Love Of The Death

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Melly Wati

Start Game

Sore itu Gina duduk dengan Jovan di teras depan rumah kayu.  Asap rokok tak henti-hentinya keluar dari mulut lelaki itu.

“Kapan kita mulai permainannya, bos?” Tanya Jovan tiba-tiba.

Tatapan Gina begitu liar sebagaimana mata seekor kucing di kegelapan. Kucing yang lapar dan siap menyerang mangsanya. Jovan mengerlingkan matanya pada gadis itu. Hasrat penuh dendam itu semakin liar ketika pemikiran Gina sudah pada tahap akhir sebuah keputusan yang menurutnya harus segera dilakukan demi meraih kepuasan.

Gina tersenyum sendiri mengingat saat dia memotong bagian-bagian itu dengan penuh kenikmatan sembari mendengar teriakan dan rintihan syahdu. Sebuah sensasi baginya jika itu terjadi nanti.

“Bos!” panggil Jovan. Gadis itu menoleh sebentar lalu dia memandang jauh ke depan. “Lebih cepat lebih baik, bos.”

Braak!!

Ada sebuah benda jatuh dari dalam. Gina dan Jovan saling pandang. Mereka segera beranjak ke dalam. Pikiran mereka sama, kemungkinan Dion akan mencoba melarikan diri lagi. Pintu terbuka lebar, mereka berlari ke ruang tengah tempat di mana Dion di ikat. Di sana si brewok sedang membetulkan ikatan kaki cowok itu.

“Ada apa?” Tanya Jovan.

“Biasa, bos. Nih orang mau coba kabur lagi. Ikatan di kakinya kurang kencang.” Jelasnya pada Jovan.

“Minggir!” perintah Jovan pada si brewok. “Kalau lo mau kabur, itu perbuatan yang sia-sia. Lagian waktu lo udah tinggal dikit. Mending lo banyak doa aja biar lo nggak ngerasain sakit menjelang ajal!” Ucap Jovan sembari tangan kirinya memegang dagu Dion begitu kuat.

Gina mengeluarkan sebuah gerinda dari dalam tas besar itu. Lalu dia menyuruh brewok untuk menyumpal mulut Dion.

“Eh, lo mau apa nih?” pertanyaan Dion tak di gubris brewok. Tubuhnya berontak. Kepalanya mencoba menunduk agar brewok tak bisa menyumpal mulutnya.

Dion menatap Gina penuh ketakutan. Di tangan cewek itu ada sebuah gerinda. Cowok itu masih tak mengerti apa yang akan di lakukan Gina terhadap dirinya. Matanya kian melotot ketika suara gerinda itu berbunyi seperti jeritan kesakitan. Gina tersenyum sinis. Wajahnya seketika berubah menjadi monster di mata Dion.

Gadis itu kian mendekati dirinya. Jantung Dion berdegup tak tentu. Ketakutan menguasai seluruh alam pikirnya. Kemungkinan terburuk adalah Gina akan memotong bagian dari tubuhnya. Entah yang mana.

Aaaaarrrrrghh…

Teriakan Dion teredam oleh sumpalan kain di mulutnya. Satu jarinya telah buntung oleh gerinda yang dipegang Gina. Keringat mengucur dari kening cowok itu. Air mata kesakitan juga mengalir dari sudut matanya. Dan darah segar mengalir dari jari yang baru saja terpotong. Gina begitu menikmati permainan ini. Di tunjukannya pada Dion jari tengah cowok itu yang sudah terputus. Masih ada tetesan darah yang jatuh dari jari itu.

“Sakit sayang? Nggak kan?” tanyanya pada Dion. “Ini baru permulaan. Sakit mana dengan perlakuanmu padaku? Hehehehe…”

Tawa Gina begitu mengejek Dion. Tak peduli pada cowok itu yang terus menjerit dalam sumpalan di mulutnya. Dilemparnya sepotong jari tengah Dion pada si brewok. Lelaki itu memungut lalu memasukan ke kantong plastik. Gina menyambar rokok dari mulut Jovan.

Dihisapnya rokok itu penuh kenikmatan. Lalu dia menyuruh brewok untuk melepas sepatu Dion. Gina kembali menghampiri Dion. Dia berjongkok dan memegang jemari kaki cowok itu. Dion berusaha berontak. Tapi apa daya tangan dan kakinya terikat. Bunyi suara gerinda kembali memberi ketakutan yang luar biasa pada Dion. Satu jari tengah kaki kanan cowok itu telah putus juga. Gina tertawa puas. Darah mengalir di lantai dari jari kaki yang terpotong.

Ditunjukannya kembali jari itu pada Dion. Cowok itu menangis dan berteriak dalam sumpalan di mulutnya. Bajunya telah basah dengan keringat dan wajahnya sudah bersimbah air mata. Gina melempar lagi potongan jari itu pada si brewok. Dan lelaki itu memungutnya untuk di satukan dengan potongan yang lain.

Dia menyuruh brewok untuk melepas sumpalan dari mulut Dion. Cowok itu terengah seperti habis lari ribuan kilometer. Gina mendekati Dion yang masih menunduk dalam kesakitannya.

“Gimana sayang, kamu menikmati permainan ini?” tanyanya sambil mengusap wajah Dion dengan lembut.

“Kamu sudah gila, Gina! Kenapa kamu berubah jadi monster seperti ini?!” teriak Dion sambil menangis.

“Kamu yang sudah buat aku berubah. Gimana rasanya menangis? Gimana rasanya perih, sakit, tersiksa? Seperti itulah yang aku rasakan kemarin saat aku memohon padamu. Sakit di sini. Air mataku mengucur. Aku merintih perih tapi kamu nggak peduli!” teriaknya sambil memegang dadanya.

“Tapi kenapa caramu begini, Gin? Kamu bisa di tangkap dan masuk penjara!”

“Lalu kamu mau cara yang bagaimana lagi? Ooo…ya, masih ada cara lain yang lebih mengasikan dan kamu nggak akan merasa kesakitan. Tapi itu nanti pada bagian akhir.” Jawabnya sambil tersenyum.

Gina membuang puntung rokok dan menginjaknya. Jovan hanya diam memerhatikan gadis itu. Hatinya sedikit ciut ketika melihat Gina memotong jari Dion tanpa rasa takut dan belas kasihan. Namun dia tak bisa berbuat banyak. Gina adalah orang yang membayarnya dengan jumlah besar. Terlebih saat ini dia sepertinya mulai menaruh hati pada cewek itu.

“Oke ... lets start again.” Brewok sepertinya sudah mengerti maksud Gina.

“Gin, kamu mau apa lagi? Tolong Gin sudahi kegilaan ini!” Teriak Dion. Gina hanya tersenyum melihat cowok itu ketakutan dan memohon padanya. “Tolong jangan sakiti aku, Gin. Jangan siksa aku lagi dengan cara begini. Aku bisa mati! Kamu sudah gila, Gina!”

Teriakan itu tak di pedulikan Gina. Brewok sudah kembali menyumpal mulut Dion dengan kain. Mata Dion melotot melihat Gina sudah memegang gerinda itu.

“Kalau aku gila emangnya kenapa? Kamu peduli? Nggak, kan? Nggak perlu kamu teriak lagi karena semua sudah terlambat. Kamu nikmati aja permainan ini yah.”   

Gina benar-benar sudah dikuasai napsu setan. Nuraninya sudah hilang Dan karakternya berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Suara gerinda begitu ngilu terdengar. Gina begitu menikmati suara itu. Dia tersenyum sambil memandang gerinda yang siap memotong bagian tubuh Dion.

Dion terus berteriak dan berontak. Cowok itu begitu dalam ketakutan melihat gerinda yang sudah bersuara nyaring. Gina memegang lengan kiri Dion. Lalu beralih ke lengan kanannya. Sepertinya cewek itu sedang memilih bagian lengan mana yang akan lebih dulu dapat bagian. Jovan masih berdiri di sudut ruangan. Sesekali kepalanya menoleh keluar jendela takut kalau ada orang yang datang.

Gina mengusap lengan kanan Dion. Sepertinya dia sudah mendapat keputusan untuk memilih salah satu dari lengan cowok itu. Di usapnya lengan itu dengan lembut. Dion terus menggeleng, memohon pada Gina untuk tidak melakukan hal yang gila. Gadis itu hanya tersenyum sinis.

Suara gerinda semakin nyaring di telinga Dion. Matanya mengikuti tangan Gina yang sudah mengangkat gerinda dan mendekati lengan kanannya. Dion terus menggeleng dan berteriak dalam sumpalannya. Satu tangan Gina memegang pangkal lengan kanan cowok itu, Satunya lagi memegang gerinda  dan menaruhnya di atas lengan cowok itu.

Teriakan Dion yang teredam itu bagai kaset rusak di telinga Gina.  Dalam dua menit lengan kanan Dion sudah putus. Darah mengalir deras dari lengan yang terpotong. Di tunjukannya pada Dion lengan milik cowok itu. Lalu dia menyodorkannya pada brewok. Darah menggenang dekat kaki Dion. Cowok itu tak bersuara lagi. Dia tertunduk lemas tak berdaya. Napasnya tersengal hingga menaik-turunkan bahunya.

“Lepasin sumpalannya, biar dia istirahat dulu untuk menikmati kesakitannya.”

Jovan menghampiri Gina dan memberikan air mineral pada gadis itu. Dilepaskannya sarung tangan yang dari tadi membungkus kedua tangannya. Gerinda yang berlumuran darah itu di geletakannya di lantai.

“Dia bisa mati perlahan kekurangan darah, bos,” bisik Jovan di telinga Gina.

“Biar aja, emang itu rencana gue. Biar dia mati perlahan. Setelah dia mati, baru kita pesta besar. Lo tau rencana gue setelah ini?”

Jovan hanya menggeleng. Dia duduk di samping Gina sembari menyalakan rokok.

“Apa rencana bos setelah ini?”

Gina tersenyum sambil menatap langit-langit ruangan itu. Di teguknya lagi minuman dalam botol. “Gue akan pretelin dalemannya dan kita bisa jual dengan harga tinggi. Gue tahu betul kalau dia sehat dan nggak ada penyakit.” Jelasnya berbisik seraya menoleh pada Dion. 

Dion siuman dari pingsannya. Beberapa menit cowok itu sempat tak sadarkan diri. Gina buru-buru menghampiri Dion. Sebelah tangannya memegang dagu cowok itu. Mata Dion begitu kuyu. Tenaganya semakin berkurang. Wajahnya pucat karena darah masih terus keluar dari lengan kanannya yang terpotong.

“Gina, maafin aku … tolong lepasin ... jangan siksa aku lagi, Gin.” Suara Dion lirih terdengar.

Nampaknya Dion benar-benar tak bertenaga lagi. Gina menyuruh brewok mengambil air minumnya. Disiramnya air itu ke wajah Dion agar cowok itu bisa membuka matanya. Dion tersentak. Matanya perlahan terbuka. Mulutnya meringis kesakitan. Gina tak peduli. Dia sudah kadung sakit hati dengan perlakuan cowok itu.

Dengan sekali kode jari Gina, brewok sudah mengerti membawakan gerinda itu pada Gina. Seperti tadi, dia memilih bagian mana lagi yang akan mendapat giliran untuk di potongnya. Gina berjongkok. Dipegangnya kaki bagian bawah cowok itu. Dielusnya lembut. Dion sudah tak berdaya. Dia cuma mengerang dalam sumpalan mulutnya.

Gina memegang erat betis kanan Dion. Gerinda dinyalakannya. Suara gerinda begitu nyaring berdenging berbarengan dengan jeritan Dion yang terhalang kain. Darah menyembur keluar.

“Sialan!” Gina menoleh menghindari semburan darah cowok itu. Wajahnya terciprat darah segar dari kaki Dion yang terputus.

“Nih lihat, sebelah kakimu sudah aku potong dan sekarang apa dayamu? Masih mau bertingkah? Masih mau jadi pengantin dengan Dila? Kasihan…pengantin buntung. Tapi nggak akan pernah kalian jadi pengantin tau!” teriak Gina di depan wajah Dion.

Cowok itu hanya diam. Kali ini dirinya benar-benar tak berdaya. Dia sudah pasrah pada keadaan. Hanya rintihan lirih yang terdengar dari mulutnya yang tersumpal. Gina melemparkan kaki itu pada brewok. Lelaki itu segera memungut dan memasukannya ke dalam kantong plastik.

Darah mengucur deras dari kaki Dion. Lantai ruangan itu semakin tercium bau anyir. Perlahan darahnya mengalir kebagian ruangan. Jovan menelan ludah. Tak di sangka Gina bisa begitu bringas menyiksa cowok yang pernah dicintainya itu.

“Sudah selesai, bos?” tanyanya mendekati Gina yang terduduk memandang ekspresi Dion.

Ditatapnya Jovan tanpa mengedip. Lalu dia tersenyum dan mengerdipkan matanya. “Biarkan dia kehilangan banyak darah. Perlahan dia akan mati. Paling dalam waktu 2-3 jam nyawanya sudah melayang. Setelah itu baru pekerjaan kita mencari duit dari organ tubuhnya.”

“Kita mau jual kemana, bos?” tamya Jovan lagi.

“Ke pasar gelap! Atau lo punya chanel lain?”

Jovan berpikir sejenak. Lalu dia teringat kenalannya yang seorang perawat di sebuah rumah sakit. Pasti di sana butuh beberapa organ manusia yang sehat seperti milik Dion.

“Ada, bos. Teman gue yang perawat. Kita bisa jual ginjal dan jantungnya ke sana.”

“Berani berapa dia?”

“Bentar gue telepon dia dulu. Bos kasih harga berapa?”

Gina terdiam. Sepertinya dia sedang menentukan untuk memberikan sebuah harga. “Untuk ginjal 300 juta. Untuk jantung 1 miliar,” jawabnya.

Kali ini Jovan yang terdiam. “Nggak bisa nego lagi, bos?”

Gina hanya menggeleng. Baginya harga segitu sudah termasuk murah.

Malam terus beranjak. Gina menyuruh brewok untuk memeriksa apakah cowok itu masih hidup atau sudah mati. Lelaki bertubuh tinggi besar dan brewok itu memegang nadi Dion, lalu memegang urat lehernya. Tak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Semua denyut nadinya sudah terhenti. Didongakannya wajah Dion. Dia membuka mata cowok itu.

“Dia sudah mati, bos,” katanya.

“Lo yakin?” Tanya Jovan. Brewok hanya mengangguk.

Jovan mendekati Dion untuk memastikan kalau cowok itu sudah benar-benar mati. Diperiksanya bagian-bagian yang menunjukan kehidupan. Lalu dia menoleh pada Gina dengan mengacungkan jempol.  Gina tersenyum puas.   

Brewok melepas ikatan pada mayat Dion. Direbahkannya mayat itu di lantai. Gina menatap sesaat wajah cowok yang dicintainya. Lalu dia tersenyum. “Inilah akibat ulahmu yang menyakiti aku, lelaki nggak tahu diri!”

Bagian pertama adalah mata Dion yang dicongkelnya dengan pisau bedah. Mata kiri dan kanannya di letakan di baskom lalu brewok memindahkannya ke frezer kecil yang sudah disiapkan Gina dari rumahnya. Jovan membantu mengelap keringat yang menetes di wajah gadis itu.

Setelah bagian mata, kini beralih ke bagian organ dalam Dion. Gina membelah bagian tengah dada cowok itu sampai ke perut. Darah segar mengalir keluar dan mengembang di lantai. Di robeknya bagian perut Dion secara asal yang penting dia dapat mengeluarkan ginjal, jantung, lever, limpa dan empedu secara utuh.

Mereka sudah gila—dan Gina berpendapat, bila membunuh seperti itu, dia bisa menikmati suatu kepuasan dalam dirinya. Sungguh suatu perbuatan yang mengerikan, tapi tidak bagi mereka. Jovan sesekali membuang wajahnya melihat isi perut Dion. Dia merasa mual. Sungguh baru sekali ini dia melakukan pekerjaan membedah tubuh manusia, Biasanya dia hanya membunuh lalu membuang mayat itu.

Gina tersenyum melihat Jovan, walaupun sebenarnya baru kali itu juga dia melakukan sebuah kejahatan dengan memotong-motong tubuh manusia. Terlebih tubuh orang yang dicintainya. Namun sakit sudah mengubah karakternya menjadi buas dan beringas. Dan dia tak peduli segala resiko yang akan terjadi.

Satu ginjal sudah dikeluarkannya. Lalu sebelah lagi. Brewok cepat memasukannya dalam frezer. Organ-organ ini harus segera di bekukan karena akan cepat rusak jika dibiarkan lama di luar tanpa pedingin. Kali ini jantung Dion yang dulu berdetak hanya untuknya. Setelah itu lever, limpa dan empedu. Semua kini sudah tersimpan rapi dalam frezer.

Pekerjaan Gina selesai. Dia menengok kembali pada tubuh Dion yang terburai tanpa isi. Lalu dia menoleh pada brewok.

“Lo putusin kepalanya dan bungkus. Pisahin dari tubuhnya biar nggak dikenalin orang.” Perintahnya pada brewok.

Lelaki itu mengambil gerinda yang berlumuran darah. Cukup susah juga memotong bagian kepala Dion. Setelah putus, dia memasukannya ke dalam kantong plastik lain.

“Mau di ke manakan mayat ini, bos?” Tanya Jovan pada Gina.

“Kubur di halaman belakang. Gali lobang yang dalam di dua tempat. Pisahin kepala sama tubuhnya, buat jarak yang cukup jauh.” Begitu perintahnya pada Jovan dan brewok.

Jovan dan brewok memasukan tubuh mayat itu ke dalam karung besar. Lalu mereka menyeret mayat dalam karung itu ke belakang. Brewok menggali lobang sedalam dua meter. Dan Jovan menggali lobang lain sedalam satu meter untuk mengubur kepala Dion. Menjelang dini hari pekerjaan mereka selesai di halaman belakang.

 Jam 02.00 dini hari.

Gina masih menikmati sebatang rokok di bibirnya. Langit pinggiran Jakarta ini cukup gelap. Lingkungan yang sepi sangat mendukung pekerjaan mereka. Yang membuatnya puas adalah sepanjang jalan menuju arah rumah kayu itu tak pernah dilewati kendaraan ataupun orang lalu lalang.

Brewok membersihkan bekas-bekas darah yang sudah mengering. Dan sebagian darah masih ada yang basah. Bau amis amat menyengat ruangan. Gina ingin rumah ini bersih seperti semula. Tanpa ada sedikitpun yang tertinggal yang bisa meninggalkan jejak.  Ketika besok mereka meninggalkan rumah kayu ini, semua sudah seperti semula saat mereka datang. Seolah tak pernah terjadi sesuatu di sana.

Untuk waktu yang seperti ini, mereka tak mau menyia-nyiakan demi kelangsungan hidup yang menurut mereka masih panjang untuk dijalani. Orang gila tak akan pernah  mengharapkan hidup pendek. Inilah persamaan orang gila yang merasa waras dengan orang waras yang merasa waras.

Besok mereka akan meninggalkan tempat ini untuk melakukan rencana akhir. Yaitu menjual semua organ tubuh Dion ke pasar gelap. Sebagian akan di bawa Jovan untuk dijual ke rumah sakit perantara temannya.


Other Stories
O

o ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Bayangan Malam

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Bangkit Dari Luka

Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...

Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Download Titik & Koma