang untuk persiapan touring ke puncak Jaya Wijaya, Papua. Alena benci suasana seperti ini, suasana pasca pesta. Sepi. Mencekam. Persis seperti hidupnya.
Sepi itu kian menggigit setelah kepergian seseorang.
“Sepi sekali? Saya pikir tadi sangat ramai.” Niel mencoba berbasa-basi membangun obrolan.
Alena menangguk. “Ya seperti inilah kondisi rumah kami biasanya, sepi. Mencekam. Lebih meriah pesta pemakaman.” Alena malah curhat.
“Ke mana yang lain?” Niel mengedarkan tatapan sembari menarik-narik ujung baju seksinya yang menyembulkan pusar dan perut sixpack.
“Yang lain.” Alena mengulangi pertanyaan Niel dengan penekanan. “Tidak ada yang lain, hanya aku dan Saga.”
Niel mengangguk, tidak bernyali untuk bertanya lebih jauh lagi. Sepasang mata Alena yang berwarna pekat tanpa sengaja menumbuk mata Niel yang memiliki warna serupa. Hanya sesaat. Tapi menimbulkan efek yang begitu dahsyat bagi keduanya yang kini kompak membuang tatapan ke segala arah dengan tersipu.
“Kau lapar? Kupikir tadi kau terlalu sibuk bermain-main dengan anak-anak dan tidak sempat menikmati hidangan pesta,” ujar Alena gugup. Akibat berserobok tatapan yang tidak seberapa beberapa saat lalu.
“Eng, tidak. Tidak per—“ belum sempat Niel menyelesaikan kalimatnya, perutnya mendadak berbunyi. Keroncongan. Semacam aksi protes. Amat tidak singkron dengan perkataannya.
“Mulutmu mengatakan tidak, tapi perutmu tidak bisa berbohong!” Goda Alena tersenyum jahil. “Omong-omong, aku Alena. Panggil saja An. Mari makan, eng—.”
“Daniel. Panggil saja Niel.” Serobot Niel memotong kalimat Alena.
“Ah baiklah Niel, mari makan.”
Ruang makan rumah Alena berupa ruang terbuka yang terhubung langsung dengan ruang tengah dan dapur. Sebuah televisi LED besar tergantung di dinding ruang tenga yang fungsinya sebagai ruang keluarga. Niel membawa piring makannya yang berisi sedikit nasi dilengkapi sedikit sayur—sok jaim—menuju sofa marun ruang keluarga.
Niel tidak terlalu memperhatikan iklan obat penguat yang tayang di layar besar televisi. Ia sedang melakukan ritual menyuap dan mengunyah nasi ke dalam mulutnya. Namun ketika layar datar itu berganti menayangkan sebuah liputan berita, seetika itu pula pria itu tersedak. Pontang-panting Niel mencari minum bersamaan dengan news anchord membacakan narasi mengenai berita kematian seorang bandar narkotika kota Metropop. Berita yang akhir-akhir ini sedang tingi ratingnya.
Ketika tulang ayam yang mengakibatkan Niel tersedak telah tertelan, pria itu mulai fokus menyaksikan layar televisi. Ia sudah lama tidak menonton televisi atau membaca koran. Ia buta perkembangan politik negara beberapa hari terakhir.
“Dugaan kuat, bandar narkoba itu dibunuh oleh pesaing bisnis gelapnya.” News anchord mengakhiri narasi beritanya sebelum layar berganti menampilkan iklan popok pria tulen.
Entah sejak kapan Alena bergabung dengan Niel. Duduk tenang di samping pria itu. Ikut menyimak dengan khidmat. Atau justru melamun. Mata gelapnya menyorotkan sendu. Sedang Niel hanya terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Pria itu bukan cenayang, tidak dapat membaca pikiran orang lain. Padahal, jika ia bisa memprediksi isi pikiran Alena, ia pasti tahu apa yang harus diperbuat saat seorang gadis cantik di sisinya bersedih. Sepertinya esok ia harus berguru seputar membaca pikiran, dengan Ki Joko Cerdas.
Dalam kebisuan yang menyelimuti Niel dan Alena, mendadak telepon seluler Niel bergetar. Pria itu sampai refleks melonjak sebab sudah hampir sepekan benda itu tidak pernah bersuara. Kehabisan kuota.
Sederet nomor baru berjumlah dua belas digit angka muncul di layar telepon seluler Niel. Entah mengapa, rasa bahagia yang tak terikra bersemi di hati Niel.
***

Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Download Titik & Koma