Sang Penculik
“Mau ke mana, Gi?’ Tanya Mamanya di depan kamar gadis itu yang terbuka ketika melihat putrinya berkemas seolah ingin pergi jauh. Gina hanya menoleh sebentar lalu ia menutup resleting tas besarnya.
“Aku mau travelling selama seminggu, Ma.” Jawabnya .
“Sama siapa?” Wanita paruh baya itu menyelidik putrinya. “Ooo…sama teman barumu itu, yah?” sambungnya lagi sembari mengedipkan mata.
Gina membalas senyum Mamanya. Mungkin dipikirnya kalau Gina akan travelling bersama Jovan yang beberapa kali bertemu dengan wanita itu di rumahnya.
“Aku pergi dulu, Ma. Kalau ada yang mencariku, bilang aja aku pergi dengan cowok baruku,” jelasnya sambil mengedipkan mata. Mamanya merangkul Gina. Ada kelegaan di hati melihat putri semata wayangnya sudah kembali bangkit. Dia menyangka kalau Gina sudah melupakan Dion.
Hampir tengah hari Gina sampai di rumah kayu itu. Dari luar tampak sepi sekali. Tak ada satu pun orang yang lewat sekitar situ, bahkan seekor tikus pun sepertinya takut melewati tempat ini. Jovan memang bisa diandalkan. Dia pintar mencari tempat rahasia, yang tak satu pun orang curiga tengah terjadi sesuatu di sana.
Tin…Tin…
Dua kali Gina membunyikan klakson mobilnya. Dari belakang rumah, anak buah Jovan berlari membukakan pintu gerbang kayu itu. Gina memarkir mobilnya di balik rerimbunan pohon agar tak ada yang dapat melihat. Jovan keluar dari ruang depan. Cowok itu menyambut Gina dengan senyum lebar.
“Keluarin tas besar yang di bagasi,” perintah Gina pada lelaki brewokan itu.
Lelaki bertubuh besar itu meletakan tas besar Gina di tanah.
Jovan membuka tas itu. “Peralatan untuk apa ini, bos?” tanyanya.
Gina tersenyum sinis. “Ini bagian rencana ketiga kita. Lo bisa tebak apa yang bakal gue lakuin ke cowok itu?”
Jovan hanya menggeleng. Dia masih bingung dengan tas yang berisi gergaji listrik, pahat, pisau besar, gerinda dan beberapa kain serta tali tambang. Lelaki itu memerintahkan anak buahnya untuk membawa tas ke dalam rumah.
“Lo mau bunuh dia?” Tanya Jovan mengiringi langkah Gina. Gadis itu hanya mengangguk.
“Bahkan lebih dari sekedar membunuh. Kita akan menikmati permainan ini. Mendengarkan suara rintihannya dan pada akhirnya kita akan dapat uang dari semua ini.” Jelas Gina.
“Kita akan menyiksanya sebelum kita bunuh?” Tanya jovan lagi.
“Ini bukan sekadar penyiksaan biasa. Karena dari tiap rintihannya adalah sebagai balasan dari permohonan cinta gue yang dia tolak!”
Gina terlihat geram. Sorot matanya penuh dengan dendam. Benar-benar kegilaan yang berakhir dengan sebuah kepuasan bagi pelakunya. Jovan menelan ludah. Gadis ini sudah edan tapi sepertinya itu sebanding dengan sakit hati yang dia terima dari cowok itu.
Jovan membuka kamar di mana Dion di sekap. Cowok itu terkulai lemas dengan kepala yang masih tertutup. Dia pasti kekurangan oksigen karena selain kepalanya ditutup, mulutnya pun disumpal kain agar tak bersuara.
Lelaki itu mendongakan kepala Dion.
“Tolong lepasin saya,” pintanya dengan suara parau.
“Terlambat tolol! Ini balasan untuk lo yang sudah nyakitin perasaan orang lain!” teriak Jovan dengan nada kasar.
Gina menyuruh Jovan membuka tutup di kepala cowok itu. Dia beringsut ke samping Dion agar cowok itu tak segera melihatnya. Padangan Dion masih samar. Hanya Jovan yang terlihat di hadapannya.
“Apa mau lo? Nanti gue kasih asal lepasin gue, tolooong!”
Jovan mendengus kesal. Baginya tak ada lagi kata maaf karena semua sudah terlambat. Gina masih berdiri di sisi kanan Dion dengan melipat tangan di dadanya.
“Lo mau tahu siapa yang nyuruh gue?” Tanya Jovan. Cowok itu mengangguk lemas. “Orangnya ada di samping kanan lo!”
Dion menoleh lemas ke samping kanannya. Penglihatannya sudah tak fokus lagi karena terlalu lama kepalanya tertutup. Dia memicingkan mata untuk memperjelas penglihatannya.
“Kamu … kamu …” Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
“Iya, ini aku. Kamu masih kenal aku kan sayang?” jawab Gina mendekati Dion. Gadis itu berjongkok dan memegang kepala Dion dengan lembut.
“Kenapa kamu lakukan ini sama aku? Apa salahku?”
Mata Gina seketika melotot. “Kamu pikir apa yang sudah kamu lakukan itu bukan suatu kesalahan?” Tangan Gina menjambak rambut Dion dengan kasar.
“Aku sudah minta maaf. Kita nggak bisa hubungan lagi. Aku harus menikahi Dila,” jawabnya dengan suara gemetar.
“Dila lagi. Dila lagi. Cuma Dila yang kamu pedulikan! Kamu benar-benar nggak tau diri dan nggak bisa di ajak bicara baik-baik.”
Gina berdiri, lalu memerintahkan Jovan untuk mengikat Dion di tembok. Lelaki bertubuh atletis itu di bantu anak buahnya mengikat Dion di tembok dengan tangan dan kaki terbuka. Cowok itu berontak. Tapi sia-sia karena dirinya sudah tak bertenaga dibanding dua lelaki bertubuh besar itu.
“Gina, tolong lepasin. Aku sudah minta maaf sama kamu. Jangan siksa aku, Gin. Apa maumu?” ucapnya dengan suara yang masih tersisa.
“Aku ingin kamu merasakan rintihan sakit yang pernah aku alami. Aku ingin kamu memohon agar aku nggak melakukan apa pun yang membuatmu sakit. Sama seperti aku kemarin itu, tolol!”
Gina keluar kamar itu dengan marah. Hatinya meluap lagi dengan semua ucapan Dion. Dia tak peduli pada cowok itu yang terus berteriak memanggilnya. Napasnya memburu. Adrenalinnya melonjak. Ingin rasanya segera mencabik-cabik tubuh Dion dengan parang.
Gadis itu berdiri menghadap pohon besar sambil menghisap rokok yang tadi di rampasnya dari mulut Jovan. Emosinya mulai terkendali dengan hisapan rokok.
“Bos, sudah selesai,” suara Jovan memanggil Gina. Dibuangnya sisa rokok yang masih setengah itu. Lalu Gina menginjak puntung rokok dengan geram. Dia berjalan ke dalam rumah di iringi Jovan.
Dion sudah berdiri terlentang dengan tangan dan kaki yang terikat. Gadis itu menghampiri cowok yang pernah dicintainya itu.
“Apa maumu, Gin? Tolong lepasin aku. Banyak orang yang mencariku pastinya. Tolong lepasin, Gin. Pliiisss…” Dion begitu memohon.
Gina hanya tersenyum. Di sentuhnya wajah cowok itu dengan tangannya yang lembut. Satu kecupan menghampiri wajah Dion yang pucat.
“Sudah aku bilang jangan pernah sakiti aku. Kamu cowok yang nggak tahu diri. Sudah kuberikan semuanya tapi kamu malah berpaling ke cewek lain. Entah berapa banyak uang yang sudah aku keluarkan untukmu. Dan kini kamu harus mengembalikannya dengan bayaran tubuhmu sendiri, sayang.”
“Apa maksudmu, Gin. Jangan berbuat nekat. Polisi pasti akan menemukan kalian.”
“Oya? Silakan, aku nggak takut!” Tantang Gina.
Gadis itu menjauh dari Dion. Dia menatap cowok yang di cintainya itu dengan sinis. Lalu dia berjalan lagi mendekati cowok itu. Kali ini tangan mulusnya membelai kepala Dion.
“Kamu beruntung hari ini karena aku sudah lelah dan ingin istirahat. Nikmati saja sisa-sisa waktumu, yah sayang. Aku akan kembali lagi besok pagi dengan permainan yang lebih seru dan menegangkan. See you honey..”
Gina meninggalkan Dion yang terkulai lemas. Jovan mengiringi langkah gadis itu. “Hey, kasih dia minum supaya dia masih bisa bersuara besok. Nggak seru permainan tanpa suara teriakan dan rintihannya.” Perintah Gina pada anak buah jovan yang berdiri di sudut ruangan.
Jam 06.30 wib
Gina sudah berlari kecil mengitari halaman rumah kayu. Di lihatnya Jovan sedang asik dengan sansack yang tergantung di pohon besar itu. Dan lelaki brewok yang entah siapa namanya tengah sibuk mengumpulkan ranting untuk perapian. Di sekanya keringat yang menetes di dahinya. Gadis itu melakukan cooling down untuk menyelesaikan olah raganya.
“Minum dulu, bos,” sapa Jovan menyodorkan sebotol air mineral pada Gina. Di teguknya air itu hingga tersisa setengah botol.
Tak dilihatnya lagi si brewok yang tadi sibuk dengan goloknya. Mungki lelaki itu sudah di dalam membereskan ranting-ranting untuk di bakar nanti malam. Udara di tempat itu memang dingin kalau malam hari. Tak ada suara bising kendaraan ataupun suara manusia. Betul-betul senyap. Bahkan binatang pun rasanya enggan untuk lewat di sana.
Gina dan Jovan terkejut mendengar suara gaduh dari dalam ruangan. Mereka segera berlari masuk untuk mengetahui ada kejadian apa. Pintu terkuak lebar, lelaki brewok itu tengah mengikat satu ikatan di tangan Dion yang terlepas.
“Ada apa ini?” Tanya Jovan.
“Dia mau kabur, bos!”
Gina menyingkirkan kursi yang patah. Dihampirinya Dion dengan tatapan penuh amarah.
“Satu ikatannya lepas, bos. Dia nendang gue tadi sampe gue jatuh menimpa kursi. Sialan nih orang! Dia pura-pura lemas, nggak taunya masih punya tenaga.”
Gina menatap Dion begitu dekat. Ditariknya napas lalu di keluarkannya perlahan.
“Lo pikir bisa mudah lari dari sini? Lo pikir bakal lepas dari gue? Udah untung sampai saat ini lo masih hidup. Kalo gue mau, gue bisa bunuh lo dari kemarin!”
Gadis itu berteriak, amarahnya memuncak. Jovan mendekati Gina dan membisikan sesuatu. Gina langsung menyingkir dan membiarkan Jovan menyelesaikannya dengan Dion.
Buuk!
Satu tinju keras menghantam perut cowok itu. Dion berteriak kesakitan. Satu tinju lagi mendarat di wajahnya. Kepalan tangan Jovan yang besar sudah membuat hidung cowok itu remuk. Darah segar mengalir dari hidungnya. Dion meringis kesakitan.
Gina sudah di halaman depan. Dia terus menahan untuk lebih cepat menyiksa cowok itu. Satu pesan masuk dari ponselnya.
Gin, kapan kamu pulang, Nak? Semalam adiknya Dion datang dan menanyakan kamu. Mama bilang, kamu sedang travelling dengan pacar barumu.
Pesan Whatsapp Mamanya membuat Gina tersenyum. Good job, Ma. Rupanya sudah ada yang mencari keberadaan Dion. Sudah tiga hari ini cowok itu di sekap di rumah kayu itu.
Thanks Ma. Bilang aja Mama nggak tau kapan aku balik. Aku lagi menikmati sebuah permainan baru dengan Jovan.
Gina mengakhiri percakapan dengan Mamanya di whatsapp. Sepertinya permainan harus segera di mulai sebelum mereka lebih lanjut mencari keberadaan Dion. Aku ingin berakhir sempurna. Dan semua kerugianku terbayar…
Other Stories
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...