Darah Lebih Kental Dari Air
Di sebuah tanah lapang berumput yang luas, diselingi tanaman perdu dan kamboja yang bunganya tampak berguguran, seorang gadis berdiri mematung di antara tanah yang menggunduk. Rumput hijau yang rutin dipangkas menyelimuti. Sang surya membiaskan sinarnya dari ufuk timur. Pagi itu udara terasa kian menghangat meski embun belum sepenuhnya enyah dari ujung dedaunan.
Radius sepuluh meter dari tempat gadis berambut panjang dan gaun putih bercorak bunga-bunga berdiri itu, seorang laki-laki baya ternganga. Tepat di bawah gapura bertuliskan Tempat Pemakaman Umum. Sapu lidi bertongkat yang ia pegang sampai terlepas dari genggaman. Wajahnya memucat dengan ekspresi ketakukan yang amat-sangat. Jika saja si gadis tidak segera berjongkok, petugas pemakaman itu pasti sudah menduga bahwa ada demit yang lupa waktu, hingga kesiangan untuk kembali ke tempatnya bersemayam.
Gadis yang posisinya membelakangi petugas pemakaman itu mengusap lembut batu nisan berwarna kelabu dengan corak bintik hitam pada ujung gundukan tanah. Merasakan detail huruf yang terukir timbul pada nisan itu. Perlahan. Tanpa disadari titik-titik air mulai menyusup pada kedua ujung matanya. Gadis itu membiarkan dirinya diposisi itu hingga beberapa saat lamanya. Rasa sesak di dadanya terasa kian memporak-porandakan jiwa. Semakin lama semakin menggigit. Sesulit inikah rasanya merelakan?
Ketika emosinya sudah cukup stabil, gadis itu mulai menabur bunga yang tersimpan di keranjang rotan. Tentu saja setelah sebelumnya menyeka habis gerimis air mata yang membanjiri kedua pipi ranumnya. Mata gadis itu kembali menatap nanar susunan huruf yang tercetak pada batu nisan. Ia masih sulit percaya bahwa dirinya menyandang nama belakang ‘Samala’.
Alena tidak pernah mengenal ayahnya, begitu pula dengan Saga. Justru ia karip dengan wajah sang ayah ketika lelaki itu telah meninggal. Sebab profil ayahnya acap kali menghiasi kepala berita koran atau berita investigasi setelah meninggal. Tentu saja sebagai pengedar dengan jaringan terluas seantero kota Metropop yang mati ditembak pesaing bisnis.
Sejak kecil dirinya terasing. Atau memang sengaja diasingkan oleh Ibunya—mungkin juga Ayahnya. Ia berhenti mengajukan pertanyaan ‘siapa ayahnya?’ ketika Ibu mengatakan bahwa ayahnya meninggal. Alena bisa saja kembali mengajukan pertanyaan kedua; Di mana makam ayah? Atau pertanyaan berikutnya; Kenapa ia dan Ibu tidak pernah berziarah ke makam ayah? Seperti teman sekolahnya yang juga bernasib sama dengannya lakukan saat menjelang hari raya.
Ia tidak melakukan itu sebab Alena tahu, ibunya menyimpan kesedihan mendalam bersangkutan kepergian sang ayah.
Hingga akhirnya gadis itu lelah mempertanyakan keberadaan Ayah. Yang Alena Tahu, Ibunya hanya berbisnis butik sejak ia kecil. Butik di sebuah kawasan factory outlet Ibukota yang tidak pernah buka cabang atau pindah-pindah tempat jualan serupa tahu bulat. Tapi anehnya keluarganya tidak pernah kekurangan. Ia tidak pernah merasakan hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan ketika Ibu mengirimnya untuk sekolah dan kuliah di Singapura, ekonomi keluarganya tetap stabil.
Ibu tidak pernah menikah lagi, tidak pernah pula menjalin hubungan dengan seorang laki-laki manapun. Bahkan hingga kejiawaanya mulai tidak stabil, enam tahun lalu. Saat wanita itu mengandung Saga. Alena berpikir ayahnya akan kembali seiring hadirnya Saga. Tapi nyatanya ia malah kembali kehilangan sosok orang tua tunggalnya. Ibunya mengalami gangguan jiwa.
Alena tidak pernah berpikir untuk membenci Saga. Justru karena adanya Saga, ia memiliki sosok saudara kandung. Biar bagaimanapun Saga adalah adiknya, lahir dari rahim yang sama. Ia terlalu paham bagaimana rasanya dilahirkan tanpa figur seorang ayah, lengkap dengan cemooh dari lingkungan. Alena tidak ingin Saga merasakan hal serupa.
Meski Ibu harus tinggal di panti rehabilitasi dalam waktu yang lama, bisnis butik ibu tetap berjalan seperti biasa. Cukup aneh memang. Bahkan itu tidak serta-merta mengguncang ekonomi keluarganya.
Berangkat dari itu, Alena mulai mengutus orang untuk menyelidiki dalang keuangan keluarganya. Sayang Alena mengetahui siapa Ayahnya bersamaan dengan laki-laki itu mati terbunuh di sebuah vila mewah di kaki gunung, pinggiran ibukota.
***
Seorang laki-laki melepaskan kacamata hitamnya lalu menyelipkan pada saku kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga sebatas siku. Kaki berbalut jin gelap berpadu dengan sniker lusuh yang sudah tidak terdeteksi warna dasarnya—entah abu-abu atau cokelat—mengentak-entak perlahan. Demi melepas kesemutan. Ia menyerah berdiri lama-lama di antara tanah berumput serupa upacara. Bisa jadi selang lima menit lagi Niel bisa pingsan. Laki-laki itu lebih tahan berdiri berjam-jam di lantai dansa klub malam sembari mengangguk-anggukan kepala untuk dugem dan sesekali meneguk chivas.
Sementara Alena, gadis yang menjadi pusat perhatian Niel selama ini masih saja betah berjongkok di depan sebuah pusara. Niel tidak memiliki secuil nyali untuk mendekat. Dalam drama kolosal keluarga ini, dirinyalah pengacaunya. Dirinya yang telah membuat ayah Alena meninggal. Meski Niel juga memiliki darah keluarga Samala, namun ia merasa janggal menempatkan bajingan itu sebagai ayah.
Tapi itu bukan kesalahan Niel seutuhnya. Ia hanya menjalankan perintah. Meksekusi. Sebab itu memang pekerjaannya; pembunuh bayaran—mantan pembunuh bayaran. Bukankah kematian mama merupakan sebuah hutang yang patut dibayar? Nyawa dibayar nyawa. Uang dibayar uang. Kolor dibayar kolor. Ia tidak pernah menyesal telah membunuh ayah kandungnya sendiri. Persetan! Justru ia menyesal karena telah mengenal Alena.
Niel menyesal karena dipertemukan adik kandungnya. Laki-laki itu menyesal telah membuat Alena bersedih. Dan parahnya, ia sempat mencintai gadis itu. Jika saja si bajingan bandar narkoba itu tidak menebar benih disetiap rahim wanita, ia dan Alena tidak akan berada dalam posisi yang rumit ini. Bajingan itu memang pantas dikirim ke neraka. Biarlah bajingan itu reuni akbar dengan setan serta staf dan jajarannya. Sebentar lagi, Niel akan menyusul. Ikut reunian.
Memikirkan bagaimana cara untuk mengatakan pada wanita yang dicintainya bahwa cinta mereka tidak sepantasnya bersemi membuat Niel prustasi. Ditambah lagi Niel juga harus mengatakan bahwa ia yang membunuh ayah mereka. Niel tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Ingin rasanya Niel bunuh diri saja. Laki-laki itu belum siap jika matahari melemah lalu kehilangan grafitasi dan jatuh menimpa bumi. Bumi baru berusia 4,5 miliar tahun, terlalu muda untuk kiamat. Pusat tata suryanya harus tetap beredar. Intinya, Niel tidak siap kehilangan Alena.
Niel sudah menyiapkan pistol (kaliber paling canggih saat ini) jika Alena ingin membunuhnya. Jadi Niel tidak perlu susah payah memikirkan cara bunuh diri. Alena yang akan melakukannya. Murni pembalasan dendam. Itu tidak akan menjadi masalah untuk Niel. Tapi sepertinya itu akan menjadi masalah untuk petugas pemakaman yang sedang menyapu seorang diri, setidaknya laki-laki itu butuh teman untuk menggali liang kubur untuk Niel. Mungkin Niel sebelumnya bisa reques untuk dimakamkan di samping Ayahnya saja. Atau mungkin tidak perlu.
Niel berjalan mendekati Alena, akhirnya. Sulit dimengerti, mengapa kaum perempuan sangat betah terkurung dalam pikiran melankolisnya. Alih-alih menghindari maut, Niel justru dengan jemawa menjemput kematian. Ia akan dikenang dan diberi nobel sebagai laki-laki paling jantan abad ini, sebab telah membekali diri dengan senjata yang akan membunuhnya. Kelak, Niel akan menjadi penghuni neraka paling konyol karena merancang skenario kematian untuk diri sendiri setelah gagal merancang rencana bunuh diri.
“Aku tahu kau ada di sana,” desis Alena parau. Meski sebelumnya telah berdehem, kenyataanya pita suara gadis itu amat payah.
“Oh ya?” Niel terkejut entah untuk reaksi Alena yang tiba-tiba, atau untuk kenyataan bahwa gadis itu memiliki mata di punggungnya. Terbukukti, tanpa menoleh Alena mampu mendeteksi keberadaan Niel. Laki-laki itu lantas beranjak dari balik pohon kamboja tempatnya menyembunyikan diri.
“Aku tahu semuanya, Niel!” Gadis itu kembali berucap ketika Niel telah berdiri di sisinya.
Tepat seperti dugaannya. “Tahu apa?” Kendati demikian Niel tetap berpura-pura.
“Ya, aku tahu semuanya. Kita bersaudara, kan?!” Pertanyaan Alena jelas tidak membutuhkan jawaban. “Kau kakakku! Kita satu ayah! Kau juga yang—, kau yang mem—“ Jerit Alena terputus isak tangis. Mengejutkan kawanan burung pipit yang bercengkrama dan mencicit di ranting-ranting perdu pemakaman. Seketika melesat pergi menjauh.
Sementara Niel, laki-laki itu membisu. Tidak bergeming meski Alena mendaratkan tinju bertubi-tubi pada dada bidangnya. Sakitnya memang tidak seberapa, ia pernah menjalani operasi pengambilan peluru di bahu kirinya tanpa obat bius dan Niel masih hidup hingga saat ini. Tapi ia tidak pernah merasakan badai topan yang memporak-porandakan hatinya seperti saat ini; melihat Alena menangis karena ulahnya.
“Kau yang membunuh ayah,” bisik Alena nelangsa. Nyaris tanpa suara.
Niel menelan ludah, demi membasahi tenggorokannya yang kerontang. “Kalau begitu, ambil ini.” Niel menyerahkan sesuatu yang sengaja dipersiapkan, terselip pada ikat pinggangnya.
Alena bergeming. Isakannya seketika berhenti menyaksikan benda dalam gengaman tangan Niel. Air mata memang membasahi sekujur mata, tapi tidak cukup untuk memburamkan pandangannya.
“Ayo ambil.” Niel tidak seperti seorang pesakitan yang putus asa. Tapi lebih seperti seorang prajurit yang dengan gagahnya menyerah demi sebuah perdamaian.
“Kau serius?” Alena memandangi Niel dengan tidak yakin.
Laki-laki itu mengangguk, menatap dalam bola mata cokelat Alena yang serupa dengannya. Melalui mata bening gadis itu, dirinya seperti sedang bercermin. Namun dalam momentum yang tidak tepat. Sekarang ia sadar, warna mata itu bukti nyata persaudaraan kandung mereka.
“Tidak mau.” Alena memalingkan tatapan. Jengah ditatap dengan lekat Niel.
“Ambil saja.”
“Tidak akan!”
“Ambil!”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Kau sudah gila ya!” Wajah Alena bersemu merah. “A-a-aku, aku tidak bisa menggunakannya!” Menahan luapan malu, pula luapan emosi.
Niel terdiam. Berpikir sejenak. “Mau kuberi tutorial singkat, Al?”
“Jangan konyol Niel!”
“Lalu dengan benda apa kau akan membunuhku?” Niel mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari benda tajam di sekitarnya yang mungkin dapat Alena gunakan. Apapun itu, Niel ingin alat membunuh yang efisien. Sekali libas mati. Ia tidak ingin sedikit berbasa-basi dengan malaikat pencabut nyawa.
Ketika Niel lengah, gadis itu tidak menyia-nyiakan waktu. Cepat saja. Hanya dalam hitungan sepersekian detik Alena melompat ke arah Niel. Tepat mengenai sasaran.
Niel pikir, inilah akhir dari embusan napasnya. Ini kali terakhir paru-parunya berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan kata lain, dirinya sedang menghadapi sakaratul maut. Tapi, saat ia membuka mata, dirinya malah mendapati kedua tangan Alena melingkar erat pada lehernya. Wajah gadis itu terbenam di bahu kanannya, lengkap dengan air mata yang terasa hangat membasahi kaus. Niel mengusap canggung punggung Alena. Dan ketika Alena mempererat pelukannya, saat itulah dirinya sadar, Alena tidak butuh senjata apapun untuk membunuhnya.
Niel mulai terbatuk-batuk serius sebab napasnya terasa tercekat. Berusaha mengapai-gapai apapun demi memperoleh asupan oksigen untuk paru-paru payahnya. Ya, asmanya kambuh lagi. Mungkin ini saat yang tepat untuk memohon ampunan pada Tuhan.
Alena mengendurkan dekapan kuatnya pada leher Niel, lalu meraba-raba seluruh saku celana jeans Niel. Mencari-cari sesuatu.
Di saat genting, Niel bahkan masih sempat-sempatnya membantu Alena untuk menemukan pistol canggihnya. Setidaknya laki-laki itu ingin mati dengan cara yang agak keren. Tertembak pistol canggih nan mahal, bukan sebab penyakit payahnya kambuh. Seharusnya ia tadi memberi Alena tutorial singkat menggunakan senjata api.
“E-a-a—,” belum sempat berkata apapun, jutaan kunang-kunang menghalangi pandangan Niel. Dan semuanya mendadak gulita.
***
Dalam angan, Niel merasakan segar cipratan air surga menerpa wajahnya. Terasa dingin dan sedikit ada manis-manisnya. Udara sejuk bersemilir, rerumputan dan pohon perdu menghijau dengan suburnya, bebungaan beraneka warna merekah indah. Ia merasa amat damai dalam dekapan bidadari Surga. Hangat dan lembut. Bidadari itu tersenyum amat manis, pipi merah jambunya merekah. Jika saja Niel tahu surga ternyata seindah ini. Ia harus berterimakasih dengan malaikat maut dan sesekali mengajaknya ngopi-ngopi di kafe.
Sebuah aroma kuat mengusik kedamaian Niel. Aroma itu seperti berasal dari sang bidadari surga. Aroma itu amat kuat, dan tidak asing di inderawi Niel. Serupa obat kimia. Tapi ini surga, mana mungkin ada obat semacam itu. Niel siap melayangkan protes, namun respon pertama yang terjadi adalah kelopak matanya mengerjap-erjap.
Ketika Niel membuka mata, dirinya telah terbaring di sebuah ruangan serba putih; dinding putih, kasur empuk putih dan gorden putih dengan selang infus menacap di lengan kirinya. Niel beringsut. “Apakah aku sedang tidur di surga?” Kenapa seperti ruang unit gawat darurat rumah sakit.
“Surga macam apa yang mau menampung narapidana sepertimu?” Bidadari KW super menyahut.
“Aku masih hidup?! Sungguh, aku masih hidup!” Respon yang berlebihan seorang narapidana yang ternyata takut mati.
Di sebelahnya Alena meyahut lagi. “Tentu saja,” jengah.
“Sungguh?! Kupikir aku sudah di surga.”
“Narapidana yang menyimpan sejuta orang dalam di kepolisian sepertimu? Cih! Surga macam apa yang mau menerima,” sungut Alena jengkel.
“Hey, tunggu! Kau tidak membunuhku? Sungguh?!” Serta-merta pria itu melompat ke arah Alena.
Seketika wajah Alena memucat, aliran darahnya berhenti berdetak beberapa saat. Serupa maling yang ketahuan. Namun detik berikutnya wajah itu memerah padam serupa buah tomat. “Ma-mana mungkin, aku membunuhmu.” Terbata. Lalu menghelai napas, sebelum oksigen di sekitarnya lenyap “Kau, k-kau kakakku.” Ia mendunduk dalam-dalam. Menyembunyikan wajahnya dari sorot mata Niel. Entah sudah pergi kemana sikap Alena yang ketus tadi.
“Maksudmu?!” Dan Niel masih saja bodoh. Tidak mengerti.
“A-aku tidak tahu apakah aku menyayangi ayah atau tidak. Sejak kecil aku tidak pernah tahu seperti apa sosoknya. Aku bahkan mengenalnya saat ia telah mati. Itupun karena berita-berita yang tayang di televisi. A-aku hanya mengejar ambisi masa kecil untuk menuntut kasih sayang dari sosok seorang ayah. Sosok laki-laki dewasa yang bisa melindungiku. Menjagaku. Menasihati. Menjadi panutan. Oleh sebab itu aku amat menyayangi Saga. Aku mengharapkan kelak Saga akan seperti itu. Tapi, kini Saga masih terlalu kecil.” Alena menghelai napas dengan wajah yang semakin tertarik arah grafitasi. “Dan kini, kini Tuhan mengabulkan harapan dan angan masa kecilku. Tuhan mengirim sosok itu padaku. Lalu apakah harus kubunuh dia, yang benar saja?” Alena menaut-nautkan kedua jemarinya.
“Kau bersungguh dengan ucapanmu? Kau tidak sedang mabuk, Al? Be-ba-bagaimana dengan kematian Ayah?” Niel ketar-ketir. Pasalnya orang dalam di kepolisian yang Alena sebutkan yang juga menjadi otak pembunuhan sudah tidak terikat kontrak lagi. Jika Alena melaporkannya ke polisi, tamatlah riwayat Niel. Idak ada sel bintang lima untuknya lagi.
“Kukira, dia memang cocok dikirim ke neraka.” Alena mulai mengangkat wajahnya yang masih saja merah. Tapi tidak berani membalas tatapan bola mata Niel.
Senyum Niel mengembang. Belum pernah ia merasa selega ini seumur hidupnya. Seumur hidup ia selalu hidup dalam kewaspadaan. Waspada agar tidak kalah main poker, waspada pada setiap pergerakan calon korban, waspada pada bursa saham yang ia mainkan. Dan sepertinya ia butuh satu lagi stok kewaspadaan. Waspada menghindari serangan si gadis berwajah kepiting rebus di hadapannya ini. Ia butuh kalimat-kalimat puitis milik Khali Gibran untuk menggodanya.
Sebelum Niel menyerang, Alena sudah lebih dahulu mengangkat senjata. Siap untuk melontarkan serangan “Niel, kau tadi memanggilnya apa? Ayah! Niel kau memanggil dia ayah? Yang benar saja?!”
Sial sejuta sial, kepiting rebus itu berpindah ke wajah Niel.
“Kau serius menyebutnya ayah? Niel, coba ulangi! Aku ingin dengar. Penjahat sepertimu mengakui keberadaan seorang ayah.” Alena tertawa lepas.
Si narapidana pelanggan sel tahanan bintang limapun kehilangan citra dirinya.
“Kupikir kau terlahir dari batu akik yang terbelah.” Alena masih saja menggoda Niel.
Dari arah luar, tangan kecil mendorong pintu, lalu menghambur masuk. “Kakak!!! Saga rinduuu—“ Amat manja.
Niel dan Alena kompak menoleh ke arah pintu. Sedang alena merentangkan tangannya siap untuk menerima pelukan dari Saga. “Hei siapa yang kau panggil kakak, Saga?! Kenapa kau menghambur ke pelukan Niel?!” Protes Alena kesal.
***
Other Stories
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...